Danau itu terasa salah. Ada yang aneh dengan suasananya hari itu ketika sekelompok peneliti benda kuno berada di sana.
"Ji-woo-ssi, kau dengar aku?" Suara Do-yoon berderak di earpiece-nya. "Tim di darat sudah siap."
Ji-woo memeriksa regulatornya sekali lagi. "Aku mendengar dengan jelas," jawabnya.
Profesor Park Tae-hyun melangkah mendekat dengan lengan bertaut di depan dadanya. "Kau yakin soal ini? Strukturnya bisa saja tidak stabil."
"Kita sudah menunggu tiga hari, Profesor!" jawab Ji-woo tenang.
"Tunggu laporan insinyur struktur dulu!"
Mendengar nasihat sang profesor, Ji-woo hanya terkekeh. "Kalau saya tunggu semua orang bilang aman, saya nggak akan pernah menemukan apa-apa." Ji-woo mengaitkan kamera bawah air ke sabuknya. "Tenang saja! Kalau saya mati konyol, tolong ada yang telepon ibu saya, ya!"
"Ji-woo!"
Peringatan profesor pun percuma karena Ji-woo sudah menjatuhkan diri ke air. Seketika dingin menghantam lebih dulu, menghempas napas dari paru-parunya. Namun, semua ini belum seberapa baginya karena ia pernah menghadapi yang lebih buruk demi penemuan yang jauh lebih kecil.
Kalau data sonar benar, ini bisa jadi struktur yang mendahului Dinasti Goryeo. Mungkin lebih tua lagi. Ia bersemangat turun perlahan. Sampai di kedalaman sepuluh meter, Ji-woo menyalakan lampu utamanya. Cahaya senternya menembus air, terang benderang, menyilaukan.
Sonar itu ternyata sangat akurat. Di kedalaman dua puluh meter, dasar danau terlihat menjadi sesuatu yang mustahil. Pilar-pilar batu menjulang dari lumpur, penuh ukiran yang tak pernah ia lihat di mana pun. Baik di di arsip universitas, di koleksi terlarang Profesor Park, mau pun di buku-buku tua yang ia buru bertahun-tahun.
"Do-yoon, kau lihat ini?" bisiknya ke earpiece, meski tahu sinyal tak sampai menyentuh sedalam ini. "Kau harus lihat ini! Amazing!"
Batuan di sana menyerap cahaya, bukan memantulkannya. Ji-woo mendekat, kameranya terangkat, dan jarinya menelusuri salah satu ukiran. Nyut! Awh, sakit! Apa ini?!
Panas membakar telapak tangannya saat tepian batu yang tersembunyi mengiris kulit. Ia tersentak mundur, kamera terjatuh dari genggamannya, dan darahnya membumbung, larut ke air.
"Bodoh," gumamnya sendiri, "hilang akal, dan ceroboh!"
Ji-woo meraih kotak P3K yang terikat di pahanya. Namun, darahnya yang hanyut sudah bergerak, terbawa arus yang seharusnya tak mungkin ada di kedalaman air setenang ini. Alirannya menuju pusat struktur, ke arah segel melingkar di dasar danau.
Begitu darahnya menyentuh batu, simbol-simbol di sekeliling segel itu mulai bersinar!
"Apa-apaan ini?!" Ji-woo kaget, terpana sekaligus tercengang.
Batu itu bersinar, seperti terbangun dari tidur berabad-abad. Cahaya biru bercampur putih menyebar sepanjang ukiran, secepat api menyusuri sumbu, terang hingga mata Ji-woo berair di balik masker. Segel itu retak dengan dengungan yang lebih ia rasakan di tulang daripada ia dengar di telinga.
Berenang, Ji-woo! Berenang sekarang juga! Cepaaaaaat!
Sayang, tubuhnya tak mau patuh. Air di sekelilingnya mengental, menahannya di tempat seperti dicekal tangan tak kasat mata. Segel itu terbelah, dan dari baliknya mengalir sesuatu yang bukan berasal dari dunia nyata. Air yang begitu pekat, dan tua hingga lupa cara memantulkan cahaya.
Ada tangan yang muncul dari lubang itu. Lalu, diikuti lengan yang berbalut jubah putih, dan mengembang karena arus yang tak seharusnya ada di kedalaman air ini. Ada wajah yang mulai terlihat.
Teriakan Ji-woo tertelan regulatornya. Gelembung-gelembung air karena panik menyebar dari sana.
Sosok itu tidak memanjat keluar dari segel. Ia hanya muncul di sana, seolah batu itu mencair, dan ia baru saja memilih posisi muncul yang terkesan seperti sihir dari dalamnya. Sosok itu tinggi, mustahil dibandingkan dengan manusia biasa. Rambut hitamnya mengambang di sekitar kepalanya seperti tinta yang tumpah ke air. Raut wajahnya tajam sekaligus menawan dengan cara yang tak lagi terasa manusiawi.
Matanya adalah lautan di titik terdalam, tempat cahaya mati, tempat hal-hal purba tertidur, dan bermimpi tentang permukaan.
Sosok itu bergerak seolah air itu udara. Hanya dengan hitungan tiga detak jantung, ia bergerak mendekat, dan jarak di antara mereka lenyap. Tangannya dingin, sedingin yang paling membekukan air, lalu melingkari pergelangan tangan Ji-woo, tepat di mana tanda lahirnya berada.
Tanda lahir itu pun terbakar!
"Akhirnya!" suara sosok itu bergema, dalam, dan asing. Seolah datang dari air itu sendiri, bukan dari mulutnya. "Delapan ratus tahun aku menunggumu."
Ji-woo tak bisa menjawab karena regulator masih di mulutnya, sedangkan tenggorokannya terkunci karena ketakutan.
"Darahmu!" ucap sosok itu lagi. Matanya menelusuri wajah Ji-woo seperti mencari sesuatu yang lama hilang. "Darahmu membangunkanku."
Ji-woo menggeleng, mencoba melepaskan diri, tapi genggaman itu tidak melonggar.
"Kau takut?" ucap sosok itu, hampir seperti pertanyaan. "Wajar, tapi kau tidak akan mati di sini. Tidak hari ini!"
Lalu, semuanya menghitam. Ji-woo menatap pergelangan tangannya sendiri, terkejut. Tanda bulan sabit yang ia bawa sejak lahir, biasanya samar, dan mudah disembunyikan, kini bersinar dengan cahaya biru bercampur putih yang sama dengan segel itu. Genggaman sosok itu pun mengerat.
Bibirnya bergerak, tapi tak ada suara yang terdengar. Lalu tiba-tiba sebaris kalimat ada di kepalanya, melewati telinganya sama sekali, dan bergema di tengkoraknya seperti suara gletser yang menggiling gunung jadi debu.
“Kau!” sentaknya. Satu kata yang dingin, dan murka. Namun, kata itu seperti hidup dengan amarah yang mengendap. “Kau membangunkanku!”
“A-aku tidak bermaksud begitu!” pikir Ji-woo putus asa, tak tahu apakah sosok itu bisa mendengarnya.
Ekspresi sosok itu tak berubah, tapi Ji-woo merasakan sesuatu mulai terasa aneh di air sekitar mereka. Sensasi seperti tali yang tiba-tiba terpasang di antara tulang rusuknya. Tali tak kasat mata, tapi tak bisa dicegah mulai membelit. Air mulai berputar, merespon emosi asing yang tak bisa ia beri nama.
“Kita terikat sekarang!” gumamnya. “Darahmu disegel. Penjaraku hancur. Soul Tether terbentuk!”
Ji-woo terbelalak. Ia pun protes. “Apa?! Mana mungkin!”