Angin menerpa wajah Kindara, membelai rambut hitamnya dengan lembut. Bulan purnama bercahaya terang, menerangi hutan seolah mengiringi langkahnya. Kindara, begitulah orang-orang memanggilnya. Seorang pria yang terlahir dengan kemampuan di atas rata-rata manusia, Penyihir Kindara semakin dikenal masyarakat ketika ia berhasil menguasai sebagian besar kerajaan di dunia.
Adik tirinya, Kiana Alkarisa selalu mendukungnya, mereka berperang dan berbagi tugas. Kiana yang akan mengatur strategi bertempur dan Kindara yang akan menghadapi musuh. Hubungan persaudaraan mereka sangat erat. Tetapi, setelah Kindara menikah, semuanya berubah. Hubungan mereka renggang karena Kiana sering terlibat konflik dengan istri Kindara.
Kindara terlalu mencintai istrinya, ia hanya mendengarkan ucapan sang istri, mengabaikan orang lain bahkan menuduh adiknya sendiri. Meskipun, Kiana tak memiliki bukti kuat tentang pemberontakan istri Kindara. Ia tetap berusaha meyakinkan kakaknya dan tetap melindunginya.
"Kakak! Gawat, istana sedang diserang oleh pasukan dari utara. Mereka dipimpin oleh raja penyihir," ucap Kiana panik.
"Bagaimana mereka bisa melewati perbatasan dengan mudah?" tanya Kindara memijat dahinya.
"Istrimu yang membantu mereka," jawab Kiana singkat.
"Cukup! Berhentilah menuduhnya, kau selalu iri dengan jabatannya," tukas Kindara menatap adiknya tajam.
"Aku harap, kau tidak menyesali ucapanmu!" Kiana hanya menggelengkan kepalanya kemudian pergi. Sesampainya di istana, Kindara dan Kiana bertarung bersama. Mereka berdua berhadapan dengan raja penyihir yang menginginkan kejayaan Kindara.
Raja penyihir mengeluarkan tongkat sihir panjang berwarna putih, kilatan cahaya terpancar dari tongkat tersebut. Sementara, Kindara hanya membawa pedang biasa. Ia tidak memiliki senjata sihir untuk menghadapi musuhnya, tapi Kiana tak tinggal diam. Gadis itu mengeluarkan pedang sihir pemberian dari kekasihnya, raja penyihir terkejut melihat pedang tersebut.
"Hah? Pedang Gladius? Bagaimana pedang itu bisa ada padamu? Pedang dengan sihir penciptaan tidak bisa didapatkan dengan mudah. Apakah kau merencanakan pemberontakan? Jangan-jangan, Lidya benar. Kau telah bersekutu dengan raja penyihir dan menentangku." Kindara mengangkat sebelah alisnya dan berbicara dengan nada tinggi.
"Kakak! Berhentilah membahasnya, musuh kita sangat kuat. Aku akan mengalihkan perhatiannya dan Kakak keluarkan elemen petir untuk menahan pergerakannya. Kita mulai!" kata Kiana Alkarisa, menyerang raja penyihir dengan pedangnya.
Kindara terdiam karena tidak bisa fokus dan masih bingung dengan tindakan Kiana, ia yakin Kiana memberontak, tapi yang dilakukan Kiana malah kebalikannya.
Tongkat sihir dan Pedang Gladius berbenturan, kekuatannya seimbang, terdengar dentuman kencang yang menggema di seluruh istana Kindara.
"Kau akan mati karena melindungi pria yang tidak tahu balas budi!"
"Kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih akan membawa hasil yang baik! Lagi pula, pria yang kau maksud adalah saudaraku dan melengkapi kekurangannya adalah tugasku."
Kiana Alkarisa kembali menyerang raja penyihir, tetapi setiap serangannya bisa ditangkis. Kecepatan raja penyihir bertambah, gerakannya secepat kilat, Kiana hampir tak melihat pergerakan raja penyihir. Tubuh Kiana ditendangnya dan terlempar beberapa meter. Melihat hal itu, Kindara baru bergerak. Sayangnya, ia lengah dan maju sembarangan tanpa startegi yang matang.
Raja penyihir seolah bisa memprediksi pergerakan Kindara, mereka saling menyerang satu sama lain. Meskipun terluka, Kiana tetap bangkit, ia tak menghiraukan luka di bagian lengannya. Namun, raja penyihir tak menyerah.
Ia mundur beberapa meter kemudian mengangkat tangannya ke atas, terdengar suara petir bergemuruh membuat Kiana ketakutan. Kindara ikut mengeluarkan elemen petir, tapi elemen petir milik raja penyihir jauh lebih kuat dan membuat Kindara terpental.
Raja penyihir mengeluarkan pedang suci yang dapat melenyapkan iblis, Kindara terkejut melihatnya. Tubuhnya ingin bangkit dan menghindar, tapi tak bisa bergerak. Serangan petir dari raja penyihir terlalu kuat untuk ditandingi.
Ketika raja penyihir hendak menghunuskan pedangnya, Kiana berlari untuk melindungi kakaknya.
Jleb!!
Sebuah pedang menembus dada Kiana, raja penyihir pun menarik pedangnya kembali. Gadis itu menangis karena mengetahui kematiannya akan segera tiba. Kakinya sudah tak sanggup berdiri, Kindara menatap punggung adiknya dari belakang. Matanya terbelalak, tatapannya penuh penyesalan. Ia tak menyangka, Kiana akan melakukan hal itu.
Berbagai kenangan indah yang pernah mereka lewati bersama, terus bermunculan. Sesak di dada, Kindara hanya bisa berlindung di balik adiknya. Padahal, ia pernah berjanji untuk selalu melindungi Kiana. Kindara bangkit meraih tubuh Kiana, air mata penyesalan terlihat dari sorot matanya.
"Wah! Aku tak menyangka, anak iblis bisa memiliki saudara yang rela berkorban. Kiana Alkarisa! Aku akan mengingat namamu. Jika kau terlahir kembali, jadilah adikku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik!" Ucapan raja penyihir seolah menusuk hati Kindara, seperti pisau tajam.
"Maafkan aku, Kiana. Ternyata benar, semakin jaya seseorang, semakin dia lupa dengan orang-orang yang telah membantunya. Aku mohon, bertahanlah!" Kindara menangis, memeluk tubuh Kiana yang mulai melemah.
"Kakak!" Kiana tersenyum tipis, napasnya nyaris hilang, tubuhnya semakin lemah. Namun, ia terus mencoba bicara, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
"Entah di kehidupan ini atau di kehidupan selanjutnya ... aku tetap adikmu! Bagaimana pun juga aku akan mendukung kejayaanmu. Ingatlah! Takhta hanya bisa direbut dengan kehormatan." Suara Kiana terbata-bata.
Kiana menghembuskan napas terakhirnya di pelukan kakaknya. Kindara menangis terisak-isak sembari memeluk tubuh adiknya, ia menyesal pernah menuduh Kiana memberontak. Tak lama kemudian, Kindara ditusuk. Namun, kali ini pelakunya bukan raja penyihir tapi Lidya, istrinya Kindara.
"Lidya? Kenapa kau melakukan semua ini? Jangan-jangan yang dikatakan Kiana, apakah itu benar?" tanya Kindara masih tak percaya.
"Hahaha, Kindara!" Lidya tertawa kencang mengejek Kindara, tatapannya tajam seolah puas melihat Kindara tak berdaya.
"Apa kau pikir aku benar-benar mencintaimu?" Ia tersenyum sinis, menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak! Aku hanya ingin kejayaanmu, takhtamu, dan hartamu. Kau ingin tahu apa yang aku lakukan?"
Lidya menyeringai sebelum melanjutkan, "Aku memfitnah Kiana agar hubungan kalian merenggang, dan aku berhasil! Kau memang tak pantas menjadi raja! Hahaha."
Raja penyihir dan Lidya pergi meninggalkan Kindara dan Kiana. Tubuh Kindara terbaring di samping mayat adiknya, air mata tak hentinya mengalir mewakili hati, kesedihan tak bisa diucapkan dengan kata-kata, dan ini adalah akhir kejayaan dari Penyihir Kindara.
Sesosok Iblis datang ke gerbang istana, mayat bergelimpangan di mana-mana, pertempuran yang dimenangkan oleh raja penyihir. Iblis itu mencari keberadaan Kindara, tubuhnya mendadak lemas setelah melihat putranya terluka.
"Kindara! Bertahanlah, Nak."
"Raja Iblis Alziel, maafkan aku. Sebagai seorang anak, aku sudah durhaka padamu. Sebagai seorang kakak, aku gagal melindungi adikku. Ternyata, aku berakhir bersama runtuhnya kejayaanku. Seharusnya, aku mendengarkanmu dan Kiana." Kindara menyesal, matanya merah, dan ia tidak akan melupakan pengkhianatan orang-orang yang sudah menjatuhkannya.
"Apa yang kamu bicarakan? Ini semua salahku! Seharusnya, aku tidak datang kepadamu dan mengaku sebagai ayahmu. Raja penyihir tahu, kau adalah anakku. Itu sebabnya dia memakai pedang suci, tapi pedang itu hanya bisa membunuh iblis bukan manusia. Kau dan Kiana akan reinkarnasi," ucap Raja Iblis Alziel, membuat segel dari tangan kanannya.
Tangan kanan raja iblis menyentuh dada Kindara, senyuman sayu terukir di wajahnya, tubuhnya yang mulai melemah berbaring di samping mayat adiknya. Kemenangan raja penyihir berhasil mengakhiri kejayaan Kindara.
***
Tujuh abad berlalu, ada bayi laki-laki yang terlahir di Kerajaan Madare. Wajahnya mirip dengan Penyihir Kindara dan memiliki tanda lahir di dadanya. Tanda lahir seperti goresan pedang dan berwarna hitam. Permaisuri Imelda memeluk bayinya dengan senyuman bahagia, burung-burung berkicau bahagia seolah menyambut kelahirannya, bunga-bunga yang belum waktunya mekar, tiba-tiba bermekaran.
"Permaisuri, putra Anda sudah lahir! Siapa namanya?" tanya salah satu pelayan.
"Kiandra, penerus Dinasti Aditara. Kelak dia akan mencapai kejayaan seperti idolaku! Penyihir Legendaris Kindara," jawab Permaisuri Imelda tersenyum manis seolah semangat baru hadir di hidupnya.
Tak disangka di balik tirai kamar permaisuri, Raja Iblis Alziel tersenyum manis menatap bayi Kiandra, tangannya menyentuh jendela dan ingin memeluknya. Namun, ia menahan diri.
"Nikmatilah hidupmu sebagai manusia, Kindara. Jika suatu saat tubuhmu melemah, kau akan berubah menjadi iblis seutuhnya." batin Raja Iblis Alziel.