


oleh cumellamel · 31 Bab
Usianya baru 15 tahun saat Sari meninggalkan bangku SMP dan tanah kelahirannya di pelosok desa. Bukan untuk melanjutkan sekolah, melainkan untuk mengadu nasib sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Arab Saudi. Ia rela menggadaikan masa remajanya demi ibu, ayah, dan keempat adik yang kelaparan. Sementara itu, jauh di Indonesia, orang tua dan adik-adiknya berubah tamak. Uang kiriman rutin dari Sari dibelanjakan untuk hal-hal yang tak penting. Sang ayah berjudi, ibu jadi pemalas, dan adik-adik tumbuh manja, merasa semua akan selalu datang tanpa usaha. Surat dan telepon dari Sari mulai diabaikan. Ia bukan lagi anak, tapi mesin penghasil uang.
Angin sore menyapu sawah yang mulai mengering. Burung-burung kecil pulang ke sarangnya, sementara mentari perlahan menghilang di balik bukit. Di teras rumah kayu berlantai tanah, seorang gadis duduk memeluk lutut. Usianya baru lima belas tahun, tapi keriput kekhawatiran sudah mulai mengintip di sudut matanya.
Namanya Sari gadis dusun, yang seharusnya masih mengenakan seragam putih biru, tertawa bersama teman sekelas, atau menulis nama gebetan di halaman belakang buku tulis. Tapi semua itu terasa seperti kemewahan yang hanya dimiliki orang-orang beruntung. Dan Sari tahu, ia bukan salah satunya.
“Berangkatnya besok sore. Bapak udah nitip kamu ke agennya. Jangan banyak tanya—kamu sendiri yang bilang mau bantu keluarga ‘kan?” ucap Budi, dari dalam rumah dengan nada datar.
Sari menggigit bibir. Ia tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menggenggam tiket keberangkatan yang mulai lusuh karena terlalu sering dipeluk dan ditangisi diam-diam. Tiket itu bukan sekadar selembar kertas. Itu adalah batas antara masa kecil dan kenyataan pahit yang harus ia hadapi.
Di dalam rumah, suara tawa terdengar. Adik-adiknya bersorak riang karena Ibu baru saja membelikan mi instan dan jajanan, dengan uang hasil pinjaman dari tetangga. Padahal uang itu berasal dari "uang muka" yang seharusnya disimpan untuk perjalanan Sari Tapi siapa yang peduli? Semua orang hanya tahu satu hal: Sari akan segera bekerja dan mengirim uang.
Ia menoleh ke arah ladang yang dulu sering jadi tempat bermain bersama teman-temannya. Angin membawa suara adzan Magrib dari musola kampung. Sari menarik napas panjang, menahan tangis yang hampir tumpah.
“Mama, Bapak, Adik-adik, Aku pergi bukan karena ingin, tapi karena harus. Tolong jangan lupakan itu,” bisiknya pelan.
Malam itu, Sari tak bisa tidur. Ia mengemas baju seadanya, dua lembar mukena pemberian Nenek, dan sebuah foto keluarga—foto lama, saat senyum masih mudah tumbuh di rumah mereka. Saat hidup masih sederhana, tapi penuh cinta. Ia tahu, sejak Bapak kehilangan ladang dan Ibu mulai banyak berutang, senyum di rumah ini sudah lama menghilang.
Keesokan harinya, saat mobil tua menjemput untuk mengantarkannya ke kota, hanya Ibu yang mengantar. Bapak entah ke mana. sedangkan adik-adiknya sibuk bermain gawai—dibeli dari hasil menggadaikan barang-barang di rumah.
Sari melambaikan tangan. Tapi tak ada yang membalas.
Di dalam mobil, Sari menatap ke luar jendela. Pandangannya kosong, pikirannya melayang jauh ke negeri asing yang menantinya.
"Kok, kamu malah melamun sih, Sar?" tegur Onah Ibunya Sari.
"Eh, enggak, Bu aku cuma lihat-lihat pemandangan," jawab Sari sambil memaksakan senyum.
"Ingat ya, Sar, kamu harus kerja yang baik di sana. Jangan sampai majikanmu kecewa. Dan jangan lupa, ini semua keinginan kamu, bukan kami yang nyuruh," ujar Onah tegas.
Sari mengangguk pelan. "Iya, Bu aku ingat. Ini keputusanku sendiri. Aku ingin bantu keluarga, bantu masa depan adik-adik." Suaranya pelan, senyum tipis menghias bibir, tapi hatinya perih.
"Bagus. Kamu harus rajin supaya majikanmu senang. Jangan bikin malu," tambah Onah.
Sari kembali mengangguk. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan. Pandangannya kembali ke luar jendela. Hatinya sesak. Takut, sedih, bingung semuanya berbaur menjadi satu.
*
Perjalanan dari desa ke kota memakan waktu berjam-jam. Langit sudah gelap saat mereka tiba di tempat penampungan—sebuah rumah kecil yang dijadikan pos transit untuk para calon pekerja migran. Di sana, Sari bertemu beberapa perempuan lain, sebagian sudah berumur, sebagian seumuran dengannya. Tapi tak satu pun wajah yang tampak tenang. Semuanya memancarkan rasa cemas yang sama: tentang masa depan, tentang pekerjaan, tentang siapa yang akan menyambut mereka di ujung dunia nanti.
Malam itu Sari tidur di lantai beralaskan tikar tipis, bersebelahan dengan seorang perempuan bernama Rani yang berasal dari desa tetangga.
"Kamu umur berapa, Sar?" tanya Rani lirih.
"Lima belas," jawab Sari.
Rani menatap langit-langit gelap. "Masih kecil ya. Aku tujuh belas. Tapi kita sama-sama berangkat terlalu cepat."
Sari hanya tersenyum samar. Ia tak tahu harus menjawab apa. Di dalam hatinya, ada kekosongan yang semakin besar. Ia rindu rumah, meski di rumah itu ia lebih sering merasa sendiri.
Pagi harinya, mereka dibawa ke bandara. Bagi Sari itu pertama kalinya ia melihat pesawat dari dekat. Ia sempat terpukau, tapi kekaguman itu cepat tenggelam oleh gelombang kecemasan yang datang silih berganti.
Saat pesawat lepas landas, ia menatap langit dari jendela, berdo'a dalam hati, "Ya Allah, kuatkan aku. Jangan biarkan aku patah sebelum mencoba.”
Setibanya di negeri asing, sebuah negara di Timur Tengah yang namanya tak pernah benar-benar ia pahami, Sari dan beberapa lainnya langsung dibawa ke rumah majikan. Tanpa pelatihan, tanpa bekal bahasa, hanya tubuh lelah dan mental yang setengah hancur.
Rumah pertama yang ia masuki begitu besar, berlantai marmer. Seorang wanita berhijab hitam menyambut mereka, bicara dalam bahasa asing yang santun dan lembut, Sari hanya bisa menunduk, berusaha memahami melalui gerak tangan dan ekspresi
Wanita berhijab itu menyapa Sari dengan memakai bahasa Indonesia
"Ayo duduk dulu, tenang tak usah tegang saya baik kok, panggil saya Madam," ucap madam sambil tersenyum di balik cadarnya.
Sari menatap madam tak percaya bahwa majikannya bisa bahasa Indonesia, "Baik, Madam."
"Oh iya, hanya saya yang lancar berbahasa Indonesia, suami dan anak saya belum lancar berbahasa Indonesia. Tugas kamu di sini adalah menjaga anak saya yang paling kecil namanya Alif usianya 3 tahun, maaf sebelumnya apa kamu bisa menjaga anak kecil?"
Sari mengangguk, "Saya bisa menjaga dan mengurus anak kecil Madam, saya sudah terbiasa menjaga dan mengurus adik-adik saya sekaligus mengurus rumah."
"Bagus, semoga kamu betah di sini yah, kita belum perkenalan nama. Saya Fatimah kamu bisa panggil saya Madam Fatima, nama kamu siapa?"
"Nama saya Sari Aisyah, Madam."
"Semoga kamu betah di sini, Sari, kontrak kerjamu di sini 2 tahun kalau kerja kamu bagus saya akan terus pakai kamu."
Sari tersenyum mengangguk, "Baik, Madam terima kasih saya akan bekerja dengan baik."
Hatinya lega ternyata majikannya baik sekali, bukan seperti majikan yang Sari dengar dari orang-orang yang galak tegas bahkan ada yang sampai disiksa.

cumellamel
0 Pengikut · 1 Novel