


oleh Vya Kim · 33 Bab
Hana memergoki Juna, suaminya, berselingkuh di kantornya dengan Dara. Saat mencoba melarikan diri dari luka hatinya, Hana tak sengaja bertemu Rey, seorang artis terkenal sekaligus CEO Astroha Entertainment. Di tengah kehancuran rumah tangganya, Rey muncul sebagai sosok yang menarik sekaligus misterius. Akankah Hana menemukan kembali kepercayaan pada cinta? Atau justru terjebak dalam konflik yang lebih rumit?
"Ahh, Juna. Jangan lama-lama, ini di kantor!"
Langkah Hana terhenti di depan pintu ruangan Juna yang sedikit terbuka. Suara itu, lembut dan manja, tapi
asing, membuatnya membeku.
Penasaran bercampur rasa takut menyelubungi tubuhnya. Dengan langkah ragu, ia mendekat, tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu. Lututnya terasa lemah, seperti menyangga beban yang terlalu berat.
Ketika ia mendorong pintu sedikit lebih lebar, dunia seakan runtuh di hadapannya.
Di sana, Juna, suaminya bersandar di meja kerja, merengkuh tubuh seorang wanita dengan cara yang seharusnya menjadi miliknya.
Bibir Juna bergerak rakus, melumat bibir wanita itu dengan gairah yang belum pernah ia berikan pada Hana selama dua tahun pernikahan mereka.
Rahang Hana menegang. Air mata menggenang tanpa permisi, mengaburkan pandangannya. Kotak sushi yang ia bawa terlepas dari tangannya, jatuh ke lantai dengan suara keras, sekeras rasa sakit yang kini menghantam hatinya.
DUG!
Suara itu memecah keheningan. Pasangan yang sedang berbuat hal yang tidak senonoh itu pun tersentak.
Wanita itu buru-buru merapikan kemeja dan roknya yang tersingkap, sementara Juna, dengan ekspresi terkejut, berusaha mengenakan celananya kembali.
"Hana?" Suara Juna terdengar tercekat.
Namun, Hana tidak menjawab. Ia berdiri kaku di sana, air matanya mengalir tanpa henti. Tetapi meski hatinya hancur, ia memaksa dirinya tetap tegak.
Langkahnya masuk ke dalam ruangan terasa berat, tetapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya di depan mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Juna bertanya, nada suaranya kasar, seolah ia yang terganggu.
Hana mengangkat dagunya, meskipun tubuhnya gemetar. "Bukankah itu pertanyaan yang seharusnya aku ajukan padamu?"
Juna mendengkus, matanya menelusuri penampilan Hana dari kepala hingga kaki dengan penghinaan yang nyata. Ia mendekat, meletakkan tangannya di pipi Hana, ekspresinya mengejek.
"Oh, maafkan aku, Sayang. Aku khilaf!" katanya dengan nada mengejek, lalu tertawa, seolah melepas beban yang selama ini ia pendam.
Hana hanya diam, merasakan rahangnya mengeras. Harga dirinya hancur di hadapan pria yang seharusnya melindunginya.
"Dengar, Hana," bisiknya tajam, jaraknya semakin dekat. "Aku sudah muak denganmu. Lihat dirimu ...." Tangannya bergerak lancang, menyentuh dada Hana.
Hana tersentak, mundur selangkah, tubuhnya gemetar antara marah dan jijik.
"Kau bahkan tidak membuatku berselera. Pekerjaanmu? Menulis dongeng konyol tentang kebahagiaan? Sungguh, itu menjijikkan."
Sementara itu, wanita itu, Dara, berjalan mendekat, menyelipkan lengannya di sisi Juna, senyum penuh kemenangan menghiasi wajahnya.
Di mata Hana, liontin yang tergantung di leher Dara mencuri perhatiannya. Liontin itu sama persis dengan yang tergantung di lehernya sendiri. Liontin pemberian Juna.
"Jadi, selama ini aku bukan satu-satunya?" gumam Hana, lebih kepada dirinya sendiri.
Jemarinya menggenggam liontin di dadanya.
"Dengar baik-baik, Hana," kata Juna, mendekat lagi. Ia meraih liontin di leher Hana, menggoresnya dengan kuku.
"Tahukah kau? Ini palsu. Yang asli hanya untuk Dara. Kau bukan apa-apa."
Hana menggeleng pelan, dadanya terasa sesak. Rasanya seperti ditikam berkali-kali.
"Pulanglah," lanjut Juna. "Jadilah istri seperti biasa. Membosankan, menyedihkan, dan terus menulis cerita bodohmu itu."
Hana mengepalkan tangannya. Hatinya berteriak keras bahwa ia tidak bisa lagi.
Ia mendongak, menatap Juna dengan mata yang berbeda. Mata yang kini memancarkan ketegasan.
"Aku tidak hanya akan keluar dari kantormu, Juna." Suaranya bergetar, penuh keberanian. "Aku akan keluar dari hidupmu. Aku minta CERAI!"
Kata-kata itu menghantam Juna seperti pukulan. Sejenak, ekspresi terkejut muncul di wajahnya. Namun, ia dengan cepat menyembunyikannya di balik senyum sinis.
"Kau tidak bisa hidup tanpaku, Hana. Kau hanya penulis rendahan. Siapa yang akan mendukungmu? Keluargamu? Mereka bangkrut, ingat?"
Hana menahan tangisnya, tangan yang mengepal semakin erat. "Aku bisa," bisiknya, kemudian suaranya menguat. "Aku bisa bahagia tanpamu!"
Hana keluar dari ruangan Juna dengan langkah limbung, seolah-olah kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya.
Air matanya mengalir deras, membasahi pipi tanpa bisa ia kendalikan. Ia tidak peduli pada tatapan heran para staf di kantor. Biar saja mereka tahu, biar saja dunia tahu hatinya hancur berkeping-keping.
Bisik-bisik terdengar di sekitarnya, samar, seperti dengungan lalat yang tak lagi penting untuk didengar.
“Astaga, itu istri Pak Juna, manajer operasional kita 'kan?” Seorang kru televisi berdesis pada teman sebelahnya.
“Iya, tapi kenapa dia menangis begitu? Apa yang terjadi?” Dia celingukan melirik ke arah ruangan Juna, di mana Hana keluar.
Hana tak mengindahkan suara-suara itu. Ia terus berjalan, seolah-olah ruang kantor yang dingin dan penuh cahaya itu berubah menjadi lorong panjang yang tak berujung.
Setiap langkah terasa berat, seperti ada beban tak terlihat yang menghimpit dadanya.
Di dalam lift, ia mencoba menyeka air matanya dengan punggung tangan. Tapi rasa sakit di hatinya terlalu besar, terlalu pekat untuk dihapus begitu saja.
Pikirannya melayang, memutar ulang momen yang baru saja terjadi. Tatapan puas Dara, senyum sinis Juna, dan kejadian-kejadian pengkhianatan yang dilakukan Juna kepadanya jelas terekam.
Selama ini, Hana berusaha keras untuk percaya bahwa Juna hanyalah pria sibuk, terlalu terfokus pada pekerjaannya.
Ia ingat bagaimana Juna dulu selalu tersenyum ramah, bagaimana ia mendukung Hana untuk mengejar mimpinya sebagai penulis. Ternyata semua itu hanya tipu muslihat, pikir Hana.
Semua kehangatan itu palsu, hanya topeng yang ia pakai untuk menyembunyikan kebohongan. Ketika Juna mengizinkannya untuk pergi ke seminar, sebenarnya itu adalah izin tak langsung untuk berselingkuh.
Air matanya jatuh lagi. Hatinya terasa seperti kaca yang remuk, setiap pecahannya melukai lebih dalam.
Saat pintu lift terbuka, Hana berjalan cepat ke lobi. Tanpa sadar, ia menabrak seseorang yang berdiri di depannya.
BRAK!!
Tubuhnya hampir terjatuh, tetapi lengan kuat pria itu menangkap pinggangnya dengan sigap.

Vya Kim
41 Pengikut · 6 Novel