


oleh Lailaisti · 82 Bab
"Ceraikan aku saja, Mas!" ucap Ainia. Kedua mata Haris membuka lebar. Dia melihat Ainia dengan sorot tajam. "Mas Haris tak pernah anggap Nia ada. Lalu, untuk apa kita menikah?!" Ainia sudah habis kesabaran. Dia tahu, mereka memang tak pernah memiliki hubungan sebelum pernikahan ini berlangsung. Namun, Haris tak pernah berusaha membuka hati hingga setahun usia pernikahan mereka. "Baiklah kalau itu maumu! Urus semuanya sendiri, aku akan bubuhkan tanda tanganku!" Ainia tak menyangka, suaminya begitu mudah menyetujuinya. Dia pun berlari ke kamarnya, membereskan barang pribadinya. Lantas pergi dari rumah dengan bersimbah air mata.
Namanya Ainia. Kini usianya sudah menginjak dua puluh empat tahun. Di usia itu, orang tuanya sudah sibuk mencarikannya jodoh.
Ainia memanglah seorang gadis penurut. Dia hampir tak pernah menolak permintaan orang tuanya. Seperti halnya rencana perjodohannya ini, Ainia sama sekali tak mengatakan keberatan.
Hingga hari itu, datanglah serombongan keluarga ke rumahnya. Ainia hanya mengikuti perintah ibunya. Dia diam di kamar, dengan wajah yang sudah dirias, meski hanya sederhana.
"Kamu tunggu di sini dulu, Nia. Kalau Ibu panggil, keluar ya!" ucap Ratmi, ibunda Ainia.
Gadis itu tampak mengangguk pasrah. Dalam hati, dia penasaran tentang siapa sesungguhnya sosok calon pendampingnya itu, yang membuat kedua orang tuanya heboh berhari-hari.
Ainia bisa mendengar obrolan dua pihak keluarga di ruang tamu rumahnya. Sepertinya, mereka sudah sangat akrab. Ainia mengerutkan dahi, berusaha berpikir tentang kemungkinan sosok calon suaminya.
'Siapa dia? Apa aku mengenalnya?' batin Ainia sambil mengintip dari balik celah pintu kamar.
Karena penasaran, Ainia terhanyut dalam pengintaian. Dia begitu serius memandangi sosok lelaki yang terlihat paling mencolok di antara semua yang hadir.
Lelaki itu berparas tampan. Sepertinya dia blasteran bule. Entah bule Timur Tengah atau justru keturunan Prindavan.
Glek!
"Prindavan?" gumam Nia.
Ainia tak serta merta memiliki pemikiran itu, lantaran wajah lelaki itu ditumbuhi banyak bulu, alias cambang lebat.
'Biasanya yang berambut lebat itu antara keturunan Arab atau India,' batin Nia semakin penasaran.
Karena saking sibuknya mengintai, Nia sampai tak mendengar seruan dari ibunya di luar sana. Ratmi sudah memanggil Nia beberapa kali, tetapi gadis itu tak kunjung keluar juga.
Hingga akhirnya, Ratmi mendatangi kamar putrinya. Sambil berkacak pinggang, Ratmi mendorong pintu kayu itu kencang.
Gedebuk!
"Aduh ...." Ainia mengaduh kesakitan sebab dahinya terdorong tekanan kuat dari luar.
"Ibuuu!" seru Nia dengan suara kencang.
"Ssst! Berisik! Lagian kamu sudah Ibu panggil dari tadi, bukannya keluar. Malah ngumpet di balik pintu," ucap Ratmi pelan.
Ainia bersungut-sungut. Dia mengelus dahinya beberapa kali, karena merasa ngilu.
"Wah, benjol deh pasti!" gumam Nia sambil melirik ke arah kaca rias.
Ratmi melihat dahi putrinya. Dia menekannya pelan, sambil berkata, "Sudah, enggak apa-apa. Benjol sedikit ini."
Ainia mendengus kasar. Kini dia mengikuti Ratmi yang menyuruhnya menghidangkan minuman untuk tamu yang datang.
"Aduh, Bu, Nia malu," lirih Ainia.
"Ck! Kamu ini. Malu apanya, mereka itu calon keluarga kita. Nanti lama-lama juga biasa," ucap Ratmi tanpa memikirkan perasaan putrinya.
"Ini! Kamu bawa nampan ini, lalu letakkan tehnya di depan lelaki itu," kata Ratmi memberi arahan.
Ratmi menunjuk lelaki tampan yang menjadi pusat perhatian di acara ini. Ainia manggut-manggut, tanda mengerti. Tebakannya tepat, lelaki bercambang tebal tadi rupanya calon suaminya.
'Ah, tampan juga. Tapi sepertinya dia jutek banget,' batin Ainia.
Nia juga tahu, kalau dia mau keluar menyuguhkan minuman, itu artinya lamaran lelaki itu diterima. Sedangkan kenyataannya, ibunya yang menyuruh. Apa itu artinya, Ratmi yang menerima lamaran pria itu?
"Ini Ibu yang mau kawin?" tanya Nia sesaat sebelum keluar menghidangkan teh.
"Hus! Gundulmu! Itu bapakmu mau dikemanakan?" ucap Ratmi seraya menoyor kepala Nia kencang.
"Aduh, Ibuuu ini, sakit tahu!"
"Ya lagian, kamu ini kalau ngomong ngadi-ngadi saja," jawab Ratmi sambil bersungut-sungut. "Kalau Ibu bisa memutar waktu dan berubah lebih muda lagi, Ibu sih enggak bakal nolak lelaki kayak gitu," lanjut Ratmi.
"Eh?!" Ainia melotot ngeri. "Ibuuu ...."
Ratmi tertawa. Kemudian dia mendekati telinga Nia, lantas berbisik pelan di sana. "Asal kamu tahu Nia, modelan cowok kayak gitu, pasti deh tarikannya mantap!" ucapnya sambil mengacungkan jempol di depan wajah Nia.
Tentu saja Nia makin melotot ngeri. "Astaga, Ibuuu!"
Ratmi kembali tertawa terbahak-bahak. Setelah itu, dia mendorong Ainia pelan, agar putrinya itu keluar menyajikan teh yang menjadi simbol lamaran lelaki itu diterima.
Ainia pucat pasi. Bagaimana tidak, dia ditatap oleh banyak pasang mata di sana. Bak sebuah pusat pemandangan, semua orang yang hadir melihat setiap detail gerakannya.
Mungkin di sana ada sekitar sepuluh orang dari keluarga pelamar, dan sepuluh orang juga dari keluarga Nia sendiri. Kesemuanya menatapnya kagum. Namun, hanya sepasang mata yang tampak acuh tak acuh.
Adalah Haris. Sang calon mempelai laki-laki pilihan orang tua Ainia. Dia makin terlihat dingin. Bahkan melirik Nia pun tidak.
Setelah menghidangkan teh, Nia meninggalkan ruang tamu, tak berapa lama sorak-sorai terdengar membahana. Kali ini, Nia betul-betul tak paham. Tapi setelah sampai dapur, Ratmi kembali mengatakan hal di luar nalar padanya.
"Wah, jadi nih Ibu punya mantu tampan," goda Ratmi.
Nia makin bingung, dia tadi hanya menaruh teh di sana, sesuai kemauan ibunya. Setelah dia pergi, terdengar sorak-sorai, lantas sekarang Ratmi berkata lamaran mereka berjalan lancar dan sebentar lagi bakal punya mantu tampan. Sepertinya, 'mantu tampan' perlu digarisbawahi.
Disusul dengan wajah Ratmi yang langsung berbinar bahagia setelah itu.
"Ibu, Nia tak mengerti? Coba tolong jelaskan," kata Nia penasaran.
"Oh, astaga! Calon pengantin ini belum tahu? Ckckck!"
Ratmi menghela napas panjang. Lantas dia menjelaskan singkat pada Nia.
"Jadi, tadi 'kan kamu sudah menaruh gelas teh di sana. Seperti yang ibu bilang, itu artinya kamu menerima lamaran Haris."
'Oh, jadi namanya Haris?' batin Nia dengan mulut membulat. Dia tak menyela ucapan Ratmi, sebab dia penasaran, ingin semuanya tuntas dan gamblang.
Ratmi kembali menghela napas panjang. Lantas melanjutkan ucapannya.
"Lalu, setelah kamu balik lagi ke dapur, Haris langsung mengambil gelas itu, lantas meneguk air tehnya sampai tandas. Jadi, artinya ...."
Ratmi menahan napas, matanya melirik ke samping. Melihat Nia yang tampak masih planga-plongo.
"Artinya apa, Bu? Dia haus, kan?" celetuk Nia polos.
Huft!
Ratmi sempat mendengkus kesal karena Nia tampak tak paham juga. Tapi dia begitu menyabarkan hati hari ini, karena luapan kebahagiaan itu.
"Astaga, Niaaa ...."
Ainia terlihat serius, dia melihat manik mata ibunya yang makin lama tampak semakin besar saja.
"Itu artinya, dia suka sama kamu. Kalian bakal nikah dalam waktu dekat. Jadi, persiapkan diri baik-baik." Ratmi mempersingkat penjelasannya, lantaran sudah dipanggil ke depan oleh suaminya.
Benu namanya, dialah bapak kandung Ainia yang menjembatani perjodohan ini.
Benu menjodohkan putrinya dengan anak sahabatnya, Heru. Benu dan Heru adalah teman lama, yang baru berjumpa lagi beberapa bulan terakhir ini.
Dan perjumpaan itulah yang akhirnya berakhir di kesepakatan ini. Mereka sudah lama tak bertemu, tak saling tahu kehidupan masing-masing. Hingga perjodohan ini terjalin.
Bukankah semua begitu tiba-tiba? Benu begitu percaya pada sahabatnya, tanpa mencari tahu kehidupan mereka sebelumnya.
Sedang Heru memanfaatkan kesempatan langka ini untuk memupuk silaturahmi, sambil menghilangkan sakit hati yang baru saja mereka alami.
Ada sebuah trauma dalam diri Haris, yang harus segera dia lupakan. Tak ada maksud jahat dari Heru, tapi mungkin keputusannya itu tak tepat.
Sebab, pada akhirnya pasti ada hati yang tersakiti. Entah itu Nia, atau justru Haris sendiri.

Lailaisti
15 Pengikut · 1 Novel