


oleh Tya Oline · 33 Bab
Seorang Adeline selalu menerima ketidakadilan dalam keluarganya, semua itu dilakukan oleh bundanya sendiri. Segala tentang adiknya, Cantika, selalu diutamakan oleh sang bunda. Namun, Adel-sapaan untuk gadis cantik berhijab itu, tetap tulus menyayangi bunda dan adiknya. Suatu hari, saat dia gagal, dalam sesi wawancara kerja, bibinya, yang juga ibu kandung Panji memberikan sebuah ide cemerlang untuknya. Alhasil, dalam waktu sebentar, butiknya memiliki beberapa penjual di berbagai kota di Indonesia. Pernikahan yang tidak pernah dibayangkannya membawa kebahagiaan hidupnya. Usaha yang dirintisnya juga semakin berkembang. Kemudian, tanpa sengaja sebuah rahasia masa lalu pun terungkap. Sampai akhirnya sebuah kecelakaan membuatnya harus terbaring koma.
Terik matahari tidak menyurutkan langkah seorang wanita muda berpakaian casual menelusuri sekitaran kampus, mencari sahabatnya yang menghilang setelah kelas selesai.
"Adeline ... hai! Dari tadi kupanggil sampai suaraku udah kayak toa masjid, eh, yang dipanggil malah asyik mantengin novel." Seorang gadis berambut panjang tergerai menghampiri Adeline yang sedang fokus pada sebuah novel di tangannya.
Pandangan Adeline terangkat, mata teduhnya menatap gadis manis sahabatnya sambil tersenyum, "Maaf, lagi seru, tahu nggak, sih."
"Kebiasaan." Bersungut Debby menowel pipi Adeline. "Sooo?"
"Ish, kamu lupa, ya? Kita harus nemuin Pak Dias kan? Mau nanti sidang skripsi kita ditunda lagi?"
"Astagfirullah ... iya, maaf. Aku beneran lupa, Deb."
"Udah, ayo buruan. Tadi kulihat Pak Dias lagi enak mukanya."
"Lha? Hahaha ... memang sudah kamu rasain, bisa ngomong enak?"
"Adeline!" Setengah memekik Debby memanggil Adeline dibarengi dengan mata mendelik. Sedangkan, yang dipanggil malah tergelak, membuat pipinya yang sebagian tertutup hijab bersemu merah. Masih dengan bersenda gurau mereka berjalan mencari Pak Dias ke ruang dosen.
Setelah hampir satu jam, terlihat Adeline dan Debby keluar dari ruangan dengan senyum manis terukir di wajah mereka berdua.
"Yes!" Bersorak bahagia mereka setelah saling bertatap beberapa saat.
"Akhirnya ... kita selesai, kita selesai, Debby." Saking bahagianya mereka tidak menyadari bahwa Pak Dias, sang dosen sedang memperhatikan mereka dari balik pintu ruangan yang terbuka lebar.
"Apa semua mahasiswa yang disetujui skripsinya bertingkah seperti kalian?" Suara Pak Dias membuat kedua gadis cantik itu menghentikan tingkah mereka.
Karena terkejut, Adeline dan Debby menghentikan aksi lompat-lompat mereka yang seperti anak usia lima tahun mendapat mainan baru, "Ah ... Bapak kayak yang nggak pernah jadi mahasiswa aja, deh," jawab Adeline pasang wajah cemberut bercampur malu.
"Saya tunggu kalian di sidang, ya. Good luck." Pak Dias berkata sambil mengacungkan jempolnya, lalu dia membalikkan tubuh kurusnya dan melangkah memasuki ruangan, masih dengan senyum dan gelengan kepala karena melihat tingkah kedua mahasiswinya yang terkenal sopan dan berprestasi tapi kekanakan.
***
Gamis dan hijab Adeline berkibar tertiup angin saat dirinya berjalan menyusuri trotoar di kompleks perumahan tempat tinggalnya.
Bukan karena Adeline tidak memiliki kendaraan bermotor, tetapi jika hanya sekedar berbelanja di minimarket kompleks perumahannya, dia selalu memilih berjalan kaki.
Menurutnya, itu lebih mengasyikkan daripada harus menaiki motor.
Langkahnya semakin mendekati blok rumah ketika terdengar sapaan dari arah belakang.
"Assalamu’alaikum, Dek Adel."
"Wa’alaikumussalam,"
"Ah. Bang Panji, Adel kirain siapa tadi." Adeline tersenyum saat tahu siapa yang menyapanya.
"Masak lupa suara abang, Dek." Panji nyengir saat melihat wajah Adeline yang memasang senyum sambil menatapnya.
"Kok, jalan kaki, Dek? Motormu ke mana?" Panji bertanya karena merasa heran. Sepengetahuannya, keponakan ayahnya itu punya motor sendiri.
"Motornya dipakai Cantika, Bang. Lagian ini cuma belanja ke minimarket depan kompleks, dekat."
Panji mengangguk mengiyakan penjelasan Adeline. Panji sangat paham pemikiran sepupu tirinya yang dia kenal sejak gadis itu masih berusia 5 tahun.
***
Panji Alamsyah adalah putra tiri Pak Damar, kakak Pak Prasetyo, papa Adeline.
Panji menjadi putra sambung Pak Damar ketika berusia dua belas tahun karena pernikahan Bu Anin, ibu kandung Panji dengan Pak Damar.
Panji dan Adeline tumbuh besar bersama karena Pak Damar bekerja di showroom mobil milik papa Adeline.
Panji tumbuh menjadi pemuda berhati lembut dan bertanggung jawab berkat didikan Bu Anin dan Pak Damar yang religius.
Bahkan, setelah menyelesaikan pendidikan S1-nya, Panji lebih memilih bekerja pada sebuah dealer mobil di pusat Kota Pekanbaru, tidak ikut membantu papa Adeline dan ayahnya di showroom. Panji memilih mandiri.
"Panji, sepulang kerja tolong singgah ke rumah Adeline ya, Nak. Tadi Tante Ermi menelepon ibu, katanya perlu bantuanmu." Bu Anin berkata sambil mendekati Panji, putranya.
"Insya Allah, Bu." Panji beranjak dari duduknya setelah selesai memakai sepatu, lalu diambilnya tas yang tergeletak di kursi teras, mengucap salam pada ibunya, dan menstater motor setelah berpamitan.
Panji memacu motornya menuju ke tempat kerja. Akan tetapi, baru saja dia memacu motor keluar dari kompleks perumahan, matanya melihat sosok Adeline yang sepertinya gelisah di tepi trotoar jalan raya.
"Dek Adel, mau ke mana? Kok, kayaknya buru-buru gitu?" sapa Panji setelah menghentikan motornya di depan Adeline.
"Bang Panji. Iya, nih, Adel mau interview, tapi sekarang waktunya udah mepet banget." Adeline hampir menangis saat menjelaskan ke Panji.
"Ayo, abang antar."
"Tapi kerja Abang?" Adeline ragu karena dia tahu Panji harus bekerja juga.
"Sudah, ayo, cepetan." Tanpa menunggu Adeline mengiakan, Panji menyerahkan helm yang memang selalu dia bawa di motornya.
Tanpa bertanya lagi, Adeline langsung menaiki boncengan. Panji segera memacu motornya sesuai alamat yang disebutkan Adeline.
Setelah lima belas menit, sampailah mereka di kantor yang Adeline maksud.
Adeline berlari setelah menyerahkan helm pada Panji, karena terburu-buru, Adeline sampai lupa mengucapkan terima kasih.
Dengan langkah cepat Adeline menghampiri Front Officer dan menjelaskan maksud kedatangannya, tetapi gadis yang berdiri di balik meja FO itu menggeleng dengan wajah muram.
"Maaf, Mbak Adeline, interview sudah selesai dan sudah dihentikan oleh bagian HRD. Jadwal interview sudah terlewat empat puluh lima menit yang lalu, Mbak Adeline terlambat. Pak Bos orang yang ontime, Mbak. Maaf."
Lemah Adeline mengangguk, perlahan kakinya melangkah keluar kantor, air mata menetes di pipi. Cepat diusapnya air mata yang mengalir, lalu Adeline melangkah menuju halte Bus Trans Metro yang tidak jauh dari kantor.
Terduduk di kursi halte, sendirian, tak urung air matanya kembali mengalir. Kegagalan pertamanya, pekerjaan yang sudah diidamkan harus lenyap hanya karena terlambat.
Sebuah keterlambatan yang sangat tidak dia inginkan.

Tya Oline
103 Pengikut · 7 Novel