


oleh Leni Nurleni · 5 Bab
Titin Pertiwi, Gadis bernasib malang yang tinggal dengan kakak iparnya yang sangat kejam, apa lagi kakak ipar nya itu sangat semena mena pada Titin. Semua masalah yang Kakak ipar nya alami harus Titin yang urus apa lagi suaminya Titin yang jauh berada di luar negeri. Malang nya nasib Titin yang kehidupan nya tak pernah tenang karena adanya gangguan kakak iparnya.. Bagaimana kisah Titin selanjutnya?
"Titin," panggil Mbak Rani dari ruang tamu.
Aku yang lagi setrika baju sontak saja kaget, mendengar suara Mbak Rani yang menggelegar memenuhi seisi ruang tamu.
"Ada apa, Mbak, kok teriak-teriak?"
Aku menuruni anak tangga, karena takut ada yang penting yang mau Mbak Rani katakan.
"Lihat Mia dia sedang berak di kamar mandi," paparnya.
Tanpa harus diminta lagi aku langsung ke kamar mandi, begitulah rutinitasku sehari-hari.
Sebenarnya aku sangat ingin menolak, tapi bagaimana caranya?
"Tante, tolong cebokin Mia. Mia ga bisa sendiri," gerutu Alvin yang sedang main ponsel di meja makan.
Anak itu bukannya membantu, dia malah sering menyusahkan aku.
Apa lagi pekerjaan dia hanya main ponsel saja tiap harinya.
'Kenapa harus aku yang selalu cebokin Mia, kenapa gak mamanya saja?' batinku menggerutu.
Kesal? Sungguh aku sangat kesal.
Mbak Rani selalu saja memberi perintah seakan dia itu nyonya di rumah ini. Padahal rumah ini rumahku dan Fadli.
Mau tidak mau aku membersihkan Mia sampai bersih. Beginilah resikonya punya kakak ipar yang ikut tinggal bersama.
Belum lagi aku harus menyiapkan makanan, dan kadang aku juga yang mencucikan pakaian mereka.
**
Sore ini aku akan memasak opor ayam kesukaan suamiku, akhir-akhir ini aku masak selalu banyak karena Mbak Rani dan anak anaknya juga makan masakan aku.
Mbak Rani adalah janda. Anaknya ada tiga, yang satu namanya Kevin, dia sekolah SMA, dan yang kedua Alvin, dia duduk di bangku SMP, dan yang terakhir Mia, umurnya masih 4 tahun.
Dulunya Mbak Rani ngontrak cuman dia tidak bisa bayar kontrakan karena dia tidak bekerja. Untuk uang sekolah anaknya pun ia suka minta kepada suamiku, Mas Fadli. Jadi, kami perbolehkan dia tinggal di rumah kami hanya karena kasihan.
Tapi apa yang aku dapatkan? Bukannya berterima kasih karena kami sudah berbaik hati, tapi Mbak Rani malah menjadikan aku sebagai babu di rumah aku sendiri.
Ya mau bagaimana lagi? Aku dan suamiku hanya bisa pasrah dengan keadaan ini.
Saat sedang mengupas bawang di meja makan, aku lihat Mbak Rani datang dari luar rumah dan duduk di kursi meja makan, berseberangan denganku.
"Tin, beliin mbak kuota, ya," pinta Mbak Rani dengan sedikit memaksa.
"Bukannya minggu lalu sudah dibeliin ya, Mbak, sama Mas Fadli?" tanyaku.
"Kamu ini perhitungan ya, Tin! Ingat, kalau kamu gak nikah sama adik aku, kamu gak akan punya rumah dan uang banyak seperti ini!" Mbak Rani marah marah sambil menatap nyalang padaku.
Padahal aku hanya tanya saja, tetap saja balasannya seperti itu. Kalau tidak membentak pasti marah.
"Ya, Mbak, maaf, nanti Titin belikan kuota."
Aku pasrah saja pada Mbak Rani, dari pada jadi masalah besar kan?
"Nah, gitu dong. Jadi, mbak-mu ini gak perlu teriak."
"Ya, Mbak."
"Belikan yang 30 GB ya, sama yang Alvin sekalian, kasian ponakanmu, tugas sekolahnya banyak, jadi harus pake internet."
Dikasih hati minta jantung? Begitulah Mbak Rani.
"Ya, Mbak."
Aku hanya bisa pasrah.
Saat selesai memasak, aku pun pergi ke konter untuk membeli paket kuota.
Aku jalan kaki selama beberapa menit hanya untuk membeli kuota untuk Mbak Rani.
Sedangkan ponsel aku saja sudah lama tidak diisi kuota.
Tapi kalau aku tidak menuruti keinginan Mbak Rani, bisa kalian bayangkan seberapa cerewet Mbak Rani nantinya.
**
Hari sudah semakin sore, mungkin Mas Fadli sudah pulang ke rumah. Kupercepat langkah supaya bisa menyambut suamiku pulang dari ladang.
Tapi saat aku sampai ke rumah, apa yang aku lihat ini?
"Loh, ada apa ini …?" Aku heran dengan suasana rumah.
"Kenapa rumah sepi, pada kemana Mbak Rani dan anak anaknya?"
Tak lama deru motor suamiku datang, dia langsung memarkirkan motor di halaman rumah.
Aku langsung menyambut Mas Fadli dan mencium punggung tangannya dengan takzim.
"Mas sudah pulang? Mau mandi atau langsung makan? Aku sudah masak opor ayam kesukaan Mas, loh," ucapku sambil memegang tangan Mas Fadli.
"Aku mau langsung makan aja, laper banget!" jawabnya.
"Kita makan bareng, yuk?" Suamiku pun menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumah bersama-sama.
Romantis sekali bukan?
Kami baru beberapa bulan menikah, mungkin kami masih menjadi pengantin baru.
Mas Fadli mencuci tangannya di wastafel.
Aku mulai menyiapkan piring dan yang lainnya di atas meja makan.
Saat tanganku membuka tudung saji, aku terlonjak kaget kenapa opor ayam yang aku masak hanya tinggal satu lagi, itu pun bagian paha ayam saja.
Siapa yang sudah memakan opor ayam sebanyak itu?
Aku bingung harus bagaimana sekarang? Apa lagi Mas Fadli sudah terlihat sangat lapar.
Mas Fadli menghampiriku karena dia melihat aku yang sedang melamun.
"Ada apa, Dek, kamu sakit?" Mas Fadli bertanya sembari memegang keningku.
"Tidak, Mas, tapi opor ayamnya tinggal 1, padahal tadi aku masaknya banyak, loh, Mas," jawabku sambil menatapnya sendu.
Rasanya takut saja kalau Mas Fadli marah karena aku tidak menyiapkan makanan saat dia tengah lapar.
"Mungkin Mbak Rani dan anak-anaknya yang sudah makan opor masakan kamu, Dek." Mas Fadli menenangkan aku yang sekarang sudah panik.
Aku cukup heran dengan keluarga Mbak Rani, kenapa dia tidak pernah membeli makanan? Selalu saja meminta dan menghabiskan makananku. Kalau saja dia bukan kakak dari suamiku, pasti sudah aku usir dari sini.
"Terus, bagaimana kita makan sekarang? Aku gak mungkin masak lagi kan? Kamu pasti lapar sekali, Mas?" tanyaku pada mas Fadli.
Dia menatap padaku dan langsung menghela nafasnya.
"Kita bagi dua saja ya?" Mas Fadli memotong Ayam itu menjadi dua. Dia berusaha untuk terlihat sabar di hadapanku.
Padahal aku tau kalau Mas Fadli tidak mungkin tidak marah saat keluarganya melakukan hal itu padanya.
Kami memakan opor ayam itu, walaupun cuman dapat setengah saja.
Rasanya sangat nikmat karena memakannya bersama orang yang kita cinta.
**
Namaku Titin pertiwi. Aku adalah gadis dari kampung dan aku baru saja menikah 3 bulan yang lalu dengan suamiku yang bernama Fadli Guntara.
Saat aku menikah, aku langsung diberi rumah oleh Mas Fadl, itu pun atas nama aku sendiri. Mas Fadli adalah TKI yang bekerja di Singapura, di perusahaan ternama di sana.
Karena bekerja terikat kontrak, jadi suamiku tak bisa lama-lama mengambil cuti, jadi ia akan berangkat lagi ke luar negeri.
"Apa gak bisa bulan depan berangkatnya, Mas?" jujur saja aku ragu kalau harus jauh dari Mas Fadli.
Berat sekali rasanya ditinggalkan oleh suami sendiri, apalagi Mas Fadli bekerja di luar negeri.
Terkadang aku ketakutan, aku berpikir kalau Mas Fadli akan tertarik dengan wanita Singapura sana yang cantik-cantik.
Tetapi, mau bagaimana lagi?
Aku menepis semua pikiran buruk itu.
"Gak bisalah, Dek, kan mas harus cepat pergi. Kalau lama-lama cuti nanti mas dipecat, bagaimana?" Mas Fadli tersenyum manis mencoba menenangkan aku.
"Lalu bagaimana nasib aku, Mas?"
"Kamu gak akan kesepian, Dek, ada Mbak Rani, ada Mbak Murni juga, mereka akan menemani kamu."
Mas Fadli memelukku dengan erat.
"Jaga diri kamu baik baik, kalau Mbak Rani macam-macam sama kamu, telpon mas langsung ya."
Jujur saja, aku tidak sanggup dengan sikap Mbak Rani yang seenaknya padaku.
Dengan adanya mas Fadli malah semakin bagus karena Mbak Rani gak mungkin semena mena padaku.
Tapi sekarang, bagaimana? Apalagi tanpa kehadiran Mas Fadli.
Aku sangat tersiksa jika bersama dengan Mbak Rani, bukan hanya capek kerja aku juga capek hati oleh sikap Mbak Rani.

Leni Nurleni
0 Pengikut · 1 Novel