


oleh Pena Adelline · 7 Bab
Aku menemani suamiku dari seorang guru honorer menjadi ASN. Tapi setelah diangkat menjadi PPPK dia pun mengulah. Setelah kutolak untuk mengizinkannya menikah lagi, dia pun tetap melakukannya diam-diam. Tentu saja aku tidak tinggal diam. Dia lupa, status ASN-nya terikat dengan aturan negara.
"Alhamdulillah, Sayang, Bu, Pak, aku lulus!”
Mas Angga berteriak penuh rasa kegirangan memberitahu bahwa pengumuman PPPK yang sedang ditunggu-tunggu selama ini sudah keluar. Dia telah lulus menjadi seorang ASN di SD yang ada di desa kami.
Namaku Andini. Aku memutuskan untuk menikah muda saat itu. Mas Angga masih kerabat jauh dari mendiang bapakku. Setelah bapakku menyusul ibuku untuk pergi selamanya, aku menjadi yatim piatu.
Orang tua Mas Angga meminangku untuk menikah dengan Mas Angga. Dan hingga saat ini sudah hampir tiga tahun perjalanan rumah tangga kami. Tapi Tuhan masih belum memberikan kami amanah.
Pernikahan kami bahagia saja. Kedua orang tua Mas Angga juga tidak pernah menyakiti hatiku, meskipun terkadang ibu mertua sering bawel dengan mempertanyakan kehadiran cucu untuknya. Tapi hari ini, kebahagiaan kami terasa luar biasa dengan keluarnya pengumuman itu.
“Selamat, ya, Mas,” ujarku dengan berlinang air mata. Aku memang sedikit cengeng, mudah sekali air mataku menetes. Aku merasa bangga juga karena telah menemani Mas Angga dari nol.
Sebagai guru honorer, kami harus bersyukur dengan uang lima ratus ribu per bulan yang diterima Mas Angga. Untuk tambahan lainnya, aku membantu Mas Angga dengan berjualan kue.
Untuk cabai dan sayur, ayah mertua termasuk rajin bercocok tanam di belakang rumah.
Ayah mertua dan ibu juga berdagang sayur keliling bergantian. Kami menumpang hidup dengan mereka. Bagi mereka, Mas Angga tetap memakai seragam saja mereka sudah sangat senang. Mas Angga tidak perlu bekerja pontang-panting.
Namun, mereka tidak menyadari bahwa aku juga punya kebutuhan yang lainnya. Beruntung, aku tidak terlalu boros, sengaja kusisakan sepuluh ribu rupiah untuk aku tabung, jaga-jaga jika suatu saat ada keperluan.
“Sayang, mulai sekarang kamu tidak perlu jualan kue keliling lagi, ya.”
“Loh, kenapa, Mas?” tanyaku heran, pasalnya dengan uang hasil jualan kue, aku tidak perlu meminta untuk beli kebutuhanku.
“Ya, suamimu kan sudah PPPK, mas malu dong kalau istri mas masih saja jual kue keliling.”
Aku menelan salivaku.
Membayangkan berapa sebenarnya gaji PPPK, hingga Mas Angga berani bicara seperti itu. Padahal uang hasil jual kue bisa membantunya mengisi bensin sepeda motornya.
“Kalau begitu, ibu juga berhenti berdagang, ya, kalau sudah PPPK gajimu juga pasti cukup untuk menghidupi kita semua.”
Tiba-tiba saja ibu mertua pun menyela.
“Jangan, dong, Bu. Aku kan juga pasti perlu bersosialisasi setelah ini, memangnya Ibu mau kalau anakmu dipandang PPPK miskin nanti kalau uangnya habis untuk rumah saja?”
Begitulah jawaban Mas Angga, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Setelah pelantikan, perubahan perlahan terasa dalam keluarga kecil kami. Mas Angga yang dulu lembut dan penuh perhatian, mulai sibuk dengan tugas barunya di sekolah.
Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat, pulang menjelang senja dengan wajah lelah. Aku berusaha mengerti, menyiapkan makan malam, mendengarkan cerita-ceritanya tentang murid-muridnya yang lucu.
Tapi ada yang berbeda, pelukannya yang hangat kini terasa jarang, senyumnya juga tak lagi sering singgah untukku.
“Mas, mau mandi atau sarapan dulu?” tanyaku sore itu kala Mas Angga pulang.
“Mandi saja.”
“Aku siapkan baju, ya.”
Aku pun ke kamar membawa tas laptop Mas Angga. Ada rasa aneh selama ini kutahan untuk tidak menanyakannya. Aku berpikir, sesibuk apa ASN guru tingkat SD?
“Mas, kenapa akhir-akhir ini Mas terlihat sangat lelah, ya? Apa semua ASN itu pulangnya sore terus? Pak Beni aku lihat cepat pulangnya, Mas?” tanyaku memberanikan diri saat Mas Angga selesai mandi. Aku juga tidak lupa membandingkan suamiku itu dengan tetangga yang juga seorang ASN.
“Hm, memangnya kamu tahu apa, Dek? Sudah kamu di rumah saja tidak usah banyak tanya. Aku capek,” jawab Mas Angga ketus.
Jawabannya membuatku benar-benar merasa sangat sedih. Tapi aku tidak boleh terlihat lemah. Aku pun pergi keluar meninggalkan Mas Angga.
Orang tua Mas Angga pun mulai berubah. Ibu mertua semakin sering menyindir tentang keturunan.
“Sekarang Angga sudah ASN, sudah waktunya punya anak, Din. Masa mau hidup berdua terus?” ucapnya suatu sore sambil melipat baju. Aku hanya tersenyum tipis, menahan air mata yang hampir luruh.
Aku tahu beliau tidak bermaksud jahat, hanya menginginkan kebahagiaan bagi anaknya. Tapi rasanya sesak.
Dua tahun lebih pernikahan juga membuatku sangat merindukan sosok anak, tapi Tuhan belum berkehendak, terlebih sekarang Mas Angga lebih sering capek hingga dia sudah lama tidak memberi nafkah batin padaku.
Mas Angga hanya terdiam. Padahal dulu selalu siap untuk membelaku, kini hanya diam saat ibunya berbicara menyinggung. Mungkin ia terlalu lelah untuk berdebat, atau mungkin ia mulai ikut berharap aku segera hamil. Aku paham itu.
Aku semakin sering merasa sendiri sejak saat itu, meski tinggal serumah dengan mereka di dalam gedung itu. Tapi aku memilih diam, mencoba menjadi istri yang sabar.
Hari-hari berlalu, jarak di antara kami semakin terasa. Mas Angga semakin sering pulang sore, bahkan malam. Alasannya selalu sama, rapat, tugas tambahan, atau sekadar alasan bahwa sekolah butuh banyak penyesuaian setelah ia resmi dilantik.
Aku hanya mencoba percaya, mencoba menjadi istri yang pengertian. Tapi hati kecilku terus bertanya-tanya entah semua alasan yang dikemukakannya benar atau hanya sekedar alasan.
Malam ini, diiringi rasa ingin tahu, aku memberanikan diri mengajak bicara. Aku menyiapkan makanan kesukaan Mas Angga, berharap suasana bisa lebih cair. Saat ia pulang, aku menyambutnya dengan senyum manis yang kupaksakan.
“Mas, kita ngobrol sebentar, ya?” pintaku lembut.
“Aduh, besok aja, Dek. Aku capek banget,” jawabnya singkat sambil menghempaskan tubuh ke sofa.
Hatiku tercelus, biasanya, Mas Angga akan dengan semangat mendengarkan ceritaku. Air mataku hampir tumpah, tapi aku tahan. Aku hanya ingin sedikit didengarkan. Ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, seperti biasa, aku memilih diam.
Sampai suatu hari, aku menemukan pesan singkat di ponsel Mas Angga. Pesan itu datang dari seseorang bernama “Bu Rina”. Awalnya, aku mencoba tidak berpikiran buruk. Mungkin itu rekan guru di sekolah.
Tapi pesan-pesan itu terasa terlalu akrab, terlalu hangat untuk ukuran hubungan rekan kerja.
“Mas, makasih udah anterin pulang tadi. Hati-hati ya di jalan. Makasih juga sudah bawa jalan.”
Hatiku berdegup kencang. Aku duduk terpaku di tepi tempat tidur, menggenggam ponsel yang mulai bergetar hebat di tanganku sendiri.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Menghadapi Mas Angga? Atau memendam ini lagi seperti semua rasa sakit yang sudah kutelan selama ini?
Sementara itu, ibu mertuaku semakin intens membicarakan keturunan. Kadang aku merasa beliau sengaja menyindir di saat aku ada.
“Kemarin Bu Sindi cerita, kamu tahu, ‘kan? Teman arisan ibu yang rumahnya diujung gang itu loh, anaknya mau program anak lagi, padahal udah punya dua. Jadi cucunya jalan tiga tuh. Duh, enaknya kalau cepat dikasih momongan ya, Din?”
Aku hanya tersenyum pahit sambil mengaduk teh yang sudah dingin. Meladeni perkataan ibu mertua hanya akan menambah dosa sebagai menantu
Aku mulai merasa kehilangan diriku sendiri. Setiap pagi aku terbangun dengan hati yang hampa, berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa mungkin aku sudah tidak menjadi prioritas dalam hidup Mas Angga.
Tapi aku masih bertahan, entah karena cinta, atau karena aku terlalu takut untuk kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa bagiku.

Pena Adelline
8 Pengikut · 1 Novel