


oleh Tya Oline · 27 Bab
Evelyn tidak pernah mengira, kepulangannya kembali ke perkebunan justru membawanya pada satu teror mencekam. Teror makhluk gelap berwujud kupu-kupu hitam dan mengerikan. Gadis itu tidak tahu, ternyata dia terikat pada sebuah kutukan turun temurun dari nenek moyangnya. Apakah Evelyn akan menjadi korban selanjutnya dari kutukan tersebut? Siapakah pemuda yang sering datang membantunya? Ada hubungan apa antara Evelyn dan sekumpulan kupu-kupu yang sering datang menemuinya di kaki bukit?
"Kemarilah. Ayo, terbang bersamaku. Bukankah kau ingin bisa terbang bebas sesuka hatimu? Bukankah kau membenci duniamu sekarang?" Suara lembut dari sesosok tubuh yang membelakanginya membuat Evelyn menajamkan penglihatan.
"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu sebelum ini," sahut Evelyn.
"Benarkah? Lihatlah dengan baik.” Setelah berkata, tubuh tinggi dengan bahu kekar itu bergerak.
Dalam sekejap mata, sosok itu berbalik menghadap Evelyn. Namun, seringai menyeramkan dari wajah berbintik hitam dan bola mata besar itu membuat Evelin menjerit ketakutan.
Kedua tangan kecilnya berusaha menutupi wajah dari sosok di hadapannya. Bibirnya berteriak meminta sosok itu pergi. Namun, suaranya seolah tertahan di pangkal lidah. Sekuat apa dia menjerit, tidak ada suara yang terdengar.
"Hei, Nona. Apakah kau bermimpi buruk? Bangunlah, kita sudah sampai di perkebunan."
Evelyn terkejut saat merasa pipinya ditepuk-tepuk cukup kencang. Tersentak dia menegakkan tubuh dan duduk dalam posisi waspada. Dia menoleh ke sekeliling, lalu mengembuskan napas lega.
"Syukurlah hanya mimpi," ucapnya lirih, tapi masih bisa terdengar oleh kondektur bus yang Evelin tumpangi.
"Jalan ke perkebunan sana cukup sepi, Nona. Berhati-hatilah." Kondektur bis berpesan setelah menurunkan ransel besar Evelyn dari bagasi.
"Terima kasih, Paman. Aku akan menunggu jemputan saja di sini," sahut Evelyn.
"Oh, begitu. Baiklah, selamat tinggal."
Bus kembali melaju setelah pintu belakang tertutup. Evelyn mengedarkan pandangan, mencari tahu arah mana nantinya dia akan menuju. Namun, belum sempat kakinya melangkah, sebuah sapaan terdengar olehnya.
"Halo, apakah kau Nona Evelyn?"
"Ya, kau siapa?" tanya Evelyn pada seorang pria bertopi khas perkebunan.
"Aku James, dan ini istriku, Sandra. Kami diminta oleh Nyonya Martha menjemputmu." Pria itu memperkenalkan diri beserta wanita yang tersenyum di sampingnya.
"Oh, halo. Terima kasih sudah menjemputku. Aku sempat ragu arah mana yang kutuju untuk ke perkebunan."
Evelyn menyambut uluran tangan Sandra tanpa bertanya, walau dalam hatinya dia sedikit heran dengan rentang usia James dan Sandra. James terlihat lebih pantas menjadi pamannya dibanding menjadi seorang suami bagi Sandra.
Ketiganya pun meninggalkan pemberhentian bus dan pergi menuju perkebunan menggunakan kendaraan bak terbuka. Evelyn bersama Sandra duduk di bagian bak belakang mobil. Kedua wanita dengan rentang usia tidak terlalu jauh itu pun saling bertukar cerita. Sesekali Evelyn mengamati sekitar, tetapi perhatiannya selalu berakhir pada sebuah bukit di bagian barat perkebunan.
"Sandra, di sana itu bukit apa?" tanyanya sembari menunjuk bukit dengan dagu.
"Itu hanya bukit biasa. Tidak ada yang istimewa, Nona. Kami biasa membawa ternak ke sana untuk makan rumput di kaki bukit," jawab Sandra.
Evelyn terdiam. Dia kembali memperhatikan bukit dengan pohon-pohon yang lumayan lebat. Hati gadis itu berkata, ada yang berbeda dengan bukit kecil di sana. Namun, gadis yang besar di Kota Colonge dan menempuh pendidikan di sana itu tidak berniat bertanya lagi pada Sandra. Dia hanya diam dan sesekali menoleh ke bukit.
"Ada apa, Nona? Apa Nona ingin ke sana? Tidak ada yang bisa dilihat. Di sana hanya ada hamparan rumput dan pohon-pohon hutan saja," ujar Sandra saat dia melihat Evelyn masih mencuri pandang ke bukit.
"Ah, tidak. Aku hanya mengagumi keindahan tempat ini," jawab Evelyn, bibirnya mengurai senyum lebar.
"Apakah Nona tidak pernah ke sini sebelumnya?" Sandra bertanya, tatapan matanya menelisik.
"Dulu, sudah sangat lama. Waktu Mama sama Papa masih ada. Setelah itu, Paman Sam melarangku datang ke sini."
Ternyata, jarak yang mereka tempuh tidak lebih dari lima belas menit. Perkebunan milik nenek Evelyn sudah terpampang di depan mata.
Bermacam tanaman sayur dan beri terhampar di lahan yang luasnya mencapai puluhan hektar lebih itu. Di atas lahan yang cukup tinggi, sebuah rumah permanen berukuran besar berdiri kokoh dengan arsitektur khas Eropa.
Evelyn berlari meninggalkan James dan Sandra yang masih mengangkat tas serta bawaan Evelyn yang lain.
Evelyn melihat sang nenek tersenyum padanya dan merentangkan kedua tangan menyambutnya.
"Du bist so suus, Oma vermisst dich," ucap neneknya, mengatakan jika dirinya sangat merindukan sang cucu, dia lalu memeluk Evelyn sangat erat.
"Ich vermisse dich auch," sahut Evelyn, diciumnya pipi sang nenek berkali-kali. Evelyn juga berkata dia sangat merindukan sang nenek.
Sudah sangat lama dia tidak merasakan hangatnya pelukan wanita yang telah melahirkan ibunya. Semua lenyap semenjak kematian mamanya dan Paman Sam-adik mamanya--melarang Evelyn berkunjung ke perkebunan.
"Oma, apa kabar? Mana Opa?" tanya gadis cantik itu, setelah keduanya saling melepas pelukan.
"Oma baik, Dear. Opa sedang mengawasi pekerja di kebun raspberry. Apa kau ingin ke sana? Pergilah bersama James. Musim ini raspberry kita sedang panen raya. Tidakkah kau ingin menikmatinya?" Omanya menjawab keingintahuan sang cucu, lalu menuntun gadis itu menuju kursi di bawah pohon apel.
Tanpa bertanya, Evelyn meraih sebuah apel berwarna merah yang ada di dekatnya, kemudian memakannya setelah mengusap buah tersebut ke kemeja.
"Wah! Oma, apel ini sungguh manis dan segar!" seru Evelyn. Dia sangat menyukai sensasi buah segar yang baru saja dipetiknya.
"Tentu saja. Apel ini adalah yang terbaik dari semua yang ada di sini. Makanlah sepuasnya. Oma bahagia jika kamu menyukai setiap buah di sini.”
"Aku akan menyusul Opa saja ke kebun berry, Oma." Evelyn langsung berlari mengejar James yang tampak menaiki kendaraan perkebunan. Tanpa menunggu jawaban sang nenek, Evelyn langsung berteriak memanggil James.
"Paman James, kau akan ke tempat Opa?" seru Evelin.
"Benar, Nona. Apa kau ingin ikut?" sahut James dari balik kemudi.
"Tentu, pasti menyenangkan." Evelyn langsung duduk di sebelah kanan James.
Mobil bak terbuka itu berjalan menuju bagian barat, menuju kebun berry. Mata indah dengan bola mata berwarna cokelat hazel itu kembali menatap bukit dengan pepohonan berdaun cukup lebat di batas perkebunan.
"Paman James, selain membawa ternak, apa kau pernah ke hutan di bukit itu?" tanya Evelyn, nadanya sangat pelan, lebih seperti bisikan.
"Tidak, Nona. Kami hanya sampai di kaki bukit saja. Di sana ada wiese (padang rumput) yang cukup luas. Kalau sengaja menaiki bukit, tidak pernah. Untuk apa? Sangat riskan jika nekat memasuki hutan itu." James menjelaskan secara singkat.
"Nah, itu Tuan Eldin. Silakan, Nona turun dulu, aku akan memarkirkan kendaraan dekat gudang agar pemetik berry tidak terlalu jauh mengangkat keranjang saat memuat nanti."
James kembali menjalankan kendaraan setelah Evelyn berlari mendekati Tuan Eldin, si pemilik perkebunan.

Tya Oline
103 Pengikut · 7 Novel