"Kamu yakin dia bakal senang melihatmu datang jauh-jauh dari kampung, Rum?"
Pertanyaan itu meluncur dari bibir Mbak Lastri, tetangga sekaligus rekan kerja Arumi di pabrik garmen, sesaat sebelum Arumi melangkah turun dari bus antarkota. Arumi hanya tersenyum simpul, jemarinya mempererat dekapan pada sebuket bunga lili putih yang dibungkus kertas krep sederhana.
"Yakin, Mbak. Bayu sudah janji. Katanya, hari pelantikannya adalah hari kemenangan kami berdua," jawab Arumi dengan binar mata yang tak mampu menyembunyikan rasa bangga.
Udara di sekitar lapangan upacara militer itu terasa panas menyengat, Arumi tidak peduli. Baginya, terik matahari siang ini tidak sebanding dengan perjuangannya selama tiga tahun terakhir.
Ia rela hanya makan nasi dengan garam, menunda membeli baju baru, bahkan mengabaikan rasa lelah yang menghantam tulang-tulangnya setiap malam, semua demi satu tujuan, melihat Bayu Pratama mengenakan seragam loreng kebanggaannya.
Arumi merapikan kebaya kutubaru berwarna merah muda yang ia jahit sendiri. Ia ingin tampil cantik. Ia ingin Bayu melihat bahwa gadis desa yang menunggunya dengan setia ini tetaplah sosok yang sama, yang selalu mendoakannya di setiap sujud malam.
Lapangan luas itu dipenuhi oleh keluarga para prajurit yang baru saja dilantik. Isak tangis haru dan tawa bahagia bersahutan di mana-mana. Arumi berdiri di pinggir lapangan, matanya menyapu barisan pria bertubuh tegap yang kini sedang membubarkan diri untuk menemui keluarga masing-masing.
"Itu dia!" gumam Arumi pelan.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok jangkung dengan baret di kepala yang sangat ia kenali. Bayu Pratama. Pria itu tampak gagah, jauh lebih perkasa dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu di terminal bus enam bulan lalu. Arumi hendak melangkah maju, memanggil nama yang selalu ia sebut dalam doa, tapi langkahnya tiba-tiba membeku.
Bayu tidak menoleh ke arahnya. Pria itu justru berjalan cepat menuju sebuah tenda VIP di sisi kanan lapangan. Di sana, seorang wanita cantik dengan pakaian bermerek dan tas kulit mewah sudah berdiri menyambutnya.
Arumi terpaku saat melihat Bayu memberikan hormat militer yang sempurna di hadapan wanita itu, yang kemudian dibalas dengan pelukan hangat, bukan oleh wanita itu, melainkan oleh seorang pria paruh baya berseragam dengan pangkat melati di bahunya yang berdiri di samping sang wanita.
Arumi merasa lidahnya kelu. Ia memberanikan diri mendekat, berusaha membuang pikiran buruk yang mulai merayapi benaknya. Mungkin itu keluarga asuhnya, atau kerabat jauhnya, pikir Arumi mencoba rasional.
Langkah Arumi terhenti tepat sepuluh meter dari posisi Bayu. Di sana, di bawah naungan tenda yang sejuk, ia menyaksikan pemandangan yang menghancurkan seluruh dunianya. Bayu sedang menggenggam erat tangan wanita muda cantik itu, wanita yang kemudian diketahui bernama Sari.
"Terima kasih sudah datang, Sayang." Suara Bayu terdengar jelas di telinga Arumi. Suara yang biasanya lembut saat meneleponnya dari asrama, kini terdengar begitu asing karena ditujukan untuk orang lain.
"Selamat ya, Mas. Aku bangga sekali punya calon suami prajurit sehebat kamu," balas Sari dengan nada manja sembari menyandarkan kepalanya di bahu Bayu.
Dunia Arumi seolah runtuh seketika. Bunga lili di tangannya perlahan meluncur, jatuh menghantam tanah yang berdebu. Bukankah Bayu mengatakan bahwa Arumi-lah satu-satunya alasan ia bertahan di masa pendidikan yang berat? Bukankah Bayu berjanji akan segera melamarnya begitu pelantikan selesai?
Arumi mencoba menarik napas, paru-parunya terasa menyempit. Dengan sisa keberanian yang ada, ia melangkah maju. Suara sandal jepitnya yang tipis beradu dengan aspal panas, terdengar kontras dengan sepatu bot mengilat milik para prajurit.
"Bayu,” panggil Arumi lirih. Suaranya bergetar, nyaris hilang ditelan keriuhan suasana.
Pria yang baru saja dilantik menjadi Tamtama itu menoleh. Ekspresi bangga di wajahnya seketika lenyap, digantikan oleh gurat keterkejutan yang nyata. Namun, keterkejutan itu tidak bertahan lama. Dalam hitungan detik, tatapan matanya berubah menjadi dingin, tajam, dan penuh dengan rasa tidak suka.
"Arumi? Sedang apa kamu di sini?" tanya Bayu dengan nada rendah, seolah kehadiran Arumi adalah sebuah aib yang harus disembunyikan.
Sari, wanita di samping Bayu, mengerutkan kening. Ia menatap Arumi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Siapa dia, Mas? Pembantumu dari desa?"
Arumi merasakan dadanya sesak. Ia menatap Bayu, mengharapkan pembelaan. Ia mengharapkan Bayu akan menjelaskan bahwa dialah orang yang mengirimkan uang saku setiap bulan, dialah orang yang membelikan sepatu lari saat sepatu lama Bayu jebol, dan dialah wanita yang memegang janji setianya.
Kenyataan justru menghantamnya lebih keras dari bayangan mana pun.
Bayu berdehem, merapikan seragamnya yang tanpa cela, lalu menatap Arumi dengan sorot mata yang tak lagi mengenali kasih sayang.
"Hanya orang kampung yang salah alamat, Sari. Tidak penting."
Arumi membelalak. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang di pelupuk mata. "Salah alamat, Bayu? Kamu bilang tidak penting? Aku datang membawa bunga ini untukmu, aku—"
"Cukup, Arumi!" bentak Bayu, kali ini lebih keras hingga menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
"Pulanglah. Tempat ini bukan untuk orang seperti kamu. Jangan mempermalukan aku di depan calon mertuaku!"
Kata 'calon mertua' itu bagaikan belati yang menghujam tepat di jantung Arumi. Ia berdiri mematung di tengah lapangan yang mulai lengang, sementara Bayu dengan teganya membalikkan badan, kembali tertawa bersama Sari dan rombongan keluarga perwira itu, seolah Arumi hanyalah butiran debu yang baru saja ia sapu dari sepatunya.
Arumi menunduk, menatap bunga lilinya yang kini terinjak oleh langkah kaki orang-orang yang berlalu-lalang. Langit yang tadi cerah tiba-tiba berubah mendung dengan sangat cepat, seakan alam ikut merasakan kepedihan yang menyayat.
Tanpa ia sadari, sepasang mata tajam dari balik kaca mobil dinas hitam yang terparkir tak jauh dari sana telah memperhatikan seluruh kejadian itu sejak awal. Seorang pria dengan pangkat Mayor di pundaknya mengamati sosok Arumi yang ringkih di tengah lapangan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Saat rintik hujan pertama mulai jatuh membasahi bumi, Arumi berbalik dengan langkah gontai. Ia tidak tahu harus ke mana. Namun, sebuah suara berat dari arah belakang menghentikan langkahnya yang goyah.
"Nona, Anda menjatuhkan sesuatu."
Arumi menoleh perlahan, dan di sanalah ia melihat sosok pria berseragam perwira dengan wibawa yang begitu menekan, berdiri tepat di hadapannya sambil memegang sapu tangan berwarna gelap. Namun, bukan itu yang membuat napas Arumi tertahan, melainkan sorot mata pria itu yang seolah mampu membaca seluruh luka di hatinya dalam sekali pandang.