


oleh Jemok · 7 Bab
Supri, pemuda desa yang keras kepala, menggunakan ajian mistis untuk merebut hati Lindri, seorang TKW yang telah sukses. Namun, saat cintanya berhasil, Supri malah menghancurkan hidup Lindri, membuatnya gila dan terlupakan. Ketika Supri kembali ke desa dengan istri baru, karma menghantam balik: Nuraini, sang istri, terkena dampak kutukan yang dulu Supri ciptakan. Di tengah cinta yang terbelah, rasa bersalah, dan takdir yang pahit, Supri harus memilih antara menebus kesalahan atau membiarkan cintanya menghancurkan hidup dua wanita. Lantas siapakah yang bahagia antara dua wanita itu, Lindri atau Nuraini?
Sutiyem, perempuan sepuh itu menoleh dengan lambat ketika didengarnya motor buntut milik putra satu-satunya tiba di pelataran rumahnya, lalu mengarah ke samping, tempatnya beristirahat menunggu matahari benar-benar ditelan senja.
Supri---anak tunggal Sutiyem, seorang janda tua yang hidup pas-pasan. Karena itulah, Supri tumbuh menjadi pemuda yang punya semangat tinggi, terutama kegigihan untuk memperbaiki hidupnya.
Semenjak lulus sekolah menengah atas, Supri yang tidak keluar dari kampung, berkeinginan menikahi perempuan yang jauh lebih mapan, supaya bisa membawa ibunya hidup jauh lebih layak. Tinggal di rumah gedong, punya sawah yang banyak, tanpa perlu susah-susah berusaha. Maka dari itu, yang diincarnya gadis-gadis desa yang merantau ke luar kota, juga ke luar negeri.
Biasanya gadis-gadis yang merantau itu pulangnya membawa uang yang banyak, setelah setiap bulannya mengirimi uang pada keluarga masing-masing, untuk diinvestasikan dibelikan sawah juga membangun rumah.
Itulah sebabnya Supri terus mengincar, tetapi selama ini dia belum benar-benar getol merebut salah satu dari hati gadis-gadis yang pernah jadi incarannya.
Sutiyem tersenyum samar, ketika Supri tergopoh-gopoh berjalan ke arahnya dengan wajah yang berbinar, seolah akan memberikan kabar baik padanya.
Tidak ada sapaan yang keluar dari mulut Supri, membuat Sutiyem menepuk balai-balai tempatnya duduk, memberikan kode pada Supri untuk duduk di sampingnya.
Dalam sejenak, ibu dan anak itu larut dalam keheningan malam. Sebelum akhirnya Supri yang tadi berjibaku dengan perasaannya membuka percakapan.
"Ibu. Kali ini, aku benar-benar semakin mencintai Lindri. Sungguh .... Baru kali ini aku merasakan benar-benar jatuh cinta," kata Supri, tidak lagi berbasa-basi.
Seketika itu juga mata perempuan sepuh itu terbelalak, nama perempuan yang disebutkan tadi bukanlah kali pertama, sebab sebelumnya sudah ada beberapa nama yang diincar oleh Supri, membuat Sutiyem langsung menoleh. Wajah tuanya kali ini terlihat serius, menggambarkan kekhawatiran yang mendalam.
"Astaga!" pekik Sutiyem, tidak menyangka.
"Lindri? Anaknya si Sulaiman yang belum sampai 1 bulan pulang dari Hongkong itu?" tanya Sutiyem demi untuk memastikan.
Memang Lindri selama ini tumbuh menjadi gadis yang cantik di negara orang. Gadis desa itu menjelma menjadi pejuang keluarga, usianya lebih muda 1 tahun dari Supri. Setelah sekian tahun lamanya baru kali ini pulang cuti.
Lindri tinggal di desa sebelah, tapi karena keberhasilannya mengubah kehidupan kedua orang tuanya, membuat geger semua pemuda desa, termasuk tempat di mana Supri tinggal. Bahkan akhir-akhir ini Supri sudah memantaunya dari kejauhan.
Tanpa mempertanyakan keterkejutan ibunya, Supri menjawab pertanyaan tadi dengan enteng."Iya, Bu."
Tidak puas, dengan wajah berbinar-binar Supri menambahi, "Lindri cantik sekali sekarang, Bu. Apa Ibu sudah pernah bertemu dengannya? Dia sudah menjelma seperti gadis Hongkong. Kulitnya putih, pokoknya benar-benar seperti orang sana, Bu."
Sutiyem menggeleng, mengisyaratkan bahasa tubuh kalau dia belum bertemu dengan Lindri.
"Kalau Ibu ketemu, pasti ingin aku menikah dengannya," lanjut Supri.
Sutiyem menggeleng dengan cepat, dia tidak sepakat. Lalu sedikit bergeser, ditatapnya lekat wajah Supri. Ada kekhawatiran di sepasang mata tuanya, tetapi mengerti oleh putranya.
Semakin lama, Sutiyem makin khawatir terhadap konsep hidup anaknya. Terlebih saat dengan antusias Supri bicara sambil memegangi kedua belah tangannya. "Bagaimana kalau besok Ibu ikut aku."
"Ikut ke mana??" tanya Sutiyem.
"Huff .... Ya, ke rumahnya Lindri, Bu," jawab Supri, usai mendengus tadi.
Rupanya Supri ingin mengajak serta ibunya, saat akan mengungkapkan perasaan cintanya. Sutiyem tersenyum tipis mendengar ajakan barusan.
Kemudian, sambil menepuk-nepuk pundak Supri, perempuan sepuh itu berbicara, "Pri, ibu tidak mau."
Supri langsung bergeser, ditatapnya lekat wajah ibunya. "Kenapa Ibu tidak mau??" tanyanya .
"Masalahnya ibu sudah mendengar cerita tentang Lindri. Dia sudah berubah. Temanmu itu sekarang kaya, hidupnya jauh dari kita yang serba kekurangan ini," terang Sutiyem dengan cepat, tidak mau anaknya kecewa.
"Ah! Ibu ini suka mengarang cerita seperti ibu-ibu yang lainnya, tukang gibah," dengus Supri.
"Lindri, sudah bukan sosok yang kamu kenal dulu, Pri," lanjut Sutiyem.
Setelah itu Sutiyem berdiri, tetapi tangannya dicekal kuat-kuat, Supri mencegahnya untuk pergi, membuatnya menoleh.
Dengan suara yang bergetar, Sutiyem berusaha menyadarkan Supri akan kondisi mereka. "Jangan harap kamu bisa dapat restu, Pri! Orang tua gadis-gadis yang lain saja semuanya menolakmu, apalagi orang tuanya Lindri!"
"Tapi Pak Sulaiman berbeda!" sungut Supri.
"Sama saja, dan lebih parah," tekan Sutiyem.
Mendengar itu Supri kesal, dia tak mau melepaskan tangan ibunya yang tidak ingin melanjutkan percakapan.
"Tapi, Bu! Aku yakin Lindri itu masih orang yang sama seperti dulu. Dia tidak sama dengan gadis-gadis yang selama ini aku incar, Lindri itu tidak sombong seperti yang lainnya. Songong! Sekalinya sudah bisa merantau ke kota, tidak suka sama cowok desa," terang Supri.
Dulu sekali Supri memang akrab dengan Lindri. Sebab mereka selalu bersama-sama pergi dan pulang sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari desa masing-masing. Sebelum akhirnya mereka berpisah.
"Lindri itu beda, Bu---" tambah Supri, tapi terpotong.
"Iya, beda. Karena dia paling sukses di antara gadis-gadis desa yang merantau," potong Sutiyem.
Sutiyem tidak habis pikir, Supri masih yakin sosok yang jadi pembicaraan mereka--- sempurna di matanya.
Dengan cepat Supri menimpali, "Ya karena itu dia berbeda, Bu! Itu yang membuat aku ingin mendekati dia. Karena Lindri sudah jadi orang kaya sekarang, Bu!"
Kalimat terakhir membuat Sutiyem menatap anaknya dengan tajam, ekspresi kekhawatirannya jelas semakin dalam, lalu menasehati, "Lindri sudah bukan lagi gadis desa seperti dulu. Orang-orang sudah bilang, dia sudah jadi sombong. Kamu bisa dihina kalau ingin mendekati dia, Pri!"
Setelah itu Sutiyem langsung melepaskan tangannya dengan kasar, dia tak lagi peduli ketika Supri mengekor dan memintanya untuk meralat penilaian tentang Lindri.
"Ibu bicara apa adanya. Kamu jangan memaksa ibu untuk menilai Lindri itu gadis baik," tegas Sutiyem, sambil membawa langkahnya menghindar.
Sutiyem dengan lekas masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu dan memilih menguncinya.
"Bu!" panggil Supri sambil menepuk daun pintu hingga dua kali.
"Ibu tidak mau lagi membahas tentang Lindri!" tegas Sutiyem sambil menatap ke arah daun pintu.
"Aku tidak mengerti dengan pola pikirnya Ibu. Anaknya ingin merubah nasib dan memperbaiki keturunan kok malah tidak didukung sama sekali," gerutu Supri.
Berkaca-kaca mata Sutiyem menatap daun pintu yang dipaksakan untuk dibuka, apalagi kembali suara anaknya menggema di luar sana. "Buka pintunya Bu. Aku akan menceritakan tentang kebaikan Lindri padamu."
"Tidak perlu! Dan kamu jangan memaksa ibu, Pri! Menyingkir dari depan pintu!" usir Sutiyem, sudah dengan suara bergetar menahan tangis.
Beberapa saat tak ada lagi terdengar suara Supri, membuat Sutiyem mundur, lalu terduduk di tepi ranjang. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya sangat sedih, merasa tak sanggup mencegah keinginan konyol anaknya.

Jemok
0 Pengikut · 1 Novel