


oleh Azizah Bounty · 119 Bab
Ayu Renjana tak menyangka dirinya kala Harsa Jayabaya memintanya jadi istri kedua pria itu. Padahal dulu, keduanya sudah memutuskan perjodohan dengan baik-baik. Terlebih, istri pertama Tuan CEO Muda itu baru saja melahirkan. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu, apakah Ayu akan menerima pernikahan yang secara tak langsung menjadikan dirinya sebagai orang ketiga?
"Ay, dapat surat dari Nyiur."
Ayu yang sedang tertidur di brankar rumah sakit sontak terbangun.
Dipaksanya diri untuk bangun meskipun kepalanya masih pusing.
“Surat apa? Kok surat? Anak kalian sudah lahir dan keadaannya baik-baik saja bukan?” tanya gadis itu, bingung.
Harsa menahan kepala Ayu. "Sambil tiduran gini aja bacanya, anak kami sudah lahir dengan selamat, tapi ...."
Segera, pria itu menjelaskan situasinya. Ayu sontak membelalakan mata, tak percaya.
"Bodoh! Kamu bodoh Mas! Sesuatu yang merugikan kenapa Mas sepakati!" teriak Ayu yang entah mau berkata apa setelah tahu apa yang menimpa Harsa.
"Karena saya tidak mau meninggalkan Nyiur, kamu tahu itu 'kan? Tolong, kamu mau nikah sama saya demi anak saya tidak dibawa ke panti asuhan, tolong ya ...."
Harsa menatap tulus ke arah Ayu yang tetap memaksa duduk, kebetulan juga habis kecelakaan saat anak dari Harsa lahir.
Perdebatan dalam ruang rumah sakit pun berlangsung panas.
Ayu yang sudah dengan susah payah berusaha move on dan menghapus nama Harsa yang selama ini menggetarkan hatinya pun, sekarang justru dihadapkan untuk menjadi yang kedua.
Ia menangis histeris dan tertangkap ke dalam pelukan Harsa ketika hampir saja terjatuh karena dirinya yang belum terlalu kuat.
“Gak, aku nggak mungkin melakukan ini pada sahabat sendiri, gak mungkin! Tidak satu jam Mas usaha aku untuk melupakan kamu ... kenapa kamu datang dan menaruh luka baru!" teriak Ayu.
“Maaf ... saya berusaha menolak, tapi ini memang keputusan pra nikah kami," jawab Harsa.
“Mas paham bukan untuk berbagi dalam mencintai itu tidak mudah? Sekalipun mulut Nyiur rela, tapi Mas nggak tahu sesakit apa yang sesungguhnya Nyiur rasakan saat Mas poligami!" Ayu menarik dirinya untuk kembali tertidur.
“Kalau menyalahkan, saya memang salah. Saya tidak tegas, tapi apa boleh buat? Nasi sudah jadi bubur, kamu juga sudah tahu ketegasan orang tua saya modelnya seperti apa, mereka nggak hanya tegas lagi, tapi keras," jawab Harsa.
Ya, ada satu hal yang bagi Ayu sangat mengecewakan. Dia tidak menyangka, hanya dirinya yang tidak tahu apa pun soal perjanjian tersebut. Hal ini menurutnya tidak adil, bahkan orang tua Ayu juga menyembunyikan ini darinya.
"Tapi itu tidak adil! Apa alasannya aku yang terlibat, tapi justru tidak tahu soal itu? Apa alasannya!" bentak Ayu.
"Panjang dan rumit ceritanya. Saya nggak tega anak kembar yang baru lahir itu harus terpisah dengan ibunya," jawab Harsa.
Baru kali ini Ayu menyaksikan air mata laki-laki terjatuh. Kalaupun ia mau diajak menikah, ini tidak murni karena keinginan Harsa dan bisa dibayangkan kehidupan Ayu pasti lebih berantakan.
Jika boleh jujur, sebenarnya Harsa masih tetap menjadi orang yang Ayu cintai, hanya saja ia berusaha mendiamkan karena sadar juga posisi yang seharusnya tidak ia ambil.
"Oke ... biar aku yang bicara sama Om Zulfikar, aku nggak terima apa pun alasannya kenapa perjanjian itu tanpa sepengetahuan aku!"
"Arggghhh!" Ayu hendak menarik sekuat tenaganya selang infus yang masih menempel di punggung tangan.
Harsa segera berdiri dan menahan tangan Ayu. "Ay, Ayu, berhenti jangan seperti ini cara kamu!"
Tanpa unsur kesengajaan, hidung Harsa bertabrakan dengan bibir Ayu saat membalikkan badan. Hal tersebut sempat terjeda lumayan lama karena posisinya Ayu sulit bergerak.
"Mas, lepas Mas!" Ayu terpejam dan rasanya semakin lemas saja menghadapi posisi yang seperti ini.
"Hhh, maaf ... saya tidak bermak---" Harsa langsung bergerak untuk melepaskan.
"Ya, aku mengerti. Tolong tinggalkan aku sendiri dulu."
"Baiklah."
Harsa pun undur diri.
Sepertinya, dia memang perlu memberi ruang kan?
***
"Gimana, Ay? Keadaan kamu baik-baik saja 'kan? Kata dokter sempat pingsan."
Harsa tergopoh-gopoh mendatangi Ayu lagi setelah tadi membiarkannya dulu untuk berpikir.
"Gak baik-baik saja! Siapa coba yang biasa kalau disuruh jadi istri kedua!" rajuk Ayu.
“Ay ... jadi kamu tetap menolak?" tanya Harsa dengan wajah yang sangat iba.
“Kamu di sini yang terlalu jahat, Mas. Kamu pikir ini hal yang mudah untuk ditentukan? Semua laki-laki egois, kamu mengambil kesempatan di atas penderitaan orang lain! Nggak semua wanita mampu untuk dipoligami! Nggak semua siap untuk menjadi yang kedua!" Ayu kembali menurunkan air matanya dalam mengucapkan kata-kata yang tidak jauh beda dari sebelumnya.
Malas bisa dilawan, bodoh bisa belajar. Namun, perasaan tidak bisa dipaksakan. Hati seorang Ayu bukanlah hati yang mati, bukanlah hati yang hanya dipenuhi hasrat tanpa peduli hikmah di balik nikmat!
Mungkin ia bisa bahagia karena rasa cinta yang selama ini memeluknya bisa tercurahkan untuk orang yang memang ia cintai. Hanya saja, menjadi yang kedua bukan pilihannya apalagi tujuannya!
“Insyaallah saya siap dan bisa berlaku adil buat kamu dan Nyiur," kata Harsa berusaha menenangkan.
“Bulshit! Dulu saja berani menentang orang tuaku dan orang tua Mas Harsa sendiri padahal kita sudah bertunangan. Ahhh, demi Nyiur ... Mas sakitin aku dan keluarga, sekarang demi anak-anak Mas ... Mas sakiti Nyiur dan kembali menyakitiku! Aku dah nggak percaya lagi sama kamu, Mas!" Ayu membuang muka dari sorot mata Harsa.
“Gak usah ungkit masa lalu yang telah terselesaikan masalahnya!" bentak Harsa geram mengingat masa lalu yang membuatnya sekarang di posisi ini.
Sebenarnya, Harsa juga tidak mau seperti ini! Ia tidak bermaksud dan tidak mau menyakiti Nyiur, keluarga, maupun Ayu. Dari dulu sampai saat ini, Harsa merasa terjebak oleh keadaan. Perjodohan antara Harsa dan Ayu pernah gagal karena Harsa yang merasa hutang budi pada Nyiur yang berhasil menyelamatkan dirinya saat kebakaran sampai Nyiur kritis.
"Kamu tahu kan ... alasannya kenapa saya menikahi Nyiur dan bukannya permasalahan ini sudah selesai?"
"Mas ...." Ayu tak sanggup berkata-kata, hanya tangis sesenggukan yang mampu ia berikan.
Bahkan, lelaki tegas dan arrogant ini pun pelupuk matanya kembali penuh dengan lautan bening.
Hari ini adalah hari di mana Ayu bisa menyaksikan seorang lelaki juga bisa menangis tidak hanya satu kali. Padahal, dulu saat perjodohan mereka gagal saja, Ayu tidak menemukan raut wajah Harsa yang sesedih sekarang.
"Kamu boleh benci saya, kamu boleh melakukan apa pun, tapi saya mohon ... bantu menghilangkan beban bayi saya." Harsa hendak memeluk Ayu, tetapi segera Ayu tepis.
Hah?
Entah, siapa yang paling hancur?
Ayu meraba dada Harsa yang sempat ia dorong. Bayangan tentang masa lalu menggerogoti mereka! Kenangan mereka terlalu manis untuk dilupakan.
Ayu menghela napas panjang dan kembali menyadarkan diri, meminta tolong Harsa supaya melihat bayi dari Harsa dan Nyiur. Hanya saja, entah mengapa Ayu berdebar kencang melihat bayi-bayi itu.
"Ya Tuhan ... bayi kembar secantik ini nggak salah apa-apa! Nggak pantas juga dijauhkan dari orang tuanya. Tidak, bayi ini tidak boleh ditaruh di panti asuhan! Nyiur juga pasti sangat hancur, Mas!"
“Kalau begitu ... ka-kamu mau menjadi is-istri kedua saya?" tanya Harsa dengan gugup karena baru sadar dengan waktu yang semakin mendesak.
Terlebih, ia sepertinya melihat Zulfikar berjalan ke arah keduanya!

Azizah Bounty
17 Pengikut · 6 Novel