Lantai 22 gedung perkantoran start-up teknologi miliknya adalah tempat di mana Vellyn merasa paling berkuasa. Di balik meja kerja minimalis itu, ia menatap layar monitor ganda dengan mata tajam yang tampak menjelaskan ketegasannya.
Vellyn tidak membangun 'V-Tech Solutions' dengan keberuntungan. Melainkan ia membangunnya dari nol, dari sisa tabungan hasil kerja sampingan selama kuliah hingga harus hidup dengan mie instan selama dua tahun penuh.
Hari ini adalah hari yang panjang. Vellyn baru saja menyelesaikan pitching produk baru di hadapan investor asing. Ia mengenakan setelan blazer berwarna charcoal yang pas di tubuh, lalu rambutnya disanggul rapi tanpa menyisakan satu helai pun yang berantakan.
Kecantikan Vellyn bukan tipe yang lembut, tapi memiliki garis rahang yang tegas, mata berbentuk almond yang selalu tampak mengintimidasi, dan aura dingin yang membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum membantah perintahnya.
Di kantor, semua orang mengenalnya sebagai direktur yang perfeksionis. 'Keunggulan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku di dunia ini,' begitu prinsip yang selalu ia pegang. Ia bukan sekadar anak haram dari pengusaha properti ternama, ia adalah Vellyn, pemimpin yang disegani banyak orang.
Tidak lama kemudian ponselnya di atas meja tiba-tiba bergetar, seketika memecah keheningan ruangannya yang kedap suara. Nama yang tertera di layar membuat rahangnya mengeras seketika: Papa.
Ia membiarkannya bergetar hingga berhenti. Lalu, itu bergetar lagi. Vellyn menghela napas panjang, akhirnya menutup laptopnya, dan mengangkat telepon itu dengan nada dingin yang tidak disembunyikan.
"Ada apa, Pa? Aku sedang sibuk," ucapnya tanpa basa-basi.
"Pulang ke rumah utama malam ini. Ada sesuatu penting yang perlu dibicarakan." Suara di seberang sana jelas tidak memberi ruang untuk penolakan. Kemudian sambungan diputus begitu saja.
Vellyn mendengkus, langsung melempar ponselnya ke atas meja. Hubungannya dengan keluarga utama bukanlah rahasia umum bagi orang-orang terdekatnya, meskipun ia selalu menutupi status anak haramnya di lingkungan profesional.
Ia adalah aib yang disimpan di ruang tersembunyi, yang kehadirannya hanya diinginkan jika ada kepentingan yang tidak bisa ditangani oleh Aurel, adik tirinya yang manja dan selalu menjadi kesayangan.
***
Rumah utama keluarga Damon terasa menyesakkan bagi Vellyn. Langit-langit yang tinggi dan lampu mewah itu justru membuatnya merasa seperti sedang masuk ke dalam sangkar emas. Ia melangkah dengan sepatu hak tinggi yang berbunyi nyaring di atas lantai marmer, lalu bertemu dengan papa, mama tiri, dan tentu saja, Selena yang sedang duduk manja di sofa.
"Ada apa menyuruhku ke sini?" tanya Vellyn langsung, dengan posisi tetap berdiri tegak di tengah ruangan.
Daniel, papa Vellyn, pria paruh baya dengan kacamata itu reflek menatapnya tajam. "Keluarga Frederick menawarkan perjodohan untuk Selena. Kau tahu betapa pentingnya kerja sama bisnis dengan mereka untuk proyek pelabuhan yang baru."
Vellyn menyilangkan tangan di dada. "Lalu apa urusannya denganku? Itu jelas perjodohan untuk Selena."
"Aku tidak mau!" seru Selena tiba-tiba dengan eskpresinya wajahnya ditekuk sebal. "Aku baru saja mendapatkan tawaran kontrak menjadi model utama di Paris Fashion Week bulan depan. Aku tidak mungkin menikah sekarang dan mengubur karirku untuk pria dingin dan kejam seperti rumor tentang anak sulung Frederick itu!"
Vellyn mencibir sinis. "Jadi karena karirmu, kau mau melimpahkan masalah ini padaku? Jangan bercanda."
"Vellyn!" Daniel membentak keras dengan melotot. "Ini demi masa depan keluarga. Kau harus menggantikan posisi Selena!"
"Tidak. Aku sudah punya perusahaan sendiri. Aku tidak butuh pernikahan hasil barter bisnis untuk hidup," jawab Vellyn tenang, tapi penuh penekanan.
Sherly, mama tiri Vellyn berdiri, dengan sombongnya ia berjalan mendekat dengan tatapan merendahkan.
"Kau siapa, sih, Vellyn? Jangan lupa dari rahim siapa kau lahir?! Kau itu hanya anak haram yang untung saja masih dianggap keluarga. Tanpa bantuan papa, perusahaan kecil sampahmu itu mungkin sudah bangkrut sejak tahun pertama!"
Vellyn merasakan darahnya mendidih. Kalimat itu adalah luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
"Lagi pula, siapa lagi yang mau menikah dengan wanita sepertimu? Dingin, kaku, dan punya status kotor seperti itu. Ini kesempatan emas bagimu untuk mendapatkan pria kaya raya seperti dia. Kau seharusnya berterima kasih pada kami, bukan menolak mentah-mentah dan tidak tahu diri," lanjut Sherly yang diakhiri dengan decihan ketus.
"Nah, itu dengarlah kata Mama," sahut Selena dengan nada mengejek. "Anggap saja ini amal dari keluarga untuk Kakak yang tidak diinginkan. Kau, kan,sudah tidak muda lagi, siapa tahu dia mau menerima 'bekas' yang sudah cukup tua sepertimu?"
Vellyn mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Debat terus berlanjut, tapi setiap kali Vellyn berusaha membela diri, mereka akan kembali menggunakan statusnya sebagai senjata.
Mereka memutarbalikkan fakta, lalu menuduhnya tidak tahu diuntung setelah semua fasilitas yang menurut mereka telah diberikan.
Di saat emosinya memuncak, Vellyn menyadari satu hal, mereka tidak akan pernah membiarkannya lepas jika ia tidak mengalah. Mereka akan terus mengganggu hidupnya, mengancam operasional perusahaannya, dan merendahkannya dengan segala cara.
Vellyn menatap mereka satu per satu. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena kemarahan yang tertahan. Ia tidak ingin meledak di depan mereka.
"Oke." Suara Vellyn bergetar lirih. "Aku akan terima. Aku akan menikah dengan pria itu."
Daniel dan Sherly tersenyum puas. Selena juga tertawa tertahan karena merasa kemenangannya jelas sempurna. Mereka tidak peduli dengan perasaan Vellyn, mereka hanya peduli bahwa beban mereka telah berpindah ke bahu yang lain.
Vellyn berbalik tanpa berkata apa-apa lagi. Ia melangkah keluar dari rumah itu seolah sedang meninggalkan kuburan.
Akhirnya dengan segala emosi yang memuakkan, malam itu, bar kelas atas di pusat kota menjadi pelarian Vellyn. Ia duduk sendirian di sudut yang redup, lalu memesan segelas whisky dengan es yang berdenting halus saat ia mengaduknya. Musik jazz yang diputar bahkan tidak mampu meredam kekacauan di kepalanya.
Ia menatap pantulan dirinya di permukaan gelas. Wanita cantik, anggun, sukses, tapi tetap merasa seperti orang asing di dunianya sendiri.
"Anak haram, ya," bisik Vellyn pada gelasnya sendiri, lalu meneguk cairannya dalam sekali telan.
Sensasi panas membakar tenggorokannya, tapi itu tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. Ia tidak pernah menginginkan pernikahan, apalagi menginginkan cinta yang dipaksakan. Ia hanya ingin diakui sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai alat penukar guling atau pengganti adik tiri yang egois.
Vellyn memesan gelas kedua, lalu ketiga. Ia ingin melupakan tatapan merendahkan Selena dan senyum kemenangan papa mama tirinya.
Saat ia menyesap minuman ke empat, ia bertanya-tanya, di dalam hati, "Seperti apa pria yang akan menjadi suamiku nanti? Apakah dia benar-benar kejam seperti yang dikatakan rumor? Atau, apakah pria itu juga sama terpaksanya dengan diriku?"
Vellyn menatap keluar jendela bar untuk melihat lampu kota yang berpijar terang. Ia masih tidak bisa percaya bahwa dalam waktu beberapa hari ke depan, hidupnya akan berubah total. Namun, untuk malam ini, Vellyn hanya ingin tenggelam dalam kesendirian, serta membiarkan alkohol membantunya mati rasa sejenak dari kenyataan yang kejam.