


oleh Vya Kim · 33 Bab
Hana memergoki Juna, suaminya, berselingkuh di kantornya dengan Dara. Saat mencoba melarikan diri dari luka hatinya, Hana tak sengaja bertemu Rey, seorang artis terkenal sekaligus CEO Astroha Entertainment. Di tengah kehancuran rumah tangganya, Rey muncul sebagai sosok yang menarik sekaligus misterius. Akankah Hana menemukan kembali kepercayaan pada cinta? Atau justru terjebak dalam konflik yang lebih rumit?
Pria itu melangkah dengan tenang, ekspresinya tetap dingin tanpa perubahan. Setiap langkahnya mendekat seperti busur panah yang akan menancap pada mereka, membuat suasana di meja itu perlahan membeku.
Chriss, yang lebih dulu menyadari kedatangan Rey, langsung melemparkan kacang ke arah Hana, meski meleset. "Diam kau!" serunya panik.
Namun, Hana tetap saja tidak sadar.
"Ahahah! Kau tidak tahu? Siapa lagi? Rey manusia kulkas itu! Perintah ini, itu! Bicaranya lembut, tapi buat kita nggak bisa nolak! Apa dia selalu merasa benar?"
Rocky yang semula bersemangat ikut bersulang kini malah menepuk jidatnya sendiri.
Steve menghela napas panjang, pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sementara itu, Dina yang duduk di samping Hana hanya bisa memasang senyum kaku.
Ia segera mencubit paha Hana di bawah meja, berharap temannya itu segera sadar.
Tapi Hana tetap tidak menangkap tanda-tanda peringatan mereka.
"Bener 'kan kataku? Aku heran kenapa banyak yang ngefans sama dia. Buat apa tampan tapi muram terus?"
"Ekhem!"
Suara dehaman berat itu terdengar tepat di belakangnya.
Bersamaan dengan itu, semua rekan di meja refleks tersentak, bahu mereka menegang. Chriss langsung duduk tegak, Rocky menahan napas, Steve menoleh ke samping pura-pura tidak terlibat, dan Dina hanya bisa menggigit bibirnya sendiri.
Mereka semua tahu.
Hana telah masuk ke dalam perangkapnya sendiri.
Hana menoleh ke belakang dengan wajah masih teler. Matanya setengah terbuka, dan bibirnya sedikit mengerucut, seolah otaknya masih berusaha mencerna apa yang baru saja dilihatnya.
Sekian detik kemudian, kesadarannya tertampar.
"T-Tu ... Tuan Rey?"
Rey menatapnya dengan dingin, ekspresinya datar tapi aura mengintimidasinya begitu pekat.
"Jadi toiletmu sampai sini, ya?" tanyanya, suara baritonnya terdengar sarat sindiran.
Hana sempat membeku di tempat, tapi kemudian, bukannya sadar dan meminta maaf, dia malah tertawa. Tawanya terdengar entah gugup atau memang kepalang mabuk.
"Lihatlah, teman-teman! Bahkan aku sampai berhalusinasi lihat CEO kita di sini!"
Dina menundukkan kepala, wajahnya sudah pasrah dengan kebodohan Hana. "Itu bukan halusinasi, Hana!" desisnya gemas.
Rey menghela napas kasar. Tangannya masih berada di dalam saku celananya, tapi sorot matanya seperti singa yang siap menerkam.
"Wah, kacau! Aku pulang saja! Maaf, Tuan, kami tidak membicarakanmu. I-itu keluar sendiri dari mulutnya!" Chriss buru-buru mengangkat tangan, menunjuk langsung ke wajah Hana seolah ingin cuci tangan dari masalah ini.
Hana membelalak sekali lagi, akhirnya menyadari bahwa sosok di belakangnya memang nyata, bukan sekadar ilusi mabuknya. Dia menoleh kembali ke belakang dengan cepat, dan ya, dia memang Rey.
Sekejap, wajah Hana menegang.
Tapi dasar sudah mabuk, bukannya merasa gentar atau merasa bersalah dia malah cengengesan di hadapan Rey.
"Oh iya, maaf, Tuan. Aku hanya berkata jujur. Mmm, oh iya! Aku ke sini untuk mengambil tas!" ucapnya polos, lalu segera berdiri meskipun oleng.
Dengan setengah tersandung, dia meraih tasnya dan melambai-lambaikan tangan. "Dah, teman-teman! Aku pulang ya!"
Tanpa menunggu jawaban, Hana berjalan sempoyongan ke pintu bar, sesekali hampir menabrak meja lain.
Rocky menatap punggung Hana yang semakin menjauh dan bergidik. "Tamatlah riwayat Hana!" bisiknya horor.
Dina menoleh ke Rey yang masih berdiri di tempat, ekspresinya sama sekali tak bisa ditebak. "Maaf, Tuan, itu di luar kendali kami. Biar saya temani Hana—"
"Tidak usah!" Rey memotong cepat, suaranya penuh ketegasan. "Nikmati saja waktu kalian. Biarkan teman kalian itu ... akan kuberi pelajaran."
Tanpa menunggu reaksi mereka, Rey berbalik dan melangkah keluar, menyusul Hana yang sudah lebih dulu pergi.
Rocky dan kawan-kawan melihat kepergian Rey seolah nyawa mereka juga ikut terbang meninggalkan raga.
"Kalau aku jadi Hana, besok aku langsung resign, nggak pakai mikir!" ujar Dina dengan ekspresi syok.
"Nyalinya besar dia." Steve menatap kosong, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Taruhan, besok dia masih ada di kantor atau nggak?" sahut Chriss dengan antusias.
"Kayaknya dia tetap masuk, tapi Tuan Rey bakal ngasih kerjaan banyak ke dia." Rocky ikut menimpali, mencoba menebak kemungkinan terburuk.
Namun, yang lain lebih pesimis. Mereka yakin Hana tidak akan ada di kantor besok. Entah diskors, dipecat, atau bahkan langsung dimutasi ke cabang lain yang jauh.
Sementara itu, di luar bar, Hana malah berjongkok di trotoar. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya. Perutnya terasa bergejolak, dan akhirnya, ia tak bisa menahannya lagi, mualnya memuncak, membuatnya mengeluarkan isi perut di drainase pinggir trotoar.
"Ahh! Perutku nggak enak,” keluhnya, wajahnya terlihat semakin kusut.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan tisu basah. Ia mengusap wajahnya asal-asalan, tapi tetap saja, sisa mabuk dan kelelahan masih terpancar dari raut wajahnya.
Tiba-tiba, sebuah tangan kuat menarik lengannya.
Hana terlonjak kaget, namun kepalanya masih terlalu pusing untuk merespons dengan benar. Dalam sekejap, ia sudah dituntun menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
"T-Tuan Rey, tunggu, aku bisa pulang sendiri!" protesnya dengan suara melantur.
Rey tak menghiraukannya. Ia membuka pintu mobil dengan kasar, hampir membuat Hana tersentak mundur. Tanpa banyak kata, ia mendorong Hana masuk ke dalam mobil.
Pintu mobil ditutup dengan bunyi gedebuk keras.
Rey segera masuk ke kursi kemudi, menyalakan mesin, dan melajukan mobilnya tanpa sepatah kata pun. Rahangnya mengeras, matanya lurus ke depan, sementara ekspresinya jelas menunjukkan bahwa ia sedang menahan emosi.
Awalnya, ia berpikir akan langsung mengantar Hana ke rumah Bu Lauren. Tapi kemudian, ia sadar, membawa Hana dalam keadaan seperti ini bisa menghancurkan reputasinya.
Bayangkan jika ada wartawan atau orang yang mengenalnya melihat Hana turun dari mobilnya dalam keadaan mabuk begini?
Rey mendecak kesal. "Ck, menyusahkan."
Dari samping, Hana mulai tertidur di kursinya. Kepalanya terkulai ke jendela, napasnya berat, dan bibirnya terus bergerak, meracau entah bicara apa.
Rey menatapnya sekilas, sebelum akhirnya mendesah panjang.
Tanpa banyak berpikir lagi, ia mengubah arah kemudinya.
Ia tak punya pilihan lain.
Hana akan ikut dengannya malam ini, ke apartemennya.
Begitu tiba di gedung apartemennya, Rey memarkirkan mobilnya dengan gerakan cepat dan presisi. Ia menghela napas panjang sebelum menoleh ke samping.
Hana masih tertidur, kepalanya terkulai ke jendela, bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur tapi sesekali masih meracau pelan.
Rey mendecak pelan. "Ck, menyusahkan."
Ia membuka pintu, lalu berjalan ke sisi penumpang. Dengan sedikit keraguan, ia membungkuk dan mengangkat Hana ke dalam gendongannya.

Vya Kim
41 Pengikut · 6 Novel