


oleh Valoria · 107 Bab
Di mata publik, Eveline adalah istri yang setia dan dermawan. Namun, di balik kebaikannya, ia adalah ratu tak bermahkota yang mengatur siapa dalam keluarganya yang akan hidup dan siapa yang akan mati demi polis asuransi dan harta yang ia incar. Sementara John, mantan kekasih masa kecil yang kini menjadi tangan kanannya, hanya pion pertama dalam membangun kekayaan yang perlahan ia dirikan. Ketika cinta, gairah, dan harta bertemu, berapa banyak nyawa yang harus mereka korbankan?
Di balkon hotel, Eveline berdiri anggun, dengan gaun merah membalut tubuhnya. Angin malam beraroma tembakau dari rokok John, menyapa wajah cantiknya.
“Edward akan jadi yang pertama.” Eveline berbisik, tatapannya menyapu gemerlap lampu kota. “Besok aku akan mengunjunginya. Pamanku yang malang itu selalu percaya aku ini anak yang baik.”
John mengangguk, seperti meyakinkan. “Aku siap, Eve. Kita hanya perlu menyusun langkah dengan hati-hati, sampai si bodoh Edward yakin kau pantas jadi ahli waris kekayaan dan polis asuransinya.”
Senyum Eveline merekah, merah bibirnya seperti noda darah yang baru saja mengering. Ia melangkah mendekat, menggelayut manja di tubuh John. “Dia hanya pria tua yang kesepian. Sedikit kebaikan sudah cukup membuatnya percaya, bahwa aku adalah satu-satunya yang pantas mewarisi segalanya."
John memeluk Eveline erat, bibirnya menyentuh telinga wanita itu. “Sayang, bukankah sebenarnya lebih mudah kalau Richard, suamimu, yang mati?”
Eveline mendorong dada John perlahan, menatapnya tajam, matanya menantang penuh gairah. “Richard masih harus hidup.” Jemarinya terulur, menyentuh dagu John dengan lembut mendominasi. “Ingat, John! Aku yang menentukan siapa yang akan kita eksekusi. Jangan pernah mencoba mengaturku. Aku selalu tiga langkah di depanmu.”
***
Rumah besar milik Edward Moreau berdiri tenang di pinggiran Kota Velmore. Aroma anggur dari perkebunan di belakang rumahnya tercium hingga ke ruang makan.
Edward sedang duduk santai dengan kaos oblongnya, saat Eveline masuk dengan senyum lembutnya, ia memanggil Edward dengan mata penuh kepolosan. “Paman, lihat deh, aku bawakan pai apel kesukaanmu, loh,” katanya manis sambil menaruh loyang di meja.
Edward tersenyum lebar. “Kau memang ponakan Paman yang paling pengertian. Selalu tahu caranya membuatku senang, Eve. Duduklah, sini temani aku makan.”
Mereka makan bersama. Eveline melayani pamannya, menuangkan wine, memotongkan daging, bahkan menyeka remah di sudut bibir Edward dengan tissue. Ia nampak begitu anggun, seperti malaikat kecil yang tulus. Namun, di balik senyum itu, pikirannya bekerja cepat. “Paman.” Suaranya selembut bisikan. “Pernahkah kau memikirkan tentang masa depan? Hmmm ..., maksudku, tentang bagaimana memastikan semua yang sudah Paman bangun tetap terjaga.” Ia sedikit menahan kalimatnya, seolah ia peduli dan khawatir.
Edward mengangkat alis, sedikit terkejut. Ia meletakkan gelas wine di meja, lalu menatap Eveline penuh rasa ingin tahu.
“Kau bicara soal harta?” Ia menghela napas pelan. “Kau tak usah khawatir, Eve. Kalau aku sakit atau terjadi sesuatu, aku punya sedikit tabungan dan asuransi. Itu cukup untuk tidak membebani orang lain.”
Eveline menunduk, memasang wajah sungkan, jari-jarinya bermain di tepian gelas. “Bukan, bukan begitu, Paman. Aku bahkan tidak mengerti hal-hal seperti itu.” Ia mengangkat wajahnya, matanya tampak hangat. “Aku hanya ingin kau tenang. Semua kerja kerasmu, semua yang kau bangun itu sangat berharga. Aku hanya ingin itu tidak sia-sia.”
Edward mematung. Nampak sedikit keraguan di mata tuanya. Ia memikirkan usianya yang tak lagi muda, tapi tidak pernah membicarakan masa depan dengan siapa pun. Kemudian wajahnya melembut saat menatap mata Eveline yang polos.
“Kamu benar, Eve!” Ia menghela napas berat. “Aku sudah lama memikirkan. Aku ini sudah tua, tak ada anak juga istri. Kekayaanku ini, walau pun tidak seberapa, ini harus jatuh ke tangan yang tepat. Tapi itu, bukan perkara mudah Eve.”
Ia menikmati winenya, lalu tersenyum tipis. “Kau ingat sepupumu, Andrew Moreau yang tinggal di luar negeri sejak masih kecil, Eve? Dulu sekali, Paman suka mengunjunginya saat Paman ada kerjaan di Zovaria. Paman dengar, dia sudah tumbuh menjadi pemuda yang hebat. Walaupun Kami jarang bertemu, tapi dia tetap keluarga. Bagaimanapun, dia pewaris nama Moreau.”
Nama itu membuat dada Eveline mengencang, meski wajahnya tetap teduh. Ia menautkan jari-jarinya di atas meja, pura-pura terkejut sekaligus kagum.
“Ohhhh Andrew,” gumamnya lembut dengan mata nembelalak kagum. “Aku ingatlah Paman, ia adalah anak tunggal Paman Edy, sayang sekali Paman Edy meninggal. Dan Andrew pun harus ikut Ibunya ke luar negeri. Tapi, bukankah sudah lama sekali dia tidak pulang ke Velmore?”
Edward mengangguk pelan, ada keraguan yang jelas di sorot matanya. “Ya. Dia sibuk dengan urusannya di luar negeri. Tapi, darah tetaplah darah, Eve. Sulit bagiku menutup mata soal itu.”
Eveline tersenyum samar, manis sekaligus getir. Ia meraih tangan Edward, menggenggamnya. “Paman,” katanya lembut, “aku tidak pernah meragukan Andrew. Dia tentu anak yang baik, tapi bukankah sudah bertahun-tahun ia jauh dari sini? Ia bahkan tidak sempat menemani Paman ketika sakit beberapa bulan lalu.”
Ia menunduk, lalu kembali menatap Edward dengan mata berkaca-kaca. “Aku ..., aku hanya ingin membuat mamaku bangga, menunjukkan bahwa aku peduli pada Paman, saudara yang sangat ia cintai. Aku di sini bukan karena harta, tapi karena keluarga. Bukankah yang paling berharga adalah kehadiran seseorang yang benar-benar peduli?”
Edward terdiam, sorot matanya goyah. Wajah tuanya menunjukkan pertarungan batin antara darah yang jauh di negeri lain dan sosok Eveline yang nyata di hadapannya.
“Eve—” gumamnya pelan, seakan terenyuh. “Kau memang selalu ada di sisiku. Andrew entah kapan dia bisa pulang. Telepon pun jarang.”
Eveline tersenyum lembut, meski dalam hatinya penuh kemenangan. Ia tahu kata-katanya mulai menggerus keraguan pamannya. Dengan suara nyaris berbisik, ia menambahkan, “Aku hanya ingin kau merasa dicintai, Paman. Itu saja.”
Ia lalu menenggak anggurnya perlahan, lalu memasang wajah bahagia dan penuh ketulusan, “Oh ya, besok aku dan Richard berencana mengunjungi panti asuhan di pinggir kota. Kami ingin berbagi, meski hanya sedikit. Anak-anak di sana, mereka jarang menerima bantuan. Sesekali kami ingin memberikan makanan dan pakaian yang layak untuk mereka.”
Kalimat itu membuat Edward tersentuh. Ia menatap Eveline kagum, seolah melihat sesuatu yang semakin menguatkan perasaannya. “Kau dan Richard? Mau ke panti asuhan?”
Eveline tersenyum manis, matanya berkilau. “Ya, Paman. Aku ingin belajar dari Richard juga darimu. Bukankah hidup ini lebih indah bila kita bisa membagikan kebahagiaan, bukan hanya menyimpannya untuk diri sendiri?”
Edward menghela napas panjang, hatinya melumer. Sebuah senyum tulus terpancar di wajahnya. “Eve, kau benar! Anak sepertimu yang selalu hadir, yang peduli, mungkin memang itulah yang dunia ini butuhkan. Dan—yang aku butuhkan.”
Eveline menggenggam tangannya sekali lagi, menunduk seakan malu menerima pujian. Namun, di balik senyum teduhnya, pikirannya berbisik licik. Satu langkah lagi, si bodoh Edward Moreau akan menjadi bonekaku untuk menaiki tangga kekayaan.
Edward menegakkan tubuhnya. Ia menatap Eveline dengan sorot mata tuanya yang teduh. “Eve,” ucapnya dengan suara bergetar, “kau tahu, aku tidak pernah benar-benar membicarakan hal ini dengan siapa pun, tapi hari ini aku merasa lega.”
Ia meraih map kecil di sisi meja kerjanya, membukanya, memperlihatkan beberapa lembar dokumen berlogo perusahaan asuransi dan bank. Jarinya bergetar saat menyusuri kertas itu.
“Aku memang sudah lama menimbang soal siapa yang pantas menerima semua ini. Andrew? Yah benar. Dia darah Moreau. Tapi dia jauh, sibuk dengan hidupnya sendiri. Sedangkan kau." Edward menatap Eveline lama, matanya berkaca-kaca. “Kau ada di sini. Kau selalu di sini.”
Eveline membelalakkan matanya, ia pura-pura terkejut, meski di balik matanya ada sorak kemenangan. “Paman—” bisiknya lirih, “aku nggak sebanding sama Andrew. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya keluarga lakukan.”
Edward menggeleng pelan, menutup map itu dengan tangannya sendiri. “Mungkin inilah waktunya aku membuat perubahan. Aku akan bicara dengan penasihat keuangan besok. Nama ‘Eveline Moreau’, seharusnya memang pantas tercatat di sini.”
Eveline menggenggam tangannya, matanya bermain penuh emosi yang dibuat-buat. “Aku— aku tidak tahu harus berkata apa, Paman.”
Edward hanya tersenyum, tampak lelah sekaligus pasrah. “Cukup ada di sisiku, Eve. Itu saja yang kuminta.”
Sementara itu, jauh di balik senyumnya yang teduh, Eveline tahu permainannya hampir sempurna. Yang tersisa hanyalah memastikan Edward benar-benar menuliskan namanya, dan menghapus satu-satunya bayangan penghalang bernama Andrew.

Valoria
21 Pengikut · 1 Novel