


oleh Strawberry_pink🍓 · 96 Bab
Hidup berjelampah harta membuatnya lupa akan siksa. Demi takhta, kurela sengsara. Setelah melakukan kesalahan besar dan diasingkan ke negeri orang, Stella Faelynn Fich harus kembali hanya untuk mendengar kabar soal kematian ayahnya, serta hak waris yang jatuh ke tangan istri kedua sang ayah. Stella jatuh serendah-rendahnya. Menyelami kehidupan baru tanpa kemewahan dan menerima tawaran untuk menjadi istri dari cucu kedua keluarga Cedric. Berharap bisa mendapat kembali ketenangan dengan duduk angkuh sebagai istri konglomerat, dia justru diperlakukan seperti anjing peliharaan. Bertemu kembali dengan mantan kekasihnya, serta calon tunangan Cedric yang ternyata .... IG: _deiy00._.1m
Gemerlap lampu menjadi pemandangan utama para pengendara serta pejalan kaki yang lalu lalang. Kemilau warna-warni menembus keluar melalui kaca bangunan hotel besar di tengah kota. Sisa air hujan sore tadi menggenang--memantulkan kilau megah dari lampu yang berpadu dengan sorak-sorai serta dentuman musik keras dari dalam bangunan yang sama.
Orang-orang tak melontarkan protes. Lantaran Magesty Hotel adalah tempat yang menjadi ajang pertemuan para petinggi kota. Setelah kepala keluarga Fich--pemilik Gallery Seni Ethereal Blissful Bay mengajukan acara yang dibuatnya langsung pada presiden.
Derau riuh memenuhi seisi ruang VVIP yang sebelumnya telah dipersiapkan matang. Mereka beradu gaya yang elegant sebagaimana posisi mereka sebagai para insan pemegang takhta.
Sementara para tamu undangan sibuk berbincang membahas proyek mereka kedepannya–putri penyelenggara acara--Stella justru dimabuk oleh alkohol yang baru saja diminumnya. Dia memang bukan gadis yang terbiasa bergaul bersama remaja nakal. Diusianya yang menginjak angka sembilan belas ini, dunia baru mengenalkannya dengan aroma serta rasa minuman beralkohol yang kadarnya rendah. Namun, entah minuman jenis apa yang telah diteguk hingga membuatnya hampir kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Gaun mewah yang dikenakannya terinjak oleh kaki yang mengenakan sepatu hak tinggi. Tak peduli seberapa mahal keluarganya membeli rancangan gaun yang hanya ada satu di setiap kota.
Tubuhnya terhuyung bersama gelas kaca kosong di tangan. Tawa kecil mengiringi. Dia merasa pening. Mual. Tak kuasa menahan kadar alkohol tinggi yang baru pertama kali dicoba. Seandainya tahu, dia tak akan meminumnya dengan alasan masih di bawah umur. Namun, waiter menyuguhkannya tanpa menjelaskan isi minuman yang dibawa.
Stella kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu milik seorang lelaki yang sudah pasti kekasihnya. Liam. Matanya mulai terpejam menahan sakit yang menyebar ke seluruh pembuluh darahnya.
Dengan pelan, mulutnya berucap. “Tolong antar aku ke kamarku di lantai empat,” katanya sembari menyerahkan kunci dalam genggamannya. Stella semakin menyembunyikan wajahnya pada dada bidang pria dengan aroma parfum woody berpadu alkohol yang kuat. Aroma baru dirasanya begitu menghidu khas yang berbeda. Seingatnya, Liam tak pernah mengenakan parfum dengan aroma yang mencolok seperti para gangster. Namun, tak apa. Tawa dari mulut sang kekasih didengar.
Stella lalu mengikuti arah jalan yang membawanya melewati para tamu undangan. Menaiki lift yang mengantarnya tiba di lantai empat ruang VIP. Kakinya melangkah masuk bersama pria yang tetap diam membisu dalam dekapannya.
Gadis itu membiarkan tubuhnya berbaring di atas ranjang dengan kesadaran yang semakin memudar. Kala kain tak lagi membalut kulit, sentuhan lembut pada sekujur tubuhnya mampu dirasa. Begitu janardana. Mulutnya mendesah pelan. Menciptakan renjana yang dalam sekejap membuatnya hilang arah.
***
Ina memancar melalui kaca yang tertutup hordeng. Silaunya menyambar memanjakan mata. Perlahan membuka--mengangkat tangan menutup silau yang menusuk tajam. Namun, sudut ruang yang berbeda dilihatnya begitu mendusin sebentar. Semuanya tampak asing dimata. Mulai dari posisi ranjang yang menghadap selatan dan bukan utara, serta warna baru di sekeliling.
Stella menoleh ke kanan bawah tatkala sudut maniknya menangkap pandang sosok pria tak berbalut kain. Terbelalak kaget mendapati, Stella menyadari sesuatu pada dirinya. Jika pawana menusuk tubuhnya hingga ke tulang. Dia membuka selimut yang tak seutuhnya menutup--disitulah fakta lain tersirat.
“Tidak, tidak mungkin!” ujarnya.
Stella tetap pada posisinya. Peluh dingin mulai bercucuran di sekujur tubuh dengan ketakutan yang amat luar biasa. Dengan jantung yang terus berdebar menggedor dada.
Kepalanya menggeleng, berusaha meyakinkan bahwa ia tak melakukannya bersama pria yang begitu dikenal. Namun, sakit yang dirasa pada bagian tubuh justru meyakinkannya bahwa gelengan kepala tak mengubah segalanya.
Stella terkekeh pada takutnya. Dia menunduk, menggigit bibir bagian bawah dengan cengkeraman erat pada selimut tebal yang masih menghangatkan.
“Apa aku benar-benar melakukannya?” Tak berhenti ia bertanya. Selalu jawaban yang sama yang diterima. Mulut berucap tidak, namun hati mengatakan segala kebenaran.
Stella kembali menoleh pada pria itu. Tatapan kecewa tersirat dari netranya yang berwarna kecoklatan. Napas gusar terdengar, sebelum akhirnya jemari lentik Stella membangunkan Liam yang masih menyelami keindahan surgawi dalam mimpi.
“Bangun!” desaknya.
Perlahan Liam membuka mata. Pandangannya mengedar ke segala arah. Mungkin, dia juga sedikit kebingungan mendapati setiap sudut ruangan yang asing. Maniknya berhenti pada Stella yang menatapnya dengan ekspresi aneh.
Segera dia bangkit, memposisikan tubuhnya supaya duduk menghadap Stella. Namun, belum selesai dia melakukannya, lelah disertai keadaan tubuhnya tanpa sehelai pun benang membalut, membuatnya memandang Stella terkejut.
“A-apa yang sudah terjadi?” tanyanya seperti orang pilon.
Stella kontan memukul lengannya kasar, menciptakan desis pelan dari mulut Liam.
“Jangan pura-pura bodoh!”
Liam mengangkat kedua alisnya bersama ekspresi bingung. Sementara tangannya terus mengusap lengan yang masih ngilu akibat pukulan perempuan itu.
“Aku benar-benar tidak tahu apa pun!”
“Kau– tidak, kita, kita telah melakukannya!”
“Melakukan? Melakukan apa maksudmu?”
“Sial, dasar laki-laki ini.” Stella menyugar surainya putus asa. “Kenapa kau bisa melakukan dan melupakannya dengan mudah?”
“Tapi aku benar-benar tidak melakukan apa pun padamu, Stella!”
“Kau boleh mengatakan seperti itu. Tapi, bagaimana denganku setelahnya? Kau mungkin tidak sadar semalam, begitu pun denganku. Kita sama-sama tidak sadar dan akhirnya, hah … aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang.”
Senyap menyelimuti ruang kamar yang mereka tempati. Selain tubuh yang tak terbalut kain, pakaian bertebaran di lantai kamar. Pemandangan itu menjelaskan semuanya bahwa mereka benar-benar telah melakukan kesalahan besar semalaman. Namun, tak satu pun menyadari apa yang telah mereka lakukan. Baik Liam, maupun Stella.
“Kau harus tanggung jawab.”
“A-apa?!” Liam berucap terkejut. Dia mendekat, meraih tangan Stella dan menggenggamnya. “Sumpah, aku tidak melakukan apa pun. Ini semua pasti hanya–”
“Hanya apa? Apa kau tidak melihat tubuhmu yang bahkan tak mengenakan sehelai pun benang?”
“Ini pasti ketidaksengajaan, Sayang.”
“Tidak sengaja kau bilang? Kau bahkan tidak mengingat apa pun, Liam! Bagaimana kau bisa berkata jika kau tidak melakukannya padaku? Padahal semuanya sudah jelas. Jika bukan kau? Siapa lagi? Pria lain?” tegas Stella. Gadis itu melepas genggaman tangan Liam kasar.
“Ma-maaf. Maafkan aku.”
“Cepat kenakan pakaianmu,” tutur Stella lirih. Pandangan matanya mengarah pada setelan kemeja yang bertebaran di lantai bersama pakaian dalam mereka.
“I-iya. Aku akan mengenakannya.” Bergegas Liam turun dari ranjang. Mengambil pakaian miliknya dan mengenakannya terburu-buru. Sesekali dia melirik pada Stella yang membuang pandangan ke arah lain. Dia tampak kecewa.
Beberapa saat, ketika selesai dengan aktivitasnya. Liam menghampiri Stella yang masih menutupi tubuhnya menggunakan selimut.
“Kau–”
“Keluarlah.”
“Tapi, Stella–”
“Aku bilang keluar!” tegasnya lantang.
Liam menunduk pasrah. Menimang-nimang apakah ia memang harus keluar atau menghibur kekasihnya saat ini. Tapi, dengan kekecewaan besar gadis itu, mungkin ia memang menginginkan hirapnya sosok Liam dari sisinya.
Kaki jenjang Liam pada akhirnya memutuskan untuk melangkah mendekati pintu. Sebelum tangannya menyentuh knop untuk membuka, telinganya menangkap ancaman yang keluar dari mulut Stella.
“Jika sesuatu terjadi padaku, kau harus tanggung jawab atas apa yang telah kau lakukan semalam.”

Strawberry_pink🍓
71 Pengikut · 3 Novel