Namaku Dinda. Aku ibu dari seorang anak laki-laki bernama Raka, usianya baru lima tahun. Aku istri dari seorang lelaki yang kini terasa semakin asing meski setiap malam masih berbagi ranjang denganku, namanya Mas Bayu.
Pagi ini, seperti biasa, aku bangun lebih awal. Menanak nasi, memanaskan sayur asem sisa semalam, lalu menggoreng tempe yang kubeli di warung kemarin sore. Suara gemericik minyak mengisi dapur kecil kami, tapi tak ada suara lain menyusul. Raka masih tertidur lelap di dalam kamar. Tapi Mas Bayu belum juga pulang.
Jam dinding tua di ruang tengah berdetak pelan. Jarum panjangnya baru saja melewati angka dua belas, jam enam lewat dua puluh. Aku memandangi pintu yang tetap tertutup, menanti suara langkah atau dentingan kunci. Tapi yang kudengar hanya suara kipas angin tua di langit-langit.
Mas Bayu pamit semalam untuk lembur. Tapi sampai pagi begini, dia belum juga muncul di depan pintu. Ponselnya tak bisa dihubungi. Pesan-pesan dariku sejak dini hari hanya centang satu. Aku duduk di tepi kursi, menahan gelisah yang semakin menyesakkan. Tanganku mencengkeram ponsel, berharap ada suara notifikasi. Tapi hening.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya. Sudah beberapa minggu terakhir Mas Bayu sering pulang larut. Katanya pekerjaan sedang menumpuk. Tapi ada yang berubah. Dia tak lagi membawa pulang sisa snack rapat seperti dulu. Tak lagi bercerita soal teman kantor atau keluhan pekerjaan. Wajahnya selalu terlihat murung, apalagi setiap kali membuka amplop tagihan yang kutaruh di atas meja makan.
Dia seperti seseorang yang duduk di sisiku, tapi jiwanya entah mengembara ke mana. Yang paling menyakitkan, aku tak tahu harus menyusulnya dari arah mana.
Beberapa kali aku ingin bertanya. Tapi urung. Karena setiap kali kutatap matanya, aku hanya melihat kelelahan. Aku takut jadi beban tambahan. Aku pikir, mungkin dia hanya lelah. Aku hanya perlu bersabar.
Tapi pagi ini, batas kesabaranku terkikis.
Setelah mengantar Raka ke sekolah dan menghubungi atasanku untuk izin tidak masuk kerja karena kepala pening, aku memberanikan diri pergi ke kantor tempat Mas Bayu bekerja. Setidaknya, aku ingin memastikan, dia benar-benar lembur, atau ada sesuatu yang disembunyikan.
Aku berdiri cukup lama di depan gedung itu. Rasanya aneh, menatap tempat yang selama ini hanya kuceritakan pada Raka sebagai “tempat Ayah kerja”. Kaki ini berat melangkah, tapi rasa curiga mendorongku lebih jauh.
Aku menuju pos satpam, menenangkan detak jantung yang sejak tadi tidak karuan.
“Maaf, Pak. Mas Bayu masih kerja di sini, ya?” tanyaku pelan.
Satpam itu menatapku sesaat, lalu mengerutkan kening.
“Pak Bayu? Yang bagian logistik itu ya, Bu?”
Aku mengangguk cepat, hatiku mulai berdebar.
“Wah setahu saya sih udah nggak kerja di sini, Bu. Sejak dua bulan lalu. Ada pengurangan pegawai.”
Aku terdiam. Kata-katanya mengendap pelan, tapi menghantam seperti badai. Dua bulan?
Aku mengucapkan terima kasih lalu berjalan pulang dengan langkah lunglai. Rasanya udara lebih berat dari biasanya. Jalanan seperti mengejekku. Tapi satu per satu potongan teka-teki yang selama ini menggangguku, mulai menyatu. Wajah murung Mas Bayu. Amplop kosong di laci. Uang belanja yang makin sedikit. Lembur yang tak pernah menghasilkan apa-apa.
Mas Bayu sudah tidak bekerja. Tapi dia memilih menyembunyikannya dariku.
Sesampainya di rumah, aku duduk di ruang makan. Diam. Nasi di magic com mulai menguning. Tempe goreng yang tadi pagi kusiapkan dibiarkan dingin. Suasana rumah terasa kosong, seolah menertawakanku yang terlalu percaya.
Perasaan di dadaku seperti ditusuk dari dalam. Bukan karena dia kehilangan pekerjaan, tapi karena dia memilih untuk membohongiku. Aku bukan wanita yang menuntut banyak. Tapi aku ingin dipercaya. Apalagi oleh seseorang yang berjanji akan berbagi suka dan duka denganku.
Tak lama, pintu rumah diketuk pelan. Aku segera bangkit, jantungku seperti menggelinding naik turun. Kubuka pintu.
Mas Bayu berdiri di sana. Rambutnya lepek, wajahnya lesu dan bajunya kusut. Matanya merah, tapi bukan karena marah. Lebih seperti seseorang yang terlalu lelah untuk berbohong lagi.
“Maaf, aku ketiduran di musala semalam,” katanya pelan, nyaris tak terdengar. “Aku kehabisan ongkos.”
Aku menatapnya tanpa ekspresi. Ada yang retak dalam diriku dan suara hatiku seketika membungkam amarah. Tapi luka itu tetap terasa nyeri.
“Mas udah nggak kerja, kan?”
Mas Bayu terdiam. Matanya membelalak. Wajahnya seperti anak kecil yang ketahuan mencuri kue.
“Dari dua bulan lalu,” lanjutku. Suaraku tetap, tapi tajam. “Mas bohong. Selama ini aku nungguin Mas pulang lembur, nahan lapar, nyambungin uang belanja yang pas-pasan tapi Mas malah nutupin semuanya.”
Ia perlahan masuk dan duduk di kursi makan. Tangannya gemetar. Aku bisa lihat napasnya tak teratur.
“Aku cuma malu, Din. Aku nggak tahu harus ngomong apa. Aku janji mau cari kerja baru secepatnya. Tapi makin nyari, makin mentok. Aku takut kamu kecewa.”
Aku menggeleng pelan. Rasa sesak memenuhi dada.
“Aku bukan kecewa karena Mas nganggur. Aku kecewa karena Mas pikir aku nggak cukup kuat buat tahu. Kita ini rumah tangga. Seharusnya kalau satu jatuh yang lain bantu bangun. Bukan malah pura-pura berdiri sendiri.”
Mas Bayu menunduk. Bahunya berguncang. Air matanya jatuh dan tangannya mengepal di atas meja.
“Aku takut harga diriku runtuh di depanmu ”
Aku menarik napas dalam. Lelah. Bukan hanya karena beban hidup, tapi juga karena harus memendam semuanya sendirian selama ini. Tapi mungkin inilah saatnya memilih: membiarkan luka membusuk atau mulai membersihkannya sedikit demi sedikit.
Aku bangkit, berjalan ke kamar, mengambil dua lembar uang lima puluh ribuan dari dompetku. Seharusnya uang itu untuk belanja lusa. Tapi sekarang, rasanya jauh lebih penting digunakan untuk menyadarkan suamiku bahwa aku masih berdiri di sisinya.
Kutaruh uang itu di atas meja, di depan tangannya yang kaku.
“Buat hari ini. Buat cari kerja. Bukan buat sembunyi.”
Ia menatapku. Mata merahnya berair. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, tangannya meraih tanganku. Hangat, gemetar, penuh penyesalan.
“Maaf, Din. Aku janji aku nggak akan bohong lagi.”
Aku tak menjawab. Tapi aku juga tidak menarik tanganku. Karena mungkin di antara reruntuhan kepercayaan ini, masih ada satu dua bata yang bisa kami susun kembali. Pelan-pelan.
Untuk rumah kecil kami. Yang kini berdiri di ujung gaji.