"Bangunkan dia, Gathot! Ini bukan waktunya untuk pengobatan yang melumpuhkan!"
Aruna berteriak seraya mengguncang pundak Gathot di ambang pintu paviliun.
Gathot menggeleng lemah, guratan keriput di wajahnya tampak lebih dalam di bawah siraman cahaya bulan merah.
"Aku tidak bisa, Aruna. Mara memberikan dosis yang terlalu tinggi. Jika aku memaksanya bangun sekarang, sistem saraf peraknya akan hancur. Bara bisa lumpuh permanen atau kehilangan kesadaran serigalanya."
"Tapi Silas ada di sana! Dia membawa senjata yang bisa menghancurkan kita semua!"
"Aku tahu, Nak. Namun, aturan kawanan adalah hukum mati. Tanpa Alpha yang memimpin di garis depan, para prajurit akan kehilangan arah. Mara sedang mencoba mengumpulkan barisan pertahanan di bawah komandonya."
"Mara tidak sedang menyelamatkan kawanan. Dia sedang mengikat Bara agar tidak bisa menghentikannya. Dia ingin membuktikan bahwa akulah penyebab kehancuran ini karena aku membawa sial!"
Tanpa menunggu balasan Gathot, Aruna berbalik dan berlari menuju perbatasan. Ia tidak peduli jika ia hanya seorang manusia di mata mereka.
Setibanya di garis pertahanan terluar, pemandangan horor menyambutnya. Para prajurit Silver Moon dalam wujud serigala tampak melolong kesakitan. Bulu mereka yang biasanya berkilau kini meredup, dan mereka tampak kesulitan mempertahankan transformasi.
Di seberang lembah, Silas berdiri di atas kendaraan taktis militer yang dilengkapi dengan pemancar frekuensi raksasa. Mesin itu memuntahkan gelombang cahaya kemerahan yang langsung menghantam energi bulan purnama.
"Lihatlah para anjing malang ini!" Suara Silas menggelegar melalui pelantang suara. "Tanpa Alpha perak mereka, kalian hanyalah binatang liar yang menunggu untuk disembelih!"
Mara berdiri di depan barisan, memegang belati perak dengan tangan gemetar. Ia mencoba memberikan perintah, tapi suaranya tenggelam oleh raungan mesin Silas.
Aruna menyeruak dari balik pepohonan. "Matikan mesin itu, Silas! Kau hanya akan menghancurkan ekosistem hutan ini!"
Silas tertawa terbahak-bahak, matanya berkilat penuh kegilaan. "Ah, sang Penjaga kecil kita telah tiba. Aruna, sayangku, darahmu adalah komponen terakhir yang aku butuhkan. Dengan bulan merah ini, frekuensi suaramu akan menjadi kunci untuk membuka gerbang keabadian kaumku."
"Jangan dengarkan dia, Aruna! Lari!" teriak Jaka yang tertindih oleh reruntuhan pohon.
Tiba-tiba, Mara berbalik dan menatap Aruna dengan kebencian yang murni. "Ini semua salahmu! Jika kau tidak muncul di hutan ini, Bara tidak akan pernah terluka, dan Silas tidak akan memiliki alasan untuk menyerang kita sebrutal ini!"
Aruna menatap Mara dengan tajam. "Kau yang melumpuhkan Bara, Mara. Kau yang membuatnya tidak bisa melindungi rakyatnya sendiri hanya karena egomu sebagai calon Luna."
"Diam kau, manusia!"
Sebelum jemari Mara menyentuh kulit Aruna, tanda lahir di punggung tangan Aruna berpendar dengan cahaya biru yang sangat menyilaukan. Sebuah gelombang energi murni terlempar keluar, menghempaskan Mara hingga jatuh tersungkur di atas tanah yang retak.
Silas menyipitkan mata. "Menarik. Kekuatan Penjaga mulai bangkit karena tekanan mental, tapi itu tidak akan cukup untuk menghentikan meriam frekuensiku!"
Silas menekan sebuah tombol. Mesin raksasa itu bergetar hebat, memancarkan gelombang yang jauh lebih besar. Pohon-pohon di sekitar perbatasan mulai tumbang, akarnya tercerabut oleh getaran ultrasonik yang menghancurkan molekul organik.
Aruna jatuh berlutut. Kepalanya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum perak.
‘Bara, tolong aku.’ Aruna berbisik dalam batinnya. Ia memejamkan mata, mencoba menjangkau ikatan batin yang sempat terputus oleh obat bius Mara.
Di sana, di tengah labirin kesadaran yang dingin, ia menemukan Bara. Sang Alpha tergeletak lemas, dirantai oleh belenggu perak cair yang diciptakan oleh racun Mara.
“Aruna, pergilah, tempat ini berbahaya.” Suara Bara terdengar sangat jauh dan lemah.
“Tidak, Bara. Bangunlah! Hutanmu sedang sekarat. Rakyatmu sedang dibantai. Kau harus melawan racun itu!” Aruna memeluk jiwa Bara dalam dimensinya, menyalurkan energi panas dari darah Penjaganya untuk melelehkan belenggu perak tersebut.
Di dunia nyata, tubuh Aruna mulai melayang beberapa senti dari tanah. Rambut hitamnya berkibar meski tak ada angin. Cahaya biru dari tangannya kini menyatu dengan cahaya kemerahan bulan, menciptakan warna ungu yang mistis.
"Tembak dia! Sekarang!" perintah Silas pada anak buahnya.
Hujan peluru perak meluncur ke arah Aruna, tapi semuanya berhenti di udara, tertahan oleh medan magnet energi yang dihasilkan oleh kemarahan sang Penjaga. Aruna membuka matanya, dan untuk pertama kalinya, pupil matanya tidak lagi berwarna cokelat, melainkan biru elektrik yang memancarkan otoritas mutlak.
"Silas, kau telah menodai kesucian tanah ini." Suara Aruna terdengar berlapis.
Dengan satu hentakan tangan, Aruna melepaskan ledakan energi yang menghancurkan mesin frekuensi milik Silas. Ledakan itu menciptakan gelombang kejut yang meratakan area perbatasan.
"Bagaimana mungkin, seorang manusia bisa memiliki kekuatan sebesar itu?"
Aruna jatuh ke tanah, seluruh energinya terkuras habis. Ia terengah-engah, pandangannya mule kabur. Namun, di saat yang sama, sebuah raungan guntur yang sangat familier membelah kegelapan. Sebuah bayangan perak raksasa melompat dari arah pemukiman, mendarat tepat di depan Aruna.
Bara telah bangun. Matanya menyala dengan pijar emas yang lebih terang dari sebelumnya, menunjukkan bahwa ia telah berhasil menelan racun perak itu dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.
Silas tidak tampak ketakutan. Ia justru tersenyum licik sambil memegang sebuah pemantik kecil.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, Aruna, maka tak ada yang bisa memilikimu.”
Bara bersiap menerjang, ia berhenti saat mendengar suara mesin dari arah paviliun tamu tempat Arlan berada. Sebuah helikopter hitam muncul dari balik bukit, menjulurkan senapan mesin ke arah pemukiman yang tak terlindungi.
"Jangan tembak! Aku sudah melakukan bagianku!"
"Mara? Apa yang kau bicarakan?"
Mara menoleh, wajahnya kini penuh dengan senyum sinis yang tak lagi tertutupi oleh kedok calon Luna. "Kau pikir aku benar-benar ingin menjadi pendamping seekor anjing peliharaan manusia seperti Bara? Silas menawarkan posisi yang lebih tinggi di dunia baru yang ia bangun."
Bara meraung marah, Mara sudah berhasil meraih tangga helikopter yang menjuntai. Sebelum ia naik, ia melemparkan sebuah tabung kaca ke arah Aruna. Tabung itu pecah, mengeluarkan gas berwarna ungu yang langsung menyergap indra penciuman Aruna.
Dunia di mata Aruna mulai berputar. Ia merasa tubuhnya menjadi sangat ringan, tapi batinnya terasa sangat berat.
"Bara, Ayah.”
Di sisa kesadarannya, ia mendengar suara Mara dari pengeras suara helikopter yang menjauh.
"Bara, kau baru saja kehilangan Mate-mu selamanya. Karena di dalam tabung itu bukan hanya gas bius, melainkan racun yang akan mengubah janin di rahimnya menjadi monster yang akan memakan ibunya sendiri."