“Saya terima nikah dan kawinnya Aira Rainaka dengan mas kawin seperangkat alat sholat dengan emas lima puluh gram, rumah mewah beserta isinya dan uang satu milyar. Dibayar tunai!” ucap seorang laki-laki dengan lantang mengucapkan qabul pada wanita cantik di sampingnya.
Penghulu dan para saksi mengucapkan syukur atas pernikahan kedua pengantin bernama Aira dan Zivan. Aira Rainaka, gadis cantik yang baru menginjak umur dua puluh tahun itu tersenyum bahagia. Akhirnya Zivan, sang kekasih menikahinya. Pernikahan itu digelar begitu megah dan mewah sesuai keinginan orang tua Zivan yang seorang konglomerat terkaya di Kota Surabaya.
“Silakan dua pengantin saling memasang cincinnya!” ucap penghulu setelah menyelesaikan doanya.
Zivan mengambil cincin emas putih dengan berlian yang berkilau indah. Ia menyematkan pada jari manis Aira, begitu pula Aira menyematkan cincin putih pada jari Zivan.
“Terima kasih sudah menerimaku menjadi suami kamu, Aira, aku bahagia sekali bisa bersama kamu!” ucap Zivan mencium kening Aira membuat kedua pipi Aira bersemu merah.
Sementara sorak bahagia terdengar dari belakang yang menjadi saksi betapa bahagianya hari tersebut untuk kedua pengantin baru itu.
Acara akad nikah selesai dan dua pengantin baru itu masuk ke kamar pengantin. Acara tersebut diadakan di rumah mempelai wanita yang tak lain di rumah Aira. Meski Aira tidak sekaya Zivan, tetapi hidupnya tercukupi selama ini dengan peninggalan orang tuanya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Kabut awan mulai memperlihatkan mega merahnya pertanda malam tiba. Aira dan Zivan duduk di pelaminan menjadi raja dan ratu sehari. Banyak tamu yang datang memberikan selamat atas pernikahan mereka.
“Selamat ya, sayangku, akhirnya sold out juga. Sini peluk bareng!” ucap Tiara, sahabat baik Aira.
“Terima kasih, Tiara, kamu orang terpenting dalam acara ini. Kalau bukan kamu, impian pernikahanku tidak sebagus dan semewah ini!” balas Aira meneteskan air matanya.
“Ih, jangan bilang terima kasih ke aku dong. Seharusnya bilang ke suami kamu, kalau bukan karena dana dari dia, mana ada yang seperti ini! Kamu beruntung sekali mendapatkan suami sesempurna seperti Zivan!” bisik Tiara tersenyum hangat.
Tiara memang menjadi saksi bisu cinta dua pengantin itu. Zivan yang terkenal dengan wajah dingin dan kaku tiba-tiba jatuh hati pada Aira, meski umur keduanya terpaut sepuluh tahun. Zivan tidak pernah menyerah untuk mengambil hati Aira.
“Kalau begitu aku balik ke barisan lagi ya, nanti malah didemo sama orang-orang kalau kelamaan ngobrol sama kamu!” sambung Tiara berpamitan.
Tiara tersenyum mengangguk pada Zivan sedangkan Zivan hanya mengangguk sekilas. Terlihat ada kekhawatiran tersendiri melihat sikap Zivan yang begitu dingin, takut jika Zivan memperlakukan Aira dengan tidak baik.
Hiruk pikuk pernikahan Aira-Zivan semakin meriah di malam hari. Senyum bahagia terpancar dari dua pasangan itu, Zivan sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya dari Aira. Matanya terus menatap wajah cantik Aira, Zivan merasa dunia benar-benar berpihak dengannya bisa meminang gadis secantik Aira.
“Kamu kenapa sih sedari tadi menatapku seperti itu, Mas, ini juga tanganmu tidak mau lepas dariku? Kayak orang posesif aja!” celetuk Aira cemberut.
Zivan mencubit hidung Aira dengan gemas. “Kamu tahu nggak, malam ini aku pria paling beruntung bisa memiliki kamu. Siap-siap ya, mulai malam ini, kamu akan menjadi milikku seutuhnya!” ucap Zivan.
Kedua pipi Aira bersemu merah. Ai tersentuh dengan ucapan suaminya yang biasa terlihat dingin, tetapi akan bersikap hangat jika bersamanya.
“Dasar kamu sukanya gombal sama aku, Mas!” kata Aira.
“Tidak, Sayang, aku serius. Kamu wanitaku dan satu-satunya cuma milikku!” balas Zivan memeluk tubuh mungil Aira.
Malam semakin menanjak ketika Aira-Zivan hendak turun dari tempat duduknya. Tiba-tiba seorang gadis kecil menghampiri kedua pengantin itu.
“Papa!” pekik seorang gadis kecil yang tiba-tiba naik ke pelaminan membuat atensi dua pengantin itu teralih.
“Papa? Kenapa dia memanggil kamu papa, Mas?” tanya Aira mengernyitkan keningnya terkejut. Begitu pula dengan Zivan yang terkejut tiba-tiba ada yang memanggilnya “Papa”
“Maafkan putriku, dia menjadi mengganggu kalian. Dia memang seperti ini jika melihat laki-laki yang mirip dengan ayahnya yang sedang bekerja di luar negri!” ucap seorang wanita berlari tergopoh-gopoh menghampiri gadis kecil itu.
Wanita itu memakai gaun merah panjang itu menuntun gadis kecil yang katanya putrinya.
“Ma, apa benar dia papaku?” tanya gadis itu yang sayup-sayup. Aira mendengar percakapan mereka.
Wanita itu berlutut menyamakan tubuhnya dengan sang putri. “Bukan, Sayang, kamu salah orang. ‘Kan mama sudah bilang kalau papa sedang bekerja di luar negri. Nanti kita video call ya, kalau kamu merindukan papa kamu!” jawab wanita itu.
Gadis kecil itu hanya mengangguk sekilas, tatapannya masih tertuju pada Zivan.
“Kalau begitu kita pulang yuk, Mama sudah selesai bekerja!” ajaknya kembali menggandeng tangan mungil putrinya.
“Kasian ya, Mas, ternyata gadis kecil itu sudah ditinggal ayahnya kerja di luar negri!” ucap Aira prihatin. Namun, Zivan hanya terdiam memperhatikan sepasang ibu dan anak itu.
“Mas, kok kamu malah diam saja!” tegur Aira menepuk lengan Zivan yang terlihat terdiam di sampingnya.
“Eh, ada apa? Kamu pasti lelah ya, Sayang. Ayo, kita ke hotel yang sudah Papa Mama siapkan biar kamu bisa beristirahat, Sayang!” ujar Zivan gelagapan.
Aira hanya mengangguk, tersenyum dan menggandeng lengan Zivan dengan mesra.