


oleh Anis Jung Ji Jae · 16 Bab
Anisa Dara mendadak terseret dalam aksi baku tembak dan pelarian tanpa ujung setelah 20 tahun hanya mendekam di kamarnya yang buruk. Sebagai penulis novel aksi yang sukses, rentetan kejadian luar biasa itu persis seperti dalam novelnya. Namun, Iram, lelaki yang secara ajaib muncul lewat lantai kamarnya berkali-kali menyangkal khayalan Anis. Berkata dengan tegas kalau Iram orang suruhan ayahnya yang datang untuk menyelamatkan Anis. Di tengah caruk-maruk keadaan, desing tembakan, kepul debu pelarian, Anis mendapatkan banyak sekali misteri mengejutkan tentang ayah dan keluarganya. Akankah Anis mampu memecahkan misteri keluarganya? Atau Anis akan kembali ke kamarnya yang buruk dan menulis seperti biasa?
Anis mengetuk layar laptop berkali-kali. Matanya menatap kosong ke depan dengan rambut berantakan habis diacak-acak, gabut karena sulitnya melanjutkan tulisan di novel terbarunya.
Empat cangkir kopi kosong tergeletak tak jauh dari sisinya. Tangan kirinya naik, memapah kepala yang mendadak buntu seperti mobil kehabisan bensin, mogok.
Menutup laptop, Anis beranjak dari kursi, memilih duduk di pinggir ranjang. Kakinya naik perlahan, terlentang di atas bantalan empuk. Netranya terpejam. Menghela napas berkali-kali.
Menulis ... selalu menguras otak dan tenaga.
Hanya para pembicara seminar yang mengatakan menulis itu mudah. Tinggal tulis, tulis, dan tulis. Padahal ada proses berpikir yang begitu panjang dan riset mendalam tentang bahan tulisan.
Kenyataannya sama sekali tidak mudah.
"Yeah! Ngomong 'mudah' emang sabi. Ya tinggal ngomong doang emang!"
Mereka tidak tahu bagaimana perjalanan selama menulis untuk menghasilkan sebuah cerita yang dapat dinikmati.
"Belum lagi kalau dapet pembaca macem dugong. Nyerocos segala DM minta tagihan update. Adoh ... hampir mati muda, tahu gak?"
Serbuan notifikasi menyerbu ponselnya yang diatur bergetar. Hampir jatuh dari meja jika Anis tidak segera bangun.
Mengecek ponsel, sama seperti perkataannya tadi. Pembaca dugong itu muncul saat dibicarakan.
Hm, umur panjang. Semoga Tuhan lekas memberikan hidayah di umur panjangmu.
Anis melempar ponselnya sembarang ke meja. Berbaring lagi di tempat tidur. Jendela yang terbuka lebar menghantarkan angin dingin yang menyejukkan. Anis mematikan AC ruangan dan menikmati desiran angin.
Rumahnya sedang sepi. Tepatnya selalu sepi. Orang tuanya tidak ada. Anis hanya sendirian di rumah. Mereka berdua bercerai dan Anis lebih memilih ikut dengan ayahnya.
Anis anak tunggal, dia tidak punya saudara atau teman. Pendidikan jenjang SMP hingga kuliah dia lakukan di rumah.
Home schooling.
Anis tidak tahu kenapa, tetapi dia selalu menuruti perkataan ayahnya yang sekarang sudah tiga bulan lamanya tak ada di rumah. Beliau pamit pergi menjalankan riset di sebuah negara terdampak wabah dan hingga kini tak ada kabar.
Namun, kiriman uang berpuluh juta tak pernah berhenti. Siklus itu rutin setiap tiga bulan sekali.
Untungnya, Anis anak yang bijak pada uang orang tuanya. Meskipun punya kelimpahan materi, Anis enggan membelanjakannya. Paling-paling hanya habis membeli novel atau peralatan menulis yang baru.
Uang bukan segalanya bagi Anis. Uang … tak bisa membeli beberapa hal yang hilang dalam dirinya.
"Tuhaaan ... aku gak nemu ide nih. Apa yang harus aku lakuin? Haruskah jual diri biar bisa beli otak encer??"
Anis sudah gila. Dia berteriak-teriak dan berbicara sendiri di kamarnya. Berguling ke sana kemari sambil memeluk guling. Mencari-cari. Mungkin dari perbuatan absurd-nya dia dapat menemukan pencerahan.
Oh, haruskah dia menelepon asisten di bawah untuk sesuap camilan?
Ah, jarinya bahkan terlalu malas menekan tombol di dinding.
"Aku ini orangnya malas. Nulis adalah pekerjaan termudah bagiku, tapi kenapa ini malah jadi susah." Anis meratap. Badannya ditempelkan ke tembok dengan pose cicak.
Bayangkan saja meski tidak bisa melihat.
Anis berjalan mengitari kamarnya selama lima putaran. Dilanjutkan salto sampai menabrak dinding.
Lelah berpose cicak, otaknya mulai berpikir apakah sebaiknya dia mulai keluar rumah dan berkencan?
“Itu juga gak bagus. Gak ada yang bagus dari pacaran. Banyak cewek mati muda dibunuh pacarnya.” Anis manggut-manggut sendiri. Dia teringat menonton berita di laptop tadi malam.
Berita yang menyiarkan ada jasad perempuan tergeletak di kebun sawit warga. Setelah ditelusuri, pelakunya adalah mantan pacar korban yang tak terima kalau korban akan menikah dengan orang lain.
Anis mengelus dada. Kadang … dikurung di rumah tidak buruk juga.
Masih sibuk dengan pikirannya, sebuah suara mirip tembakan terdengar begitu dekat dengan kamarnya.
Anis mengerjap-ngerjap. "Kupingku udah dibersihin kok, kemarin. Apa masih congek, ya?" Mengambil cotton buds, Anis mengorek telinganya dan memperlihatkan hasilnya.
Bersih. Jadi ... apa-
DOR DOR
"Waduhek!" Anis duduk berjongkok sambil menutup telinganya. Suaranya keras sekali. Terdengar nyata.
Apa itu sungguhan suara tembakan? Tembakan seperti di film-film?
"Plislah! Tetangga sebelah ga lagi main mobile legend, 'kan?"
Anis mengintip takut-takut ke jendela. Terlihat di lantai bawah ada beberapa orang berseragam aneh membawa ....
Anis langsung menutup jendela kasar. Dia terlalu kaget akan apa yang dilihatnya.
Itu pistol beneran, bege!
Real senjata laras panjang yang sering ada di film. Ini ada apa? Kenapa mereka ada di rumahnya?
"Di atas! Dia ada di kamar dengan jendela ungu!"
Mampus! Aku mau diapain???
Anis langsung berlari ke arah pintu dan menguncinya dengan sandi. Seketika wajahnya pucat luar biasa. Pikirannya melayang ke mana-mana.
Anis berkeringat dingin membayangkan dalam beberapa menit lagi dirinya akan jadi mayat. Dia memang pernah berdoa agar cepat mati karena lelah dengan penderitaan dunia, tapi apakah cara matinya bisa lebih baik?
"I-ini gak nyata. Ini pasti aku lagi ketiduran terus ngimpi. Nggak. Nggak ah!" Kakinya menginjak pensil dan terjatuh.
Berdebam keras di lantai.
Suara tembakan lagi.
"Kamar lantai dua di kirimu!"
Anis membelalak dengan mata terbuka demi bokongnya yang sakit dan suara itu. Astaga! Apa ini penggerebekan polisi? Tapi dirinya tidak memiliki apa pun yang dapat dijerat hukum.
Narkoba? Bubuk putih itu? Mana ada! Kalau bubuk nutrisari baru dia mengoleksi. Baru dia beli tadi sore untuk stok.
"Aduh, pikiranku kok ke mana-mana. Ini keadaan genting! Gimana caranya keluar dari sini, coba?! Padahal aku gak ngelakuin apa-apa, Pak Polisi!"
Anis hampir menangis dengan keadaan mencekam yang tiba-tiba. Suara orang yang tadi akan ke kamarnya, kini sedang berusaha mendobrak pintu.
Anis makin panik. Apakah penjara adalah jalan terakhirnya? Tapi dia salah apa?
Anis meringkuk makin dalam ke sudut kamar. Menutup diri dengan bantal, meja, kursi, apa saja yang ada di sekitarnya. Ia tidak tahu harus ke mana lagi.
Di saat itulah. Ketika Anis masih dengan isaknya, ketika Anis fokus pada rasa takut, pikiran buruk, serta pintu kamar semakin didobrak keras, lantai kamarnya tiba-tiba bergeser dan menampakkan sesosok lelaki.
Anis hampir berteriak, tetapi mulutnya segera dibungkam. Lelaki itu membisikkan sesuatu yang membuat Anis diam. Mengeluarkan Anis dari tumpukan barang, membawanya turun ke dalam lantai kamar yang terbuka.
Di sisi lain, pintu kamar Anis berhasil didobrak. Lima dari mereka berperawakan tinggi besar tidak seperti badan kebanyakan orang Indonesia. Mereka menyisir setiap tempat, setiap sudut, meraba-raba. Mencari celah lenyapnya target.
“Cari! Bongkar semua! Dia tidak mungkin bisa keluar dari kamar ini,” perintah seseorang dalam bahasa Spanyol.
“Dia anak dari ilmuwan paling dicari di dunia, jadi pasti dia menyelinap kabur di sebuah ruangan dalam kamar ini. Cepat, jangan sampai kita kehilangan dia!”

Anis Jung Ji Jae
2 Pengikut · 1 Novel