


oleh Yulita Lestari · 44 Bab
Sejak hari di mana Wilson mengumumkan pernikahannya kepada semua orang, Rafaela memiliki sedikit semangat. Ia akan membuat Wilson jatuh cinta. Namun, semua tidak seperti yang dia duga. Wilson masih sama keras kepalanya hingga dia memilih untuk pergi dari hidup Wilson. Lantas bagaimana caranya dia pergi dari hidup Wilson? Apa dia bisa?
“Dia calon istriku!” serunya sambil menggenggam tangan Rafaela.
“Aku beritahu kepada kalian semua jika sebentar lagi kami akan menikah!” Ia mengumumkan hal ini kepada semua orang. Bahkan ungkapan itu terekam hingga ke banyak media.
Ia menatap Rafaela dengan tulus, tatapan yang belum pernah ditunjukkan untuk siapa pun, bahkan kepada Rafaela sebelumnya.
“Kita akan menikah.”
Kali ini ia mencekal lengan Rafaela. Melangkah pergi dari sana. Wilson tidak memedulikan seluruh mata tertuju padanya. Yunna tampak malu ikut pergi dari pesta itu setelah penolakan Wilson di depan banyak orang.
“Wilson, lepaskan aku!”
Cekalan lengannya berubah kuat dan langkah Wilson begitu cepat hingga Rafaela kesusahan berjalan ketika mereka sudah menjauh dari semua orang.
“Wilson! Jangan kasar pada wanita!”
Wilson melewati Zizara pun tidak memedulikan ocehannya.
Bahkan tidak peduli saat Wilson membawanya menuruni tangga di luar.
Brugh!
“Aw ... shhh ....”
Kaki Rafaela oleng hingga tubuhnya ikut limbung. Beruntung Wilson menangkapnya. Jika tidak mungkin dia sudah tergelincir di tangga hingga ke bawah sana.
Wilson merasa bersalah telah membuatnya jadi seperti ini, ia mengangkat tubuh Rafaela ala bridal style dan membawanya ke mobil di mana sopir sedang ada di dalam menunggu majikannya selesai pesta.
Entah kenapa pikiran Wilson menjadi kacau karena membuat Rafaela celaka barusan.
“Bagaimana dengan kakimu?” tanya Wilson. Rafaela tampak menyentuh kakinya yang mungkin saja terkilir.
“Tidak apa-apa. Aku bisa menyembuhkannya sendiri.”
Di bawah lampu yang remang di dalam mobil, Rafaela memijat kakinya sendiri. Entah mengapa Wilson terpukau melihat gadis yang begitu mandiri tersebut.
“Ayah! Ibu masih sakit, kenapa Ayah pergi?”
Ingatan bayangan masa lalu tiba-tiba saja muncul di kepala Wilson. Rasa benci tiba-tiba saja membuat rasa terpukau hangus dan berganti dengan rasa benci yang mendalam.
Rafaela merasa kakinya sudah membaik setelah dipijat. Ia menjauhkan sedikit tubuhnya dari Wilson yang ternyata berjarak sangat dekat. Dia baru sadar posisi ini.
Tapi justru Wilson mengikuti gerakannya hingga Rafaela merasa kesempitan.
Wilson tiba-tiba saja mengunci tubuh Rafaela dan mencumbunya. Gadis itu terbeliak kaget, apalagi di depan ada sopir yang bisa melihat aksi mereka berdua.
Setelah Rafaela kehabisan napas, Wilson melepaskan tautan di bibirnya. Namun, tatapannya pada Rafaela begitu bernafsu ingin segera melampiaskan hasratnya saat ini tanpa memedulikan situasinya.
Tiba-tiba saja sopir di depan tidak terlihat karena mobil canggih itu menutup kursi belakang sopir dengan memencet tombol di belakang jok.
Rafaela syok sekaligus takjub kalau ternyata mobil Wilson sebagus itu. Di tengah rasa syoknya, Wilson menarik baju Rafaela hingga dia memekik karena bajunya robek. Sementara Wilson hanya menyeringai kesenangan karena baginya.
Cara ini sangat asyik.
“Pak Sopir bisa mendengar kita.”
“Itu kedap suara, Sayang!”
Suara beratnya terdengar sangat mengerikan. Kini Rafaela tidak bisa berkutik lagi ketika Wilson terus saja bermain di tubuhnya dengan sangat memabukkan.
Bahkan tidak peduli ketika puncak kenikmatan menyembur deras sebagai penyelesaian. Rafaela benar-benar dibuat tidak berdaya olehnya. Meski ini menyakitkan perasaannya sebagai seorang wanita, tapi dia juga menikmati setiap sentuhan dari Wilson.
Rupanya hal ini belum puas Wilson lakukan. Setelah sampai, dia menggendong Rafaela tanpa peduli dengan tatapan semua pekerja di rumahnya.
Tanpa disadari keduanya, ternyata Youra datang berkunjung untuk membahas pernikahan yang belum ada persiapan karena Wilson menghubunginya secara mendadak.
Matanya memicing curiga melihat Wilson menggendong tubuh Rafaela dengan tatapan penuh nafsu naik ke atas menuju kamarnya.
Youra geleng-geleng kepala melihatnya. “Mereka tidak sabar menunggu malam istimewa besok.”
Youra menyeringai kesenangan. Akhirnya Wilson bisa melupakan masa lalunya. Tanpa Youra ketahui justru Wilson mau menikahi Rafaela karena belum bisa melupakan masa lalu yang membuatnya trauma sampai sekarang.
***
Rafaela enggan membuka matanya, bahkan badannya sendiri terasa remuk setelah bergelut semalaman. Wilson tidak henti-hentinya bermain meski Rafaela sudah tertidur sekali pun.
Dia melihat pria yang seharusnya tidur di sisinya sudah tidak ada. Ia meraih cermin yang ada di nakas dan melihat banyak sekali tanda merah di lehernya. Setelah diamati, ternyata Wilson meninggalkan banyak tanda merah di tubuhnya.
Dia membayangkan saat acara pernikahan sederhananya nanti siang di rumah ini.
“Bagaimana kalau tanda ini tidak hilang?” Rafaela berpikir keras bagaimana caranya menghilangkan tanda cinta yang akan membuat orang yang memandangnya pun pasti tidak nyaman. Bahkan mungkin ada yang menuduhnya murahan.
Tidak ingin hal itu terjadi, dia segera turun ranjang dan keluar mencari es batu, lalu mengompres tubuhnya.
Tapi bukannya berjalan, dia malah merasa kesakitan tepat di area kewanitaannya. Meski ini bukan yang pertama, tapi tetap saja karena Wilson begitu kejam padanya.
Rafaela memutuskan untuk merendam tubuhnya di bathtub. Air hangat yang ia masuki membuat rasa rileks pada tubuhnya.
“Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri. Kira-kira bagaimana rasanya? Apa setelah menjadi istri nanti Wilson akan semakin menyiksaku?” gumamnya bersiap untuk tidak kaget dengan kehidupan baru yang akan sangat memuakkan.
Tidak terasa sudah tiga puluh menit dia berendam dengan mata terpejam. Tapi dia tidak akan tidur karena isi kepalanya malah penuh dengan masalah-masalah yang mungkin akan menghampirinya di masa depan.
Mendengar suara perutnya yang ternyata lapar, Rafaela memutuskan untuk keluar dari bathtub dan segera memakai piama handuk. Dia keluar kamar dan memilih-milih pakaian santai.
Ceklek ....
Pintu kamar terbuka ia pikir itu dari Wilson karena tidak mengetuk pintu dulu seperti pelayan di rumah ini.
“Gadis miskin yang menumpang bersama keluarga kaya. Dasar gila harta.”
Suara wanita yang ternyata masuk ke kamarnya itu. Dia berbalik dan melihat Yunna di ambang pintu dengan raut benci padanya.
“Tidak sopan sekali masuk di kamar orang sembarangan!” sindir Rafaela dengan geram.
Yunna tersenyum sinis. “Hanya jadi bonekanya Wilson saja belagu. Rumah ini seharusnya milikku!” Yunna maju dengan tatapan tajamnya.

Yulita Lestari
13 Pengikut · 5 Novel