Asap knalpot mengepul di bawah jembatan layang Senen, berpadu dengan aroma uap kuah soto dan debu jalanan yang lengket di kulit. Vian menyeka pelipisnya dengan punggung tangan, lalu kembali menatap lembaran foto polaroid di tangannya. Gambar itu buram, menampilkan siluet seorang pria yang kakinya tampak meleleh menjadi asap hitam tipis sebelum benar-benar lenyap ditelan bayangan trotoar.
"Jangan diliatin terus fotonya, nanti kameranya kesambet demam," tegur Rasya sambil melempar sebatang rokok kretek ke udara yang langsung disambar dengan sigap oleh dua jarinya. Gadis berjaket kulit belel itu bersandar santai di kap mobil sedan tua mereka yang mesinnya masih berdengung pelan.
"Kalau kesambet, tinggal diobatin pakai air comberan suci," balas Vian tanpa mengalihkan pandangan dari foto tersebut. "Ini kasus keempat minggu ini, Sya, dan kau tahu sendiri, jejaknya selalu sama: nihil mayat, nihil sidik jari, cuma menyisakan residu belerang tipis di aspal."
Rasya mendengkus pelan, mendengkuskan asap tipis ke udara malam yang mulai merayap. Matanya menyapu deretan lapak pedagang kaki lima yang mulai bersiap menutup dagangan mereka. "Lembah Gelap lagi, kan? Tempat apa lagi yang mau kita datengin? Got selokan bawah tanah? Atau jangan-jangan markas tuyul gaul Blok M?"
“Anak ini kalau ngomong suka bener, tapi bikin darah tinggi,” batin Vian sambil meremas foto polaroid itu hingga sudutnya sedikit terlipat.
"Bukan di Blok M, tapi di lorong pasar malam lama dekat stasiun," jawab Vian serius, memasukkan foto itu ke dalam saku mantelnya. "Informan aku bilang, makhluk yang narik si manusia bayangan semalem punya ciri-ciri fisik mirip mandor proyek, tapi bertanduk rusa, dan yang bikin aku penasaran, dia pakai jaket almamater kampus swasta lokal."
Rasya langsung menegakkan tubuhnya, senyum remehnya memudar digantikan kerutan tajam di dahi. "Kampus swasta? Sejak kapan bangsa siluman silaturahmi ke dunia akademik? Jangan-jangan mereka lagi skripsian juga?"
"Bisa jadi skripsi mereka bab tentang cara memangsa jiwa mahasiswa tingkat akhir yang stres," timpal Vian dingin. Ia membuka pintu mobil, lalu menoleh ke arah Rasya yang masih terdiam. "Masuk. Kita jalan sekarang sebelum subuh keburu nutup jalan pintas mereka."
Mobil sedan tua itu melengking, membelah kepekatan malam Jakarta yang menyimpan ribuan rahasia di balik gemerlap lampu reklame. Suara mesin tua berderu nyaring, menenggelamkan keheningan yang mulai mencengkeram. Di luar jendela, bayangan-bayangan gedung tinggi tampak seperti raksasa tidur yang mengawasi gerak-gerik mereka dari ketinggian.
Setengah jam kemudian, kendaraan mereka berhenti di ujung sebuah gang buntu yang berbau lembap dan amis. Suasana di sekitar pasar malam tua itu terasa begitu sunyi, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota di pusat perbelanjaan. Hanya ada satu dua bola lampu neon kuning berkedip-kedip lemah, memantulkan cahaya pucat ke genangan air hujan di tengah jalan.
"Kau yakin ini tempatnya?" bisik Rasya saat mereka melangkah keluar dari mobil secara bersamaan. Tangannya bergerak refleks meraba gagang belati perak yang terselip di balik ikat pinggangnya.
"Yakin seratus persen. Cium baunya?" Vian menghentikan langkah, menghirup udara malam yang pekat. "Bau belerang campur minyak wangi melati murah. Ciri khas lelembut kelas teri yang suka mangkal di wilayah teritori perbatasan."
"Wah, bau-bau bakal ada keributan seru nih," Rasya menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi di balik temaram lampu jalan. "Aku yang urus bagian mukul, kau yang bagian ceramah kayak biasa, ya?"
"Aku bukan ustaz, Rasya. Aku detektif swasta," protes Vian sengit, meski bibirnya sendiri berkedut menahan senyum.
Mereka berdua berjalan mengendap-endap di sepanjang lorong sempit di antara lapak-lapak pedagang yang sudah kosong. Derit kayu tua dan suara tikus got yang berlarian menjadi satu-satunya latar suara yang menemani langkah kaki mereka. Di ujung lorong, sebuah pintu besi berkarat tampak setengah terbuka, memancarkan secercah cahaya kemerahan dari dalam ruangan yang seharusnya gelap gulita.
Vian memberi isyarat dengan tangannya agar Rasya berhenti sejenak. Ia menempelkan telinga kanannya ke permukaan pintu besi tersebut. Suara gemerincing ranting kering dan dengkuran berat terdengar samar-samar dari balik dinding logam itu.
“Ada makhluk di dalam, dan kelihatannya jumlah mereka lebih dari satu,” batin Vian memperingatkan dirinya sendiri, mengatur napas agar tetap tenang.
"Kenapa? Pintunya dikunci dari dalam?" tanya Rasya berbisik tepat di telinganya, membuat bulu kuduk Vian meremang karena terlalu dekat.
"Enggak. Justru dibiarkan terbuka. Sengaja banget nyambut tamu," jawab Vian pelan. Ia menoleh sekilas ke arah gadis di sampingnya. "Ingat, jangan gegabah. Kita cari informasi soal manusia bayangan itu, bukan mau bikin kerusuhan massal."
"Siapa juga yang mau bikin kerusuhan? Aku cuma mau silaturahmi, kok," sangkal Rasya dengan nada polos yang dibuat-buat.
Tanpa menunggu aba-aba lagi, Vian mendorong pintu besi itu hingga terbuka lebar dengan sekali sentakan keras. Bunyi decitan logam berkarat memecah kesunyian malam, menggema di seluruh sudut lorong pasar yang sunyi.
Cahaya merah dari dalam ruangan langsung menyilaukan mata mereka, memaksa Vian dan Rasya menyipitkan kelopak mata untuk menyesuaikan diri dengan suasana di dalam ruangan yang dipenuhi kepulan asap dupa tebal.
Di tengah ruangan yang berantakan oleh tumpukan kardus dan peti kayu tua, seorang pria berbadan besar dengan mantel panjang berdiri membelakangi mereka. Di atas kepalanya, sepasang tanduk rusa bercabang tampak mencuat menembus tudung jaketnya, bergerak-gerak pelan seolah sedang mendeteksi kehadiran makhluk asing di sekitarnya.
"Kalian telat sepuluh menit dari jadwal tamu yang seharusnya." Suara pria bertanduk itu terdengar berat dan berlapis, seolah diucapkan oleh dua orang secara bersamaan. Ia perlahan memutar tubuhnya, menampakkan wajah yang separuhnya tertutup kulit abu-abu bersisik halus. "Atau memang sengaja datang untuk jadi menu makan malam tambahan?"
Vian melangkah maju satu langkah, menatap tajam makhluk jadi-jadian itu tanpa sedikit pun rasa gentar di matanya. "Kami datang bukan untuk makan, tapi untuk menagih barang yang kau ambil dari wilayah kekuasaan manusia."