“Ke mana dia? Seseorang jawab Ibu, ke mana sisa perhiasan dan gaun resepsinya?" Suara rintihan histeris Ambar menggema, memantul keras pada dinding marmer ruang rias utama hotel bintang lima itu.
Tangan Ambar bergetar hebat memegang selembar kertas pembungkus hotel yang sengaja ditinggalkan di atas meja rias.
Di cermin besar yang dikelilingi lampu pijar benderang, tidak ada sosok pengantin wanita cantik yang seharusnya sedang disematkan ronce melati.
Yang tersisa hanyalah kekosongan, tumpukan kotak kosmetik yang berantakan, serta kebingungan yang mencekik udara.
"Ibu, tenang dulu. Darah tinggi Ibu bisa kambuh." Kiara melangkah cepat, merengkuh bahu bibinya yang sudah gemetar parah.
Segenap badannya ikut mendingin. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Kiara saat matanya melirik sekilas surat pendek yang dicoret terburu-buru oleh sepupunya, Sheila.
Maafkan Sheila, Ibu. Sheila belum siap menikah dengan Arsen. Sheila pergi.
Hanya sembilan kata. Sembilan kata terkutuk yang sanggup meruntuhkan seluruh martabat keluarga besar mereka dalam hitungan menit.
Hari ini bukan sekadar pesta biasa. Hari ini adalah hari di mana keluarga mereka akan menyatukan ikatan dengan keluarga besar Adhitama, konglomerat pemilik gurita bisnis terbesar di negeri ini.
Arsen Wiratama, sang CEO muda yang terkenal dingin dan bertangan dingin, sudah siap di balik pintu besar aula utama. Ratusan jurnalis, pebisnis kelas atas, hingga jajaran pejabat penting telah memenuhi kursi undangan.
"Tenang kamu bilang, Kiara?!" Ambar memekik pasrah, matanya melotot tajam dengan air mata yang merusak riasan tebalnya.
"Dua jam lagi akad nikah dimulai! Keluarga Adhitama tidak akan tinggal diam jika tahu mereka dipermalukan seperti ini! Bisnis pamanmu bisa hancur, kita semua bisa terseret ke meja hijau karena pelanggaran kontrak kerja sama!"
Pintu ruang rias mendadak terbuka kasar. Baskoro, paman Kiara sekaligus ayah Sheila, masuk dengan wajah yang sepenuhnya kehilangan warna darah. Pria paruh baya yang biasanya selalu tampak berwibawa itu kini melangkah gontai, nyaris kehilangan keseimbangan jika tidak segera bertumpu pada sandaran sofa.
"Semua akses keluar hotel sudah diperiksa. Sheila pergi lewat pintu belakang karyawan sejak subuh tadi. Dia mematikan semua ponselnya," bisik Baskoro dengan suara parau yang menyimpan keputusasaan mendalam.
"Arsen dan orang tuanya baru saja tiba di area tunggu VIP. Mereka bertanya mengapa prosesi belum juga dimulai."
Ambar menangis tersedu-sedu, memukul dadanya sendiri.
“Bagaimana ini, Pah? Tamu-tamu sudah penuh di luar. Kalau mereka tahu Sheila kabur, mau ditaruh di mana muka kita? Kita akan menjadi bahan tertawaan seluruh negeri!”
Di tengah kepanikan yang nyaris membuat ruangan itu terasa kehabisan oksigen, tatapan Baskoro perlahan bergeser.
Sepasang matanya yang merah dan sarat beban kini tertuju lurus pada Kiara yang berdiri mematung di sisi Ambar. Kiara mendadak merasakan firasat buruk yang sangat hebat. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, menciptakan sensasi ngilu di dadanya.
“Kiara.” Suara Baskoro mendalam, terdengar begitu asing dan penuh tuntutan tersembunyi.
“Paman? Kenapa menatap Kiara seperti itu?” Kiara melangkah mundur selangkah. Instingnya meneriakkan alarm bahaya.
Baskoro berjalan mendekat, lalu tiba-tiba menjatuhkan kedua lututnya di lantai, bersimpuh tepat di hadapan keponakannya sendiri. Tindakan ekstrim itu membuat Kiara terpekik kaget. Ia ikut berlutut, mencoba menarik pundak pamannya agar kembali berdiri.
“Paman, apa yang Paman lakukan? Jangan seperti ini!”
“Kiara, Paman mohon kepadamu. Tolong selamatkan keluarga kita. Hanya kamu yang bisa menolong kami sekarang,” ratap Baskoro dengan suara bergetar. Kedua tangannya menggenggam jemari Kiara begitu erat, seolah-olah Kiara adalah satu-satunya tali penyelamat di tepi jurang kematian.
“Menolong bagaimana, Paman? Kiara tidak tahu di mana Sheila bersembunyi—”
“Gantikan Sheila, Kiara. Pakai gaunnya. Berdirilah di altar menggantikan sepupumu,” potong Baskoro tanpa ragu.
Bagai disengat petir di siang bolong, Kiara seketika membeku. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah tersedot habis.
“Paman gila?! Menikah dengan Arsen? Dia itu calon suami Sheila! Kita tidak bisa membohongi semua orang!”
Ambar yang mendengar ide suaminya langsung tersentak. Ia menghapus air matanya dengan cepat, menatap Kiara dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Benar kata pamanmu! Struktur wajahmu mirip dengan Sheila jika memakai riasan tebal dan cadar pengantin tradisional. Gaun cadangannya juga masih ada!” Ambar berganti memohon, menggenggam lengan Kiara yang lain.
“Kiara, ingat apa yang sudah keluarga ini lakukan untukmu? Setelah orang tuamu tiada, pamanmu yang membiayai kuliahmu, menghidupimu hingga sekarang. Kami tidak pernah meminta balasan apa pun, Kiara. Kami hanya minta ini, tolong, sekali ini saja.”
Kata-kata Ambar menghantam telak ulu hati Kiara. Utang budi. Sebuah jerat tak kasat mata yang paling mematikan. Kiara menatap kedua paruh baya di hadapannya dengan rasa campur aduk antara kecewa, marah, dan tidak berdaya.
Pernikahan adalah impian suci yang selalu ia bayangkan akan terjadi sekali seumur hidup, atas dasar cinta yang tulus. Bukan sebagai sebuah barang tambal sulam demi menutupi aib orang lain.
“Arsen pasti akan tahu. Bagaimana kalau dia marah setelah menyadarinya?” Suara Kiara melemah, tanda pertahanannya mulai runtuh oleh rasa bersalah dan tekanan moral.
“Urusan itu kita pikirkan nanti! Yang paling penting sekarang adalah mengesahkan pernikahan ini di hadapan penghulu dan para saksi. Setelah satu tahun, atau saat situasi sudah mereda, kalian bisa berpisah dengan baik-baik. Tolong, Kiara.” Baskoro membungkukkan kepalanya hingga menyentuh lantai.