


oleh Winda Sisca · 26 Bab
Selina merasa terbelenggu oleh kesepian yang semakin menyesakkan. Suaminya, Wisnu, bekerja sebagai sopir bus lintas provinsi. Akibat tuntutan pekerjaan dan ambisi untuk bisa pensiun di usia dini, Wisnu jarang pulang ke rumah. Kesepian yang dirasakan Selina, mendorongnya mencari hiburan baru di media sosial. Berawal dari postingan curhat, Selina bertemu dengan mantan kekasihnya. Sejak itulah, perasaannya terhadap Wisnu memudar. Apakah Selina akan mempertahankan rumah tangga mereka atau justru mengakhirinya?
Di dalam kamar ini, terasa begitu hening. Hatiku sangat hampa, kosong. Dinding kamar yang dingin menyaksikan betapa menyedihkannya diriku. Suara kipas tua yang tergantung di langit-langit, berderit tidak karuan.
“Bang Wisnu ….” Aku menyebut nama suamiku yang sudah tidak pulang, entah berapa lama.
Sebuah pesan darinya, terkirim beberapa hari yang lalu. ‘Maaf, Sayang. Aku belum bisa pulang. Ada trayek tambahan, itung-itung bisa buat tambahan uang belanja. Nanti kirim video Nadira, ya. Abang rindu padanya’.
“Hemm … selalu begitu,” desisku, melempar ponsel ke atas kasur.
Dulu, sebelum menikah—Bang Wisnu punya banyak waktu untukku. Saat itu, dia masih bekerja sebagai sopir di sebuah perusahaan yang jam kerjanya jelas. Namun, dia terkena dampak PHK karena perusahaannya gulung tikar.
Kejadian itu tepat satu tahun setelah kami menikah. Pada saat itu juga, aku sedang hamil lima bulan. Bang Wisnu sudah melamar pekerjaan ke mana-mana, tapi hasilnya nihil.
Dia menganggur selama satu bulan. Setelah itu, kami mendapatkan kabar baik. Seorang kenalannya memberi tawaran pekerjaan sebagai sopir bus antar provinsi. Hal itu cukup melegakan, mengingat kami akan segera punya anak.
**
Sebelum menikah
“Selina itu putri kami satu-satunya. Baik saya maupun ibunya tidak pernah membuat dia sedih atau kesulitan. Apa kamu bersedia bersikap seperti itu juga padanya?” tanya ayahku pada Bang Wisnu.
“Saya akan membuat Selina bahagia dan tidak akan menyulitkannya. Saya akan penuhi semua kebutuhannya tanpa mempersulit.” Bang Wisnu begitu yakin dengan janjinya.
Kedua orang tuaku pun mengamati sikapnya selama kami dalam ikatan pertunangan. Dia begitu lembut dan hangat padaku. Kedua orang tuaku pun dihormati seperti orang tuanya sendiri. Maklum, orang tua Bang Wisnu sudah meninggal sebelum dia merantau ke kota.
Di awal menikah, Bang Wisnu tidak pernah mengizinkan aku melakukan pekerjaan rumah. Dari mencuci hingga beres-beres rumah, dia yang kerjakan. Bahkan, aku tidak diwajibkan memasak. Kami sering membeli lauk dan sayur matang di warung. Bang Wisnu hanya memasak nasi di rumah, sebelum pergi bekerja.
Akan tetapi, sejak bekerja sebagai sopir bus, dia sudah tidak sempat lagi mengerjakan semuanya. Dia tidak juga menyuruhku. Justru, dia memberikan uang ekstra untuk biaya cuci gosok, upah pengasuh dan tukang bersih-bersih.
“Sayang, abang pulang dua hari lagi. Kamu mau oleh-oleh apa?” tanya Bang Wisnu dalam panggilan telepon waktu itu.
“Aku tidak perlu oleh-oleh, Bang. Aku cuma ingin kita temani Nadira pergi ke pasar malam, kalau Abang sudah di rumah.”
Aku memang jarang minta oleh-oleh. Kehadiran Bang Wisnu lebih istimewa dibandingkan dengan apapun bagiku. Sebab, kami sudah jarang menghabiskan waktu bersama-sama lagi.
“Baik kalau begitu, abang bawa oleh-oleh buat Nadira saja. Doakan abang selamat dan sehat selalu ya, Dek.”
“Iya, Bang. Aku selalu berdoa untuk Abang.”
Kebahagiaanku bukan barang atau uang. Meskipun aku akui, suamiku tidak pernah membuat kami kekurangan. Namun, aku dan anakku juga ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya.
Sering kali aku iri setiap melihat pasangan suami-istri yang menghabiskan waktu bersama dengan buah hatinya. Bahkan, rumah kami lebih mirip gua di tengah hutan. Walaupun berada di tengah pemukiman padat.
Suara pintu pagar yang diketuk seseorang, membuyarkan lamunanku. Aku melangkah lesu, berjalan ke luar rumah. Kupikir Bang Wisnu yang datang, ternyata bukan.
“Mbak Selina! Ini baju-baju yang udah disetrika.”
“Terima kasih, Mbak.” Aku tersenyum samar pada wanita yang biasa bantu cuci gosok itu.
Setelah aku menutup pintu pagar kembali, aku segera memasukkan baju-baju itu ke dalam lemari. Kemudian, aku duduk di sofa ruang tamu, memeluk diri sendiri.
Aku hanya bengong, memandangi foto keluarga di dinding. Kuhirup napas sangat dalam. Aliran udara dalam dadaku menyisakan perih yang tak dapat diterjemahkan.
Sebuah benda pipih berbentuk kotak di atas meja, menggodaku. Aku meraihnya, jemariku bergerak sendiri membuka salah satu aplikasi media sosial dengan logo berwarna biru. Aku mengetik sebuah status baru.
‘Ingin seperti istri-istri yang lain, ketika butuh suami selalu ada’.
Postingan terkirim, dan belum sampai lima menit, notifikasi berbunyi. Kalimat yang kusebar mendapat banyak komentar.
‘Sabar ya, Mbak. Aku juga pernah ngerasain posisi kayak gitu’.
‘Curhat aja, Mbak. Kadang kita emang butuh tempat buat cerita’.
‘Ada di rumah tapi nggak berasa punya pasangan. Relate banget sama situasiku sekarang’.
Aku terus men-scroll komentar demi komentar. Jemariku tidak bisa berhenti membalas satu per satu. Entah mengapa, membaca tanggapan orang-orang yang tidak kukenal, justru terasa lebih hangat daripada pesan-pesan singkat dari Bang Wisnu.
Setiap hari kuhabiskan waktuku dengan hiburan baru. Seolah duniaku hanya sebatas di media sosial saja. Sebab, dengan begitu aku bisa tersenyum dan tertawa.
Di tengah keasyikan itu—sebuah panggilan masuk ke ponselku. Bang Wisnu, suamiku yang gila kerja.
“Yang, ini Abang sudah mau sampai rumah. Lagi mampir swalayan dulu, buat beliin Nadira es krim.”
“Bang Wisnu sudah di dekat rumah?” ulangku.
“Iya, Sayang.”
“Aku belum masak nasi, Bang.”
“Tidak perlu, Abang juga mau beli nasi Padang buat kita. Kamu mau dibelikan apa lagi?”
“Apa saja deh, Abang kan tahu apa yang aku suka.”
Percakapan kami berakhir. Sekarang, aku harus merapikan rumah. Ada banyak sampah, bungkus makanan yang berserakan di ruang tamu pun di kamar tidur. Sebab, beberapa hari terakhir aku hanya sibuk dengan ponselku.
Aku lupa, kalau orang yang biasa beberes rumah sedang sakit. Meskipun Bang Wisnu sangat sabar, tentu aku juga tidak ingin terlihat sangat buruk di matanya. Masa semua hal sudah dibebaskan, tapi menjaga rumah tetap bersih dan rapi saja tidak bisa.
Di sela-sela aktivitas membersihkan rumah, notifikasi media sosialku berdenting. Satu nama mencuat di antara banyak komentar. Aku terkesiap. Dadaku berdebar tak karuan.
“Apa aku salah lihat?” tanyaku pada diri sendiri.

Winda Sisca
35 Pengikut · 2 Novel