Liana menarik napas panjang di depan pintu ruang dosen. Suara degup jantungnya seakan ikut berlomba dengan detik jam dinding. Ia menggenggam map proposal tugas akhir seerat mungkin.
"Kenapa harus gugup? Ini cuma bimbingan biasa, Li," batinnya, meski jemari tetap berkeringat.
“Masuk saja, pintunya nggak dikunci.” Suara berat itu terdengar dari dalam.
Liana mendorong pintu. Ruangan itu terasa lebih luas daripada yang dibayangkan, wangi kopi dan buku memenuhi udara. Di balik meja kayu rapi, Juanda duduk dengan jas abu-abu, dasi yang tampak santai, dan tatapan mata yang tajam, tapi hangat.
“Selamat siang, Pak Juanda.”
“Selamat siang, Liana. Duduklah,” jawabnya sambil merapikan beberapa berkas. Ia menatap Liana lama, seolah mengukur setiap gerakannya. “Ini proposalmu?”
“I-iya, Pak.” Liana meletakkan map di meja. “Saya sudah revisi sesuai arahan Bapak minggu lalu.”
Juanda membuka map itu, membalik beberapa lembar, lalu mendengkus ringan. “Kamu kerja keras. Aku bisa lihat dari detailnya, tapi ….” Ia berhenti, bibirnya sedikit melengkung. “Kamu yakin dengan topik ini?”
“Yakin, Pak. Saya merasa topik ini bisa membawa manfaat,” jawab Liana, mencoba terdengar tegas.
Juanda bersandar ke kursi, menyilangkan tangan. “Menarik. Kamu berbeda dari kebanyakan mahasiswa lain. Mereka kebanyakan hanya ingin cepat lulus. Kamu tampaknya punya alasan pribadi.”
Liana menelan ludah. “Mungkin, Pak. Saya ingin riset ini jadi sesuatu yang berarti.”
Juanda tersenyum tipis. “Baiklah. Aku akan bantu, tapi ada satu syarat.”
Liana mengerutkan kening. “Syarat?”
“Fokus. Aku tidak suka mahasiswaku teralihkan oleh hal lain. Kalau aku bilang lakukan A, jangan B. Mengerti?”
Tatapan mata Juanda menusuk, membuat Liana nyaris mengalihkan pandangan.
“Iya, Pak. Saya akan fokus,” jawabnya cepat.
Juanda mendadak berdiri. Liana terkejut ketika ia berjalan mengitari meja dan berhenti di sampingnya. Wangi parfumnya menyeruak, hangat, tapi menekan.
“Liana.” Suaranya merendah, hampir seperti bisikan. “Kamu punya potensi. Jangan sia-siakan. Aku ingin kamu sukses, tapi ingat setiap pilihan ada konsekuensinya.”
Liana mengangguk gugup. “Saya mengerti, Pak.”
Tiba-tiba pintu diketuk. Rheyna, sahabat dekat Liana, menyembul dari balik pintu. “Eh, maaf ganggu. Li, kamu sudah selesai? Kita ada kelas, lho.”
“Oh, iya, sebentar,” sahut Liana, bangkit dari kursinya. Ia menoleh ke Juanda. “Terima kasih banyak, Pak. Saya pamit.”
Juanda hanya tersenyum samar. “Jaga fokusmu, Liana.”
Keluar dari ruangan, Liana menarik napas lega. Rheyna menatapnya penasaran. “Kok kamu pucat begitu? Dosen itu galak, ya?”
“Enggak, cuma entahlah. Rasanya aneh.” Liana menggigit bibir. Aneh, tapi menarik.
Malamnya, di apartemen sederhana, Liana masih memikirkan pertemuan tadi. Ia mencoba membaca ulang proposalnya, tapi wajah Juanda terus muncul di kepalanya.
“Kenapa sih aku kepikiran terus?” gumamnya, menutup buku. Ia meraih ponsel, jempolnya berhenti di pesan baru.
Juanda: “Jangan lupa revisi bagian metodologi. Aku tunggu minggu depan. Fokus, Liana.”
Liana memelototi layar. Dia bahkan ingat namaku dan perasaan asing merayapi dadanya, antara takut dan penasaran.
Sementara itu, di sebuah gedung tinggi di pusat kota, Juanda berdiri di depan jendela besar. Di tangannya, ponsel yang sama menampilkan percakapan singkat tadi.
“Dia berbeda,” gumamnya pelan.
Leon, pria berjas hitam, melangkah mendekat. “Tuan, rapat dengan dewan sudah siap. Apakah kita lanjutkan?”
Juanda memasukkan ponsel ke sakunya. “Ya, tapi ingat, jangan ada yang mendekati Liana. Dia bagian dari rencanaku.”
Leon mengangguk, meski keraguan terpancar dari matanya. “Baik, Tuan.”
Juanda tersenyum samar, matanya berkilat dingin. “Permainan baru saja dimulai.”
***
Liana masih menggenggam ponselnya. Pesan singkat dari Juanda terulang-ulang di layar, membuatnya merasa aneh. Ada sesuatu dalam caranya menulis dan tegas, tapi seolah mengikat.
“Fokus, Liana.” Ia bergumam, menaruh ponsel di meja belajar. Kenapa rasanya seperti perintah, bukan sekadar saran?
Pikirannya melayang ke ekspresi pria itu tadi, tatapan mata yang dingin, tapi memikat. Ada yang tersembunyi di balik senyum profesionalnya. Liana menggeleng, mencoba mengusir bayangan itu.
Di sisi lain kota, Juanda menuruni lift menuju ruang bawah tanah gedungnya. Leon dan Ananta sudah menunggu. Di balik pintu baja, sebuah meja panjang dipenuhi berkas, layar monitor, dan foto-foto.
“Target utama di Singapura sudah ditangani, Tuan,” lapor Ananta, menyodorkan tablet.
Juanda mengangguk tipis. “Bagus. Pastikan semua jejak dihapus.”
Leon ragu-ragu sebelum bertanya, “Tentang mahasiswi itu. Liana. Apa dia benar-benar penting untuk kita?”
Juanda berhenti membaca berkas. Matanya melirik Leon, sorotnya tajam. “Dia bukan untuk ‘kita’. Dia untukku. Jangan ada yang menyentuhnya tanpa izinku.”
Leon menunduk. “Baik, Tuan.”
Juanda bersandar di kursi, jemarinya mengetuk-ngetuk meja. “Liana tidak tahu apa-apa, dan biarlah tetap begitu untuk sementara.”
Keesokan harinya di kampus, Liana berjalan bersama Rheyna ke kantin. Sahabatnya itu terus mengoceh tentang dosen tampan idola mahasiswa.
“Eh, kamu sadar nggak kalau Pak Juanda itu kayak misterius banget?” tanya Rheyna sambil menggigit roti. “Semua cewek nge-fans, tapi kamu kok malah pucat kalau ketemu dia?”
Liana tersenyum kaku. “Nggak tahu. Mungkin aku aja yang terlalu tegang.”
“Cuma tegang? Atau ada yang lain?” goda Rheyna.
Liana menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. Apa iya aku terlalu memikirkan dia?
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah pesan baru masuk.
Juanda: “Ruang dosen. Sekarang.”
Liana membeku. “Aku harus pergi,” katanya buru-buru, meraih tasnya.
“Lagi? Baru kemarin kamu ke sana,” protes Rheyna. “Jangan-jangan dia–”
“Aku cerita nanti!” potong Liana sambil berlari kecil meninggalkan kantin.
Di ruang dosen, Juanda berdiri di depan papan tulis, menulis sesuatu dengan kapur putih. Begitu Liana masuk, ia menoleh dan tersenyum kecil.
“Kamu cepat,” katanya, suaranya tenang, tapi entah kenapa membuat jantung Liana berdetak lebih kencang.
“Ada yang perlu dibahas, Pak?” tanya Liana pelan.
Juanda berjalan mendekat. “Aku ingin memastikan kamu paham betapa seriusnya risetmu. Kalau kamu ikut bimbinganku, kamu harus siap mengikuti aturan mainku. Tidak ada setengah-setengah.”
Liana mengangguk, walau keningnya berkerut. “Saya akan berusaha, Pak.”
“Bukan berusaha, Liana. Fokus!” Juanda menatapnya lekat-lekat, lalu mengangkat map revisi yang sudah ia baca.
“Aku lihat sesuatu di sini, keberanian. Itu yang aku cari.”
Liana menelan ludah. Kenapa kata-katanya terdengar seperti lebih dari sekadar bimbingan akademik?
Juanda menyelipkan map ke tangannya. “Mulai hari ini, aku ingin kamu datang ke ruanganku dua kali seminggu. Tidak boleh ada yang tahu. Mengerti?”
Liana ragu. “Dua kali seminggu? Kenapa harus rahasia, Pak?”
Juanda mendekat, suaranya merendah. “Beberapa hal lebih mudah dijelaskan kalau tidak terlalu banyak mata yang melihat.”
Liana merasakan bulu kuduknya meremang. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi bibirnya tak sanggup. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengangguk.
Juanda tersenyum samar, lalu melangkah ke mejanya. “Bagus. Kita mulai langkah pertama, Liana.”
Di luar ruangan, Rheyna yang kebetulan lewat melihat Liana keluar dengan wajah bingung. Ia memicingkan mata. “Ada apa sih sebenarnya antara kalian?”
Liana hanya menggeleng cepat. “Nggak ada. Aku harus pulang dulu,” jawabnya, berjalan cepat menjauh.
Malam itu, Liana duduk termenung di tempat tidurnya. Pesan terakhir dari Juanda tertera jelas.
Juanda: “Besok, pukul 7 malam. Jangan terlambat. Ingat, ini hanya antara kita.”
Liana menggenggam ponselnya erat-erat. "Apa yang sebenarnya aku masuki? Kenapa aku tidak bisa menolak?"