Matahari baru saja sepenggalahan naik, tetapi suasana di Balai Desa Sukamaju sudah mirip pasar malam yang kehilangan komidi putar. Bau menyengat yang mengalahkan belerang kawah gunung berapi menguar kuat, merayap dari halaman hingga menembus celah-celah jendela kantor kepala desa. Aroma itu begitu pekat, menusuk hidung siapa saja yang berani mendekat dalam radius seratus meter.
Bagus, sekretaris desa yang wajahnya selalu terlihat panik bahkan ketika tidak terjadi apa-apa, berdiri di depan meja kerja sambil memegang hidungnya dengan jempol dan telunjuk. Ia menatap tumpukan berkas di atas meja dengan tatapan kosong. Di sampingnya, Pak Lurah. Seorang pria paruh baya berkumis lebat yang hobi berkacak pinggang sedang sibuk mengibas-ngibaskan kipas bambu ke arah pintu.
"Bagus, kamu yakin bau ini berasal dari durian sumbangan Pak Haji Mahmud?" tanya Pak Lurah dengan suara bergetar, berusaha bernapas lewat mulut.
"Yakin seratus persen, Pak Lurah. Tadi malam truk bak terbuka miliknya parkir tepat di bawah jendela ruang arsip. Katanya itu durian montong kualitas super untuk perayaan desa," jawab Bagus dengan nada putus asa. "Masalahnya, bukan cuma baunya yang bikin kepala senat-senut. Uang kas desa yang terkunci di laci arsip hilang."
Pak Lurah langsung menghentikan kibasan kipasnya. Matanya membelalak. "Hilang? Hilang bagaimana maksudmu? Apakah malingnya sempat-sempatnya makan durian dulu sebelum membobol brankas?"
"Itulah absurdnya, Pak. Tidak ada jejak pencurian. Kunci laci tidak rusak, tapi uang dua puluh juta rupiah untuk renovasi pos ronda raib tanpa sisa. Yang tersisa di dalam laci cuma biji durian tiga buah dan selembar kulitnya yang masih basah."
Belum sempat Pak Lurah mencerna kejanggalan logika pencurian beraroma buah tersebut, pintu balai desa mendadak dibuka dengan kasar dari luar. Seorang wanita paruh baya berambut mengeriting keren dengan daster warna oranye menyala melangkah masuk penuh amarah. Namanya Bu Mardiyah, ketua RT setempat yang terkenal paling ditakuti se-kecamatan jika urusan iuran ronda sudah menunggak.
"Pak Lurah! Ini tidak bisa dibiarkan!" teriak Bu Mardiyah tanpa basa-basi, langsung menyelonong masuk ke dalam ruangan. Ia membawa sebutir durian ukuran sedang di tangannya, seolah-olah itu adalah barang bukti kejahatan kelas kakap. "Warung kelontong saya hampirroboh karena warga berebut beli durian sumbangan itu tadi subuh, tapi bukan itu masalah utamanya!"
"Lalu apa lagi, Bu RT? Jangan bilang ada durian yang bisa meledak juga," keluh Pak Lurah sambil memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut.
"Uang arisan RT saya yang disimpan di dalam celengan kaleng biskuit di bawah tempat tidur ikut lenyap!" seru Bu Mardiyah dramatis sambil menepuk dadanya. "Tahu apa yang ada di dalam celengan kosong itu sebagai gantinya?"
Bagus dan Pak Lurah saling berpandangan. Bagus sudah bisa menebak jawabannya, tetapi ia tetap bertanya demi kelangsungan drama pagi itu. "Apa, Bu?"
"Biji durian montong! Lengkap dengan sisa daging buah yang masih menempel!"
Suasana ruangan langsung sunyi senyap, menyisakan suara dengungan lalat yang tampaknya sangat menikmati aroma menyengat di dalam ruangan tersebut. Kasus ini bukan lagi sekadar kehilangan uang biasa. Ini adalah kejahatan lintas sektoral yang melibatkan buah berduri dengan modus operandi yang sangat tidak masuk akal.
Belum pernah ada sejarahnya pencuri meninggalkan barang bukti berupa biji buah di tempat kejadian perkara, apalagi buah yang aromanya bisa memanggil seluruh kucing liar di desa dalam radius satu kilometer.
"Ini konspirasi," bisik Bagus dengan nada serius yang dibuat-buat, mendekat ke arah Pak Lurah. "Pencurinya pasti sindikat buah import yang menyamar."
"Jangan ngawur, Bagus!" bentak Pak Lurah. "Mana ada sindikat pencuri spesialis uang kas desa yang meninggalkan jejak berbau tajam begini? Kalau polisi melacak jejak pelaku, mereka tinggal mengikuti arah angin!"
"Kenyataannya begitu, Pak. Uang kas desa lenyap, uang arisan RT lenyap, dan aroma durian ini semakin lama semakin pekat. Jangan-jangan pencurinya sekarang sedang sakit perut karena terlalu banyak makan durian hasil curian."
Bu Mardiyah mendengkus keras, meletakkan durian di atas meja kerja Pak Lurah dengan bunyi gedebuk yang cukup membuat cangkir kopi di dekatnya bergetar. "Pokoknya, saya tidak mau tahu! Sebelum matahari tepat di atas kepala, pelaku pencurian ini harus tertangkap. Kalau tidak, saya akan mengerahkan seluruh ibu-ibu PKK untuk memboikot semua pohon durian di desa ini!"
Pak Lurah menelan ludah. Ancaman ibu-ibu PKK jauh lebih menakutkan daripada ancaman inspektorat kabupaten. Dengan tangan gemetar, ia menatap Bagus yang kini berdiri tegak seperti prajurit siap perang, meski sedari tadi hidungnya terus mengernyit menahan bau.
"Bagus," panggil Pak Lurah dengan suara tegas.
"Siap, Pak Lurah!"
"Panggil Suroto si tukang kebun sekarang juga. Kita adakan investigasi darurat. Kita lacak ke mana perginya aliran uang kas desa ini, meskipun kita harus menggeledah setiap perut warga yang pagi ini terlihat kekenyangan durian!"
Bagus mengangguk cepat. Namun, sebelum ia sempat membalikkan badan menuju pintu, sebuah suara gaduh terdengar dari halaman depan. Suara teriakan warga bercampur dengan suara klakson sepeda motor yang digeber-geber kencang membuat ketiganya terperanjat. Kasus pencurian beraroma buah durian ini tampaknya baru saja akan memasuki babak baru yang jauh lebih kacau daripada yang mereka bayangkan.
***
"Ada apa lagi itu di luar?!" seru Pak Lurah, panik.
"Mana saya tahu, Pak! Jangan-jangan malingnya bawa pasukan gajah!" balas Bagus sewot.
"Gajah dari Hongkong? Ini Sukamaju, Bagus!" seru Bu Mardiyah galak.
Pintu balai desa langsung dibanting terbuka. Suroto, tukang kebun desa yang matanya merah karena kurang tidur, menerobos masuk sambil mengacungkan celurit rumput.
"Gawat, Pak Lurah! Sapi Mang Udin makan durian sisa curian!" teriak Suroto terengah-engah.
"Terus kenapa sapinya?!" desak Bagus cepat.
"Sapinya bisa ngomong bahasa Sunda halus, Pak!"
"Hah?!" pekik Pak Lurah, Bagus, dan Bu Mardiyah serempak.