


oleh Mutiawati · 18 Bab
Ginela seorang dokter yang memiliki trauma karena pembunuhan ibunya, sehingga membuatnya takut jatuh cinta dan memiliki kekasih. Bahkan, dia mencoba pindah ke negara lain demi menghindari bahaya. Tetapi, pertemuannya dengan seorang idola serta selebritis besar yang begitu mencintainya, membuat Ginela ragu memilih jatuh cinta pada sang idola atau tenggelam dalam rasa takutnya. Pria itu bersedia menghadapi semua bahaya demi dirinya. Hal yang membuat Ginela kembali takut kehilangan. Lalu apakah sang idola mampu meluluhkan hati Ginela dan membuatnya menjadi berani untuk jatuh cinta dan bertahan hidup? Bukankah tidak ada yang salah dari hidup bersama orang yang kita cintai?
Namaku Ginela. Ketika waktu istirahat jam kerja tiba, aku suka menikmati cappucino di balkon rumah sakit sambil duduk melihat ke bawah gedung rumah sakit. Temanku yang bernama Willy, dia tidak suka. Dia bisa kejang jika melakukan ini, karena memiliki phobia ketinggian.
Berbeda dengan Clara, dia gadis pemberani. Clara sama sekali tidak takut. Meskipun setan setinggi gedung pun, dia siap menghadapinya. Menurut Clara, semua makhluk halus tidak ada yang nyata.
Aku mau cerita sedikit, setiap kali menyelesaikan operasi aku selalu merasa tidak tenang, karena aku ingin kesembuhan untuk pasien. Sehingga aku berusaha sekuat tenaga melakukan tindakan medis dan memantau perkembangannya setelah operasi.
Mungkin banyak yang berpendapat kalau itu sudah menjadi tugas seorang dokter. Tapi, tidak bagiku. Semua itu bukan sebagai tugas saja, karena pasien menggantungkan hidupnya padaku. Dan aku tidak seharusnya membuat mereka kecewa. Benar jika hidup dan mati itu di tangan Tuhan. Tapi, aku sering bertanya, apakah kematian Mama juga karena kehendak Tuhan?
Kematian yang dikarenakan dari bidikan peluru yang entah siapa pelakunya. Mama berdarah begitu banyak. Saat itu, aku masih beranjak dewasa untuk memahami apa yang harus aku lakukan. Hari masih siang dan aku baru saja pulang sekolah. Mendengar suara tembakan, aku berlari dari kamar untuk mencari asal suara. Ketika aku tiba, Mama sudah tidak berdaya. Mama, ditembaki secara tiba-tiba saat dia sedang menyirami bunga mawar di balkon.
Aku hanya melihat dua punggung laki-laki yang tiba-tiba keluar rumah. Aku terkejut, lalu lari berhamburan dan menangisi tubuh Mama yang tergeletak. Aku menghubungi Appa, tetapi lidahku kelu, hingga tidak bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi di rumah. Appa pun langsung kembali dari rumah sakit. Sebagai seorang dokter, dia merasa tidak berdaya karena tidak bisa menyelamatkan istrinya sendiri.
Appa tidak mau menjelaskan banyak hal padaku. Dia langsung meminta aku dan eyang putri untuk kembali ke Indonesia dan kami tinggal di rumah eyang. Eyang banyak diam dan menangis ketika ingat putri satu-satunya yang dia miliki dengan Grandpa. Kakekku adalah laki-laki asal Negara Inggris, beliau sudah meninggal saat usiaku lima tahun.
Setelah kejadian kelam yang menyebabkan luka untukku, kami semua lebih banyak diam ketika berkumpul di rumah. Bahkan Appa memilih menghabiskan waktunya di rumah sakit. Hingga akhirnya Appa diminta oleh salah satu temannya untuk kembali bergabung di rumah sakit Seoul
Sebenarnya aku sudah pernah mengatakan, jika Appa boleh menikah lagi. Namun, dia lebih memilih merawatku, memelukku dan bahkan berkali-kali meminta maaf karena lalai menjaga Mama.
Aku yakin, sebenarnya Appa juga memiliki luka yang sama hanya saja kami nggak banyak bicara karena sekali kami membuka mulut maka kami akan menangis.
"Bu Dokter!" teriak seseorang.
Suara Riri cukup keras, memanggilku. Gadis yang mempunyai tugas bersih-bersih di ruangan dokter ini sedang menaruh alat kebersihannya di dekat balkon. Aku hanya tersenyum melihatnya.
"Perasaan nggak ada yang bagus di lihat dari atas ini, Dok. Seram, Dok," ujar Riri sambil terkekeh. Aku tidak marah dengan apa yang dia katakan . Karena memang, untuk sebagian orang menakutkan jika duduk di sini.
"Aku nggak lihat ke bawah kok, Ri. Cuma lagi ngopi aja dan menghirup udara segar," jawabku ringan.
"Dokter, mau makan apa? Biar saya beliin sekalian. Dokter lain juga udah banyak yang nitip," ujar Riri lagi sambil mengeluarkan kertas kecil catatannya.
"Panjang sekali catatanmu, Ri!"
"Nggak tahu , Dok. Ini list makan siang, masa bisa panjang begini ya?” Riri saja heran dengan jumlah pesanan yang akan dia beli.
“Tapi, Dok, satu orang aja pesan tiga menu makanan. Emang pada nggak pernah makan ye, Dok?" tanyanya dengan logat Betawi yang khas.
"Pinjem kertasnya deh, saya tulis sendiri aja." Aku meraih kertas itu dari tangannya.
Setelah menulis menu makan siang dan salad buah pesananku. Aku mengembalikan list tersebut ke Riri.
"Dok, tadi dicariin sama temen bulenya yang ganteng itu." Riri berkata dengan mata genitnya.
"Siapa, Ri?"
"Ah, udah biasa dia sering ke sini, Dok. Pacarnya, Bu Dokter ye?"
"Bukan. Enak aja!" elakku padanya.
Aku langsung bangkit dan berjalan ke luar balkon. Meninggalkan Riri yang masih terkekeh. Lalu menaiki eskalator untuk menemui Willy. Pria yang dimaksud Riri, adalah Willy. Anak itu emang suka sekali membuat satu rumah sakit gempar.
"Perawat di sini jadi pada nggak becus kalau kamu nyamperin aku, Wil!" omelku padanya.
"Pusing kan kamu punya temen ganteng sepertiku ini? Serba salah kan?" sahut Willy.
"Dih, apaan sih? Ada apa kamu ke sini?"
Willy menyerahkan undangan pamerannya, diadakan besok lusa.
"Kamu harus datang ya, kalau bisa kamu nyanyi deh isi acara bantuin aku, Gi. Clara juga dateng untuk bantuin kok." Willy berkata.
"Ah yang benar aja aku harus nyanyi juga. Mana isinya orang-orang penting semua. Aku cuma sesekali nyanyi di kafe doang kok, Will!" kataku setengah menolak.
"Ya aku sudah pernah dengar kamu nyanyi dan suaramu bagus, Gi. Makanya sekarang aku minta tolong, kamu mau ya nyanyi di acara pameran besok lusa." Willy memohon padaku.
Aku tidak menyangka jika Willy akan memintaku mengisi acara di pamerannya . Aku memang bisa bernyanyi, tapi itu hanya untuk menghibur diri. Menghilangkan penat, karena isi kepalaku hanya pasien kritis. Mana bisa aku menghafal lirik dan latihan dalam waktu dua hari?
"Nggak usah latihan. Kamu napas aja udah merdu, Gi. Lagian kenapa nggak jadi penyanyi aja sih malah jadi dokter?" Komentar tidak berfaedah Willy membuatku ingin sekali ngerujak mulutnya.
"Pokoknya kamu harus datang lebih awal jadi bisa latihan!!!" paksa Willy.
Belum sempat aku menjawab, pria itu sudah berjalan meninggalkanku. Aku menghubungi Clara dan ternyata dia diberi tugas untuk mencari jasa dekorasi ruangan dan menjadi orang yang dimintai pendapat soal fashion oleh Willy.
“Sepertinya Clara lebih sibuk!” gumamku.
Aku sangat bersyukur memiliki dua sahabat yang tidak akan membiarkanku untuk merasakan luka masa lalu, dan belumlah kering. Aku jarang merawatnya. Membiarkan luka itu tanpa pengobatan yang seharusnya. Sehingga, ketika rindu itu datang rasanya benar-benar sangat menyakitkan.
Mama adalah sosok yang paling aku rindukan. Appa juga merupakan sosok ayah yang sangat menyayangi dan perhatian padaku. Aku sangat beruntung dalam hal itu. Tapi, di lain sisi, aku merugi dalam hal waktu.
Aku masih belum bisa melupakan tragedi di mana Mama terbunuh. Hal itu membuatku trauma. Aku juga tidak bisa melampiaskan amarahnya. Hingga akhirnya, Appa memintaku bergabung ilmu bela diri. Meskipun awalnya aku sempat bingung dan menolak untuk apa aku belajar bela diri?
Appa benar. Di perguruan itu aku bertemu banyak teman dan guru yang mengerti serta mengajarkan aku untuk mengontrol kekuatan dan menggunakan ilmu bela diri itu ketika dibutuhkan saja.
“Suatu hari, kamu akan membutuhkan ini. Ini penting sekali untuk anak perempuan jaman sekarang, khususnya untuk melindungi diri sendiri. Jadi, tolong turuti permintaan Appa!”
Itu yang Appa katakan ketika aku mencoba menolak keinginannya.
Willy dan Clara bahkan sempat bingung ketika aku mampu memelintir lengan seorang pria di sebuah restoran. Ia menyentuh bokong Clara ketika mengenakan rok pendek. Pria itu bahkan meminta maaf dan bersujud di kaki Clara atas kesalahannya.
Sejak saat itu Willy dan Clara kagum dengan cara didik Appa. Namun, mereka masih belum mengetahui semuanya. Terutama alasanku masuk kelas bela diri sejak remaja.

Mutiawati
1 Pengikut · 1 Novel