Gudang tua di belakang gedung olahraga itu hanya diterangi satu lampu redup yang menggantung miring. Udara berbau debu, dan keheningan terasa menakutkan. Tiga siswi berdiri melingkari Arin, yang berdiri sendirian di tengah ruangan dengan wajah tanpa ekspresi.
"Karena kita berada di tingkat yang sama, terlebih kamu wakil ketua OSIS, aku saranin sebaiknya kamu gak usah ikut campur!" kata salah satu dari mereka, gadis berambut hitam panjang sedada, cukup bergelombang.
Suaranya bergetar menahan marah. Namun, hal itu tidak membuat Arin terlihat ingin cepat-cepat pergi dari sana, karena membuat mereka marah, sama saja menggali kuburan sendiri.
Arin mengangkat dagunya sedikit, tatapannya menusuk seperti bilah kaca.
"Sorry, aku gak dengar ucapan kamu."
Ketiga wajah siswi itu memerah, emosi mereka naik, tapi Arin masih dengan ketidakpeduliannya. Tidak ada rasa takut sedikit pun yang terlihat dari sorot matanya.
Ada yang tangannya sudah mengepal, ada pula yang rahangnya sudah mengeras, bahkan menatap Arin tanpa berkedip sedikit pun, dengan bola mata yang sepertinya akan keluar.
"Aku cuma kasih dia saran baik!" kata siswi berambut cukup bergelombang itu.
Wajahnya terlihat menahan emosi yang ada.
"Saran baik? Menyeret anak kelas satu ke toilet dan menyuruhnya mencuci sepatu kalian itu namanya kekerasan. Bukan saran baik! Apa hidup kamu segitu gak menariknya, sampai kamu melakukan hal kayak gitu sama orang yang gak ada salahnya sama sekali?"
Siswi berambut gelombang yang biasa disapa Larissa, menatap tak percaya Arin yang terus berani dengannya.
"Aku akan beri kamu kesempatan sekali lagi!" kata Larissa seraya tersenyum.
Senyum yang jelas-jelas terlihat dipaksakan.
"Kesempatan? Aku gak perlu kesempatan dari kamu. Justru, aku yang akan memberi kamu kesempatan. Gimana? Tertarik?"
Larissa melangkah, langkah kaki yang terlihat pasti, berhenti di hadapan Arin. Tersenyum meremahkan, dengan kedua tangan yang sudah mengepal sempurna.
"Maaf, tapi aku gak butuh kesempatan itu!"
Larissa menatap tajam, sangat tajam, seperti akan melakukan sesuatu yang buruk pada Arin. Namun, Arin tidak mundur selangkah pun. Mata hitamnya tetap dingin, nyaris tanpa emosi.
"Maaf kalau aku salah, tapi aku pikir kamu mengejar penghargaan yang gak akan pernah kamu dapat. Makanya kamu pilih target paling lemah agar kamu bisa menguasai sekolah ini, dengan begitu yang lain akan takut, dan kamu berhasil menjadi orang orang yang paling ditakuti, benar?"
"Diam kamu!" teriak Larissa
PLAK!
Sebelum Arin kembali membuka mulutnya, sebuah tamparan keras melayang, mencambuk pipinya hingga kepala Arin terpelanting sedikit ke samping.
Suara itu menggema di gudang kosong.
Dua siswi lainnya terkejut, tapi Arin hanya kembali menoleh perlahan. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa takut. Tidak ada shock. Yang ada hanya senyum tipis, senyum yang membuat Larissa mundur setengah langkah.
"Selesai?" tanya Arin pelan, dingin, seperti angin berhawa es.
Siswi itu menelan ludah, ragu sesaat, tapi gengsinya menahan diri untuk tidak mundur sepenuhnya.
Arin menyentuh pipinya sekilas, lalu menatap mereka bertiga dengan tatapan yang membuat seisi ruangan seolah mengecil.
"Kalau itu yang kamu butuh untuk merasa lebih baik tentang hidupmu ... silakan, tapi jangan lupa! setiap tindakan punya balasan, dan kamu sudah menyentuh orang yang salah."
Arin melipat kedua tangan depan dada. Sorot matanya lebih tajam dan mematikan dari sebelumnya. Lalu, tiba-tiba tanpa peringatan, seperti apa yang dilakukan Larissa, Arin melayangkan tamparan pada pipi siswi itu.
"Gimana? Sakit kan?" tanya Arin sambil memasukkan kedua tangan ke masing-masing saku almamater.
Larissa mundur setapak, begitu pun dengan siswi lainnya yang ikut melangkah mundur, seperti naluri mereka berkata untuk memberi jarak, tetapi Arin hanya menatap mereka sebentar sebelum berbalik.
Ketukan sepatunya di lantai gudang terdengar jelas tak-tak-tak,pelan, tapi berwibawa, seperti seseorang yang sama sekali tidak tersentuh oleh ancaman apa pun.
Sebelum benar-benar menghilang dari sana, langkah Arin terhenti. Kembali menghadap ke arah mereka.
"Kalian harus belajar satu hal. Ketakutan yang kalian tanam ke orang lain, suatu hari akan kembali pada kalian."
Mereka mematung.
Arin berjalan menuju pintu, mendorongnya perlahan, membiarkan cahaya matahari menyapu tubuhnya, tapi saat langkahnya sudah keluar dari gudang, dunia Arin mulai bergoyang sedikit.
Pandangan tajamnya bergetar.
Napasnya terpecah. Namun, Arin terlihat mencoba bertahan. Melangkah pergi dari sana dengan pasti, sampai di dekat gedung olahraga, langkahnya terhenti.
Salah satu tangan menyentuh dada, merasa sesak. Napasnya semakin tidak stabil.
"Arin!"
Suara itu sontak membuat Arin menoleh ke arah belakang, berdiri seorang siswi berseragam sama dengannya. Tersenyum lebar.
Arin? Siapa Arin?
Telinganya mendadak berdenging tajam, seperti ada suara "ngiiing" menusuk dari dalam kepala.
Hanya sekali kedipan mata, Arin memasang wajah bingung. Melihat sekeliling dengan raut wajah bertanya-tanya seperti "aku ada di mana", "kenapa bisa ada di sini".
"Ar, kamu gak papa?" tanya salah seorang siswi yang baru saja tiba di hadapannya.
Arin menatap bingung siswi itu. Bukan sekadar sakit kepala, dadanya terasa sesak, dan pandangannya mulai kabur.
. .
Aroma minyak kayu putih yang tajam berhasil membangunkan Arin dari pingsan. Kedua mata yang sudah terbuka, menatap bingung gadis di hadapannya, lalu sekelilingnya.
"Ar, kamu gak papa? Kayak bingung gitu," tanya siswi berambut hitam lurus sebahu dengan bandana yang dipakainya. Ia adalah gadis yang sebelumnya sempat bertemu Arin sebelum tidak sadarkan diri.
"Aku kenapa bisa ada di sini, Nad?"
"Tadi kita bertemu depan gedung olahraga, terus tiba-tiba kamu pingsan."
"Untuk apa aku di sana?" Arin terlihat semakin bingung, seperti ia tidak mengingat sama sekali soal kejadian di gudang.
Nadine menatap bingung dokter perempuan yang bertugas di UKS, yang berdiri di sampingnya.
"Aku juga gak tahu. Pas aku keluar dari dalam gedung, kamu sudah berada di sana."
Arin menyentuh kepalanya yang mulai terasa pusing. "Seingat aku, aku ke toilet, terus gak jadi karena ...."
Raut wajah Arin berubah, sepertinya dia mengingat sesuatu.
"Karena apa? Kamu ingat sesuatu?" tanya Nadine.
Ia mengelengkan kepala, pelan. "Intinya aku gak merasa ke sana."
Nadine kembali menatap dokter perempuan itu dengan wajah tak kalah bingung dengan Arin. Dokter itu memasukkan kedua tangan ke masing-masing saku jubah dokternya.
"Ibu pikir kamu perlu istirahat yang banyak, karena stres berat bisa melemahkan ingatan."
"Iya, Ar. Aku pikir kamu terlalu banyak belajar. Kalau gak giat belajar mana mungkin selalu jadi yang pertama di sekolah," sindir Nadine.
Arin hanya bisa tersenyum tipis. Lalu, terdengar suara bel masuk setelah waktu istirahat berakhir.
Gadis itu hendak bangun dari posisi tiduran. Namun, salah satu tangan Nadine terulur menyentuh bahu Arin, sedikit menekannya. Arin pun tetap terbaring.
"Mau ke mana kamu!?" ucapnya, nada yang terdengar cukup tegas.
"Sudah waktunya masuk kelas."
"Setelah pingsan sampai gak ingat apa yang kamu lakukan sebelumnya, masih mau ikut belajar?!"
Salah satu tangan Bu Dokter terulur menepuk pelan bahu Nadine, berlalu dari hadapan mereka. Mendudukkan diri di kursi kerjanya.
Nadine memberikan tatapan tajam, lalu melipat kedua tangan depan dada.
"Berhenti buat keras kepala, Arina!"
"Iya. Aku akan tetap di sini."
Ceklek.
Perhatian ketiga orang itu pun berpusat pada pintu yang terbuka. Nampak seorang siswi berambut lurus hitam panjang, diikat satu. Menghampiri Nadine dan Arin, setelah pintu ditutup kembali.
"Ar ...."
Wajah siswi itu tampak tak bisa, seperti ada sesuatu. Apa telah terjadi sesuatu?
"Larissa datang dengan teman-temannya ke kelas kita, terus mengeluarkan semua buku yang ada di tas kamu, membuangnya begitu saja ke lantai, bahkan membalikan kursi dan meja kamu."
Arin tidak bisa berkata-kata, karena ia tidak tahu apa yang membuat Larissa semarah itu. Seingat Arin, ia tidak memiliki masalah dengan Larissa.