Suara pintu lift yang terbuka di lantai empat gedung apartemen Sky Gardenia menandakan babak baru yang tidak Amara sangka. Di hadapannya, lorong panjang dengan karpet abu-abu gelap membentang, di sebelah kanannya tampak pintu kayu solid dengan nomor berwarna perak yang mengilat, 402.
Amara memegang kunci di tangannya dan merasakan dingin dari logam itu. Di belakangnya, dua orang agen pindahan dari perusahaan jasa angkut tengah sibuk menurunkan kardus-kardus barang yang mereka bawa, lalu meletakkannya di dekat pintu.
Saat itu juga, seorang pria bertubuh gempal berjalan cepat ke arah Amara.
“Langsung masuk saja, Mbak!” ucap pria itu.
Amara menoleh sebentar sebelum mengangguk pelan. Ia memutar kunci pintu lalu mendorongnya perlahan. Ia melangkah masuk, selangkah demi selangkah. Bau cat menusuk hidungnya. Warna salem yang menenangkan juga tampak di matanya.
“Apa semua prosedur sudah selesai, Pak?” tanya Amara kepada pria gempal itu, agen apartemennya.
“Semua sudah diselesaikan keluarga Mbak Amara. Jadi, Mbak bisa langsung menghuni hari ini juga. Ah, iya … mohon maaf sebelumnya, Mbak. Rencananya, AC baru akan dipasang pukul 11 siang nanti,” ucap pria itu sambil melirik jam di pergelangan tangannya. “Sekarang masih pukul 10, jadi harus menunggu satu jam lagi. Apa tidak apa-apa, Mbak?” lanjut pria itu.
“Tidak apa-apa, Pak. Sambil menunggu AC dipasang, agen pindahan bisa lebih dulu mengangkut barang-barang saya ke dalam apartemen.” Amara kembali menyunggingkan senyum.
Di dalam hatinya tumbuh harapan yang membuncah. Ia berjalan mengelilingi apartemen itu, mengunjungi seluruh ruangannya. Maklum, ini kali pertama ia ke sini karena keluarganya yang menyiapkan tempat ini.
Apartemen 402 tidak berantakan, cukup minimalis untuknya. Seluruh dindingnya dibalut warna salem, warna yang seharusnya memberikan kesan hangat. Namun, bagi Amara, warna itu justru terasa dingin dan sepi, seolah siap menelannya dalam kesepian tanpa batas.
Lantainya terbuat dari kayu berwarna cokelat madu yang dipoles hingga Amara bisa melihat pantulan wajahnya yang kuyu.
Di dindingnya, sebuah jendela kaca raksasa membentang dari lantai hingga langit-langit, menyuguhkan pemandangan langit biru yang luas. Karena berada di lantai empat, Amara sejajar dengan pucuk-pucuk pohon yang berbaris yang kadang kalah tinggi dengan beton-beton bangunan cakrawala kota.
“Ini ditaruh di mana, Mbak?” Suara agen pindahan memecah lamunan Amara.
“Oh, di sana saja dulu, di tengah,” sahut Amara tergagap sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
Agen-agen itu mulai membawa kotak-kotak kardus besar yang beberapa sudutnya sudah penyok, kontras dengan suasana di ruangan itu. Tak lama kemudian, muncullah “sang pengganggu” estetika apartemen itu, yaitu sebuah sofa tua berwarna cokelat dengan tekstur beludru yang tebal.
“Hati-hati dengan sudutnya!” Amara memperingatkan saat para agen terlihat kesulitan memasukkan sofa itu melewati pintu yang sempit.
Amara berjalan mendekati jendela besar di sisi ruangan. Ia meletakkan telapak tangannya pada kaca yang dingin. Di luar sana, awan-awan menggantung rendah, berwarna putih kelabu. Langit terlihat bersih. Bahkan tidak ada satu burung pun yang terbang di sana.
Lalu, Amara kembali menoleh ke belakang. Kedua matanya meneliti setiap sudut ruang dan langit-langitnya. Lampu gantung minimalis menjuntai indah di sana, dan hanya AC yang belum terpasang.
Apartemen ini memang belum sepenuhnya siap untuk dihuni, tetapi Amara sudah bulat dengan keputusannya untuk segera pindah. Kenangan yang tersisa seolah menghantuinya jika ia masih berada di rumah lamanya.
Apalagi hilangnya sosok terdekatnya membuat Amara semakin mati rasa terhadap tempat itu. Ia lebih memilih pindah ke tempat baru daripada tinggal di tempat yang penuh kenangan indah sekaligus pahit.
Seorang agen pindahan kembali mendekatinya.
“Mbak, kotak yang ada tulisan ‘Pecah Belah’ ini mau ditaruh di mana?” tanyanya sambil menyeimbangkan sebuah kardus di pelukannya.
Amara menoleh, matanya masih sedikit buram karena terlalu lama menatap cahaya di luar jendela. “Dapur saja, tapi, tolong pelan-pelan, itu isinya piring-piring tua.”
“Lalu ini, Mbak. Bingkai foto yang besar-besar ini?” Agen yang lebih tua menunjuk tumpukan bingkai yang dibungkus bubble wrap tebal. “Mau disandarkan di dinding atau bagaimana, Mbak?” lanjutnya.
“Sandarkan saja di dinding dekat sofa,” jawab Amara pelan. Ia melihat bingkai-bingkai itu dengan perasaan melankolis.
“Ini koper-koper terakhir, Mbak. Totalnya ada lima, ya?”
“Ya, benar! Letakkan saja di dekat pintu kamar utama!”
Amara merasa energinya terkuras hanya dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhana itu. Suara gesekan koper di atas lantai kayu terdengar nyaring di telinganya. Setiap suara memantul, menciptakan gema kecil di kepalanya dan membuatnya berdenyut.
“Sofa cokelat beludru itu diletakkan di sebelah sana saja!” perintah Amara saat melihat sofa sudah diangkat ke dalam ruangan.
“Siap, Mbak! Sebentar lagi semua akan selesai.”
Para agen kembali keluar untuk mengambil sisa barang, termasuk tanaman hidup yang masih tertinggal di koridor. Amara mengikuti mereka keluar untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal di dekat lift. Namun, saat ia melangkah ke ambang pintu, langkahnya terhenti.
Pintu apartemen di seberangnya, Unit 411, terbuka lebar. Seorang wanita dengan rambut dikuncir kuda berantakan dan modis muncul dari dalam.
Ia mengenakan kaus kuning cerah yang seolah menantang cat keabu-abuan di lorong apartemen itu. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak piza yang sudah kosong.
Wanita itu membeku saat melihat keramaian di depan Unit 402, lalu sebuah senyum lebar merekah di wajahnya.
“Wah, penghuni baru!” serunya dengan nada suara yang naik satu oktaf.
Ia berjalan mendekat tanpa ragu. Langkahnya ringan, seolah ia tidak punya beban sedikit pun. “Hai! Aku Rima, dari Unit 411. Tetangga depan pintumu.”
Amara berkedip beberapa kali, sedikit terkejut dengan serangan keramahan yang tiba-tiba ini. “Oh, hai. Saya Amara.”
“Amara, nama yang cantik!” Rima meletakkan kotak pizanya di atas salah satu kardus Amara, lalu segera mengangkatnya kembali sambil tertawa kecil. “Maaf, maaf, aku terlalu bersemangat. Baru pindah hari ini? Aku lihat agen pindahannya masih sibuk. Butuh bantuan? Atau mungkin butuh asupan kafeina? Aku baru saja menyeduh kopi yang sebenarnya terlalu pahit untukku, tapi aromanya juara.”
Amara memaksakan senyum tipis. Sifat pendiamnya membuatnya ingin segera masuk kembali ke dalam apartemen dan mengunci pintunya. Namun, ada sesuatu pada Rima yang membuatnya merasa tertarik. Mungkin binar di matanya atau keceriaan dalam suaranya.
“Terima kasih, Rima, tapi saya masih harus merapikan ini semua,” kata Amara pelan.
Agen pindahan melintasi mereka membawa tumpukan terakhir. “Sudah semua, Mbak Amara. Silakan dicek lagi, Mbak!”
Amara melihat ke arah lift, memastikan tak ada barang yang tertinggal di sana. Lalu, ia menandatangani berkas serah terima dan memberikan tip kepada para agen tersebut. Setelah itu mereka pergi dan suasana lorong kembali sunyi, hanya menyisakan Amara dan Rima yang masih berdiri di depan pintu masing-masing.
“Yah, aku harus membuang sampah ini dulu,” Rima mengangkat kotak pizanya. “Amara, kalau nanti malam kamu merasa terlalu sunyi di dalam sana, ketuk saja pintuku. Aku biasanya begadang buat maraton film horor. Jangan sungkan, ya.”
“Terima kasih, Rima. Itu sangat berarti,” jawab Amara jujur.
Rima melambaikan tangan dengan ceria sebelum berjalan menuju arah lift. Lalu, Amara?
Amara kembali masuk ke dalam Unit 402. Ia menutup pintunya, dan kali ini, bunyi dentumannya tidak terdengar begitu mengerikan. Ia berjalan menuju sofa cokelatnya, duduk di atas permukaan beludru yang familiar, dan menatap ke arah langit luas di balik jendela.
Amara menarik napas panjang, mencium bau debu di sofanya sendiri. Untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan pindah, ia merasa bahwa mungkin ia akan baik-baik saja di sini.