“PAKEEET!!!”
Teriakan melengking dari depan pagar jam sepuluh pagi berhasil meruntuhkan keheningan.
Di dalam rumah, seorang wanita yang tengah menyapu ruang tamu langsung menghentikan gerakannya. Wajahnya seketika berubah masam. Telinganya sudah muak mendengar suara kurir yang hampir tiap hari terdengar.
Dari arah belakang, muncul gadis cantik. Gadis itu berjalan dengan langkah super pelan, kepalanya menunduk dalam-dalam, seperti tersangka yang sedang disorot kamera wartawan. Ia berjalan mendekati ibunya.
“Ma, boleh minta uang buat bayar paket nggak?” tanyanya dengan begitu pelan. Ia sudah tahu jika orang di hadapannya ini akan menjawab dengan pedas, tapi ya mau bagaimana lagi, dompetnya sudah kosong sebelum tanggal tua.
“Kemarin kamu udah minta, sekarang minta lagi! Kalau nggak punya uang ya nggak usah beli, Dea! Sadar diri, kamu itu cuma karyawan biasa, bukan anak Nagita Slavina!” omel Bu Nina dengan nada yang naik dua oktaf.
Dea menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. “Ma, please. Aku kan belum gajian. Nanti kalau udah gajian, uangnya langsung aku kembaliin kok Ma,” ucapnya mencoba membujuk.
Bu Nina terlihat sudah sangat muak mendengar bujukan yang sama seperti kemarin. “Ah nggak ada! Uang Mama bisa habis cuma buat beli barang-barang nggak jelasmu itu!” jawabnya sambil menggeleng-geleng kuat.
Panik karena mendengar klakson motor kurir di luar yang dibunyikan cukup lama, tanda si abang kurir mulai kehilangan kesabaran, Dea langsung menggenggam erat lengan ibunya. Ia memasang wajah memelas. “Ma, please. Kasihan itu Mas Kurirnya, di luar panas banget. Kalau dia kena heatstroke terus pingsan di depan rumah kita, kan bisa berabe, Ma. Nanti dikira kita pasang pesugihan penumbal kurir,” ratap Dea lebay.
Bu Nina menghela napas berat, tampaknya mulai goyah oleh drama anaknya. “Memangnya kamu butuh berapa?” tanya Bu Nina dengan nada kesal.
Dea menunduk sambil tersenyum kikuk. “T-tiga ratus ribu, Ma,” jawabnya pelan.
“ASTAGHFIRULLAHALADZIM, DEA! Beli apa aja kamu semahal itu?!” tanya Bu Nina, nyaris melompat saking kagetnya mendengar jumlah uang yang diminta Dea. Nominal segitu bagi Bu Nina sudah bisa untuk stok makanan untuk satu bulan.
“A-anu Ma, barang-barang kebutuhanku,” jawab Dea.
Bu Nina memutar bola matanya. Dengan berat hati, ia merogoh kantong dasternya. “Nih!” ucapnya pada akhirnya sembari memberikan tiga lembar uang berwarna merah bergambar Soekarno-Hatta yang sedang tersenyum lebar.
Dengan cepat, Dea langsung mengambil uang itu. Wajahnya seketika berubah menjadi ceria, menghilangkan sisa-sisa wajah melasnya tadi. Ia berlari kencang membuka pintu depan, menemui mas kurir yang sudah menunggunya lama, dan menerima tumpukan paket yang ukurannya cukup banyak.
“Boros! Itu namanya bukan kebutuhan tapi kesurupan keinginan!” ucap Bu Nina yang langsung berbalik pergi ke dapur setelah melihat Dea masuk sambil memeluk bungkusan paket dengan mesra.
Dea tak memedulikan ucapan ibunya. Ia membawa tumpukan itu masuk ke dalam kamarnya. Setelah mengunci pintu, matanya berbinar-binar menatap gunungan plastik hitam. “Waktunya untuk unboxing,” ucapnya dengan begitu semangat.
Satu per satu bungkusan itu ia buka.
Paket pertama berisi satu set skincare mahal untuk bulan ini. Lalu paket kedua berisi baju-baju model kekinian bermodel aesthetic yang bahannya tipis tapi harganya selangit. Tak mau ketinggalan, paket ketiga adalah aksesoris kalung dan cincin imitasi yang kalau dipakai tiga kali langsung berubah warna jadi hitam berkarat.
“Mumpung tanggal kembar banyak promo gratis ongkir, ya mending dibeli semua,” gumam Dea yang tak mau melewatkan barang-barang yang baginya terlalu sayang untuk dilewatkan akibat banyaknya promo di marketplace.
Tanpa membuang waktu, pakaian baru yang masih berbau pabrik itu langsung ia kenakan. Dea berdiri di depan cermin besar kamarnya. Ia mulai berjalan maju-mundur, berputar, lalu berpose dua jari ala model fashion show papan atas.
“Gila, aura sultanku langsung terpancar nyata. Siapa bilang gaji UMR nggak bisa gaya? Ini buktinya!” serunya bangga pada bayangannya sendiri di cermin.
“Deaaaaa!”
Suara cempreng ibunya kembali menggema memecah keheningan fantasi fashion show Dea. Gadis yang tengah asyik berpose menenteng tas belanjaan kosong itu langsung menggerutu kesal. “Ck, apa sih lah Mama ini. Lagi transisi jadi model aja diganggu.”
Dea yang belum melepas pakaian barunya itu pun bergegas keluar, berpikir mungkin saja panggilan darurat.
Dea berjalan ke dapur dan melihat ibunya tengah sibuk memasak. “Apa, Ma?” tanyanya sambil melongok ke dalam wajan, penasaran apa yang tengah ibunya masak.
“Belikan garam sekarang ke warung Mas Tejo, Mama baru tahu kalau persediaan garam habis,” balas ibunya tanpa menoleh.
Dea melongo. “Lah Ma, sekarang banget ini? Ini aku lagi pakai baju baru, Ma!” tanya Dea setengah menolak dengan nada manja yang dipaksakan.
“Kalau bukan sekarang kapan lagi? Keburu sayurnya mateng! Udah cepet! Ini uangnya,” balas ibunya sembari mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan kumal dari saku celananya.
“Nanti aja ya Ma, lima menit lagi. Tanggung nih lagi dapet lighting bagus di kamar buat ngonten,” pinta Dea memelas.
Mendengar alasan itu, sumbu kompor di kepala Bu Nina langsung meledak. “Sekarang! Kamu tadi minta duit ke Mama tiga ratus ribu buat paketmu itu Mama langsung kasih. Sekarang Mama cuma minta tolong belikan garam dua ribu perak kamu malah nawar kayak di pasar! Mau jadi anak durhaka kamu?!” omel ibunya beruntun tanpa titik koma.
“Masa aku pergi ke warung pakai baju kayak gini, Ma,” balas Dea mengingat ia belum melepas pakaian barunya itu.
“Mama nggak peduli ya! Mau kamu pakai baju rumbai-rumbai, mau pakai gaun pengantin, atau kain kafan sekalipun, pokoknya kamu ke warung sekarang juga! Udah, cepet berangkat!!” balas ibunya dengan mata mendelik.
“Iya deh iya, Ma!” ucap Dea pasrah dan tertekan. Ia yang sudah menerima uang kumal itu pun memilih cepat-cepat pergi ke warung.
Setelah berada di luar rumah, di sepanjang jalan aspal komplek, Dea berjalan dengan langkah kesal, sesekali menendang beberapa kerikil yang ada di jalan. Pakaian barunya tertiup angin sepoi-sepoi.
“Sewot banget jadi orang tua,” ucapnya ketus.