


oleh Reey19 · 16 Bab
Anindya merasa telah menemukan cinta sejatinya di Rangga. Ia siap mengorbankan segalanya. Meninggalkan keluarganya, kawin lari, dan memutus hubungan dengan orang-orang yang memperingatkannya bahwa Rangga bukan pria yang baik. Rangga adalah segalanya baginya, satu-satunya pria yang ia yakini layak untuk diperjuangkan, Rangga segalanya. Lalu, datanglah hari yang mengejutkan. Tanpa pertanda apa pun, Rangga muncul bersama mantan istrinya dan mengumumkan bahwa mereka akan rujuk. Hancurlah hati Anindya, itu pasti. Di tengah kekecewaannya, ia menemukan fakta mengejutkan. Ternyata seorang pria lain yang memperhatikannya diam-diam. Bos Rangga. Orang yang selama ini mengendalikan suaminya demi uang, kini jatuh cinta dengan Anindya, istri yang dibuang.
Ruangan kerja Laksmi Prameswari terasa seperti pusaran badai yang membekukan jiwa.
Deru AC yang menusuk tulang hanyalah pemanis. Ketegangan yang menggantung di udara adalah penyebab sejati hawa mencekam itu.
Anindya Prameswari, gadis 23 tahun dengan mata membara penuh tekad—yang sayangnya dipenuhi ilusi cinta—berdiri tegak. Dagunya terangkat, menantang ibunya.
Di sisi Laksmi, Teguh, ayah Anindya, memandang putri semata wayangnya. Matanya yang biasanya penuh kehangatan kini direnggut oleh kekecewaan yang meremukkan hati.
"Anindya." Suara Laksmi serak, seolah setiap kata yang ia ucapkan harus merobek dinding kepedihan di dadanya.
"Kenapa kamu begitu keras kepala? Rangga Wicaksana bukan pria untukmu! Ibu tahu, Nak, dia hanya memanfaatkanmu!"
Matanya berkaca, penuh campuran amarah dan ketakutan seorang ibu yang melihat anaknya berlari menuju jurang.
Anindya mengerutkan kening. Rahangnya menegang.
Di balik raut wajah pemberontaknya, ada getar keraguan yang ia coba kubur dalam-dalam.
"Ibu selalu meremehkannya!" bentaknya, suaranya tinggi dan penuh pembelaan.
"Ibu bahkan tidak pernah mencoba mengenalnya! Ibu hanya melihat apa yang Ibu mau lihat!"
Nada suaranya nyaris memohon, seolah ia ingin ibunya memahami api cinta yang membakar jiwanya.
"Mengenalnya?" Laksmi melangkah mendekat. Tangannya gemetar, ingin meraih putrinya, ingin melindunginya dari dunia yang ia tahu begitu kejam.
"Ibu sudah cukup melihat, Anindya! Cara dia memperlakukan orang lain, cara dia menatap kekayaan kita seperti serigala kelaparan! Dia oportunis, Nak!"
Suaranya pecah. Air mata akhirnya menetes, namun Anindya menarik tangannya dengan kasar, seolah sentuhan ibunya adalah pengkhianatan.
"Ibu cemburu!" tuduh Anindya, matanya berkaca-kaca, penuh campuran kemarahan dan luka.
"Cemburu karena Rangga mencintaiku lebih dari siapa pun! Karena dia melihat aku, bukan hanya nama keluarga kita!"
Kata-kata itu keluar seperti jeritan hati. Namun, di dalamnya terselip kerapuhan seorang gadis yang berjuang mempertahankan mimpinya.
Teguh, yang sedari tadi menahan diri dalam diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya rendah, namun berat seperti batu yang jatuh di danau tenang.
"Anindya, jangan berbicara kurang ajar seperti itu pada ibumu."
Matanya memandang putrinya dengan campuran cinta dan kepedihan.
" Kami hanya ingin melindungimu. Kami tahu dunia ini tidak seindah yang kamu pikir."
Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti beban. Ia seperti sedang memohon agar putrinya mendengar, meski ia tahu harapan itu semakin pudar.
"Melindungi?" Anindya menoleh. Matanya menyala-nyala, penuh api pemberontakan.
"Atau mengurungku? Ini hidupku, Ayah! Bukan kalian yang akan menjalaninya! Aku yang memilih Rangga, aku yang tahu apa yang terbaik untukku!"
Suaranya bergetar, bukan hanya karena amarah, tetapi juga karena ketakutan kecil yang mulai merayap di hatinya—ketakutan bahwa mungkin, hanya mungkin, ia salah.
Laksmi menutup mata sejenak. Tangannya mencengkeram meja untuk menopang tubuhnya yang gemetar.
"Anindya, dengar Ibu," pintanya, suaranya nyaris seperti bisikan yang penuh keputusasaan.
"Cinta itu bukan segalanya. Ibu pernah muda. Ibu tahu bagaimana cinta bisa membutakan."
"TIDAK!" Anindya memotong, suaranya menggema, memenuhi ruangan dengan gema kemarahannya.
"Rangga mencintaiku apa adanya! Dia tidak peduli dengan uang atau status kalian!"
Kata-kata itu ia ucapkan seperti mantra. Seolah dengan mengulanginya cukup kali, ia bisa menghapus keraguan yang menggerogoti hatinya.
Laksmi tertawa getir. Suara itu penuh kepedihan dan kelelahan.
"Sayangku, kamu terlalu polos. Rangga itu … serigala berbulu domba. Dia akan menghancurkanmu, dan Ibu tidak akan bisa menahan air mata saat itu terjadi."
Air mata mengalir di pipinya, namun ia tidak berusaha menyekanya. Seolah ingin Anindya melihat betapa dalam luka yang ia rasakan.
"IBU KETERLALUAN!" Anindya berbalik. Langkahnya cepat menuju pintu, setiap langkahnya seolah menancapkan paku di hati Laksmi.
"Aku akan menikah dengan Rangga, dengan atau tanpa restu kalian!"
Teriakannya penuh tekad. Namun, di dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik, memohon agar ia berhenti.
"Anindya!" Teguh melangkah maju, tangannya terulur, tapi terlambat.
Pintu ruangan dibanting keras. Getarannya seolah mengguncang seluruh ruangan, meninggalkan Laksmi dan Teguh dalam keheningan yang menyakitkan.
Laksmi terduduk di kursinya. Air mata mengalir tanpa henti.
"Dia tidak mengerti," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar, penuh keputusasaan.
"Dia tidak tahu apa yang menantinya."
Teguh meletakkan tangan di bahu istrinya, namun ia sendiri gemetar.
"Kita sudah mencoba, Laksmi," katanya, suaranya penuh penyesalan.
"Tapi dia harus belajar sendiri … meski itu menghancurkan hatinya."
Kilas Balik
Beberapa bulan sebelumnya, Anindya adalah gadis muda yang masih mempercayai dongeng.
Baru lulus kuliah, dunia baginya adalah kanvas penuh warna, dan cinta adalah lukisan terindah di dalamnya.
Hingga Rangga Wicaksana muncul, pria dengan senyum memikat dan kata-kata manis yang bagai madu, mencuri hatinya dalam sekejap.
"Kamu berbeda, Anindya." Bisik Rangga suatu malam di sebuah restoran mewah yang jelas bukan kelasnya.
Cahaya lilin memantul di matanya, membuatnya tampak tulus, seolah dunia hanya berputar untuk mereka berdua.
"Kamu cerdas, anggun, dan … tidak seperti wanita lain yang hanya mengejar harta."
Suaranya lembut, tetapi di balik itu ada perhitungan yang Anindya terlalu naif untuk lihat.
Anindya tersipu. Jantungnya berdegup kencang.
Rangga tahu cara menyentuh hatinya, memuji intelektualitasnya—sesuatu yang jarang ia temukan di lingkaran teman-temannya yang sibuk dengan gosip dan tren.
"Aku tidak peduli dengan kekayaan orang tuamu." Lanjut Rangga, tangannya menggenggam jemari Anindya dengan lembut, namun penuh intensitas.
"Aku mencintaimu apa adanya."
Anindya mempercayainya. Ia terbuai oleh rayuan yang dipoles sempurna, tak melihat bahwa di balik senyum Rangga ada niat tersembunyi.
Baginya, Anindya bukan sekadar wanita yang dicintai, melainkan kunci menuju kehidupan yang ia idamkan—kemewahan, status, dan kuasa.
Setiap kata manisnya adalah jaring laba-laba, dan Anindya adalah mangsa yang terjerat tanpa sadar.
Kembali ke Masa Kini
Pernikahan itu digelar dalam kesederhanaan yang menyakitkan. Sebuah ironi dari mimpi-mimpi megah Anindya tentang cinta sejati.
Di depan petugas catatan sipil, Anindya dan Rangga mengucapkan janji suci dengan suara yang bergetar. Anindya karena haru yang membuncah, Rangga karena alasan yang hanya dia sendiri tahu.
Hanya segelintir teman Rangga hadir. Wajah-wajah asing itu membuat Anindya merasa terasing di hari yang seharusnya paling bahagia. Tidak ada Laksmi, tidak ada Teguh.
Anindya telah memilih cinta butanya, mengorbankan restu keluarga yang begitu mencintainya.
"Aku mencintaimu, Anindya." Bisik Rangga setelah stempel pernikahan resmi menyatukan mereka.
Tangannya memeluk pinggang Anindya, tetapi entah mengapa sentuhannya terasa dingin, seperti angin malam yang merayap di kulit.
Malam itu, saat Anindya duduk di tepi ranjang sederhana di apartemen kecil yang mereka sewa, ia menatap cincin pernikahan di jarinya.
Cahayanya redup di bawah lampu neon yang berkedip-kedip.
Hatinya dipenuhi campuran kebahagiaan dan keraguan, apakah ia mampu mempertahankan pernikahannya?

Reey19
9 Pengikut · 1 Novel