“Kamu tidak bisa terus-menerus menolak, Jasmine. Keputusan keluarga sudah bulat, dan ini demi kebaikan masa depanmu,” ucap Ayah, dengan suara menggelegar di ruang makan yang megah dan terasa sangat hampa malam itu.
Jasmine meletakkan sendok dan garpunya secara perlahan di atas piring porselen putih, menimbulkan suara berdenting nyaring yang memecah keheningan malam. Napasnya terasa sesak, seolah oksigen di ruangan berpendingin udara itu mendadak lenyap terserap oleh dinding-dinding marmar.
Ia menatap tajam ke arah kedua orang tuanya secara bergantian, mencari secercah keraguan atau belas kasih di sana, tetapi yang ia temukan hanya tatapan penuh harap yang sarat akan beban sosial dan nama baik keluarga. Perjodohan di lingkaran sosial kelas atas bukanlah hal baru bagi Jasmine, tetapi dipaksa menikah dengan seseorang yang bahkan belum pernah ia temui batang hidungnya adalah bentuk penindasan paling halus yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.
“Kebaikanku, Ayah? Atau kebaikan relasi bisnis dan politik keluarga kita?” balas Jasmine dengan nada suara yang bergetar hebat, menahan amarah yang mendesak naik ke tenggorokan. “Aku bahkan tidak tahu siapa pria ini. Namanya asing, latar belakangnya tidak jelas, dan sekarang Ayah memintaku menyerahkan seluruh sisa hidupku untuk tidur di bawah atap yang sama dengannya? Ini gila.”
“Jaga nada bicaramu, Jasmine!” Ibu menimpali dengan nada tajam sambil merapikan serbet di pangkuannya. Wajah wanita paruh baya itu menyiratkan kekecewaan yang dibuat-buat.
“Keluarga kita memiliki utang budi besar pada mendiang pamannya yang telah menyelamatkan bisnis kakekmu dulu. Ini adalah bentuk pengabdian dan kehormatan keluarga. Pria itu adalah seorang prajurit. Namanya Julius. Dia pria yang disiplin, bertanggung jawab, dan tidak banyak bicara. Kamu tidak butuh cinta untuk memulai sebuah pernikahan, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu.”
Jasmine mendengkus pelan, menertawakan kepolosan retoris ibunya. Di era modern seperti ini, mengandalkan klise ‘cinta datang karena biasa’ terasa seperti lelucon buruk yang sengaja dilemparkan untuk menjerumuskannya ke dalam jurang ketidakpastian. Menikahi seorang militer berpangkat biasa di tengah dinamika sosial mereka terdengar seperti sebuah kemunduran, atau lebih buruk lagi, sebuah pengasingan sukarela ke dalam dunia yang kaku dan penuh aturan militer. Namun, tatapan dingin Ayah yang sarat akan ultimatum mutlak mengunci setiap bantahan yang hampir melompat dari bibir Jasmine. Di rumah ini, keputusan pria kepala keluarga adalah hukum tertinggi yang tidak boleh dilanggar oleh siapapun, termasuk anak perempuan satu-satunya yang selama ini selalu menuruti kemauan mereka.
Suasana meja makan kembali diliputi keheningan yang menyesakkan dada. Aroma hidangan daging panggang dan saus jamur yang tadinya menggugah selera kini berubah menjadi hambar, bagaikan abu dingin yang tertiup angin malam. Jasmine menundukkan kepalanya, memandangi pantulan wajahnya sendiri di permukaan gelas kristal yang dipenuhi air es.
Di dalam pantulan itu, ia melihat seorang wanita muda yang kehilangan kendali atas kebebasannya sendiri, seorang pion catur yang digeser sesuka hati demi kepentingan strategi orang-orang tua di sekitarnya.
Pernikahan itu dijadwalkan berlangsung secara tertutup dan cepat, tanpa pesta meriah atau liputan media sosial yang biasa menghiasi kehidupan kalangan elit tempat ia dibesarkan. Ayah beralasan bahwa Julius adalah seorang abdi negara yang tidak menyukai publisitas berlebihan, sebuah alasan klise yang pada saat itu diterima begitu saja oleh Jasmine tanpa kecurigaan sedikit pun. Hari-hari menjelang pernikahan berlalu bagaikan mimpi buruk yang berjalan lambat. Jasmine menghabiskan malam-malam panjangnya di kamar tidur berukuran luas miliknya, menatap langit-langit kamar sambil membayangkan betapa suramnya masa depan yang menanti di balik seragam hijau loreng dan disiplin besi yang dianut oleh calon suaminya.
Hari akad nikah tiba tanpa sambutan hangat atau senyuman tulus dari sang pengantin pria. Julius berdiri di hadapan penghulu dengan postur tubuh tegap sempurna, kaku, dan dingin bagaikan pahatan batu marmer hitam. Pria itu mengenakan pakaian resmi sederhana yang kontras dengan kemewahan dekorasi rumah keluarga Jasmine, aura dominasi yang terpancar dari tubuhnya begitu pekat hingga mampu membuat seluruh tamu undangan terdiam. Saat upacara penandatanganan dokumen pernikahan selesai dilaksanakan, Julius sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bahagia. Ketika ia mencium punggung tangan Jasmine untuk pertama kalinya, sentuhan kulit tangan pria itu terasa kasar, dipenuhi bekas luka kecil dan kalus akibat gesekan senjata, jauh berbeda dari pria-pria kalangan atas yang biasa bergaul dengan Jasmine.
***
Tidak ada bulan madu romantis atau perjalanan ke destinasi eksotis sebagaimana lazimnya pasangan pengantin baru. Keesokan harinya, Julius langsung membawa Jasmine keluar dari rumah besar orang tuanya menuju sebuah rumah dinas militer tua yang terletak di ujung kompleks pinggiran kota, jauh dari keramaian pusat metropolitan. Bangunan itu tampak sunyi, dikelilingi oleh pagar tinggi dan pepohonan rindang yang menciptakan atmosfer kelam. Di tempat asing inilah kehidupan pernikahan mereka yang hampa resmi dimulai.
Sejak hari pertama menginjakkan kaki di rumah dinas tersebut, Jasmine menyadari bahwa suaminya bukanlah sekadar prajurit biasa yang menghabiskan waktu dengan rutinitas barak yang membosankan. Julius jarang berbicara, lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja pribadinya yang selalu terkunci rapat dari dalam, serta menunjukkan kewaspadaan yang tidak wajar terhadap setiap suara sekecil apa pun di luar rumah. Pria itu memperlakukan Jasmine bukan sebagai seorang istri tercinta, melainkan sebagai seorang tamu asing yang kebetulan dititipkan di bawah pengawasannya.
Puncak dari rasa penasaran sekaligus ketakutan Jasmine bermula pada suatu malam di minggu kedua pernikahan mereka. Langit malam tertutup awan hitam pekat tanpa bintang, disertai terpaan angin ribut yang membanting ranting-ranting pohon ke kaca jendela kamar tidur utama. Jasmine terbangun dari tidurnya karena merasa haus dan mendapati sisi ranjang di sebelah kirinya kosong melompong. Suhunya dingin, menandakan Julius sudah meninggalkan tempat tidur sejak beberapa jam lalu tanpa sepatah kata pun.
***
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Jasmine berjalan keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk segelas air putih. Sesampainya di dekat koridor menuju ruang kerja Julius, ia melihat secercah cahaya lampu remang-remang memancar dari celah bawah pintu kayu yang seharusnya terkunci rapat. Rasa penasaran yang bercampur dengan kecurigaan mendalam mendorong Jasmine untuk mendekatkan telinganya secara perlahan ke daun pintu tersebut, berniat mencari tahu rahasia apa yang disembunyikan oleh suaminya di balik sikap dingin dan misterius selama ini.