


oleh Lia131 · 100 Bab
Tidak mudah untuk merubah sebuah kebiasaan, tetapi aku berusaha membiasakan diri karena terjebak dalam pesonamu, dimanakah kesalahanku? Mencintaimu dan berusaha mendapatkanmu, bukankah itu sesuatu yang lumrah terjadi? _ Irfan Sanjaya Seperti sebuah lingkaran, aku tidak berpikir memiliki sisi untuk kau masuki. Namun, ternyata kau berhasil mematahkannya dengan semua tindakanmu, apa mungkin ini pertanda? Tetapi jujur tidak menyesal telah membuka hati ini untukmu! _ Sania Nirwan Apakah yang terjadi diantara keduanya, Irfan merupakan seorang playboy mampukah mematahkan trauma yang telah dimiliki perempuan yang keras kepala dan tidak tersentuh seperti Sania? Mampukan seorang Irfan membuat Sania percaya lagi akan cinta?
Dia Irfan, seorang mahasiswa cerdas dari salah satu kampus ternama. Tidak ada salah satu pun warga kampus tidak mengenalnya, termasuk masa lalunya yang menjadi rahasia umum jika sebelumnya dia merupakan seorang playboy. Akan tetapi sifat itu sudah hilang sejak dia mengenal Sania, sosok yang dulu dia incar tapi kini sedang membencinya.
Sania gadis cantik, pintar primadona kampus. Irfan begitu mengaguminya, gadis cantik dengan segudang prestasi yang membuat seorang Irfan berhenti menjadi playboy. Hanya saja cinta yang ia miliki harus melewati beribu rintangan, tidak ada kata menyerah dalam kamus seorang Irfan meskipun Sania sudah menolaknya berulang kali.
"San kamu udah makan?!" tanya Irfan pada Sania yang masih sibuk membaca. Bukan sekali, tapi hampir setiap hari saat jam istirahat Irfan akan menanyakan hal yang serupa. Sania tentu merasa risih karenanya tapi dilarang pun Irfan akan tetap membawa makanan untuknya lagi besok.
"Bisa nggak sih sekali saja jangan nanya itu terus?!" gerutu Sania pada Irfan yang terus melontarkan pertanyaan yang sama setiap kali mereka bertemu. Jujur Sania merasa risih atas perlakuan Irfan, yang terlihat menjadikan dirinya spesial diantara teman kelasnya yang lain.
"San, temenin aku makan yuk!" bujuk Irfan dengan cengiran khasnya, entah mengapa cengiran Irfan itu menjadi salah satu yang Sania benci sejak mengenal Irfan, bukannya terlihat manis, Sania malah membenci senyum seperti itu karena baginya itu hanyalah senyuman yang akhirnya akan membawa luka di hatinya.
“Kamu selalu aja ganggu aku! Apa kamu nggak capek?!” tanya Sania yang sebenarnya mencibir kelakuan Irfan yang selalu mengganggunya selama berkuliah di sana. Sania lelah diganggu oleh Irfan si playboy cap kakap itu, tapi mengusir pun Irfan akan kembali lagi yang tentunya Sania merasa sia-sia mengusir Irfan.
“Nggak! Kan, kamu cantik!” balas Irfan tersenyum manis. Sungguh ingin sekali rasanya Sania mengubur Irfan sekarang juga, tapi sayangnya itu tidak akan pernah Sania lakukan seumur hidupnya, meskipun lelah diganggu. Dia bukanlah seorang pembunuh, dan tidak akan pernah terlintas hal mengerikan itu di dalam otak kecilnya, meskipun dia kesal dengan Irfan.
“Irfannnn!!” pekik Sania kesal.
“Iya!” jawab Irfan dengan wajah manisnya, benar-benar tidak ada kapok-kapoknya mengganggu Sania.
Keributan kedua mahasiswa dan mahasiswi itu sudah biasa terjadi. Bukannya melerai satu kelas itu akan bersemangat menonton aksi Irfan menggoda Sania, mereka benar-benar menikmati tontonan yang Irfan dan Sania lakoni. Menurut mereka keduanya sangat cocok, sayangnya Sania belum bisa membuka hati untuk Irfan.
“Fan udah deh! Sania nggak mau, nanti aku yang akan mengajak Sania makan!” komentar seorang mahasiswa yang duduk di samping Sania. Dia Fani, sahabat Sania sekaligus sepupu dari Irfan. Dia tahu betul perjuangan Irfan untuk mendapatkan perhatian sekecil apapun dari Sania. Sayangnya itu semua sia-sia, sehingga kerap kali Fani kasihan pada sepupunya yang terus saja berjuang meskipun Sania tidak meresponnya sedikitpun.
“Tapi Fan! Aku mau dia nemenin aku makan, bukan makan bareng!” sela Irfan tidak terima dengan ucapan Fani.
Irfan hanya ingin lebih dekat dengan Sania, perempuan yang selalu menghindarinya. Irfan sendiri berniat berhenti berjuang, akan tetapi dia tidak bisa, entah magnet jenis apa yang digunakan Sania untuk menariknya selama ini.
Padahal semasa SMA nya dulu dia tidak pernah mencintai dan mengejar seorang perempuan dengan cara demikian, malah para perempuan itulah yang mendekatinya bahkan mengantri untuknya. Berbeda dengan sekarang, dia bahkan mengemis cinta pada seorang Sania Nirwan, gadis pujaannya.
Jika bukan karena menghargai Irfan. Jujur Fani akan melayangkan sepatu cantiknya pada Irfan yang semakin hari semakin menyebalkan baginya.
“Irfan! Kamu mau aku tonjok?!” sungut Fani menatap Irfan dengan tatapan sengit. Dia harus cepat mengusir Irfan karena bisa saja gadis yang duduk di sampingnya mengamuk saat ini juga. Lihat saja wajahnya sudah memerah, itu tandanya Sania sudah sangat marah sekarang.
“Ko jadi kamu yang marah?!” balas Irfan dengan wajah juteknya. Dalam hati Fani hanya bisa merutuki dirinya sendiri, entah sejak kapan dirinya memiliki sepupu yang amat menyebalkan seperti Irfan?
Apakah bibinya salah makan sewaktu mengandung cowok tampan yang sayangnya menyebalkan itu? Jika bukan karena dia sedang berada di kampus sudah pasti rambut hitam Irfan sudah ia tarik dengan keras, sekalian sampai rontok. Saking kesalnya pada Irfan yang sama sekali tidak paham dengan kode yang ia berikan.
“Irfan Sanjaya!” seakan ada alarm tanda bahaya. Irfan langsung pergi terbirit-birit menjauhi Sania yang mengeluarkan suara pertanda gadis itu sudah marah sekarang.
“Dasar sepupu aneh!!” teriak Fani dengan keras. Akan tetapi Irfan tidak mendengarnya, karena Irfan sudah jauh di depan sana. Jika Irfan mendengar teriakan Fani sudah pasti akan ada kelanjutan dari keributan yang baru saja terjadi di kelas itu.
Padahal sudah waktunya istirahat. Karena ulah Irfan semua mahasiswa di sana jadi seru menonton kelakuan Irfan yang selalu mencari masalah dengan, Sania dan Fani.
“Fan! Keluar yuk!” ajak Sania pada Fani dengan wajah kesal karena ulah Irfan barusan.
“Ke mana?”
“Kemana saja, asalkan jangan ketemu sepupu kamu yang super nyebelin itu!!” bala Sania dengan wajah datarnya sambil berdiri dari duduknya. Sedangkan suasana kelas sudah kosong karena kelas sudah selesai dan anggota kelas yang tadi menonton aksi Irfan sudah keluar untuk beristirahat.
“Hahaha baiklah queen!” ucap Fani membuat Sania kesal. Sania benar-benar tidak menyukai panggilan queen karena menurutnya itu sangatlah tidak cocok dengan dirinya, padahal sejujurnya itu hanyalah panggilan spontan yang dikeluarkan oleh Fani selama ini.
“Udah ah aku males marah-marah!” ucap Sania mengambil tas dan buku nya malas segera keluar dari ruang kelas itu.
“Sensi amat kamu hari ini!” ucap Fani menyusul Sania yang sudah berjalan di depannya.
“Kesel aku gara-gara sepupu kamu yang kurang kerjaan itu!” ucap Sania tanpa menoleh pada Fani yang berjalan di sampingnya. Fani yang mendengar ucapan Sania hanya bisa tertawa mendengar ucapan Sania yang tampak sangat kesal pada Irfan sepupunya.

Lia131
16 Pengikut · 2 Novel