


oleh Rannisa Genki · 67 Bab
Satu kebodohan wanita yang seringkali terjadi adalah menikah demi status, menikah karena usia, dan menikah karena desakan keluarga. Itulah yang juga dialami oleh seorang wanita karir bernama Kirana Zendaya, menikah demi status yang didesak keluarga. Satu kebodohan laki-laki yang seringkali terjadi adalah masih berhubungan dengan sang mantan, tidak peduli pada perasaan perempuan yang terlibat, hanya demi suatu arti bermakna silaturahmi dan komunikasi. Sama halnya yang dialami pria pengangguran bernama Kalil Nayaka, menikahi seorang wanita dengan karir cemerlang demi taruhan yang diberikan temannya, meninggalkan sang kekasih dan menyisakan rasa cinta menjadi dendam.
Pernahkah terbesit dalam pikiran betapa nikmatnya hidup menjadi salah satu turunan keluarga konglomerat? Yang pasti memiliki gelimang harta dan kepastian takhta, tanpa melakukan apa pun.
Kehidupan yang dengan mudah mencapai dan mendapat segala yang diharap, kehidupan yang konon katanya hampir tidak memiliki masalah dan kesulitan hidup. Nyatanya? Bagi manusia, jika tidak ada masalah maka tidak menutup kemungkinan akan ada celah untuk membuat masalah. Tetapi, bukan berarti pula si kaya adalah pembuat masalah.
Tidak diajarkan rasa kemanusiaan, tidak diajar peduli dan empati, tidak diajar arti keadilan dan kebenaran. Yang diajar hanya cara untuk mengembangkan bisnis, dan mendapat yang diinginkan dengan segala taktik. Dengan sengaja membentuk kepribadian anak yang sesuai kehendak, menyumpahinya sebagai durhaka dan pantas dilaknat saat ada kritik.
Sampai seorang wanita cantik dari salah satu keluarga konglomerat, berpikir bahwa semua yang dilakukan keluarganya adalah kesalahan, semua yang diajarkan guru privatnya hanya pengaturan sesuai kehendak orang tua, dan semua nasihat yang diberi tidak benar-benar sebuah petuah baik, nyatanya hanya petuah yang sesuai suasana hati dan dapat berubah kapanpun.
"Munafik!" teriak seorang wanita hampir paruh baya pada putri bungsunya yang benar-benar keluar kamar membawa sebuah koper. "Ada ribuan orang di luar yang pengen ada di posisi kamu, orang tua jungkir balik biar kamu hidup enak, dan kamu tinggal patuh saja tapi susah banget."
"Ada ribuan orang tua juga di luar sana yang pengen punya anak kayak aku, yang enggak manja dan berharap dari harta orang tua, yang mandiri dan berani ambil risiko untuk hidupnya sendiri. Jungkir balik aku kejar impianku, dan kalian tinggal setuju saja tanpa aku libatkan ke risikoku tapi susah banget," sahut si putri bungsu mengikuti cara ibunya bertutur kata. "Aku memang anak kalian, tapi aku enggak mau hidup di bawah bayang-bayang kalian. Aku mau mandiri dan mau jadi diri sendiri," lanjutnya menatap tajam wanita paruh baya yang ada di hadapannya kini.
"Enggak penting begitu. Ayah sudah buatkan jalan hidup kamu, tinggal ikuti saja, enak hidup lo," tukas pria paruh baya yang berdiri bersedekap dada di sebelah istrinya, wanita paruh baya yang terus menatap marah si putri bungsu yamg selalu kontra dengan keluarga.
"Siapa yang berharap aku lahir? Siap ...."
"Ran ...," tegur wanita muda yang tak jauh usianya dari si bungsu, wanita muda berstatus sebagai si sulung, sosok kakak yang hampir selalu membela orang tua dengan dalih berbakti, yang tak jarang akrab juga akrab dengan sang adik meski sering berkontra urusan harta tahta keluarga.
Tidak ada pendirian, itulah karakter si sulung yang adiknya berikan. Terlalu labil, menyebalkan, dan aneh dalam satu waktu.
"Apa? Mau suruh aku buat diam saja walau ditindas, hanya karena mereka ini orang tuaku? Bodoamat, Kak!" sahut si bungsu bernama Kirana Zendaya, wanita di rumahnya yang secara fisik bisa dikatakan paling cakap rupa, secara kecerdasan intelektual tak bisa diragukan, secara kecerdasan komunikasi juga tak perlu dipertanyaka.
Kelemahan seorang Kirana Zendaya di rumahnya hanyalah lebih banyak memendam, lebih banyak diam, dan tiba-tiba meledakkan emosi tak terkendali, seolah amat lemah dalam pengelolaan emosi.
"Sudahlah biar saja, anak durhaka memang kayak gini. Enggak bisa diatur, enggak mau patuh sama orang tua, kurang ajar," oceh pria paruh baya yang berstatus sebagai ayah dari Kirana Zendaya, sosok pria yang banyak orang katakan sebagai cinta pertama anak perempuan, nyatanya menjadi kebencian pertama bagi wanita yang akrab disapa Rana.
"Bodoamat!" teriak Rana sambil berjalan keluar rumah dan menarik kopernya, membawa beberapa helai pakaian dan semua berkas kehidupannya. Akta, tanda pengenal, ijazah, sertifikat, sampai rapor.
"Begitu mulu sama orang tua. Laknat hidup kamu, Rana!" seru wanita paruh baya menghardik putri bungsunya tanpa ragu. "Aku sumpahin kau enggak akan pernah sukses, anak durhaka! Tanpa bekal, enggak bawa uang, pasti ujungnya jadi jalang. Bisa apa kau tanpa orang tua, hidup kau itu restu dari kita tapi kau durhaka kayak gitu," lanjut ibu dari Rana berujar.
Terkekeh kecil Rana tetap berjalan dan melewati kakaknya tanpa ragu, sampai langkahnya terhenti di depan pintu lebar dan tinggi itu. Berbalik arah ia dan menatap wajah keluarganya yang terlihat jelas penuh emosi, bahkan wanita yang telah melahirkannya tanpa izin pun menangis, bertingkah selayaknya korban yang dianiaya, "aku, Kirana Zendaya. Mengutuk kakiku sendiri bila menginjakkan diri di rumah ini lagi!"
"Ya sudah pergi sana! Enggak usah banyak bacot, Jalang," usir wanita paruh baya yang membuat Rana tersenyum simpul.
"Selamat tinggal, keluarga jahanam."
Melangkah keluar wanita muda berusia delapan belas tahun itu, tidak berbekal apa pun, hanya modal tekad untuk bebas dengan ekspektasi yang mungkin saja mustahil dicapai. Mengingat kepahitan hidup yang semua butuh latar belakang, semua butuh kenalan orang dalam, dan semua butuh keberanian menjual segalanya tanpa terkecuali.
Uang. Anak bungsu orang kaya mana yang tidak dimanjakan dengan uang, bahkan sejak di rahim? Segala yang dibutuhkan janin, bayi, batita, balita, anak-anak, sampai masa remaja awal didapat dengan mudah tanpa alasan apapun, tanpa syarat apapun, dan tanpa usaha apapun. Cukup menadahkan tangan dan tersenyum kecil untuk merayu konyol, semua yang diharapkan bisa didapat.
Dan kini? Si bungsu itu telah melangkah keluar dengan emosi yang tak lagi bisa menjadi tangis, si bungsu yang sebenarnya tidak memikirkan risiko dari kehidupan lebih lanjut tanpa bekal apapun. Apa bisa bertahan? Apa yang bikin bisa bertahan?
Bertutur tentang bertahan, dimana harus berteduh dan bermalam sekarang? Apa semua tempat aman untuk perempuan? Rasa-rasanya pasti tidak, terlalu berbahaya dengan sejuta alasan dan penyebab.
Teman? Apa itu teman? Sepanjang hidup, Kirana hampir tidak pernah memiliki teman dan hampir tidak bisa mengartikan makna teman sesungguhnya. Hidup hanya diajarkan cara menghasilkan dan memperoleh suatu nominal, jika masa sekolah adalah nilai maka masa dewasa sudah pasti uang.
"Oi, putrinya Pak Soerjyaso !" seru seorang pria muda tapi juga terlihat lebih tua darinya.
"Hm?" deham Rana bingung seraya menoleh ke belakang.
Terlihat mobil melaju pelan dan berhenti saat berada di dekatnya, mengernyit Rana dan menatap bingung pria muda yang melongokan kepalanya keluar kaca mobil. "Kenal saya?"
"Eehhh ... kagak begitu caranya bertanya ke orang yang kenal kamu tapi kamu enggak kenal dia," celoteh pria muda itu terdengar mengejek, seolah mengenal baik seorang Kirana dengan sejuta karakternya yang dingin, meski kenyataan berkata bahwa Rana tidak mengenal pria itu.
"Siapa?" tukas Rana mengangkat satu alisnya acuh tak acuh. Wajah itu terasa familiar tapi juga asing.
"Denandra Jamali, panggil saja Den. Aku anak yang punya toko roti, yang kerja sama dengan perusahaan keluargamu."

Rannisa Genki
20 Pengikut · 2 Novel