Pagi itu Hasna menjalani hari seperti biasa, mengetik laporan di meja kecil kantor yang sempit, menatap layar komputer dengan mata lelah, berharap waktu makan siang cepat tiba. Hidupnya tak lebih dari itu. Karyawan biasa dengan rutinitas yang tak banyak berubah. Tak ada yang istimewa. Namun, hari itu sesuatu yang aneh terjadi.
Pak Deni, bosnya yang selalu dingin dan jarang bicara baik, setiap kali bicara pasti membicarakan potongan saat karyawan terlambat datang, tiba-tiba saja menghampiri dengan senyum yang terasa tak wajar.
"Hasna, siang ini ada tamu penting. Kamu jangan ke mana-mana dulu, ya. Beliau ingin bicara langsung denganmu."
Hasna hanya mengerutkan kening. "Tamu? Siapa, Pak?"
Bosnya gelagapan, mengalihkan pandangan. "Orangnya dari perusahaan besar. Katanya ada urusan penting."
"Perusahaan besar?" Hasna tertawa dalam hati. "Loh, saya cuma karyawan biasa, Pak. Apa urusannya sama saya?”
"Pokoknya kamu temui dia. Kalau tidak, perusahaan ini dalam masalah! Tolong Hasna, saya mohon. Anak istri saya bertumpu hanya pada perusahaan ini." Pak Deni meminta dengan serius.
"Hah?" Mata Hasna terbuka lebar meminta kepastian. Namun, Pak Deni hanya tersenyum kikuk dan segera pergi.
Tak lama, saat ingin kembali ke meja kerjanya, seorang pria berpakaian formal dengan lencana bertuliskan Kusuma Group muncul menghentikan langkah Hasna.
"Selamat siang, Nona Hasna. Saya Agung, asisten pribadi Tuan Wijaya Kusuma. Saya diminta menjemput Anda untuk bertemu beliau, sekarang juga."
Hasna menatapnya curiga. "Bertemu Bapak siapa?"
"Pak Wijaya Kusuma," ulang pria itu dengan nada formal. "Bapak Wijaya meminta Anda segera ikut."
Hasna merasa semakin aneh. “Pak, saya tidak tahu siapa Pak Wijaya Kusuma. Ini kan perusahaan biasa, saya tidak kenal orang-orang besar macam itu. Bapak salah alamat mungkin. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya."
Tanpa memberi kesempatan untuk menolak, pria itu tetap menawarkan senyum ramah dan mengarahkannya ke luar kantor. "Tolong ikut saya, Nona. Ini penting. Bapak Wijaya sangat berharap bisa berbicara dengan Anda."
"Enggak, saya nggak mau! Kenapa saya harus ikut orang asing?!" Hasna hampir berteriak, tapi pria itu hanya melangkah tanpa berkata-kata menghalangi Hasna ke mejanya.
Lalu tiba-tiba Pak Deni bergabung dan mengambil sesuatu dari kantongnya, sebuah amplop putih yang diberikan dengan menunduk kepada Hasna.
"Nona Hasna, saya secara pribadi meminta maaf tidak bisa melanjutkan kontrak Nona Hasna di kantor ini lagi. Ini adalah uang pesangon, Nona. Semoga Anda sukses!"
"Nona apa sih? Pak Deni, saya enggak terlambat loh bulan ini," protes Hasna.
"Terima saja, Nona. Saya harus melakukan ini walau kamu enggak ada kesalahan dengan perusahaan. Saya minta maaf bila selama ini sedikit keras." Pak Deni yang biasanya bicara keras kepadanya kali ini membungkuk dengan mengulurkan amplop putih padanya.
Sikap Pak Deni sejak tadi sangat ganjil dan terlalu berlebihan, membuat Hasna jadi kikuk. Tangan Hasna terulur mengambil amplop yang cukup tebal dari tangan Pak Deny.
"Kenapa Pak Deni memecatku? Lalu, buat apa bersikap baik, bila setelah itu Bapak malah memecat saya?"
Pak Deni menunduk, meminta maaf sekali lagi, kemudian seorang satpam menyerahkan tas kerja Hasna, juga membungkuk hormat padanya.
'Eh?! Eh ini ada apa? Kenapa jadi menundukkan kepala kepadaku seperti itu?'
Sekali lagi Hasna terkejut luar biasa.
Sementara Agung masih menunggunya untuk ikut ke mobil, tangannya mempersilahkan keluar ruangan kantor menuju mobil yang berdiri tepat di depan kantor. Tak ada pilihan bagi Hasna. Ia tidak mungkin kembali, dirinya telah dipecat. Hasna terpaksa mengikuti mereka.
"Ooh ... jadi kalian membuatku dipecat agar ikut dengan kalian!"
"Maaf, Nona Hasna. Bapak Wijaya sudah menunggu Anda!"
"Aku nggak ada hubungan dengan Bapak Wijaya-mu itu, kenapa dia membuatku dipecat," sergah Hasna galak, meski dirinya sudah dituntun menuju sebuah mobil mewah yang terparkir di luar gedung.
Semua yang ada di mobil itu, mulai dari pelayan di pintu sampai interior yang mengkilap, hanya semakin memperburuk suasana hati Hasna.
Dinginnya AC mobil yang menggantikan debu Jakarta, empuknya jok mobil serta interior mobil mewah yang ia duduki sendirian dari bangku belakang ini malah membuatnya pusing.
Perjalanan ke Kusuma Tower terasa seperti mimpi buruk yang nyata. Lobi gedung dengan marmer berkilau, staf yang berpakaian rapi, resepsionis yang menyapanya dengan penuh penghormatan.
"Selamat siang, Nona Hasna. Silahkan Anda ke lantai 32, ke ruangan Pak Wijaya." Wanita itu kembali membungkuk penuh hormat.
Hasna sampai mundir terkejut, semua itu membuat Hasna merasa seperti orang asing yang tersesat di dunia yang salah.
Setibanya di lantai 32, di depan pintu ruang rapat, rasa kesalnya sudah meledak.
“Ini gila! Apa maunya orang ini?!” gumamnya.
Hasna berusaha mengumpulkan keberanian untuk menolak lebih keras. Namun, saat pintu terbuka dengan sendirinya, seorang pria paruh baya dengan wajah serius berdiri menunggu. Wajahnya penuh karisma, rambutnya memutih rapi, dan setelan jasnya begitu sempurna. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Hasna; bukan senyumnya, bukan cara bicara formalnya, tapi ketegasan yang begitu mendalam, seolah menguasai ruangan.
"Saya nggak tahu siapa Anda, Pak," kata Hasna dengan suara menahan marah.
"Cara Anda memanggil dengan membuat saya berhenti dari perusahaan telah menghancurkan hidup saya! Apa pun urusan Anda, saya tidak mau mendengarnya."
Pria itu menatapnya dengan ekspresi penuh harapan, hampir seperti menahan sesuatu yang penting. "Hasna ... kamu mungkin tidak ingat, tapi aku-"
"Hasna?! Anda kenal saya?” Hasna langsung menginterupsi.
“Saya nggak peduli siapa Anda! Kenapa semua orang bersikap seperti saya sudah jadi bagian dari dunia kalian? Saya nggak tahu apa pun tentang Anda, jadi tolong jangan ganggu saya. Apakah Anda tidak tahu mencari kerja itu sulit? Kenapa Anda membuat saya dipecat?"
Wijaya menatapnya tenang, tidak terkejut oleh kemarahannya. “Karena Keluarga Kusuma tidak membutuhkan pekerja sebagai staf administrasi biasa. Aku hanya ingin bicara denganmu Hasna. Ada hal yang penting yang perlu kamu tahu.”
“Jangan!” Hasna melangkah mundur, dengan tangan terkepal. “Jangan berani bicara apa pun yang berhubungan dengan hidup saya. Anda tidak berhak. Anda pikir, saya perduli! Saya enggak butuh bantuan dari orang kaya seperti Anda!”
Suasana di ruangan itu mencekam. Hasna merasa seolah dirinya terperangkap dan semuanya terasa salah. “Saya hanya ingin pulang! Kalau Anda tidak bisa mengantarkan saya. Saya akan kembali sendiri,” pekiknya.
Tanpa memberi jalan keluar, Wijaya menatapnya serius. “Kamu harus tahu, Hasna. kamu adalah bagian dari Keluarga Kusuma, ini kebenarannya.”
Hasna memandang pria itu dengan marah, tetapi bibirnya terkatup rapat. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan menuju pintu, bertekad untuk keluar dari semua ini.
"Maksudnya? Bagian dari keluarga Kusuma apa? Ini prank ya?"
Langkah Yumna terhenti sebelum menggapai pintu ia berbalik. Menatap tak percaya kepada orang tua berambut putih yang bicara di depannya.
"Aku minta maaf kalo caraku menjemputmu pulang telah menyinggung perasaanmu, keponakanku. Aku harus bicara jujur bahwa engkau adalah Yumna Adelia Kusuma, keponakanku!"