


oleh LennyMarlina · 8 Bab
“Menikah denganku. Anggap saja ini sebuah transaksi.” Tawaran itu langsung mengubah kehidupan Seraphina Vale hanya dalam semalam. Di sepanjang hidupnya, baru kali itu berkorban demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran akibat masalah besar. Syaratnya, tidak ada rasa kasih sayang, tidak ada harapan, apalagi cinta. Bagi Damien Ashford, kontrak adalah kontrak. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara kontrak dan kenyataan mulai memudar. Lalu, mereka dihadapkan sebuah pilihan: mempertahankan pernikahan paksa, atau melepaskan cinta yang seharusnya tidak pernah ada. Pilihan apa yang akan mereka ambil?
“Ah, akhirnya selesai.”
Setelah sekian lama, Seraphina akhirnya bisa pindah ke rumah kontrakan baru. Luasnya memang tidak seberapa tetapi cukup untuknya yang memang seorang diri. Terlebih tempat itu cukup dekat dengan tempat kerjanya.
Usianya baru 24 tahun. Di umur yang terbilang masih muda, Seraphina hanya fokus pada pekerjaannya. Ia perlu membiayai pengobatan ibunya yang menderita penyakit serius. Biayanya pun cukup besar sehingga membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkannya.
Ponselnya berbunyi.
Ibunya menelepon.
“Iya, Bu?”
“𝘈𝘱𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘮𝘶?”
“Sudah. Aku baru saja selesai membereskan barang-barangku.”
“𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯𝘢𝘯𝘮𝘶?”
“Yah, untuk tempatnya memang cukup baik.”
“𝘔𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘶. 𝘐𝘣𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘮𝘢𝘯𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘐𝘣𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩.”
“Tidak, Bu. Alangkah baiknya Ibu memang beristirahat. Ibu tidak boleh banyak beraktivitas berat. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk mendapatkan banyak uang demi Ibu.”
“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘗𝘪𝘬𝘪𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘐𝘣𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘳𝘪𝘮 𝘭𝘢𝘶𝘬-𝘱𝘢𝘶𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴𝘬𝘢𝘯, 𝘺𝘢?”
“Padahal tidak apa-apa.”
“𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬, 𝘪𝘣𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘩.”
“Baiklah. Terserah Ibu saja.”
Telepon pun ditutup.
Seraphina merasa begitu bangga memiliki orang tua yang memedulikan anaknya meski diri sendiri pun juga perlu dipedulikan. Ia berjanji tidak akan mengecewakan perasaan sang ibu. Ia akan berusaha membawa ibunya berobat.
“Ah, aku juga harus menghubungi ayah.”
Ia ingin memberi tahu ayahnya bahwa sekarang memiliki tempat nyaman untuk ditinggali sendirian.
Tetapi, nomor ponselnya tidak dapat dihubungi. Berulang kali Seraphina mencoba, ponsel ayahnya seakan mati, atau berada di luar jangkauan.
“Apa ayah sedang sibuk?”
Situasi membingungkan itu memang tidak terjadi satu atau dua kali. Terkadang ayahnya memang sangat sulit untuk dihubungi. Bisa karena kesibukannya, atau mungkin karena ponselnya mati total. Seraphina memutuskan untuk tidak mengganggu. Ia akan menghubungi ayahnya nanti jika sudah tidak sibuk.
Ia kemudian membuka jendela.
Angin sore berembus masuk melalui jendela yang Seraphina buka. Helaian rambut beterbangan.
“Suasana di sini memang menenangkan dan menyegarkan. Semoga saja aku betah berada di sini dan memulai pekerjaanku dengan baik,” katanya tersenyum.
Pekerjaannya memang sederhana, tetapi cukup untuk mencukupi segala kebutuhannya. Ia juga harus rajin menabung mulai sekarang.
***
Di ruang makan kediaman Ashford, semua orang menyantap hidangan mereka. Terdiri dari tiga anggota keluarga. Edward Ashford, Eleanor Ashford, dan putra mereka bernama Damien Ashford yang belum menikah meski berusia 31 tahun.
Edward tiba-tiba meletakkan sendok dan garpu di piring. Ia kemudian mengaitkan jemari tangan seraya menoleh dan menatap pada putra satu-satunya itu.
“Damien, apa kau masih belum berubah pikiran?” tanyanya. Ia mengharapkan akan adanya perubahan.
“Tentang apa?”
“Pernikahanmu.”
Lalu, suasananya berubah menjadi sunyi. Damien tidak menjawab karena keputusan yang telah dibuatnya itu tidak akan membuatnya goyah. “Ayah sudah tahu.”
“Pikirkan sekali lagi. Usiamu tidak lagi muda. Kau harus menikah dan memiliki keturunan. Apa kau mau mati tanpa merasakan apa itu sebuah keluarga?”
Tekanan yang dilakukan Edward sering membuat Damien frustrasi. Jelas-jelas tidak ada pernikahan ataupun keluarga khusus dalam hidupnya. Tetapi, orang tua itu tetap saja memaksanya, bahkan sampai harus memiliki keturunan juga.
“Sayang. Sebaiknya kita bicarakan soal ini nanti saja. Kita makan dulu dengan tenang,” ucap Eleanor.
“Apa kau yang akan bicara dengan anakmu setelah makan?” celetuk Edward kepada istrinya. “Dia sudah tidak bisa diajak bicara dengan tenang lagi. Emosilah yang akan mengubah pola pikirnya itu, Istriku.”
Eleanor terdiam.
“Saya memang tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Tapi, memaksa Damien juga ada batasannya.”
“Cukup. Jangan mencampuri urusan kami. Pembicaraan ini bukan tanpa alasan. Pernikahan Damien adalah sesuatu yang sangat penting, bahkan sudah diwasiatkan semenjak kakeknya masih hidup.”
Edward meminta agar istrinya tidak mencampuri urusan mereka lagi. Ia merasa anggapan istrinya tidak terlalu penting karena selalu memanjakan Damien sejak kecil. Tingkah laku Damien saat ini mungkin karena kemanjaannya itu.
Ia kembali menatap putranya.
“Damien. Ayah peringatkan untuk yang terakhir kalinya. Kau harus segera menikah sesuai dengan yang kakekmu tulis di surat wasiatnya. Ayah tidak mau mendengar apa pun alasanmu. Kalau bisa, siapa pun wanita itu, asalkan kau menikah, tidak akan ada masalah. Apa kau mengerti?”
Damien hanya menghela napas karena bosan dengan perintah pernikahan memalukan itu.
“Siapa pun wanita itu, ya? Baiklah.”
Kemudian, Damien berdiri dan melangkah pergi meninggalkan meja makan. Ia tidak menghabiskan sisa makanan di piring. Suasana hatinya serasa membeku, tidak nyaman dengan orang-orang sekitar yang terus-menerus menekan akan hidupnya.
Tetapi, Edward tiba-tiba berteriak, “Tiga bulan! Kau harus menikah dalam waktu tiga bulan! Ingat itu!”
***
Untuk bisa naik jabatan memang tidaklah mudah. Satu-satunya syarat untuk mendapatkan jabatan kepemilikan itu harus menikah dalam jangka waktu tiga bulan. Jika tidak, ayahnya mungkin akan membencinya seumur hidupnya.
“Anda kelihatan kurang sehat, Tuan,” ucap seorang tangan kanan Damien, Tristan Hayes.
“Benarkah?”
“Benar, Tuan. Apakah Anda membutuhkan pertolongan medis?”
“Itu tidak perlu.” Damien menolak perhatian asistennya. “Ada baiknya jika aku meninggal sekarang juga.”
Tristan hanya terdiam.
“Apakah ini karena permasalahan pernikahan Anda, Tuan? Apakah beliau memaksa Anda lagi untuk menikah?” Ia langsung tahu hanya dari raut wajahnya.
Damien tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kerja seraya menatap pada sang asisten. Namun, pikirannya tetap berjalan tiada henti, seolah memang tidak ada ujung yang bisa menghentikannya.
“Aku membutuhkan jabatan itu untuk memperkuat kuasaku. Tapi, aku tidak ingin menikah,” keluhnya.
Tidak ada cara lain selain itu.
“Apa kau punya kenalan seorang wanita, Tristan? Kalau ada, kenalkan padaku. Aku akan menemuinya. Akan kubuat ayah terdiam dengan kehadiran wanita itu.”
Keputusan yang mungkin diambil dengan rasa terburu-buru. Tristan tahu majikannya itu tidak benar-benar ingin mengenal seorang wanita. Tetapi, demi kenaikan jabatan dan memiliki perusahaan itu, satu-satunya agar menguasai dunia perbisnisan adalah memiliki pasangan.
“Saya tidak punya kenalan wanita. Jika Anda mau, saya akan mencarikan wanita yang cocok dengan status Anda,” ucapnya dengan senang hati.
“Ya, tolong carikan. Aku mengandalkanmu.”
***
Di suatu tempat, Seraphina akhirnya memulai pekerjaannya. Hanya sebatas pelayan di sebuah hotel meskipun gajinya tidak seberapa. Itu cukup untuk hidup penuh petualangan daripada berdiam diri di dalam rumah yang disebut kontrakan.
“Huh, lelahnya.”
Jika ditotal secara keseluruhan mungkin sudah belasan ruangan yang dibersihkan sejak pagi buta tadi. Beberapa jam sudah berlalu. Tenaganya mulai hilang karena belum makan semenjak berangkat tadi.
“Aku perlu membersihkan beberapa kamar lagi. Setelah itu, aku baru bisa boleh makan dengan tenang.”
Walaupun tidak ada yang memaksanya untuk bekerja sampai sekeras itu, bahkan sampai menunda makan, Seraphina hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya secara mungkin agar ia bisa langsung bersantai.
Ketika hendak menyapu di lorong itu, ia menemukan selembar uang. Seraphina menatap sekitar, berpikir ada orang yang menjatuhkan uang tersebut. Tetapi, tidak ada siapa pun. Hanya ada dirinya dan uang tanpa pemilik. Ia merasa harus mengamankan barang pribadi milik orang lain itu dengan cara mengambilnya.
“Sepertinya kau sangat membutuhkan uang sampai mencuri barang milik orang lain,” ucap seseorang.
BERSAMBUNG

LennyMarlina
15 Pengikut · 3 Novel