


oleh riji · 14 Bab
Dunia ini bukan milik manusia. Ia milik mereka yang menulis dan menghapusnya. Setiap tiga puluh tiga tahun, kenyataan retak—kota lenyap, ingatan sirna, dan sejarah berubah. Dua entitas abadi, Numael dan Siléphine, Sang Penulis dan Penghapus Realitas, mengendalikan dunia layaknya kanvas tak berujung. Diciptakan oleh sekte sesat bernama The Order, mereka pernah dilawan oleh kesatria legendaris Jovan, tetapi sejarah perang itu dikubur. Kini, Ravae dan Ekspedisi 33 bangkit melawan. Mereka tak hanya bertarung demi umat manusia—mereka berjuang untuk merebut kembali hak menulis takdir. Dunia akan diubah …, atau musnah selamanya.
Dahulu kala, seribu tahun sebelum ekspedisi dimulai, dunia pernah nyaris musnah, bukan oleh bencana alam, bukan pula karena murka para dewa, tetapi oleh dua entitas yang tak dapat dikendalikan. Makhluk agung yang mengerikan: Numael, sang Penulis Realitas, dan Siléphine, sang Penghapus Dunia.
Mereka bukan dewa. Mereka adalah mahakarya kegilaan, ciptaan sekelompok fanatik kuno yang menamakan diri mereka sebagai The Order, sebuah sekte sesat yang meyakini bahwa dunia harus dilahirkan kembali dari kekacauan demi mencapai “kesempurnaan” yang absurd.
Ketika dua entitas itu muncul, dunia tenggelam ke dalam kelumpuhan. Kota-kota lenyap seolah tak pernah ada, peradaban berganti dalam semalam, sejarah pun ditulis ulang dengan tinta kebohongan. Setiap tiga puluh tiga tahun, kenyataan sendiri retak, diulang, digores, dan dihapus seolah dunia hanyalah kanvas kosong bagi kegilaan abadi.
Di tengah keputusasaan itu, muncul seorang manusia luar biasa: Jovan, ksatria legendaris yang mampu mengguncang tatanan dunia. Dengan tangan kosong, ia menjatuhkan lima dari tujuh anggota Luminarch, Dewan Bayangan yang selama ini diam-diam melindungi eksistensi dua entitas itu. Sebuah perang kolosal pun pecah, tetapi hasil akhirnya dibungkam. Jejak kemenangan Jovan dihapus, sejarah memalsukan kebenaran, dan dunia hanya mengenal kedamaian palsu.
Jejak kehancuran tak bisa dibungkam selamanya. Dampaknya masih terasa. Budaya punah tanpa alasan, gen manusia berubah perlahan, dan umat manusia mulai kehilangan kendali atas realitas mereka sendiri. Dunia yang kita kenal hari ini hanyalah pantulan kabur dari masa lalu yang disangkal.
Sudah 32 tahun sejak para pemberani memulai ekspedisi demi membebaskan dunia. Tetapi mereka dianggap kriminal. Pemerintah dunia menganggap mereka pelanggar hukum karena bergerak tanpa izin resmi. Banyak dari mereka kini menjadi buronan, tercantum dalam Warrant of Dread, dengan harga kepala yang menggiurkan.
Terlebih lagi, siapa pun yang berusaha menggali kebenaran tentang Numael dan Siléphine akan langsung diburu oleh militer dunia. Pemerintah bersumpah bahwa mereka bekerja demi melindungi umat manusia dari dua entitas itu, tetapi janji itu hanyalah kebohongan lain dalam sejarah yang penuh kebohongan.
Di masa kini, generasi baru tengah bangkit. Di antara mereka, lahirlah Ekspedisi ke-33 yang kelak akan mengguncang takdir dunia. Dunia sudah terlalu sering dibohongi, tetapi kebohongan tidak bisa bertahan selamanya.
Di antara pasukan yang dilatih untuk mematuhi, ada satu rekrutan muda yang memilih untuk bertanya, untuk meragukan, untuk melawan. Itulah Ravae.
Usianya baru dua puluh tahun, tetapi sorot matanya menyimpan amarah yang tak bisa ditempa oleh barisan perintah atau pekikan komandan. Ia bergabung bukan karena panggilan suci untuk melindungi negeri. Ia menyusup untuk mencari, untuk memahami, untuk mengguncang tatanan yang selama ini dianggap mutlak.
Pagi itu, matahari merayap malas di atas Pangkalan Militer Veradum Unit 9. Kabut tipis masih menyelimuti tanah, dan suara sepatu bot menghantam aspal membentuk irama disiplin yang hampa. Ravae berdiri di tengah lapangan barak, helm tergantung di tangan, sementara tatapannya mengarah jauh ke langit yang pucat.
“Reviens ...?” gumamnya lirih. Ada ganjalan dalam suaranya. “Menurutmu, kenapa kita harus menghentikan para tim ekspedisi?”
Reviens, sahabat dan satu regunya, menoleh sambil mengencangkan tali pelindung dada.
“Jangan bertanya begitu, Ravae. Kau harusnya sudah tahu. Mereka melakukan ekspedisi tanpa izin pemerintah, dan itu, yah ... itu tercantum dalam undang-undang. Mereka dianggap kriminal, sesimpel itu.”
“Sesimpel itu?” Ravae mengulang kata-kata itu sambil menatap tajam ke ujung pedangnya yang masih terikat di pinggang. Ia menariknya perlahan, memeriksa bilahnya yang berkilat di bawah sinar matahari pagi. Cermin baja itu memantulkan wajahnya: muda, tegas, dan dipenuhi keraguan.
“Aku tidak menemukan hal yang kuinginkan di sini,” katanya akhirnya. “Keadilan, kebebasan, aku tidak menemukannya. Aku bahkan tak mengerti kenapa kakekku begitu ngotot menyuruhku masuk ke militer.”
Reviens berhenti, berdiri membelakangi matahari.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya. “Ingat perkataan Tuan Viktor: 'Meskipun kau tak menemukan apa pun yang kau cari di militer, jalankan tugasmu dengan prinsipmu. Jika pemerintah menyimpang, maka kita yang harus meluruskannya.' Kita militer, Ravae, tetapi bukan budak.”
Hening sejenak. Angin bertiup pelan, membawa bau baja, debu, dan sejarah yang membusuk.
Reviens menepuk bahu Ravae, lalu melangkah pergi ke lapangan latihan bersama puluhan prajurit lainnya. Ravae menyusul, langkahnya tenang namun hatinya bergolak.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di lapangan utama bersama puluhan prajurit lainnya, berdiri tegap menghadap tiang lambang federasi. Di belakang mereka, reruntuhan batu purba dari zaman Noxea masih berdiri, membisikkan cerita-cerita masa lalu yang dilupakan sejarah resmi.
Latihan pagi dimulai. Suara komandan memekik, pedang ditarik serempak, mantra pertahanan dilafalkan, sihir penguat tubuh mulai menyelimuti sebagian pasukan elit. Tetapi mata Ravae hanya setengah mengikuti. Ia tidak berlatih untuk bertahan.
Ia berlatih untuk menyelami kedalaman sistem ini ..., lalu merobeknya dari dalam. Saat matahari condong ke atas puncak utara, lonceng merah berbunyi tiga kali — tanda misi resmi.
Ravae dan Reviens dipanggil bersama satu regu lain, Regu Serigala Hitam, ke ruang taktik.
Seorang perwira berjubah merah tua, membawa gulungan kulit tebal dan peta sihir, berdiri di tengah ruangan.
“Lokasi ekspedisi ilegal terdeteksi di Lembah Gorthen. Kelompok penggali dari Klan Er'vani, bersama penyintas perjanjian hilang, dilaporkan bergerak. Dilaporkan mereka juga belum memiliki Warrant of Dread. Ini kesempatan kita!” Suaranya lantang.
“tangkap mereka hidup-hidup. Tetapi jika mereka melakukan perlawanan, maka tidak ada ampun.”
Peta sihir diaktifkan. Cahaya biru memancar, memperlihatkan jalur-jalur kuno, reruntuhan kuil yang terkubur, dan simbol larangan yang diukir dari era sebelum penyatuan dunia.
Ravae menyipitkan mata. Di sanalah ia akan pergi, dan mungkin, di sanalah dia akan menemukan celah pertama menuju kebenaran.
Veradum Unit 9 berlari menembus hutan lebat menuju Lembah Gorthen, tanah tak bertuan yang diselimuti kabut sihir tua. Kaki mereka menghentak tanah berbatu, dan baju zirah ringan berdesir pelan mengikuti irama lari mereka. Ravae berada di tengah barisan, napasnya teratur meski medan berat menekan paru-parunya.
Kabut itu tebal, berbisik, dan menggugah ketakutan yang tidak bisa dijelaskan, membuat langkah mereka perlahan melambat.
Beberapa unit sudah menyebar dan turun ke dalam lembah. Tempat itu sunyi. Tidak ada suara burung maupun serangga, hanya suara napas mereka sendiri yang terdengar dan gema langkah yang terserap kabut. Dunia di bawah sana seperti dilipat oleh kekuatan sihir purba, seakan kabut itu sendiri hidup, memperhatikan setiap gerakan mereka.
Ravae melompat turun dari batu besar. Lututnya mendarat dengan mulus di tanah lembek. Udara dingin menerpa wajahnya. Matanya menyapu sekeliling, penuh kewaspadaan. Lembah Gorthen bukan tempat yang ramah bagi siapa pun, terutama para pembangkang dan pemburu kebenaran.
Tiba-tiba, bulu kuduknya berdiri. Sebuah firasat tajam menembus kesadarannya. Ada yang mendekat.
Ia berbalik, dan — clang! — pedangnya menangkis serangan cepat dari arah belakang. Percikan api terlempar dari tabrakan besi itu. Ia mundur tiga langkah, siaga.
Dari kabut, muncullah sesosok lelaki muda berambut perak panjang dengan senyum santai.
“Halo, Ravae! Apa kabar?”
“Reggie?” Suara Ravae nyaris tercekat. Matanya tak percaya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Reggie, temannya — dulu satu pelatihan dengannya, tetapi menghilang dan dikabarkan bergabung dengan tim ekspedisi. Bajunya sudah tidak menyerupai militer, melainkan mantel kulit panjang dengan simbol ekspedisi yang dibakar ke dadanya.
“Kami melakukan ekspedisi,” jawab Reggie dengan ringan. “Lembah ini adalah jalan rahasia menuju Desa Kabut. Aku akan menyelamatkan desa itu dari ancaman para monster, sebelum mereka mengirim orang yang ‘resmi’.”
Ravae menahan napas, lalu perlahan menurunkan pedangnya. sembari menilai kesungguhan di balik kata-katanya.
“Desa Kabut itu tidak sembarangan. Monster di sana bukan jenis yang bisa kau bunuh dengan tekad saja. Bahkan pemerintah belum berani mengambil risiko. Mereka sedang mengutus seseorang—utusan resmi dari kediaman Arcanist Tinggi.”
Reggie tertawa kecil. Angin membawa suara tawanya seperti gema. “Kalau aku sampai ke sana duluan dan berhasil, aku bisa mendapat Warrant of Dread pertamaku.”
– BERSAMBUNG –

riji
5 Pengikut · 5 Novel