


oleh Miss Aquarius · 25 Bab
'Pernikahan dan Perjodohan' dua kata yang mampu mengejutkan kehidupan seorang gadis bernama Zila Khumaira Azzahra. Bagaimana tidak? Usianya baru 18 tahun dan masih duduk di kelas XII SMA. Siapa yang menyangka, ternyata calon suaminya adalah seorang guru di SMA Pratama, tempat Khumaira menimba ilmu. Bagaimana kelanjutan kisah rumah tangga antara Khumaira dengan Pak Ilyas?
Seorang gadis tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin, mengulas senyum manis kala melihat wajahnya yang cantik dan tidak bosan dipandang. Ia pun mengedipkan sebelah matanya dan langsung beranjak ke luar kamar menuju ruang makan. Seorang wanita paruh baya sudah menunggunya sedari tadi di sana.
"Non Zila mau sarapan dengan apa? Nasi goreng atau roti?" tanya wanita itu sambil menatap anak sang majikan.
"Khumaira, Bi Marti. Jangan panggil Zila," ucap sebuah suara.
Mendengar ucapan dari seseorang, membuat Khumaira mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Dia tidak suka dipanggil Khumaira, lebih senang dipanggil Zila, karena menurutnya itu terlalu alim bagi gadis yang nakal dan jahil seperti dirinya. Nama lengkapnya memang Zila Khumaira Azzahra, bebas orang memanggil apa pun, tetapi ia tidak suka.
"Ish, Papa mah. Aku nggak suka dipanggil Khumaira oleh siapa pun, kecuali Papa, Mama, dan Abang. Pokoknya aku nggak mau, ya," protes Khumaira.
"Kamu itu, panggilan Khumaira sangat bagus dan cocok untukmu."
"Ish, itu terlalu alim, Pa. Ya, kali dipanggil Khumaira kelakuannya bar-bar," gerutu Khumaira.
"Kalau kamu nggak nurut, papa bakal melakukan sesuatu," ucap papa Khumaira.
"Mamaku yang cantik dan baik, Nyonya Meiza Aisyah Azzahra, tolong beritahu Tuan Bagas Pratama Al-Khwarizmi, bahwa panggilan Khumaira-"
"Bilang saja sendiri, kenapa harus menyuruh mama? Papa deket, kok, di sini," sahut Nyonya Meiza.
Bagas Pratama Al-Khwarizmi, nama dari papa Khumaira. Seorang pengusaha yang masuk jajaran 10 besar pengusaha terkaya di Benua Asia. Urutan 1 - 3, masih dipegang teguh oleh papa Tuan Bagas dan kedua sahabatnya. Ia menikah dengan Nyonya Meiza, dikarunia dua anak. Anak pertama laki-laki, lalu anak kedua perempuan yaitu Khumaira.
"Meiza, cepat duduk dan sarapan."
"Iya, Mas."
Beberapa saat kemudian, sarapan pun selesai. Saat kedua perempuan itu akan beranjak, Tuan Bagas pun melarang.
"Papa mau mengatakan hal penting, tolong duduk!" titah Tuan Bagas.
"Iya, kenapa, Mas?"
"Papa sudah memutuskan, akan menjodohkan Khumaira dengan seseorang yang mampu membimbingnya menjadi gadis yang baik," papar Tuan Bagas.
"Apa?" teriak Khumaira.
"Kembali ke tempat dudukmu, Khumaira," tegas Tuan Bagas.
Khumaira dengan ketus dan tanpa menoleh sedikit pun ke arah Tuan Bagas berkata, "Tidak mau!"
"Papa belum selesai berbicara! Tetap duduk!" seru Tuan Bagas dengan penuh penekanan.
"Kalau aku tidak mau, apa yang bakal Papa lakukan?" tantang Khumaira.
Tuan Bagas mengembuskan napas dengan kasar. Menghadapi sikap keras kepala dari sang putri, memang menguras emosi. Ia akan menjadi serba salah jika sudah seperti itu. Bersikap kasar dengan membentak sang anak, maka gadis itu akan merajuk dan tidak mau berbicara dengannya sama sekali, meskipun mendapat ancaman. Jika terlalu lembut dan selalu mengalah, maka Khumaira akan semakin keras kepala, angkuh, dan selalu ingin menang sendiri.
"Mencabut semua fasilitas yang papa berikan sama kamu," jawab Tuan Bagas.
"Aku tidak takut dan tidak peduli," ucap Khumaira seraya berjalan meninggalkan Tuan Bagas. "Kalau Papa berani melakukan hal itu, lihatlah apa yang akan aku lakukan," lanjutnya dan masuk ke dalam mobil, lalu melajukannya menuju ke sekolah.
***
"Orang tua Kak Zila sekaya apa, sih? Sampai semua orang tunduk sama dia?"
"Itu yang namanya Kak Zila? Anak pemilik sekolah ini, yang katanya sombong terus bar-bar. Eh, bukan-bukan, nakal bin jahil."
"Mau sekolah apa mau jual diri, sih? Kok, dia pakai seragam ketat banget," tutur salah satu siswi.
Khumaira menghentikan langkahnya. "Kamu kalau nggak suka sama seragam saya, ya udah diem. Nggak usah banyak omong," tegur Khumaira.
"Wajar, dong, kalau kita ngomong gitu, hak kita buat berpendapat," sahut gadis itu tanpa rasa takut.
"Oh, Anita. Anak kelas sebelas, ya? Denger ini, ya! Pemerintah, kasih hak asasi pada warga negara Indonesia untuk berpendapat yang baik buat membangun negara, lah pendapat kamu apa kabar? Pendapat unfaedah gitu," balas Khumaira.
"Kita juga baik, kok pendapatnya."
"Apa baiknya?" tanya Khumaira dengan nada meremehkan. "Nggak bisa jawab, kan? Makanya, punya mulut itu dijaga. Kalau nggak mau menjaga, mending jahit mulutnya," sarkas Khumaira, "Oh iya, kamu bilang saya nakal dan jahil, ya? Oke, makasih atas pujiannya. Tenang aja, Say. Nanti tunggu kenalakan dan kejahilan dari aku, ya," lanjutnya.
Khumaira bersekolah di SMA Pratama, sekolah yang terkenal dengan standar Internasional, memiliki fasilitas lengkap dan sistem keamanan yang canggih. Gadis itu melangkah ke arah kelasnya dan langsung duduk di kursi. Tidak lama kemudian, bel masuk berbunyi, seorang guru masuk dan mengajar sampai bel istirahat terdengar. Semua orang di sekolah menunggu momen tersebut, karena perut mereka sudah keroncongan, butuh asupan makanan.
"Jiwa malas aku berontak, nih. Kita ke rooftop sekolah, yuk!" ajak Riana.
"Aku juga sama, Ri. Kita ke rooftop aja, aku mau tidur," ucap Ratu dengan asal.
Khumaira meninggalkan keduanya lebih dulu menuju rooftop sekolah. "Terserah."
"Kita mau sampai kapan, ya, kayak gini terus?" tanya Ratu.
"Aku nggak akan pernah berhenti, sebelum ada yang bisa buat aku berubah. Tapi mana bisa? Emang ada yang mampu?" Khumaira tertawa lepas.
Riana memukul pelan lengan Khumaira. "Jangan sombong kamu, di atas langit masih ada langit. Ingat sama Allah, Dia pemilik segalanya," ujar Riana.
"Kayak orang bener aja kamu, sejak kapan kamu ingat sama Allah? Bukannya cuma pas sakit doang, ya?"
"Walaupun selalu berbuat dosa, aku masih ingat sama Allah. Enak aja."
"Udah, ah. Berisik tahu nggak. Mending tidur."
Mereka bertiga membaringkan tubuh di lantai rooftop yang sudah tersedia karpet berbulu dan bantal guling. Khumaira sengaja menyediakan itu, nanti mereka akan membereskannya kembali karena takut terkena air hujan. Ketiganya tidur lelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing.

Miss Aquarius
30 Pengikut · 10 Novel