Langit Samarinda, seperti janji yang tak pernah ingkar, selalu biru bersih saat fajar menyingsing di atas Bandara Sepinggan. Namun, bagi Elena Von Mahler, pesona visual itu hanyalah latar belakang bagi rutinitas yang monoton, krusial.
Pukul enam pagi, seragam Avsec-nya sudah rapi, tersampir di tubuh rampingnya seperti kulit kedua. Aroma antiseptik bercampur kopi kental dan jejak tipis avtur selalu menyambutnya, sebuah simfoni olfaktori yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut hidupnya.
Di titik pemeriksaan, Elena adalah perwujudan ketertiban. Matanya yang tajam menelusuri setiap wajah, setiap gerak-gerik penumpang, mencari anomali sekecil apa pun. Gerakan tangannya cekatan, memandu para pelancong melewati gerbang logam detektor dengan efisiensi yang nyaris mekanis.
Suara pengumuman di pengeras suara bandara, hiruk-pikuk tawa, tangisan bayi, dan roda koper yang berderit di lantai marmer, semuanya menyatu menjadi musik latar yang menemaninya menjaga batas-batas keamanan. Baginya, pekerjaan ini bukan hanya tentang mendeteksi ancaman, tetapi juga tentang menjaga sebuah kepercayaan, sebuah janji yang ia genggam erat sejak ia memilih jalan hidup ini.
“Pagi, Lena!” sapa Anton Weiss, rekannya, dengan senyum ramah yang selalu berhasil meruntuhkan dinding serius Elena, setidaknya untuk sekejap. Anton, dengan tubuh sedikit lebih berisi dan wajah tulus, adalah antitesis sempurna dari kekakuan yang sering Elena paksakan pada dirinya sendiri.
Elena mengangguk kecil, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Pagi, Ton. Jadwal padat pagi ini?”
Anton terkekeh, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Biasalah, pesawat pagi ke Jakarta selalu kayak pasar. Untungnya hari ini Herr Bastian Vogel enggak ikutan sidak langsung. Bisa gemetaran gue kalo dia udah berdiri sambil melotot di pojokan.”
Herr Bastian Vogel. Nama itu saja cukup untuk membuat ketegangan merayapi punggung Elena. Supervisor Avsec itu adalah sosok yang tak kenal kompromi, disiplin di atas segalanya, dengan sepasang mata elang yang seolah mampu menembus pikiran. Elena menghormati integritas Bastian, terkadang, tatapan intens pria itu terasa seperti beban, seolah ia bisa membaca setiap rahasia yang tersembunyi.
“Kerja aja yang benar,” ujar Elena datar, kembali fokus pada penumpang di depannya. Seorang pria paruh baya dengan topi fedora mencurigakan baru saja ia loloskan setelah melewati pemeriksaan kedua. Entah kenapa, instingnya sedikit terusik, nihil hasil. “Bastian Cuma menjalankan tugas.”
Anton mendengkus. “Tugas atau memang hobi bikin kita sport jantung? Kemarin ada staf yang salah input data, langsung diomeli sampai pucat. Padahal Cuma salah angka, bukan bawa bom.”
Elena tidak menanggapi lebih jauh. Pikirannya perlahan tergelincir dari hiruk-pikuk bandara ke sosok lain yang belakangan ini menguasai sebagian besar pikirannya, Ragnar Adler. Pilot carter yang tampan, dengan mata biru laut dan senyum menawan yang dulu selalu mampu meluluhkan kekakuannya. Namun, senyum itu, belakangan ini, terasa seperti topeng yang terpasang asal-asalan, menyembunyikan badai di baliknya.
Tiga hari terakhir, Ragnar tampak seperti bayangan dirinya. Gelisah, sering melamun, dan kerap kali tatapan matanya kosong, menerawang jauh seolah ada beban tak kasat mata yang menghimpitnya.
Elena sempat mencoba bertanya, Ragnar selalu berkelit dengan alasan pekerjaan yang menumpuk atau tekanan dari jadwal penerbangan yang padat. Penjelasan yang terdengar masuk akal, tetapi tidak cukup untuk meredakan gelombang kecurigaan di hati Elena.
Malam sebelumnya, Ragnar bahkan tidak pulang. Pesan singkatnya hanya berbunyi, “Ada penerbangan mendadak, Sayang. Maaf.” Kalimat klise yang dulu selalu ia telan mentah-mentah, kini terasa pahit di lidah. Ia kenal Ragnar, ia tahu kapan kekasihnya itu berbohong. Dan, bau alkohol samar yang tercium dari jaket yang tertinggal di kursi ruang tamu mereka adalah bukti lain yang tak terucap.
Saat jam istirahat tiba, Elena menyambar secangkir kopi hitam pahit dari kantin staf, duduk menyendiri di sudut, mengamati keramaian dari balik jendela kaca. Suasana ramai bandara kontras dengan kekosongan yang ia rasakan di dadanya. Telepon genggamnya ia periksa berulang kali, berharap ada pesan dari Ragnar, yang ada hanyalah keheningan.
***
Pukul dua siang, ketika jadwalnya telah usai dan ia bersiap pulang, ia melihat Ragnar. Kekasihnya itu baru saja turun dari pesawat pribadi kecil, melangkah tergesa-gesa di jalur apron, rambut pirangnya sedikit acak-acakan, kemejanya kusut. Raut wajahnya tegang, seperti seseorang yang baru saja melarikan diri dari sebuah kejadian buruk. Ia berbicara di telepon, suaranya pelan dan terburu-buru, sesekali melirik ke sekeliling dengan paranoid.
Elena merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mematung, bersembunyi di balik pilar besar, mengamati setiap gerak-gerik Ragnar. Ada sesuatu yang tidak beres. Firasatnya menjerit.
Saat Ragnar berjalan melewati pintu gerbang staf, pandangannya bersirobok dengan Elena. Ada kilatan terkejut, lalu sedikit panik di mata biru itu, sebelum Ragnar memaksakan senyum tipis. “Elena! Udah pulang, Sayang?”
Elena tidak membalas senyum itu. “Dari mana aja, Ragnar? Semalam aku telepon kamu berkali-kali.” Suaranya lebih dingin dari yang ia kira.
Ragnar menghela napas, mengusap tengkuknya. “Udah kubilang kan, ada penerbangan mendadak ke Balikpapan. Barang penting, bos urgent. Aku bahkan belum sempat ganti baju.”
Elena menunjuk kemeja kusut Ragnar. “Oh ya? Balikpapan? Kenapa baju kamu malah bau alkohol? Dan kenapa ada noda oli di lengan kamu?”
Ragnar langsung melihat ke lengannya, wajahnya berubah pucat. “Oh, ini, tadi di bengkel. Ada masalah sama mesin pesawat. Udah, ya, aku buru-buru. Nanti malam aku jelasin semuanya.”
Tanpa menunggu jawaban Elena, Ragnar buru-buru melangkah pergi, menghindari tatapan Elena. Langkahnya tergesa-gesa, seolah dikejar sesuatu. Elena hanya berdiri di sana, membiarkan kemarahan dan kekhawatiran merayap. Ia mengenal Ragnar lebih dari siapa pun. Kebohongan itu terlalu kentara.
Dengan perasaan gundah, Elena kembali ke ruang loker untuk mengambil tasnya. Ia tahu Ragnar tergesa-gesa, bahkan mungkin lupa dengan jaket penerbangannya yang ia buang begitu saja di kursi ruang tunggu staf Avsec. Jaket itu, berwarna hijau gelap, tampak mencolok di antara kursi-kursi. Sebuah dorongan tak terbendung muncul di benak Elena. Sebuah dorongan untuk mencari kebenaran, sekecil apa pun.