


oleh Rika Jhon · 123 Bab
Albern Barnard, seorang pria keturunan Inggris dan Indonesia yang menjadi King of Mafia di Negara Italia, tetapi berkedok pebisnis di Negara Indonesia. Albern yang dipanggil King AB oleh anak buahnya itu, kini tengah memburu seorang pria Indonesia yang bernama Reno. Ia ingin membalaskan dendamnya atas kematian sang kakak karena pengkhianatan yang dilakukan oleh Reno. Albern membunuh Reno di hadapan Harnum—istri Reno yang tengah hamil tua. Tragedi berdarah tersebut membuat Harnum kontraksi. Harnum meminta tolong kepada Albern, tetapi tidak dihiraukannya. Hingga membuat Harnum mengalami pendarahan hebat, dan mengakibatkan kandungannya mengalami stillbirth atau kelahiran mati. Harnum sangat membenci Albern atas perbuatannya tersebut.
"Tolong, jangan kau bunuh suamiku, aku sedang hamil tua. Jika suamiku tiada, lalu bagaimana nasibku dan anakku nanti?"
Dewi Harnum, wanita yang tengah hamil tua terlihat sedang merangkak di bawah kaki seorang pria yang sedang berdiri sembari menginjak dada Reno—suaminya.
"Harnum, istriku."
Suara Reno yang sedang sekarat itu terdengar pilu. Harnum beralih merangkak memeluk tubuh suaminya yang sudah berlumuran darah.
"Mas Reno, tolong bangun, Mas! Jangan tinggalkan aku." Harnum menangis seraya memeluk tubuh sang suami.
"Tuan, tolong jangan kau sakiti istriku dan anakku. Tolong kau lepaskan mereka."
Reno meminta dengan penuh permohonan, tapi pria yang sedang menyiksanya itu bergeming, dia justru semakin menekan dadanya.
"Uhuk! Uhuk!"
Reno batuk darah. Harnum langsung mengangkat kepala sang suami dan diletakkan di atas pahanya. Dia membelai-belai kepala dan wajah Reno dengan berlinangan air mata.
"Harnum, Sayang, cepat kau pergi dari tempat ini, selamatkan dirimu dan anak kita!"
"Tidak, Mas. Aku tidak akan pergi ke mana pun juga. Biarkan aku tetap di sini bersamamu. Kita akan mati bersama, Mas."
"Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Setidaknya kau pikirkan anak kita karena masa depannya masih panjang.”
Albern Barnard, pria yang tengah menyiksa Reno tersebut semakin dibuat naik pitam melihat perlakuan dan cinta Reno yang begitu besar terhadap Harnum.
'Aku tidak akan membiarkan istri dan anakmu hidup dengan tenang, Laki-Laki Keparat! Jika kau mati, maka istrimu yang akan aku jadikan bahan untuk pelampiasan dendamku!'
Albern merogoh pinggangnya yang terdapat senjata, yaitu sebuah pistol berjenis SIG Sauer P226. Pistol yang berkekuatan dan berkualitas tinggi tersebut langsung diarahkan ke dada Reno.
"Jangan! Aku mohon jangan lakukan itu pada suamiku! Lebih baik kau bunuh aku saja!" Harnum memeluk tubuh Reno dengan erat.
"Istriku, Sayang, tolong pergilah dari sini! Aku sangat mencintaimu dan buah cinta kita ...."
"Tidak, Mas! Biarkan kita bertiga mati bersama!"
Albern yang sedari tadi menahan emosinya langsung menendang tubuh Harnum hingga bergeser jauh. Harnum memekik menahan sakit di perutnya yang langsung terasa kram.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan sebanyak tiga kali menggema di ruangan kosong tersebut. Darah bercucuran keluar dari luka tembakan Reno hingga mengalir ke lantai. Harnum yang melihat pemandangan itu berteriak histeris.
"Maas Renoooo! Tidak! Mas, jangan tinggalkan aku, aku mohon!" Harnum meraung-raung seraya mengguncang-guncang tubuh Reno yang sudah tidak berkutik.
"Hahaha, sekarang kau sudah berada di neraka, Reno! Seperti itulah yang dirasakan oleh kakakku ketika dia mati bunuh diri akibat ulahmu!"
Telinga Harnum yang masih normal mendengar ucapan Albern tersebut. Ia langsung berdiri dan menghadap pada pria tampan, tapi menyeramkan itu. Matanya yang merah menatap nyalang dan penuh kebencian padanya.
Plak! Plak!
Harnum melayangkan tamparan pada wajah Albern. Albern merasa semakin emosi, ia mendorong tubuh Harnum hingga terjengkang.
"Aww! Perutku sakit sekali. Tolong, tolong aku! S-sepertinya a-aku kontraksi. A-aku a-akan melahirkan. Ahhh, sakitt!! Tolong aku."
Harnum memohon kepada Albern agar menolongnya, tetapi Albern seakan tuli, ia tidak menghiraukan permohonan Harnum, ia justru melangkahkan kakinya menuju lantai atas dan meninggalkannya serta mayat Reno.
'Apa peduliku? Walaupun wanita itu serta anak di dalam kandungannya mati, aku tidak peduli! Biarkan mereka semua merasakan kesakitan dan penderitaan yang dulu dirasakan oleh kakakku—Ameralda!'
"Mas Reno, suamiku. Perutku sakit sekali, Mas. Tolong aku dan anak kita."
Harnum merintih. Darah semakin membanjiri lantai. Darah dari tubuh Reno dan juga darah yang keluar merembes dari pangkal pahanya.
"Toloonnggg!"
Harnum terus merintih dan meminta tolong kepada suaminya yang sudah menjadi mayat. Dia juga berteriak meminta tolong pada Albern, tetapi Albern tidak mempedulikannya. Pria itu sudah naik ke lantai atas. Darah sudah memenuhi lantai di ruangan rumah kosong tersebut. Kakinya sudah berlumuran darah.
"Toloonngg! Tolong! Perutku sakit sekali, aku sudah tidak kuat rasanya. Mas Reno, suamiku ...."
Sementara itu di lantai atas, Albern terlihat sedang menghubungi seseorang. Setelah itu ia menatap sebuah foto yang ada di dalam dompetnya.
"Kakak, aku sudah membalaskan dendammu kepada Reno, laki-laki yang telah menyakitimu dan mengkhianatimu, sehingga membuatmu bunuh diri. Dan kini wanita yang telah merebutnya darimu itu sudah berada dalam genggamanku. Aku akan menyiksa hidupnya!"
"Toloonnggg."
Suara teriakan Harnum kembali terdengar. Albern yang tengah melamun itu sontak terkejut mendengar suara teriakannya. Ia bergegas menyimpan kembali foto sang kakak ke dalam dompet. Lalu setelah itu bergegas turun ke lantai bawah.
Albern melihat Harnum yang sudah lemas tidak berdaya. Wanita itu sudah tergolek dengan wajah yang pucat pasi karena kebanyakan mengeluarkan darah.
"Hey! Bangun! Apa kau ingin menyusul suamimu itu untuk masuk neraka bersama, hah!" Albern berteriak sembari menendang tubuh Harnum.
Akan tetapi, Harnum tidak bergerak sedikitpun. Albern yang melihat itu mengernyitkan kening. Dengan berat hati dan penuh keterpaksaan ia berjongkok dan memeriksa urat nadi Harnum.
'Dia masih hidup, berarti dia hanya pingsan. Aahh, kau merepotkanku saja segala pingsan!' batinnya.
Tidak berapa lama kemudian, para anak buah Albern datang. Mereka yang tadi Albern hubungi.
"King, mayat ini akan dibuang di mana?" tanya Rully—salah satu anak buah Albern
"Kalian buang saja mayatnya itu di laut! Dan ingat! Jangan sampai perbuatan kalian itu terendus oleh polisi!"
"Baik, King!"
"King, biar aku saja yang membawa tubuh wanita ini." Rully berjongkok dan hendak menyentuh tubuh Harnum.
"Jangan berani-berani kau menyentuhnya jika tidak ingin aku remukkan tanganmu itu!"
Rully langsung beringsut mundur. "Maaf, King.”
"Lebih baik kau ajak mereka untuk membuang mayat itu! Dan ingat! Jangan sampai terendus polisi!"
"Baik, King!"
Rully dan teman-temannya langsung menggotong tubuh Reno yang sudah dimasukkan ke dalam kantong mayat dan langsung dibawa menuju mobil.
Sementara Albern kembali menatap tubuh Harnum. Dengan raut wajah yang sangat kesal ia terpaksa membopong tubuhnya.
'Ah, sialan! Tubuh wanita ini sangat berat sekali. Kau menyusahkanku saja, huh!'
Albern langsung meletakkan tubuh Harnum di kursi belakang mobil. Ia tidurkan tubuh yang tidak berdaya itu. Setelah itu ia segera mengendarai mobil menuju rumah sakit terdekat.
Tidak butuh waktu lama akhirnya Albern telah sampai di rumah sakit. Dia langsung membopong tubuh Harnum menuju ke dalam.
Tim medis yang melihat itu langsung berlari dan membawakan brankar untuk Harnum. Albern meletakkan tubuh Harnum di brankar tersebut. Tim medis pun langsung membawanya menuju ruangan IGD karena keadaan Harnum yang sudah sangat kritis.
Sementara Albern hanya menatap ke arah Harnum dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah itu ia berbalik arah untuk pergi meninggalkan rumah sakit tersebut. Namun, saat ia akan melangkah pergi tiba-tiba dirinya dipanggil oleh seseorang.
"Tuan, tunggu!"

Rika Jhon
8 Pengikut · 2 Novel