Uang itu muncul di meja makan kami tanpa suara.
Tidak ada amplop. Tidak ada catatan. Hanya segepok lembaran rapi yang diletakkan Rangga di antara piring kosong dan gelas teh yang sudah dingin. Dapur kecil itu terasa semakin sempit, seolah udara ikut mengeras bersama tatapan kami yang saling menghindar.
“Apa ini?” tanyaku.
Rangga tidak langsung menjawab. Ia duduk di seberangku, bahunya turun, wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Tangannya masih berada di dekat uang itu, seakan takut aku akan menyentuhnya dan semuanya berubah menjadi nyata.
“Kita butuh,” katanya pelan.
Aku tersenyum tipis. Bukan karena setuju, melainkan karena lelah. “Kita selalu butuh, Rangga. Tapi sejak kapan uang datang sendiri ke rumah kita?”
Ia menghela napas panjang, lalu menatap meja. “Ini solusi.”
Kata itu terdengar asing. Solusi biasanya datang dengan penjelasan, bukan dengan keheningan.
“Solusi dari mana?” tanyaku.
“Teman,” jawabnya singkat.
Aku berdiri, kursiku bergeser dan menimbulkan suara yang memantul di dinding. “Teman siapa?”
Rangga ikut berdiri. Jarak kami dekat, tetapi rasanya jauh. “Kenapa harus sedetail itu, Aira?”
Pertanyaan itu menusuk. Sejak kapan aku tidak pantas tahu tentang hidup kami sendiri?
“Karena aku istrimu,” jawabku. “Dan itu uang ada di meja kita.”
Rangga mengusap wajahnya, seperti seseorang yang kehabisan pilihan. “Aku cuma mau kamu percaya.”
Percaya. Kata itu terasa berat di lidahku.
“Percaya pada apa?” tanyaku. “Pada uang ini, atau pada caramu menghindari jawabanku?”
Ia terdiam. Matanya bergerak ke arah jendela, lalu kembali ke uang di meja. “Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku menahan napas. “Lalu seperti apa?”
Rangga mendekat satu langkah. Suaranya merendah, seolah takut didengar dinding rumah sendiri. “Kita sedang terdesak. Kalau kita tidak ambil kesempatan ini, semuanya bisa hancur.”
“Kesempatan?” ulangku. Dadaku terasa sesak. “Kesempatan untuk siapa?”
Ia tidak menjawab. Keheningan itu lebih jujur daripada kata-kata apa pun.
Aku menatap uang itu lagi. Angka-angka yang tak terucap itu berputar di kepalaku—utang, ancaman, malam-malam tanpa tidur. Semua bercampur dengan perasaan asing yang perlahan merayap, yakni takut.
“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku akhirnya.
Rangga mengangkat kepala. Untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya—ragu, bersalah, lalu mengeras menjadi keputusan.
“Kamu cuma perlu menemani,” katanya. “Tidak lebih.”
Kalimat itu jatuh di antara kami, dingin dan berat.
Menemani siapa, Rangga?
Aku ingin bertanya. Aku ingin berteriak. Namun, suaraku tertelan oleh kesadaran yang perlahan tumbuh. Sejak uang itu diletakkan di meja, harga diriku sudah mulai dihitung.
Aku menelan ludah. “Menemani,” ulangku, lebih pelan. Kata itu bergaung aneh di kepalaku, seolah punya makna lain yang belum diucapkan.
“Menemani bagaimana?” tanyaku.
Rangga mengalihkan pandangan. Tangannya mengepal, lalu membuka lagi. Gerakan kecil yang biasanya tak pernah kulihat darinya. “Duduk. Bicara. Tersenyum. Kamu pandai melakukan itu.”
Dadaku mengeras. “Sejak kapan itu jadi keahlian yang bisa dibayar?”
Ia menghela napas, panjang dan berat. “Jangan dibesar-besarkan.”
Aku tertawa pendek. Kali ini benar-benar pahit. “Kau yang meletakkan uang di meja, Rangga. Kau yang membawaku ke percakapan ini. Lalu kau bilang jangan dibesar-besarkan?”
Ia melangkah mendekat, mencoba meraih tanganku. Aku mundur satu langkah. Bukan karena benci, melainkan karena takut jika sentuhannya membuatku luluh.
“Aira,” katanya lembut, terlalu lembut. “Ini cuma sementara. Setelah ini, kita beres.”
“Kita?” tanyaku. “Atau kamu?”
Ia terdiam. Lagi-lagi diam. Seakan setiap kejujuran yang keluar akan menghancurkan sesuatu yang rapuh di dalam dirinya.
Aku memandang rumah kami. Dinding yang mulai mengelupas, jam dinding yang selalu terlambat lima menit, foto pernikahan kami di sudut rak—aku tersenyum di sana, percaya sepenuhnya pada masa depan. Foto itu kini terasa seperti milik orang lain.
“Siapa orangnya?” tanyaku.
“Tidak penting.”
“Itu penting bagiku.”
Rangga menggeleng. “Kamu tidak perlu tahu.”
Aku menutup mata sejenak. “Jadi aku perlu melakukan sesuatu tanpa tahu untuk siapa, berapa lama, dan sampai sejauh apa?”
Ia membuka mulut, menutupnya lagi. Lalu berkata, “Aku akan mengaturnya.”
Kalimat itu membuat bulu kudukku meremang. Mengatur. Seolah aku bagian dari jadwal, bukan manusia.
“Kalau aku menolak?” tanyaku.
Rangga menatapku lama. Wajahnya mengeras, bukan karena marah, melainkan karena terdesak. “Maka semuanya selesai.”
“Selesai bagaimana?”
“Telepon itu akan datang lagi,” katanya lirih. “Ancaman itu bukan main-main.”
Aku memejamkan mata. Aku ingat suara di telepon—kasar, dingin, tak peduli alasan. Ingat bagaimana Rangga gelisah setiap malam, mematikan layar ponselnya seolah itu bisa menghapus masalah.
“Kau menyerahkanku,” bisikku.
Ia menggeleng cepat. “Tidak. Aku melindungi kita.”
Aku membuka mata dan menatapnya. “Dengan caramu.”
Rangga terdiam. Wajahnya retak sesaat, lalu kembali tertutup. “Aku tidak punya pilihan.”
Aku ingin mengatakan bahwa selalu ada pilihan. Bahwa memilih yang salah tetaplah memilih. Namun, kata-kata itu terasa sia-sia di ruangan yang sudah dipenuhi keputusan.
Aku berjalan ke meja, menatap uang itu dari dekat. Lembarannya bersih, baru, seolah tak tahu apa yang harus ditukar untuk berada di sana. Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya berdiri, menghirup napas yang terasa semakin berat.
“Berapa lama?” tanyaku.
Rangga ragu. “Tidak lama.”
“Berapa kali?”
Ia mengusap tengkuknya. “Kita lihat nanti.”
Jawaban itu membuat kakiku melemah. “Jadi tidak ada batas.”
“Aira—”
“Aku minta batas,” potongku. “Kalau kau ingin aku percaya, beri aku batas.”
Ia terdiam, lalu mengangguk kecil. “Satu kali dulu.”
Aku menatapnya tajam. “Dulu?”
Ia menelan ludah. “Satu langkah.”
Aku tertawa tanpa suara. Langkah pertama sering kali bukan yang paling berat. Yang paling berat adalah menerima bahwa langkah kedua dan ketiga akan datang.
“Kapan?” tanyaku.
“Malam ini,” jawabnya pelan.
Kata itu jatuh seperti palu. Malam ini. Bukan besok. Bukan nanti. Seolah aku tak diberi waktu untuk menolak.
Aku merasakan sesuatu runtuh di dalam dadaku. Bukan tangis. Bukan marah. Lebih seperti kelelahan yang tak punya ujung.
“Aku perlu mandi,” kataku akhirnya.
Rangga mengangguk. Terlalu cepat. Terlalu siap.
Aku melangkah ke kamar mandi, menutup pintu perlahan. Air mengalir, menenggelamkan suara rumah yang terasa asing. Aku menatap bayanganku di cermin—wajah yang sama, tetapi mata yang berbeda. Mata seseorang yang sedang berdiri di ambang sesuatu yang tak bisa ditarik kembali.
Aku memegang cincin di jariku. Dingin. Bulat. Janji yang dulu terasa kuat, kini seperti lingkaran sempit.
Di luar, aku mendengar suara Rangga mengangkat telepon. Suaranya rendah, berhati-hati. Aku tidak mendengar kata-katanya, hanya nadanya—nada orang yang sedang bernegosiasi.
Aku memejamkan mata.
Malam itu belum datang, tetapi aku sudah tahu. Harga itu akan dibayar. Dan entah oleh siapa, yang paling mahal bukan uangnya.
Air dari keran masih menetes ketika aku mematikan lampu kamar mandi. Rumah itu kembali sunyi, terlalu sunyi untuk malam yang seharusnya biasa. Aku melangkah ke kamar dan membuka lemari, jariku ragu menyentuh pakaian yang biasa kupakai.
Dari balik pintu, suara Rangga terdengar lagi—pelan, terpotong-potong. Aku menangkap satu kata yang membuat dadaku mengeras: “tarif.”
Aku memejamkan mata. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi salah paham. Uang di meja itu kini punya makna yang jelas.
Aku menarik napas panjang dan memilih sebuah gaun.
Malam ini, aku tidak hanya keluar dari rumah.
Aku melangkah keluar dari pernikahanku sendiri.