


oleh bintangpendar · 16 Bab
Setelah Bapak meninggal, hidupku gelap. Sampai aku menemukan cahaya dalam spiritualitas ketenangan yang membuat segalanya lebih baik. Aku bahkan bisa membantu orang lain keluar dari kegelapan mereka, tapi saat sibuk menjadi penyelamat orang lain, aku lupa menjaga cahayaku sendiri. Tanpa kusadari, aku jatuh lagi. Kali ini lebih dalam. Sekarang aku kembali mencari cahaya yang pernah ada, yang pernah menerangi hidupku. Di mana cahaya itu? Apakah akan kembali? Atau aku harus belajar menemukannya dengan cara yang berbeda? Sebuah memoar tentang duka, harapan, dan pencarian yang belum berakhir. Entah di mana, entah sampai kapan, aku hanya tahu satu kata 'pencarian masih panjang'.
Aku pikir aku sudah menemukan cahaya itu. Pikiran tenang, hati damai, bahkan aku mengira diriku sudah cukup sanggup untuk membantu orang lain keluar dari kegelapan mereka. Hanya saja, hati ini entah sejak kapan, mulai terasa berbeda.
Aku duduk sendirian di kamar ini, menatap langit-langit yang sama seperti malam-malam sebelumnya.
Di tengah kesunyian itu, aku sadar cahaya itu menjauh. Perlahan, tanpa suara, tanpa tanda. Aku jatuh lebih dalam dari saat hari kematian bapak dulu.
Hari di mana aku bersedih saat mendengar kabar kematian itu, masih terasa jelas. Seperti kemarin. Seperti baru saja terjadi. Aku tak percaya jika bapak meninggal dunia, tak percaya bahwa seketika semua mimpi yang pernah aku susun—mimpi tentang masa depan bersamanya, tentang membahagiakan dia dengan hasil kerjaku, dengan kesuksesanku—runtuh begitu saja. Tanpa sempat kubentuk. Tanpa sempat kuwujudkan.
Hati ini kehilangan pemeluknya, jiwa ini kehilangan penopangnya. Sosok yang selalu ada, yang selalu menjadi tempat pulang, tiba-tiba hilang. Tanpa jejak, tanpa pesan.
Saat semua orang berduka dengan derai air mata, aku justru membisu. Diam seribu bahasa. Air mataku memang tumpah, jatuh membasahi hijab yang kukenakan. Namun, aku tidak menjerit. Tidak meraung-raung seperti yang orang harapkan. Aku juga tidak pingsan seperti di film-film drama.
Aku hanya terkejut. Tubuhku membeku.
Di dalam mobil yang membawaku pulang ke rumah bapak, kepalaku terus memutar memori tentang sosok Bapak, tentang bagaimana dia hadir dalam hidupku, tentang nasihat serta petuah yang tak pernah bosan ia ulang-ulang. Suaranya. Wajahnya. Senyumnya. Caranya memanggil namaku.
Aku masih dalam ketidakpercayaan jika Bapak sudah tiada, masih mengira ini hanya lelucon. Prank seperti yang dilakukan orang-orang di media sosial—kamera tersembunyi, lalu semuanya tertawa berkata "cuma bercanda kok."
Bodoh memang, tapi pikiranku terus mencoba mencari celah untuk tidak percaya. Untuk tidak menerima.
Meski begitu, di sisi lain, ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku berpikir, jika kemungkinan itu benar, jika Bapak memang sudah tiada, artinya baktiku bukan lagi dengan cara membahagiakannya dengan harta, dengan usaha, dengan gelar atau kesuksesan duniawi.
Melainkan dengan doa.
Aku kembali mengingat pelajaran di madrasah dulu, bahwasannya orang yang sudah meninggal, semua amalannya akan terputus kecuali tiga: sedekah jariyah, anak yang sholeh dan sholehah yang mendo'akannya, ilmu yang bermanfaat.
Anehnya, justru ada bagian dariku yang merasa lega? Senang? Entahlah, rasanya aneh, mungkin terdengar tidak wajar. Akan tetapi aku merasa baktiku jadi lebih sederhana. Hanya dengan cara mendo'akannya. Hal itu terasa begitu ringan, mudah dibandingkan harus berjuang keras mencari uang, mencari kesuksesan, hanya untuk membahagiakan Bapak yang mungkin belum puas. Sekarang, cukup dengan doa. Sederhana.
Lucunya saat aku sudah sampai di rumah Bapak— atau lebih tepatnya rumah Kakek dan Nenek, beberapa orang justru heran melihatku. Mereka menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Bingung? Kecewa? Tidak percaya?
Aku tidak bersimbah air mata. Tidak meraung-raung seperti beberapa orang lain yang sedang kehilangan. Mereka pun berkomentar:
"Loh, kamu kok gak nangis? Harusnya nangis dong. Menjerit. Berguling-guling di tanah," kata seseorang yang mungkin masih sanak kerabat. Aku tidak mengenalnya. Wajahnya asing.
Mendengar itu, aku terdiam. Namun, dalam pikiran, aku tertawa geli. Bagaimana seseorang bisa berpikir demikian? Memangnya kehilangan itu harus ditunjukkan dengan cara seperti itu?
Sedangkan yang kutahu dari pelajaran di bangku madrasah dulu adalah: jika di antara kalian ada keluarga yang meninggal, jangan menangis meraung-raung karena itu memberatkan si mayit. Istilahnya seperti menahan mereka, karena kita tidak menerima kepergian mereka dengan ikhlas.
Boleh menangis, hanya saja sekadarnya. Kendati demikian, aku diam. Tidak membalas. Semua itu hanya ada dalam monolog di kepalaku. Lucu sekali. Apakah menunjukkan kehilangan memang harus dengan cara seperti itu? Jujur saja , aku sendiri enggan melakukannya. Kupikir untuk apa berperilaku seperti itu? Hanya terlihat memalukan saja. Dramatis tanpa makna.
Sampai akhirnya, usai pemakaman pun, orang-orang dibuat tercengang oleh tingkah lakuku. Aku tidak merenung. Tidak murung. Justru sehabis pemakaman itu, aku pergi ke dapur mencari makanan, lalu menghabiskan tiga porsi piring. Tiga. Seperti tidak ada yang terjadi.
Setelah itu, aku masih bisa tersenyum. Bersikap seperti semua baik-baik saja. Aku tidak pura-pura. Memang begitu kenyataannya. Aku tidak merasa perlu berpura-pura sedih di depan orang lain, hanya untuk memenuhi ekspektasi mereka tentang bagaimana seharusnya orang berduka.
Sampai ada seseorang yang akhirnya bertanya langsung kepadaku—dengan nada setengah tidak percaya, setengah penasaran. Sayangnya pertanyaan itu hanya mendapatkan diam dariku sebagai jawaban. Ya, karena Aku juga tidak tahu. Kenapa Aku sendiri begitu? Aku tidak bisa menjelaskan sesuatu yang bahkan Aku sendiri tidak mengerti.
Dari pada aku menjelaskan sesuatu yang belum tentu orang percaya—atau bahkan akan menghakimi, lebih baik Aku diam. Membiarkan mereka berpikir apa pun yang mereka mau. Aku tidak peduli.
Kemudian semua berjalan baik-baik saja. Hari-hari berlalu. Minggu. Bulan. Sampai setahun. Dua tahun terlewat. Namun kemudian, sesuatu berubah. Aku merasakannya. Perlahan. Seperti retakan kecil yang mulai muncul di dinding yang kukira kokoh.
Sampai sekarang, aku masih bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa cahaya yang pernah kutemukan itu kini terasa begitu jauh?
Akan tetapi untuk mengerti semua itu—untuk memahami bagaimana aku sampai di sini, di titik ini—aku harus kembali ke peristiwa itu. Membuka memori yang sudah kusimpan rapat. Melihatnya lagi. Merasakannya lagi.
Sampai akhirnya aku menyadari, hari di mana semuanya benar-benar berbeda.
“Orang lain tidak berhak menentukan bagaimana seharusnya kamu berduka. Setiap orang punya caranya sendiri untuk merasakan kehilangan.” —Bintang Pendar.

bintangpendar
14 Pengikut · 7 Novel