


oleh Ida Almira · 25 Bab
Maharani Prameswari, gadis sebatang kara yang mengalami kesedihan bertubi-tubi, kecewa ditinggalkan semua orang yang mencintai dan menyayangi untuk selamanya. Paman Risyad, ahli waris dan wali bagi Maharani, menjualnya dua miliar Rupiah kepada Revan Arya Dwipangga, keponakan istrinya yang baru selesai S2 di Amerika, serta tergila-gila pada Maharani. Gen licik dari darah yang sama di tubuh berbeda, membuat Maharani melakonkan acara pertunangan mewahnya secara paripurna, biarpun ia kehilangan cinta pertamanya. Paman Risyad menahan hati dan emosi demi harga diri dan tidakmau dipenjarakan oleh Revan. Ia terpaksa menikahkan putri kesayangannya. Maharani mendaftarkan Ariana Prameswari ke KUA sebagai calon istri Revan, bukan dirinya.
Mengapa meninggalkanku sendiri, dunia ini sangat kejam. Bumi yang kupijak pun laksana bara, tetapi aku tetap bertahan hidup mengikuti perjalanan takdir-Nya, batin Maharani.
Maharani Prameswari, gadis cantik bermata hazel itu memegang erat nisan adik laki-lakinya yang meninggal enam tahun lalu. Dalam perih ia berdoa mohon ampunan untuk adik dan orang tuanya.
Maharani mengamati area pemakaman. Matanya tertuju pada satu nisan bertuliskan nama Arriyan Abimanyu. Di sana terbujur jasad Paman yang menyayanginya.
Air di telaga bening itu mengalir tanpa terasa, saat bibirnya mengucap doa. Ia mengingat kebaikan dan kenangan tentang sosok laki-laki perkasa, penyayang dan penuh tanggung jawab serta melindunginya.
“Rani, paman sudah tidak kuat, ingatlah pamanmu dalam doa-doamu, Nak!” pinta pamannya.
Maharani mengusap kepala pamannya yang sudah sekarat sambil menangis.
“Paman akan sembuh dan baik-baik saja,” bohong Maharani pada dirinya.
“Tidak Nak, waktu paman sudah dekat, jaga dirimu baik-baik!”
Maharani memegang erat batu nisan pamannya, ia menangis tersedu-sedu dan meratap di atas pusaranya. Hatinya sakit, perih dan pilu. Maharani ingin kembali bermanja bersama orang tua, paman dan adiknya seperti dulu, tapi itu mustahil.
Maharani merasa Tuhan tidak adil padanya. Allah merenggut orang-orang yang ia cintai dan sayangi. Tuhan juga kejam membiarkannya hidup di dunia ini bersama Paman Risyad yang tidak punya hati. Maharani menjerit sekuat-kuatnya memanggil nama pamannya dan meratap pilu hingga menyayat hati orang yang mendengarnya.
Maharani terbawa emosi dan lupa bahwa ia tidak sendirian di sana. Ada banyak peziarah di pemakaman itu. Adat kebiasaan masyarakat pesisir, ziarah menjelang Ramadan.
Maharani seperti orang kesurupan, menangis histeris dan meratapi nasibnya di pusara pamannya.
“Sabar, Sayang, ikhlaskan semuanya, tenangkan hatimu.”
Sentuhan lembut ibu setengah baya berhijab syar’i itu, menyadarkan gadis semampai yang lagi histeris. Maharani memeluknya dan menumpahkan segala isi hatinya dalam tangis di pelukan perempuan berkulit putih berhidung bangir bak Cleopatra itu.
Ibu cantik itu berusaha menenangkan Maharani dengan segala perih dan luka hatinya, padahal ia pun baru kehilangan suami beberapa bulan yang lalu.
“Nak, jangan larut dalam kesedihan. Sesuatu itu sudah ada takdirnya sendiri.”
“Maaf Bu, Rani ....”
“Sudahlah, lembayung sudah hadir, sebentar lagi magrib, Nak.”
Ibu setengah baya yang masih terlihat seperti gadis muda itu menasihati Maharani dalam menjalani kehidupan.
“Allah sayang padamu, Nak! Karena itu kamu diberikan ujian untuk menambah ketakwaan.”
“Saya tahu Bu, tapi hati saya sangat sakit.”
“Keluhkan pada Allah dalam sujudmu!”
“Allah tak mendengarku, Bu. Dia memisahkanku dari orang yang kusayangi, aku sebatang kara.”
“Banyak istigfar, Nak. Kuatkan hatimu. Mereka butuh doamu, jangan sakiti mereka dengan ratapanmu!”
Setelah mendengar kata-kata ibu itu, ia menghapus air matanya. Ia sadar, ratapannya telah menyakiti keluarganya di alam lain.
“Terima kasih, Bu.”
“Bahagialah selalu gadis cantikku, satu waktu kita bertemu lagi.”
Mereka berpelukan dan saling menguatkan sebagai tanda perpisahan. Sayangnya mereka tidak berkenalan, sebab Maharani terlena dengan rasa damainya, seakan bertemu ibu kandungnya.
Maharani berpikir mungkin saja ibu cantik itu malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk mengingatkannya, walau ia tahu tak ada malaikat perempuan.
Tanpa sepengetahuan mereka, di sudut area pemakaman ada Pak Tua memperhatikan dari kejauhan.
***
“Rani menunggu siapa?” tanya penjaga makam mengejutkannya.
“A ... nu, Pak Tua, ibu cantik.”
“Siapa? Biar pak tua bantu mencarinya. Pusara siapa yang diziarahinya waktu itu?”
Maharani menggelengkan kepalanya tanda tak paham bagaimana menjelaskannya. Maharani bahkan tidak tahu makam siapa yang diziarahi ibu cantik itu. Yang Maharani tahu hanya, ia merindukan perempuan cantik blasteran Mesopotamia itu, dengan pelukan paling damai dan berjanji akan berjumpa lagi.
Maharani ingin balas budi, memanjakan perempuan cantik itu, dengan makanan khas pesisir pantai Selat Malaka. Gulai masam ikan mayung, gulai lemak, bubur pedas, dan anyang temu pauh yang selalu tersedia setiap Ramadan.
“Sudah tiga tahun, pak tua perhatikan, Rani ziarah seminggu sebelum Ramadan dan duduk di tempat yang sama, macam tunggu orang.”
“Ia, Pak Tua, Rani menunggu ibu cantik, yang tidak Rani kenal.”
“Lalu macam mana pak tua nak cari?”
Maharani menggeleng dan menunduk, pupus sudah harapannya. Hari pun sudah sore, pemakaman sudah sepi kembali. Tidak ada lagi lantunan doa dan surah yasin berkumandang.
“Maharani, pulanglah, Nak! Insya Allah satu waktu kamu akan menemukannya.”
“Ia, Pak Tua, Makasih.”
Sebenarnya pak tua penjaga makam itu tahu siapa perempuan cantik yang ditunggu oleh Maharani, tetapi bapak penjaga makam itu tidak ingin memutuskan harapan gadis sendu itu.
Bapak tua tujuh puluhan tahun itu mengusap kepala Maharani. Gadis berkerudung hitam itu menyalami dan mencium tangan Bapak penjaga makam dengan rasa hormat, karena telah merawat makam keluarga Maharani tanpa pamrih. Setiap Ramadan tiba, Maharani memberikan amplop berisi uang satu juta rupiah, untuk bekal Ramadan penjaga makam itu bersama istrinya, yang sudah sepuh.
Langkah gontai Maharani meninggalkan area pemakaman di tahun ketiga dengan pencarian tanpa hasil. Namun satu hal, perempuan cantik yang misteri itu mampu menitipkan rindu di hati Maharani. Kedekatan jiwa, nun jauh di mata, telah berhasil menabur damai di kegelisahan hati Maharani melakoni jalan hidupnya.
Kata-kata bijak yang bermanfaat, mampu mengubah lara jadi rindu, gelisah jadi ikhlas.
***
Ramadan tahun ini masih sama dengan yang lalu. Pencarian .Maharani pada wanita yang memikat sukmanya masih samar. Namun, tekadnya masih bulat dan kuat untuk bertemu perempuan cantik ala ratu Mesir itu.
“Kenapa tak menanyakan namanya waktu itu?”
“Rani lupa, Raka.”
“Begitu istimewanya dia di matamu Rani, hingga kamu enggak peduli lagi padaku.”
“Itu hanya perasaanmu saja Raka, pastilah kamu lebih dari apa pun untuk Rani.”
Maharani tak pernah berpikir jika keinginannya menemukan Ibu cantik yang merebut hatinya itu telah membuatnya mengabaikan Raka.
“Di dunia saat ini, hanya kamu yang ada, Raka.”
“Jangan munafik Rani! Jika ada yang lebih dariku, pasti kamu akan berpindah hati.”
“Kamu terlalu berprasangka, Raka.”
Raka sangat cemburu pada perempuan yang tak dikenal Maharani itu.
“Bagaimana dengan perjodohan pamanmu? Terima aja kalau mau!”
Maharani diam saja, melihat wajah Raka yang memerah, menahan emosi. Membiarkannya hingga reda. Tak ada gunanya bicara dengan orang yang sedang marah.
Satu-satunya pamanku yang masih hidup, sebagai ahli waris dan waliku, tetapi ia bak serigala berbulu domba. Aku bisa merasakan kepalsuan dari sikap kakak ayahku itu, baginya aku hanyalah beban dan sampah, batin Maharani.
Apa yang akan dilakukan Maharani? Mempertahankan cinta pertamanya, Raka Sanjaya atau menerima perjodohan dengan Revan Arya Dwipangga, sebagai pembayar hutang ayahnya. Dilema Maharani Prameswari.
***

Ida Almira
0 Pengikut · 1 Novel