


oleh Dzahrafa · 54 Bab
Menjelang hari raya, betapa senangnya Amira bisa membelikan gamis untuk ibu mertuanya. Gamis seharga tiga ratus ribu dia beli menggunakan sisa uang belanja yang dia tabung. Bukan pujian dan terima kasih yang dia dapat, kedua ipar dan ibu mertuanya menghina pemberiannya. Berlinang air mata Amira mengambil gamis pemberiannya yang dibuang di tong sampah depan rumah. Demi gamis itu, ia rela mengesampingkan kebutuhan rumah tangganya.
Hujan deras sore ini mengingatkannya dengan sosok Amira. Masih ingat tatkala perkenalan mereka. Perempuan berkerudung hijau itu memintanya untuk mengantarkannya pulang. Rumahnya berada di kampung sebelah tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Amira bekerja sebagai karyawan toko sepatu dekat alun-alun kota. Setiap hari diantar dan dijemput ayahnya. Jika ayahnya tidak bisa menjemput, Amira pulang naik ojek. Setiap kali ke pangkalan ojek, Rahman yang berada di sana sendirian.
Lambat laun mereka akrab dan dekat. Rahman menyukai Amira dan mengutarakan isi hatinya. Diam-diam Amira juga memendam rasa dan tidak langsung menerima begitu saja.
Di zaman akhir ini, banyak muda mudi yang terjerumus pergaulan bebas. Banyak berita radio, televisi, dan media sosial yang memberitakan. Amira miris melihat kelakuan mereka. Setan berhasil menjerumuskan ke dalam lingkup pergaulan negatif. Oleh karena itu pentingnya belajar ilmu agama.
“Kalau memang Mas Rahman serius, datang saja ke rumah temui orang tua Amira.”
Rahman menatap Amira dengan pandangan yang tidak biasa. Asmara yang bergejolak di dalam dirinya bukan main-main. Ini bukan sekedar cinta melainkan komitmen.
Kedua netra mereka beradu pandang. Amira mengalihkan ke lalu lalang kendaraan di jalan raya. Gejolak batinnya berbunga-bunga.
“Secepatnya saya akan ke rumahmu.”
***
Perkataan Amira menjadi beban untuk Rahman. Di sisi lain, Rahman kagum dengan jawaban Amira. Untuk mengurangi keresahan itu dia menceritakan kepada bapaknya.
“Pak, Rahman menyukai seseorang dari kampung sebelah.”
“Sejak kapan kamu mengenalnya? Siapa namanya? Apakah perempuan itu bisa menerima keadaanmu?” tanya Pak Bambang bertubi-tubi.
Di sisi lain Pak Bambang senang dan khawatir. Perempuan di zaman sekarang memandang pekerjaan laki-laki sebelah mata dan banyak menuntut. Ia takut Rahman ditolak dan patah hati.
“Namanya Amira, dia langganan ojek Rahman di pasar.”
“Kalau kamu sudah mantap, segera halalkan Amira. Kita ke sana melamar secepatnya.” Pak Bambang antusias. Putranya itu tersenyum dan tekadnya kuat.
“Siapa yang mau melamar, Pak?” tanya Bu Nisa membawa secangkir kopi untuk Pak Bambang. Perempuan berkulit putih itu melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam. Giginya gemeletuk.
“Rahman. Dalam waktu dekat mau meminang perempuan yang dia incar.”
Bu Nisa ikut duduk. Raut wajahnya tidak seantusias suaminya. Berdecak kesal dan tersenyum sinis. “Kalau mau menikah nanti pakai uang Rahman sendiri. Ibu tidak ingin ada pesta. Ibu kok jadi kurang yakin perempuan itu bisa menerima kondisimu.”
Rahman sudah menduga. Ibunya akan kembali membeda-bedakan antara dirinya dan kedua kakaknya. Sejauh ini Rahman sudah mempersiapkan tabungan untuk masa depannya dari hasil kerja kerasnya. Tidak perlu khawatir dan pusing memikirkan biaya pernikahan.
Pak Bambang murung. Istrinya itu sejak kecil memperlakukan Rahman berbeda. Berulang kali dinasihati membantah dan berujung pertengkaran. “Kamu bagaimana, Rahman?”
“Tidak apa-apa, Pak. Rahman ingin menikah sederhana saja. Tidak mau merepotkan Bapak dan Ibu. Rahman yakin Amira tidak keberatan.”
Sebagai seorang kepala keluarga, Pak Bambang berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya. Banting tulang pagi sampai malam demi mencukupi keluarganya. Keadaan ekonominya tidak seperti dulu lagi. Uang tabungan yang sengaja dia simpan diam-diam tidak akan cukup untuk biaya pesta.
“Nanti kita adakan syukuran kecil-kecil undang tetangga,” ujar Bu Nisa menatap kedua laki-laki yang ada di hadapannya serius.
“Setelah menikah nanti kamu harus keluar dari rumah ini. Ibu tidak mau ada tiga kepala keluarga. Kamu bisa cari kontrakan atau tinggal di rumah orang tua Amira,” imbuh Bu Nisa lagi kemudian keluar rumah.
Perkataan ibunya benar. Setelah menikah nanti ia harus angkat kaki dari sini. Ia bertekad dan berjanji tidak menumpang tinggal di kediaman orang tuanya ataupun mertuanya.
“Maafkan ibumu. Dia tidak bermaksud seperti itu.”
“Bapak tenang saja. Rahman tidak masalah jika tidak ada pesta dan nanti Rahman akan cari tempat tinggal baru.”
Pak Bambang beranjak dari duduknya dan pergi masuk ke kamarnya. Sebuah kotak dari kayu jati itu ia berikan kepada Rahman. Di dalamnya berisi uang yang sengaja dia simpan berpuluh-puluh tahun khusus untuk Rahman.
Rahman tidak langsung menerima pemberian bapaknya. Ragu dan takut jika ibunya marah. “Ini apa, Pak?”
“Di dalamnya ada uang tabungan Bapak untukmu. Maafkan Bapak tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga. Hanya ini yang bisa bapak berikan. Jangan beri tahu ibumu dan kedua saudaramu!”
Tangannya gemetar memegang lembaran uang merah dan puluhan ribu.
“Ini terlalu banyak uangnya, Pak,” ucap Rahman setelah menghitung jumlah uangnya sebanyak enam puluh juta.
“Gunakan untuk masa depanmu. Simpan baik-baik!”
***
Tanpa memberi tahu Amira, Rahman dan keluarganya pergi ke sana. Kedatangan rombongan yang tidak terduga itu membuat tuan rumah bingung. Terutama Amira yang belum sempat membicarakan kepada ayahnya.
Para tamu itu dipersilakan masuk. Dari rombongan itu hanya Pak Bambang dan Rahman yang bersifat ramah. Amira menundukkan kepalanya duduk berhadapan dengan para tamunya.
“Kedatangan kami ke sini mau mengkhitbah Amira menjadi istri Rahman,” ucap Pak Bambang setelah mengobrol ringan.
Setiap kali mengantar Amira, Pak Basuki memperhatikan Rahman. Sebagai seorang ayah, dia menginginkan putrinya berjodoh dengan laki-laki baik dan bertanggung jawab. Tidak memandang latar pendidikan dan status pekerjaannya.
Sudah tiga kali Amira menolak pinangan laki-laki satu kampungnya. Semuanya tidak seperti Rahman. Pekerjaan mapan dan sifat mereka angkuh. Mereka melontarkan hinaan dan sumpah serapah. Jika mengingat semua itu, Pak Basuki merasa tidak rela putrinya jatuh ke tangan laki-laki yang tidak berakhlak.
Raut wajah Amira gelisah. Duduknya tidak tenang sedari tadi. Cinta yang bersemanyam dalam dirinya menggebu-gebu.
“Bagaimana dengan jawabanmu, Amira? Ayah tidak memaksamu jika kamu ingin menerima atau menolak.”
Amira berusaha menormalkan detak jantungnya. Hatinya senang Rahman membuktikan kata-katanya. Bukan sekedar omong kosong tapi bukti nyata. Perlahan-lahan Amira menganggukkan kepalanya.
“Alhamdulillah,” ucap Rahman lirih dapat didengar oleh Amira.
Atmosfer tegang saat membahas rencana persiapan pernikahan. Terjadi perdebatan pendapat Bu Nisa dan Bu Fitri. Amira melirik Rahman yang terus menunduk dimarahi ibunya.
Pada akhirnya mereka sama-sama menyetujui adanya pernikahan sederhana tanpa adanya pesta. Mata Amira berbinar saat Rahman menyebutkan jumlah mahar pernikahan. Amira menerima mahar itu dengan ikhlas.
***
Waktu yang ditunggu telah tiba. Di kediaman Pak Basuki, Rahman menikahi Amira. Amira tampil dengan gaun sederhana dan riasan tidak mencolok. Meskipun demikian, aura kecantikan pengantin tetap terpancar.
“Saya terima nikahnya Amira Khumaira binti Basuki Jaya dengan maskawin tersebut dibayar tunai,” ucap Rahman mengucapkan lafal ijab qobul lantang. Amira menitikkan air matanya.
“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak Penghulu dengan nada serius dan tegas menatap sekeliling orang berada di depannya.
“Sah.”
“Sah.”
“Sah.”
Acara pernikahan mereka berjalan lancar. Banyak tamu yang berdatangan meskipun tidak diundang. Mereka turut bergantian mengucapkan selamat dan doa.
Amira duduk di tepi ranjang, sejak tadi memandang cincin mahar pernikahan yang melingkar di jari tengahnya. Desainnya sederhana dan beratnya lima gram.
“Maaf ya kalau Mas hanya bisa memberikan mahar pernikahan yang sedikit.”
“Tidak apa, Mas Rahman. Amira melihat cincin ini sudah senang. Barang hantaran yang Mas Rahman berikan masih rapi di atas meja. Amira tahu semua barang itu harganya lumayan menguras kantong. Amira rasa itu berlebihan.”
“Itu tidak berlebihan, Amira. Terima kasih kamu sudah mau menerima Mas menjadi suamimu. Mas akan bekerja keras untuk membahagiakanmu.”

Dzahrafa
48 Pengikut · 2 Novel