


oleh Yulita Lestari · 24 Bab
Kecantikan tidak selalu membuat seseorang jatuh cinta. Paras yang dimiliki justru membangkitkan dendam seorang pengusaha tampan bernama Wilson. Entah memiliki dendam apa? Padahal mereka tidak pernah kenal. Akibat dendamnya membuat orang terdekat Rafaela sekalipun harus terluka. Apapun yang Rafaela perbuat selalu membangkitkan amarah untuk pria kejam bermasalalu kelam. Lalu bagaimana jika Rafaela harus menikah dengan Wilson untuk penebusan dendam terhadap kesalahan yang tidak pernah Rafaela perbuat? Hingga Wilson bebas berbuat apapun. “Kenapa harus aku yang membayarnya? Sementara aku sendiri juga merupakan korban. Cari saja dia sampai ketemu. Setelah itu aku ingin melihat rupa yang mirip denganku itu, agar bisa marah!”
Dia Rafaela Amanda Defila, matanya sembap, rambutnya acak-acakan serta kancing blusnya sudah tidak lagi sesuai kegunaannya karena sudah berjatuhan ke lantai akibat tarikan paksa di tubuh bagian depan.
Sementara di sampingnya berdiri seorang pria yang sedang merapikan bajunya kemudian kembali memakai celananya agar rapi seperti sebelum masuk lift.
Parasnya yang tampan tidak sebagus hatinya yang ternyata tidak berperasaan. Bisa-bisanya dia mengambil kesucian seorang gadis yang bahkan baru saja diterima sebagai asisten pribadinya.
“Terima kasih, Sayang. Aku puas sekali! Tapi ... ini baru permulaan.”
Pria itu mengusap pipinya dengan lembut, tapi gadis tersebut berpaling dengan kasar.
“Saya akan melaporkan Tuan karena sudah melecehkan saya!” ancam gadis itu memeluk lututnya dengan tubuh gemetaran.
Bukannya takut, pria itu malah menyeringai. “Silakan saja, Nona. Tapi ingat ... uang berada di atas segalanya. Aku bisa balik melaporkanmu, bahkan membuat keluargamu hancur!” Wilson langsung keluar dari lift tanpa memedulikan gadis yang telah menjadi korban kebejatannya.
Gadis itu tertegun, percuma saja dia melapor jika yang dilaporkan memiliki harta dan takhta.
Keluar dengan langkah tertatih, ketika digerakkan bagian sensitifnya perih sekali. “Aku tidak mungkin pulang dengan keadaan seperti ini.”
Ia mencari kamar mandi terdekat untuk merapikan diri. Lalu tangannya memeluk diri agar bajunya yang robek tidak terekspos.
Ia berjalan menyusuri lorong dengan cahaya yang untungnya terang. Tidak disangka ia pulang larut, di gedung ini sudah tidak ada orang.
Saat sampai di luar gedung, ia menatap nanar ke sekeliling. Keterpurukan gadis itu tidak hanya sampai di sini, dia harus bisa pulang meski jarak pandangnya berkurang ketika malam tiba. Cahaya remang baginya justru menjadi sebuah kegelapan. Ia berpegangan pada tembok dengan pandangan yang benar-benar kabur.
Kesulitannya melihat di waktu malam kini menjadi bumerang buatnya, jangankan untuk sampai rumah, berjalan sampai ke jalan raya saja ia tidak sanggup.
Sebagai perempuan, siapa yang tidak sedih, mahkota berharga yang ia jaga selama ini justru diambil oleh bosnya sendiri.
Sedih, marah, bercampur menjadi satu. Masa depannya telah hancur oleh orang tidak bertanggung jawab. Seolah dunia ini begitu lucu. Seseorang yang kaya justru bahagia dengan harta, bahkan bisa membeli sebuah hukum. Bukankah ini lucu?
Orang kalangan bawah sepertinya harus mati-matian untuk bisa mengangkat derajatnya, mati-matian belajar sehingga menjadi mahasiswa dengan lulusan terbaik.
Jalan penuh duri telah ia lalui agar bisa mendapat pekerjaan yang baik juga. Lalu pada akhirnya bukan kebahagiaan yang ia dapat, melainkan harus menapaki bara api.
Sesal memang selalu datang di akhir. Jika bukan karena diiming-imingi gaji dan jabatan yang tinggi, Rafaela bisa masuk di tempat lain.
Mungkin firasat kakaknya benar. Sejak semalam perasaan Dorny tidak enak dan sempat tidak mengizinkannya bekerja. Bukan Rafaela namanya jika dia tidak bisa mendapatkan izin dari Dorny.
Rasanya aneh jika tiba-tiba wawancara ditiadakan, sementara Rafaela langsung diminta menemui CEO secara langsung.
Ia kembali mengingat kejadian tadi saat ia mulai bekerja.
***
“Beliau adalah Pak Aldrick. Ikutlah dengannya,” ucap seorang wanita yang mengurus berkas-berkasnya. Rafaela meneguk ludahnya melihat pria berpenampilan sangat rapi dan bertubuh tegap, dengan setelan jas berwarna gelap hingga menimbulkan kesan wibawa.
Semakin ke dalam, gedung itu terlihat sangat mewah terlebih saat melewati sebuah tempat yang luas dengan lampion besar di tengahnya.
“Ini ruang Aula,” ucap Aldrick melihat Rafaela tidak berkedip kala matanya berlarian menatap ruangan itu.
Rafaela hanya mengangguk. “Benar yang dikatakan Graci, tempat ini sangat mewah. Beruntung sekali dia bisa mempunyai kekasih seperti Pak Wilson yang katanya tampan melebihi Taehyung artis K-Pop idolaku,” batin Rafaela kagum dengan tempat ini.
“Mari, Nona! Pak Wilson sudah menunggu Anda.”
Aldrick memergoki Rafaela melamun, ia segera memanggilnya agar masuk lift. Ruangan demi ruangan yang dilewatinya begitu memberi kesan yang indah, desain di perusahaan ini rupanya lebih tertuju pada nuansa alam. Bahkan banyak bunga hidup dan bonsai menjadi begitu asri.
Aldrick mengetuk pintu dulu, setelah mendapat izin barulah masuk. Entah mengapa tiba-tiba jantung Rafaela berdetak kencang, mungkin karena dia mau menemui seorang pimpinan perusahaan.
Ia menelan ludah dengan keras, suasana serasa mencekam kala Wilson menatapnya tajam. Wajahnya memang tampan bagaikan patung malaikat, hanya saja oleh respon datarnya menjadikan kesan yang kejam.
“Pak Wilson sudah mengecek semua berkas dan beliau akan mengangkatmu menjadi sekretarisnya mulai hari ini juga.”
Rafaela tidak percaya ini, dia langsung diterima tanpa melakukan tes terakhir.
“Pasti Graci yang membantuku. Aku harus berterima kasih padanya,” batin Rafaela bahagia sekali. Dia langsung duduk di ruangannya sembari mempelajari hal-hal yang harus dia persiapkan.
“Bagaimana jadwalku hari ini?” Pak Wilson seperti sibuk dengan sesuatu.
“Emm ... pukul satu siang pertemuan dengan klien dari Armada Group, Pak!”
Untungnya Rafaela masih ingat dengan jadwal yang ia baca barusan.
“Kau ingatkan Aldrick menyiapkan semua berkasnya.”
Saat makan siang tiba, Rafaela tampak sendirian dan bingung saat di kantin karena tidak kenal siapa pun. Namun, dia langsung punya kenalan. Saat makan ia sempatkan memberi pesan pada sahabatnya.
“Terima kasih sudah membantuku. Kekasihmu langsung menerimaku menjadi asisten pribadinya. Pokoknya terima kasih. Aku janji, gaji pertamaku, aku traktir kamu makan-makan!”
Tidak lama kemudian Graci membalasnya.
“Masa, sih?”
“Iya. Terima kasih sekali.”
“Iya sama-sama. Semoga lancar!” balas Graci dengan sebuah ikon.
Di tempat Graci, ia justru merasa aneh.
“Kok aneh sekali? Perasaan, aku tidak memberitahu nama sahabatku. Wilson udah nyela duluan kemarin,” gumamnya.
Dia ingat sudah minta tolong pada pacarnya agar menerima sahabatnya. Tapi spontan Wilson menolak, bahkan Graci belum sempat mengatakan nama Rafaela padanya.
“Mungkin Wilson memang sudah tahu nama sahabatku. Pria itu sering mengorek-ngorek ponselku.”
Graci tidak begitu memikirkannya.
***
Rafaela lega karena pertemuan berjalan dengan lancar.
“Kamu pulang denganku malam ini!"
“Ta-tapi, Pak. Saya sudah ada janji dengan-”
“Aku atasanmu. Jadi jangan membantah!”
Mendengar suara Wilson yang berat, Rafaela akhirnya hanya pasrah.
Malam itu dia membantu Wilson memeriksa laporan dari para karyawan. Setelah itu langsung pulang. Selama di perjalanan, Wilson banyak bertanya mengenai Graci.
“Ibumu Amanda? Benar, ‘kan?” tanya Wilson memasuki lift.
“Bagaimana Bapak tahu?”
Wilson menyeringai memandangi mangsanya yang sejak tadi ia tandai.
“Kamu mau tahu kenapa saya mengenalnya?” Tiba-tiba pria itu mendorong tubuh Rafaela hingga menabrak dinding lift. Pria itu mengunci tubuh Rafaela.
“A-apa yang Bapak lakukan?!”
Rafaela panik. Mencoba mendorong tubuh Wilson sekuat tenaga, tapi sia-sia saja, tubuh Wilson lebih kuat.

Yulita Lestari
13 Pengikut · 5 Novel