


oleh Lifha az zhafa · 25 Bab
Mawar mempunyai keluarga yang sempurna. Namun, ia harus menerima kenyataan pahit ketika penyakit yang ia derita ternyata menggerogoti tubuhnya. Sehingga ia kembali bertemu dengan teman lama sekaligus mantan tetangganya dulu di kampung yang bernama Fatma. Mawar tidak menyangka ternyata diam-diam suaminya, Adi menjalin hubungan dengan Fatma. Apa yang terjadi selanjutnya? Jangan lupa ikutin kisah selanjutnya ya .... Ini kisah antara kedua orang tua Faby. Enjoy Gues.
Mentari pagi menyinari bumi dengan terik, udara segar menemani aktivitas Mawar untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya. Ditemani Bi Muna, wanita cantik berumur tiga puluh tahun itu memasak makanan kesukaan sang suami dan putri kecilnya, Faby Kintara Nugroho.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Adi, suami Mawar yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam.
“Pagi juga, Mas. Mau kopi?”
“Boleh. Kopi dengan penuh cinta ya, Sayang.”
“Siap suamiku.”
Mawar langsung membuatkan kopi kesukaan suaminya. Bi Muna mulai menata makanan di meja dengan apik, nasi goreng dengan telur ceplok, sosis dan nugget ayam kesukaan keluarga itu.
“Terima kasih, Sayang.”
Mawar mengangguk dan duduk di sebelah suaminya.
“Faby masih belum turun?” tanya Adi setelah menyeruput kopinya.
“Sebentar lagi, Pa. Namanya anak gadis pasti banyak perintilannya,” balas Mawar.
Adi mengangguk mengiyakan dan tak lama seorang gadis kecil berumur delapan tahun turun dari tangga dengan cerianya. Disapanya kedua orang tuanya dengan ceria sambil mencium pipi kanan kiri mereka.
“Cie, yang sedang menunggu Faby ya, memang sih Faby ini ngangenin sampai Papa dan Mama tidak sabar menunggu kehadiran anaknya yang paling cantik,” oceh Faby setelah duduk di kursi depan papa mamanya.
“Ada yang ngomong, Ma? Tapi siapa?” sahut Adi bercanda.
Faby berdecak kesal. “Nyebelin banget, Papa!” Faby ngambek.
“Adudu, anak cantik papa ngambek, Nih.” Adi mencubit pipi chubby Faby.
“Mama!” rengek Faby menatap mamanya dengan memohon agar papanya tidak semakin menggodanya.
“Kalian ini kalau tidak saling menggoda pasti ada yang kurang,” ujar Mawar.
Adi terkekeh. “Anak kita sih, Ma, bikin papa gemes saja.”
Mawar geleng-geleng, lalu ia mengambilkan makanan untuk suami dan anaknya. Ketiganya pun makan dengan canda tawa seperti keluarga harmonis lainnya.
***
“Bi, aku keluar dulu ya,” pamit Mawar setelah kepergian anak dan suaminya.
“Baik, Neng.”
Mawar mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia membawa mobilnya menuju rumah sakit tempat ia bertemu dengan seseorang.
“Halo, Mawar!” sapa seorang perempuan memakai jas putih dengan wajah cemas.
“Hay, Rim. Kamu sudah datang,” balas Mawar. Keduanya cipika cipiki setelah itu duduk berhadapan.
“Bagaimana?” tanya Mawar menatap Dokter itu dengan seksama.
Rima, Dokter sekaligus sahabatnya hanya menghela napasnya dengan pelan.
“Semenjak kapan kamu merasakan ini, Mawar?” tanya Rima dengan tatapan menyelidik.
“Satu tahun terakhir, aku kira hanya sakit biasa makanya aku tenang saja,” jawab Mawar enteng.
“Astaga, Mawar. Harusnya ketika kamu mulai merasakan gejalanya langsung periksa ke aku bukan malah mendiamkan seperti ini, kamu tahu karena itu penyakitmu semakin parah,” gerutu Rima.
“Tapi aku baik-baik saja kok, Rim. Kamu jangan bersikap seperti itu deh.”
“Aku gak tahu pikiran kamu saat ini di mana, Mawar. Pokoknya kamu harus berobat mulai hari ini, aku yang akan mendampingi kamu.”
Mawar hanya mendengus sambil menggeleng menolaknya. “Aku baik-baik saja, Rima. Selagi penyakit ini tidak menggerogoti aku. Aku baik-baik saja kok.”
“Tidak. Tidak bisa! Kamu harus berobat. Kalau tidak aku akan kasih tahu suami dan mama kamu!” ancam Rima mendelik.
“Ya Tuhan, Rima … jangan ngomong sama Mama apalagi ke Mas Adi, aku tidak mau mereka khawatir. Iya deh iya, aku mau tapi tolong sembunyikan ini semua dari siapapun ya termasuk sahabat kita.”
Rima mengangguk. Dia tak ada pilihan lain selain tidak memberitahukan siapapun dengan penyakitnya Mawar.
“Kalau begitu aku balik dulu, ya,” pamit Mawar.
“Jangan terlalu capek, jaga kesehatan dan obat jangan sampai telat loh.”
“Iya Bu Dokter, bawel banget sih!”
Mawar keluar dari ruangan Rima sementara Rima, dokter cantik itu hanya menatap kepergian sang sahabat dengan tatapan sendu.
***
Mawar mengendarai mobilnya keluar dari rumah sakit. Sejujurnya berat ketika mendengar kenyataan jika saat ini sedang sakit. Penyakit itu lama kelamaan semakin menggerogoti tubuhnya tapi ia dengan epik menyembunyikannya dan berusaha baik-baik saja di sekitarnya.
“Ya Allah, semoga engkau menyembuhkan penyakitku, aku tidak mau kehilangan keluargaku,” rintihnya saat rasa sakit itu mulai menyergap tubuhnya.
Mawar menarik napasnya dengan pelan. Ia memang memberhentikan mobilnya sejenak dikala penyakit itu menyerang.
Tok! Tok! Tok!
Di saat rasa sakit itu mulai memudar, diketuk pintu mobilnya dengan pelan. Mawar menoleh dan menurunkan kaca jendelanya.
“Mbak, tolong beri kami tumpangan untuk menghindari seseorang,” pinta seorang wanita dengan memakai pakaian lusuh.
Mawar menatap wanita itu dengan miris, ia mengangguk dan mempersilahkan wanita dan seorang anak kecil seumuran anaknya. Setelah mereka duduk, Mawar melajukan mobilnya.
“Kamu Fatma?” tanya Mawar ragu. Dilihatnya wanita itu dari kaca tengah dengan selidik.
“Mbak kok tahu namaku,” balas wanita itu yang bernama Fatma.
“Kamu lupa sama aku, Fatma? Aku Mawar tetangga kamu dulu,” jelas Mawar.
“Mawar?” beo Fatma sambil mengingatnya. Diperhatikan wajah Mawar dengan seksama.
“Mawar anaknya Bu Mila?”
“Iya. Kamu masih ingat?”
“Gimana tidak ingat kalau kamu gadis paling cantik dan kaya di kampung.
“Ah, kamu bisa saja. Kamu juga cantik kok, tapi syukurnya kita bisa bertemu kembali ya setelah sekian tahun tidak berjumpa. Ini anak kamu?”
“Iya. Ini anak aku namanya Zahra.”
Mawar hanya mengangguk. Ditatapnya anak kecil itu dengan sendu karena penampilannya yang kucel dan bajunya pun sudah tampak kusam dan sedikit kotor.
“Hai, Cantik. Nama kamu, Zahra ya? Perkenalkan nama tante Mawar. Kamu sudah makan?”
Zahra kecil itu hanya menggeleng malu-malu.
“Ya udah kita cari makan dulu yuk.”
“Jangan, Mawar!” tolak Fatma.
“Kenapa?” tanya Mawar heran.
“Jangan, kita malah merepotkan. Cukup beri kami tumpangan sebentar saja menjauh dari tempat itu.”
“Tapi Zahra lapar, Bund,” ucap Zahra lirih.
Fatma menunduk sedih melihat anaknya memegang perutnya.
“Kita cari makan dulu, kasihan anak kamu. Jangan tolak pokoknya.” Mawar memutuskan memberhentikan mobilnya di sebuah rumah makan padang.
“Ayo,” ajaknya dengan antusias.
“Terima kasih, Mawar.”

Lifha az zhafa
139 Pengikut · 13 Novel