


oleh Black Mirror · 101 Bab
Liana Elverton terpaksa bekerja sebagai pelayan di kastil yang dingin dan misterius. Ia dikirim oleh kerabat yang ingin menyingkirkannya, setelah orang tua gadis itu meninggal, mengambil harta peninggalan Liana lalu membuangnya. Dreaven memiliki seorang penguasa—Marius Von Edevanve. Pria kejam dan bengis. Pertemuan di antara keduanya terjadi. Meninggalkan kesan berbahaya, tatapan tajam, sentuhan yang membuat dadanya berdebar, dan pesona yang sulit diabaikan. Awalnya, Marius tertarik pada Liana hanya sebatas mainan pribadi. Tapi, semakin lama, ia tidak bisa mengendalikan diri. Apakah Liana hanya pelayan biasa di mata Marius atau sesuatu yang lebih? Ada rahasia yang belum terungkap mengenai gadis itu.
Hujan turun dengan derasnya, melunakkan tanah yang keras di daerah Dreaven.
Dingin merayapi tulangnya, jari-jarinya mati rasa saat berusaha menggenggam mantel tipis yang nyaris tak berguna.
Gerobak kuda reyot yang membawanya terguncang hebat saat roda terperosok ke dalam lumpur. Kudanya meringkik, kusir tua yang membawa gerobak itu mengumpat sebelum mencambuk tali kekang.
"Tak jauh lagi," gumamnya tanpa menoleh.
Liana tetap diam. Napasnya membentuk uap tipis di udara dingin. Ia memandangi jalan berbatu yang membentang di depannya, menembus kabut dan hujan.
Di ujungnya, kastil Draeven menjulang tinggi—gelap dan indah, sunyi, dan menekan.
"Turunlah," perintah kusir begitu gerobak berhenti di depan gerbang samping kastil.
Liana melompat turun, lututnya hampir menyerah saat kakinya menyentuh tanah berlumpur. Sebelum ia bisa menstabilkan diri, sebuah suara berat menyambutnya.
"Jadi ini anaknya?"
Liana mendongak. Seorang pria tua berdiri di hadapannya. Bennet Rhyne—tak perlu ada perkenalan, karena tatapan matanya yang tajam sudah cukup memberi tahu siapa dia. Rambut abu-abunya diikat seadanya, wajahnya penuh garis keras.
"Ya," jawab kusir sebelum bergegas pergi, meninggalkan Liana dalam hujan yang semakin deras.
"Bennet menggeram pelan, sorot matanya menilai Liana seperti barang rongsokan, menatap gadis kurus di hadapannya dengan ekspresi jengah. "Lihat dirimu. Seperti ranting yang siap patah. Apa mereka mengirimku beban lain?"
Liana menunduk. Ia tahu lebih baik diam daripada menjawab.
"Dengar, bocah." Bennet mendekat, suaranya lebih rendah. "Aku tidak suka anak malas, penakut, atau pengeluh. Kalau kau ingin bertahan di sini, kerjalah dengan benar ...." Ia menekankan kata-katanya. "Atau entahlah."
Suara langkah kaki terdengar dari arah pintu belakang kastil. Seorang wanita setengah baya berlari kecil menghampiri mereka, mengenakan selendang tebal. "Bennet! Jangan menakutinya seperti itu!" Wanita itu meraih tangan Liana, mengusapnya lembut. "Astaga, kau kedinginan sekali."
Liana mengangkat wajahnya. Senyuman hangat menyambutnya.
"Namaku Martha, aku istri orang kasar ini." Ia menatap Bennet sekilas sebelum kembali pada Liana. "Masuklah, anakku. Aku akan membuatkanmu teh hangat."
Bennet mendengkus, membiarkan istrinya menarik Liana masuk ke dalam kastil.
***
Hangat.
Itulah hal pertama yang dirasakan Liana saat memasuki dapur besar kastil Draeven. Api dari perapian menari di sudut ruangan, aroma sup menguar di udara. Ia berdiri canggung di dekat pintu, membiarkan Martha menyibukkan diri.
"Nak, duduklah." Martha menepuk kursi di dekat meja kayu.
Liana menurut, meski tetap diam. Martha menuangkan teh ke dalam cangkir, meletakkannya di depan Liana.
"Minumlah."
Liana meraih cangkir itu dengan kedua tangannya yang gemetar. Begitu cairan hangat menyentuh lidahnya, ia nyaris mendesah lega.
Martha tersenyum. "Berapa usiamu?"
"Tujuh belas," jawab Liana pelan.
Martha mengangguk, ekspresinya berubah iba. "Anak perempuan seusiamu seharusnya tidak berada di tempat seperti ini."
"Dia bukan anak kecil," Bennet menyahut kasar dari ambang pintu. "Ini bukan tempat main-main. Kalau mau dimanja, dia datang ke tempat yang salah.”
Martha menoleh tajam. "Kau bisa tidak, membiarkannya bernapas dulu sebelum mulai mengomel."
Bennet mendecak, lalu menarik kursi dan duduk di seberang Liana. "Dengar, bocah. Aku akan mengajarimu pekerjaan besok pagi. Jangan terlambat. Dan jangan buat masalah."
Liana mengangguk patuh.
"Bicaralah kalau dia menyusahkanmu, Martha," tambahnya sebelum bangkit dan pergi.
Suasana kembali tenang. Martha menghela napas, menatap Liana dengan lembut.
"Kau tidak perlu takut padanya, Nak," katanya, mengusap tangan Liana pelan. "Dia memang keras, tapi hatinya tidak seburuk itu."
Liana hanya tersenyum kecil. Ia tahu, tidak semua orang baik seperti kelihatannya.
***
Hujan telah reda saat fajar menyingsing.
Liana bangun sebelum ayam berkokok, mengenakan pakaian pelayan yang diberikan Martha semalam. Dinginnya udara menggigit kulit, tapi ia menahannya.
Saat ia tiba di pekarangan belakang kastil, Bennet sudah menunggu.
"Lambat."
Liana menunduk.
Bennet menyerahkan sekop padanya. "Hari ini kau bekerja di kebun. Kau akan menggali tanah, mencabut rumput liar, dan memastikan tidak ada yang berantakan."
Liana menerima sekop itu tanpa suara.
Bennet mengawasi sejenak sebelum mulai bekerja sendiri. Meski pria itu kasar, tangannya cekatan, seolah telah melakukan ini sepanjang hidupnya.
"Apa kau pernah bekerja kasar sebelumnya?" tanyanya tanpa menoleh.
Liana menggeleng.
Bennet menghela napas. "Tentu saja tidak ... aku bisa mencium aroma bangsawan dari sikapmu."
Liana mengepalkan sekopnya lebih erat. "Aku bukan bangsawan."
Bennet tertawa kecil. "Benarkah? Lalu kenapa kau dikirim ke sini?"
Liana tidak menjawab.
Bennet mendengkus. "Baiklah, kalau kau tidak mau bicara, aku tidak peduli. Yang penting, kau bekerja dengan benar."
Liana mulai menggali tanah. Tanah basah menempel di tangannya, dingin dan lengket. Namun, ia terus bekerja tanpa mengeluh.
Matahari mulai naik, menghangatkan udara yang sebelumnya membeku.
Martha datang membawa sekeranjang roti dan susu. "Istirahat dulu, kalian berdua!"
Bennet menyeka keringatnya. "Anak ini perlu belajar lebih keras. Lihat, tangannya bahkan belum kapalan."
Martha menatap Liana yang diam. "Dia baru mulai hari ini, Bennet. Jangan terlalu keras padanya."
"Kalau aku lembek, dia tidak akan bertahan di sini."
Martha menghela napas, lalu menatap Liana dengan senyum lembut. "Kemarilah, Nak. Makan dulu."
Liana duduk di bawah pohon, menerima sepotong roti dari Martha. Saat ia menggigitnya, perutnya yang sejak pagi kosong terasa sedikit lebih nyaman.
Martha menepuk tangannya. "Kau akan baik-baik saja di sini, Liana."
Liana hanya tersenyum kecil.
Matahari naik lebih tinggi, pancaran cahaya begitu menyengat. Liana menghabiskan roti di tangannya, sementara Martha membereskan keranjang kosong.
"Aku harus kembali ke dapur," kata Martha, menatap Liana dengan lembut. "Jangan memaksakan diri, Nak .... Kau masih bisa belajar pelan-pelan."
Bennet mendengkus. "Pelan-pelan tidak akan membuatnya bertahan di sini."
Martha mendelik sebelum berbalik dan masuk ke dalam kastil.
Bennet menatap Liana. "Habis istirahat, lanjutkan lagi. Aku tidak mau ada rumput liar tersisa di kebun ini."
Liana mengangguk. Ia bangkit, menggenggam sekop dengan lebih erat. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahan.
Bennet memperhatikannya sebentar, lalu beralih ke pekerjaannya sendiri. Hanya suara sekop yang menghantam tanah dan embusan angin yang terdengar.
Liana bekerja tanpa mengeluh. Tangannya mulai terasa perih, tapi ia menahan diri untuk tidak berhenti. Saat ia berdiri tegak sejenak, seorang pria melintas di pekarangan.
"Tidak menyangka ada gadis baru di sini."
Liana menoleh. Seorang pria muda dengan rambut kecoklatan berdiri tak jauh darinya, tangan bertolak pinggang. Senyum sinis menghiasi wajahnya.
"Siapa namamu?" tanyanya santai.
Liana tidak langsung menjawab.
Bennet menoleh sekilas. "Dia bukan urusanmu, Rodrick."
Rodrick mendengkus. "Kau tahu aku selalu tertarik dengan hal baru." Ia kembali menatap Liana. "Jadi, kenapa kau ada di sini?"
Liana mengeratkan genggaman pada sekopnya. "Aku hanya bekerja."
Rodrick menyipitkan mata, seolah menilai sesuatu. Lalu, ia tertawa kecil. "Semoga kau bertahan lebih lama dari yang lain."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan pergi, meninggalkan Liana dengan pertanyaan yang menggantung di udara. Lebih lama dari yang lain.
Gadis itu menelan ludah.

Black Mirror
36 Pengikut · 2 Novel