Selar Ayenest turun dari taksi hitam tepat di depan gerbang besi berlapis emas yang tak pernah berubah sejak lima tahun lalu. Angin sore menerbangkan ujung mantel wol krem miliknya, membawa aroma hujan yang hampir tiba bersama kepahitan asap kendaraan di persimpangan jalan Greenway Boulevard.
Ia berdiri sejenak, membiarkan pandangannya menyapu fasad mansion bergaya neo-klasik yang menjulang di balik pagar.
Lima tahun ia menghindar dari tempat ini. Dari kota ini. Dari orang-orang yang memanggil namanya dengan nada penuh kasih sayang palsu. Namun, sekarang, semuanya berubah.
Ibunya sudah tidak ada.
Selar menelan ludah, jemarinya meremas tali tas kulit di bahunya. Kecelakaan, begitu mereka bilang. Mobil yang kehilangan kendali di tepi jalan raya menuju bandara. Tidak ada saksi. Tidak ada rekaman CCTV yang berfungsi. Hanya laporan polisi singkat yang ditutup dalam waktu tiga hari.
Terlalu cepat. Terlalu rapi.
"Miss Ayenest?"
Suara itu membuatnya tersentak. Seorang pria berseragam hitam rapi berdiri di sisi gerbang, wajahnya datar tanpa ekspresi. Satpam baru, pikirnya. Yang lama pasti sudah diganti.
"Ya," jawabnya singkat.
Pria itu mengangguk, lalu menekan interkom. Gerbang besi itu bergerak perlahan, membuka akses menuju jalan setapak berbatu granit. Selar melangkah masuk tanpa ragu, setiap langkahnya bergema di atas batu dingin yang memantulkan cahaya lampu taman.
Di ujung jalan, pintu utama mansion terbuka.
Seorang wanita berdiri di ambang pintu dengan postur sempurna, mengenakan dress hitam lengan panjang yang melekat pada tubuhnya seperti kulit kedua. Rambutnya diikat ke belakang dalam sanggul tinggi yang ketat. Diane Bruist. Saudara tiri Selar dari pihak ayahnya.
Senyumnya terlalu lebar. Terlalu hangat. Terlalu palsu.
"Selar," ucapnya dengan nada lembut yang terlatih, melangkah turun dari teras. "Kamu akhirnya pulang."
Selar berhenti tepat tiga meter dari Diane. Ia tidak membalas senyuman itu. Tidak mengulurkan tangan. Hanya menatap, membaca setiap detail wajah yang sudah ia kenal sejak kecil dan tak pernah benar-benar ia percaya.
"Aku datang karena panggilan notaris," kata Selar datar. "Bukan karena kangen."
Diane tertawa pelan. "Kamu tidak berubah. Masih tajam. Masih dingin."
"Aku belajar dari yang terbaik."
Jeda singkat. Senyum Diane sedikit meredup, dan ia segera memperbaikinya. "Ayah menunggumu di ruang kerja. Sebaiknya jangan buat dia menunggu terlalu lama."
Selar mengikuti dari belakang, matanya menyapu interior mansion yang tak berubah. Lantai marmer putih mengilap, tangga spiral dengan pegangan mahoni, lukisan-lukisan klasik di dinding. Semuanya masih terasa seperti museum mati yang berpura-pura hidup.
Diane berhenti di depan pintu kayu jati besar. Ia mengetuk tiga kali, lalu membuka tanpa menunggu jawaban.
"Ayah, Selar sudah tiba."
Ruang kerja itu luas, didominasi rak buku tinggi dan meja kerja berbahan kayu ek gelap. Di belakang meja itu, duduk seorang pria berusia akhir lima puluhan dengan rambut beruban rapi. Vincent Ayenest. Pendiri LuxChain Haute Group.
Ia tidak mengangkat pandangannya ketika Selar masuk. Tangannya sibuk menandatangani sesuatu di atas kertas.
Selar tetap berdiri di ambang ruangan, tidak bergerak maju.
Akhirnya, Vincent meletakkan pulpennya. Ia mengangkat kepala, menatap Selar dengan ekspresi sulit dibaca.
"Lima tahun," ucapnya pelan. "Lima tahun kamu kabur seperti pengecut, dan sekarang baru muncul ketika ibumu sudah tidak ada."
Selar tidak berkedip. "Aku tidak kabur. Aku pergi karena kamu yang mengusirku."
"Aku tidak pernah mengusirmu. Aku hanya memberikan pilihan."
"Pilihan yang kamu tahu akan kupilih."
Vincent tersenyum tipis. "Kamu cerdas, Selar. Lebih cerdas dari kakak tirimu, tapi kecerdasan tanpa kuasa hanya membuat kamu jadi penonton yang frustrasi."
Diane menyilangkan tangan. "Ayah, mungkin kita sebaiknya langsung ke inti pertemuan ini."
Vincent mengangguk. Ia membuka laci meja, lalu mengeluarkan amplop cokelat tebal. Ia melemparnya ke arah Selar, amplop itu mendarat tepat di kaki Selar.
"Itu surat wasiat ibumu," kata Vincent datar. "Kamu berhak atas 18% saham LuxChain Haute Group."
Selar menatap amplop itu. Tidak langsung mengambilnya. Angka 18% bergema di kepalanya. Tidak banyak. Tidak cukup untuk mengendalikan perusahaan. Namun, cukup untuk membuat suara Selar didengar.
"Sisanya?" tanya Selar.
"42% tetap di tanganku. 25% untuk Diane. 15% untuk Ruga."
Selar menghitung cepat. Semua masih di dalam dinasti Ayenest. Itu bagus sekaligus buruk. Permainan kekuasaan akan lebih personal. Lebih kejam.
Selar akhirnya membungkuk, mengambil amplop itu dengan gerakan lambat. Ia merasakan berat kertas di tangannya.
"Kenapa ibu memberikan sahamnya padaku?" tanya Selar, menatap langsung ke mata ayahnya. "Kenapa bukan yayasan?"
Vincent terdiam. Diane melemparkan pandang cepat pada ayahnya. Keheningan itu menjadi jawaban sendiri.
"Itu pertanyaan yang seharusnya kamu tanyakan pada ibumu," kata Vincent akhirnya. “Sayangnya, dia sudah tidak bisa menjawab."
Selar mengepalkan amplop itu erat. "Aku ingin melihat laporan kecelakaan."
Diane tertawa kering. "Selar, jangan mulai dengan teori konspirasi murahan. Ibu meninggal karena kecelakaan. Polisi sudah menutup kasus itu."
"Terlalu cepat."
"Karena tidak ada yang perlu diselidiki lebih lanjut."
"Atau karena ada yang memastikan tidak ada yang perlu diselidiki," balas Selar tajam.
Diane melangkah maju. "Hati-hati dengan ucapanmu, Selar. Jangan merusak kesempatan kedua ini dengan paranoia tidak berdasar."
"Aku tidak paranoid. Aku hanya tidak bodoh."
Vincent mengetuk meja keras sekali. "Cukup."
Kedua wanita itu terdiam, dan tatapan mereka masih saling mengunci.
Vincent berdiri, melangkah keluar dari balik meja, mendekati Selar. Ia berhenti tepat di depan putrinya.
"Kamu ingin kebenaran?" tanya Vincent pelan. "Kamu ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ibumu?"
Selar tidak menjawab. Ia hanya menatap balik.
Vincent tersenyum, dan senyum itu tidak sampai ke matanya. "Maka bersiaplah, Selar. Karena kebenaran di keluarga ini tidak pernah gratis. Kamu harus membayarnya dengan sesuatu yang berharga."
"Seperti apa?"
"Seperti hidupmu sendiri."
Selar merasakan dingin menjalar dari tengkuk hingga tulang punggungnya.
Vincent berbalik, kembali ke mejanya, mengambil gelas wiski. "Besok, kamu akan hadir di rapat direksi pertama sebagai pemegang saham resmi LuxChain. Kenakan sesuatu yang pantas."
Diane membuka pintu, isyarat halus agar Selar segera pergi.
Selar berbalik, melangkah keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pintu tertutup di belakangnya dengan bunyi pelan.
Di koridor, Selar berhenti sejenak, bersandar pada dinding dingin, menarik napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kontak yang sudah lama tidak ia hubungi.
Yendra Basura.
Jemarinya melayang di atas tombol panggil, ragu sejenak, lalu menekannya.
Nada sambung berbunyi sekali. Dua kali.
Lalu suara dalam yang familiar menjawab.
"Selar?"
Ia menelan ludah. "Aku butuh bantuanmu."
Hening sejenak. "Di mana kamu sekarang?"
"Di mansion Ayenest."
Jeda lebih panjang. "Keluar dari sana. Sekarang."
"Kenapa?"
"Karena rumah itu tidak aman untukmu."
Selar merasakan jantungnya berdetak lebih keras. "Apa maksudmu?"
Sebelum Yendra bisa menjawab, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.
Selar mengangkat kepala.
Seorang pria tinggi besar dengan jas hitam berjalan mendekat, tatapannya dingin. Ruga Andest.
Ia tersenyum, dan senyum itu lebih mirip seringai predator.
"Selamat datang kembali, Selar," ucapnya pelan. "Semoga kamu tidak menyesal sudah pulang."
Selar tidak sempat menjawab.
Karena di ujung koridor yang lain, lampu tiba-tiba padam.