Langit gelap
menutupi sebagian besar wilayah Kota Bloom malam itu. Hujan turun deras sejak
petang, membasahi jalanan, kaca jendela, hingga hati yang sedang murung. Di
sudut jalan dekat gedung latihan milik agensi ternama “Fantasia”, seekor kucing
putih tergeletak lemas, bulunya basah kuyup dan tubuhnya menggigil hebat.
Kucing itu
tidak tahu bagaimana bisa sampai ke sana. Ia hanya ingat sebuah cahaya yang
menyilaukan. Rasa sakit menghunjam seluruh sendinya sesaat sebelum semuanya
menjadi gelap total.
Tubuhnya
seperti terpental jauh, melintasi ruang tanpa kendali. Perlahan, ia membuka
mata. Dunia di sekitarnya terasa aneh. Segalanya tampak jauh lebih besar dari
seharusnya.
Gedung-gedung
menjulang tinggi bagai raksasa yang hendak menelan langit. Lampu-lampu jalan
tampak pecah menjadi ribuan titik cahaya di matanya yang berkaca-kaca. Suara
hujan terdengar keras, memekakkan telinga, menyerupai dentuman genderang perang
tak henti-henti.
Ia mencoba
menggerakkan tubuh, tapi terasa asing. Ada beban yang tidak biasa di bagian
belakang tubuhnya.
“Apa yang
terjadi?”
Tak ada suara
manusia yang keluar. Hanya suara lirih, pelan, dan serak. Sebuah “meong”
menyedihkan.
Ia membeku.
Jantungnya berdetak tak karuan, lebih cepat dari detak jantung manusia mana
pun. Rasa panik mulai merayap dari ujung sarafnya.
“Kenapa
denganku? Suaraku kenapa jadi begini?”
Pandangan
matanya jatuh pada genangan air di jalan yang keruh. Refleksi samar di
permukaannya memperlihatkan sosok kecil berbulu putih, dengan mata bulat besar
yang tampak ketakutan.
“Apa ini?”
Kucing itu
mencoba menggerakkan kakinya, memasukkannya ke dalam air yang dingin. Ia
melihat kaki berbulu itu bergerak sesuai perintah otaknya. Lalu ia
menggoyang-goyangkan sesuatu di belakangnya, ekor panjang yang ikut basah
kuyup.
“I-ini aku?
Tidak mungkin!”
teriaknya, tapi yang keluar ke dunia nyata hanya suara eongan seekor kucing
lemah yang malang.
Pikirannya
melayang mundur, mencoba merangkai pecahan memori yang tersisa. Roha adalah
seorang fangirl garis keras. Namun, sebuah kabar duka telah
menghancurkan dunianya tiga tahun yang lalu.
Layar ponselnya
terus menampilkan berita-berita itu. Foto-foto idolanya saat tersenyum kini
hanya tinggal kenangan, dan rasa sesak membuatnya nekat keluar rumah di tengah
malam buta saat peringatan kematian idolanya yang ketiga tahun.
Ia ingat
menyusuri jalanan dengan mata sembab, mengabaikan klakson yang memekik. Sampai
akhirnya, cahaya menyilaukan dari truk itu menghantamnya.
“Harusnya
aku sudah mati? Kenapa aku harus hidup seperti ini? Menjadi hewan?”
Keputusasaan
menyergapnya lebih dingin daripada air hujan. Ia meringkuk di atas aspal yang
kasar, pasrah jika maut ingin menjemputnya untuk kedua kali dalam wujud ini.
Roha memejamkan mata, membiarkan dinginnya malam mulai mematikan rasa di
sekujur tubuhnya.
Tiba-tiba,
suara derap langkah kaki yang terburu-buru mendekat. Suara itu beradu dengan
suara cipratan air. Seseorang sedang berlari ke arahnya.
Tak lama
kemudian, guyuran air hujan di tubuhnya berhenti. Sebuah payung besar berwarna
ungu kini menutupi tubuh mungil Roha yang menggigil. Seorang pria berjongkok di
hadapannya.
“Eh, kamu dari
mana? Kenapa sendirian di sini?”
Suara itu.
Suara yang
selama bertahun-tahun menjadi pengantar tidurnya. Suara yang ia dengarkan
ribuan kali melalui earphone hingga hafal setiap intonasinya.
Roha membuka
mata dengan susah payah. Pandangannya samar, terhalang air yang menetes dari
bulu mata. Namun, ia bisa melihat wajah pria itu dari dekat.
Hidung mancung
yang sempurna. Mata tajamnya itu kini memancarkan kekhawatiran, dan alis tegas
yang sering ia kagumi dalam foto-foto berkualitas tinggi.
Bintang?
“Bintang
masih hidup,” batinnya
menjerit. Jantungnya yang tadi berdegup karena takut, kini berdebar karena
luapan emosi tak terbendung.
Pria itu
tersentak, seolah bisa merasakan sesuatu. Ia melihat pancaran kesedihan yang
sangat manusiawi dari mata si kucing putih itu, tapi menganggapnya sebagai
halusinasi.
“Ka-kamu,
seperti mengerti kata-kataku?” gumam Bintang, sedikit heran, tapi tidak
beranjak.
Roha mengeong
panjang, seolah sedang mengadu. “Kamu bisa dengar aku? Tolong, aku takut.
Aku tidak tahu harus ke mana.”
Bintang tidak
berpikir panjang. Hujan semakin deras dan angin malam mulai menusuk tulang. Ia
tidak mungkin meninggalkan makhluk kecil ini mati kedinginan di depan gedung
agensinya.
Dengan gerakan
ragu, dia melepas jaket luarnya. Ia menyelimuti tubuh mungil Roha yang gemetar
hebat, lalu mengangkatnya ke dalam pelukannya.
“Oh, kamu
kedinginan ya? Sini, ayo ikut aku dulu. Aku enggak bisa biarin kamu di sini,
nanti sakit,” bisik Bintang hangat.
Roha tidak bisa
melawan. Ia membenamkan wajahnya ke dalam jaket yang harum aroma parfum
Bintang. Aroma yang sangat nyata, bukan sekadar imajinasi.
Ketika tangan
hangat itu menyentuh tubuh kecilnya dan mendekapnya dengan penuh hati-hati, air
matanya jatuh. Ia masih merasa ini adalah mimpi buruk atau mungkin sekadar
halusinasi sebelum benar-benar mati. Namun, hangat tubuh Bintang terlalu nyata
untuk disebut khayalan.
Saat Bintang
membawanya berlari kecil menuju sebuah gedung mewah yang sangat familier bagi
para penggemar Galaxy, Roha melihat sebuah poster besar yang tertempel di
dinding lobi. Di sana, enam pria tampan berpose dengan gagah.
Di bagian
bawahnya tertulis besar-besar: “ONE – RELEASED APRIL 2021”.
Roha tertegun.
Napasnya tercekat.
Dunia ini bukan
surga.
Bintang bukan
hidup kembali dari kematian tragisnya.
Roha baru saja
menyadari bahwa dirinya telah terlempar jauh ke belakang. Ia berada di tahun
2021. Tahun di mana grup Galaxy sedang berada di puncak popularitas mereka,
tahun di mana semua anggotanya masih lengkap, tertawa, dan Bintang masih
memiliki waktu panjang sebelum takdir itu menjemputnya.
“Aku
kembali,” ucap Roha
dalam hati sambil menatap wajah Bintang yang sedang fokus menekan tombol lift. “Aku
dikirim ke sini untuk menjagamu.”
Pintu lift
terbuka, dan di dalam pantulan cermin yang bersih, Roha melihat dirinya
sendiri. Seekor kucing putih kecil di pelukan seorang calon idola besar yang
seharusnya sudah tiada. Perjalanan mustahil ini benar-benar ia alami sendiri.
Bintang masuk
ke dorm diam-diam. Hanya ia dan si kucing. Member lain sedang di lantai atas,
sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Kucing putih
itu dibaringkan di atas handuk di sofa. Bintang mengusap pelan bulunya dengan
kain hangat. Roha hanya memejam, mengatur napas, mencoba menerima kenyataan.
Setelah
beberapa saat, Bintang duduk di lantai, menatap si kucing. “Entah kamu nyasar
dari mana, tapi kamu beruntung malam ini aku keluar beli kopi.”
Roha membuka
mata. Pandangan mereka bertemu. Matanya yang satu biru, satu emas. Bintang
terdiam sejenak.
“Mata kamu unik
banget. Apa ya, kayak bukan dari dunia ini,” ucapnya sambil tersenyum kecil.
Roha ingin
bicara. Ingin sekali berkata, “aku di sini untukmu.” Namun, yang keluar hanya
suara meong kecil.
Bintang tertawa
pelan. Ia mengusap kepalanya. “Oh, ternyata kamu perempuan ya? Pantas saja
cantik. Kayaknya cocok diberi nama Luna. Suka enggak?”
Roha membeku.
Nama itu terasa hangat di telinganya. Sangat cantik, hingga membuatnya
berdebar.
“Besok kita
cari siapa pemilik kamu, ya?” lanjut Bintang santai.
“Jangan!
Jangan kembalikan aku!”
Kali ini,
Bintang benar-benar mendengar suara itu.
Bukan sekadar
halusinasi.
Kucing itu bisa
bicara.