


oleh Fitri Laxmita · 100 Bab
Dheandra Lovey Pratama merasa hidupnya sempurna—hingga sebuah foto tersembunyi mengungkap pengkhianatan suaminya, Ervan, yang diam-diam kembali menjalin hubungan dengan mantan istrinya selama setahun. Hancur dan dikhianati, Dheandra terjebak dalam dilema: mempertahankan rumah tangga yang telah retak atau membalas luka dengan perselingkuhan juga? Kehadiran Raivan Pradikta, cinta pertamanya, mengguncang kembali hatinya yang rapuh. Apakah balas dendam akan menyembuhkan luka atau justru menjerumuskannya ke dalam kehancuran yang lebih dalam?
Angin sore berembus lembut melalui jendela yang setengah terbuka, membawa aroma tanah basah setelah hujan. Dari tempatnya berdiri di dekat jendela, Dheandra Lovey Pratama menatap ke luar. Wanita 27 tahun itu memperhatikan tetesan air yang masih mengalir di kaca. Langit tampak lebih bersih setelah hujan, seolah semua debu dan kekacauan dunia tersapu pergi.
Di balik keheningan itu, terdengar suara tawa kecil yang menggema di dalam rumah.
“Bunda! Lihat, aku bisa menggambar ini!”
Langkah kecil berlari mendekatinya. Akhtar Abimana Khaifan, putranya yang baru berusia lima tahun, dengan penuh semangat mengangkat kertas berisi coretan warna-warni.
Dheandra menunduk dan tersenyum, menerima kertas itu dengan lembut. “Wah, gambar apa ini, Nak?”
“Ini Bunda, ini aku, dan ini Ayah.” Akhtar menunjuk satu per satu sosok sederhana dalam gambarnya. Tiga figur yang saling berpegangan tangan di bawah langit biru.
Hatinya menghangat, tapi ada sesuatu yang menggelitik di sudut hatinya. Sebuah perasaan yang tak bisa ia namai. Entah itu kebahagiaan yang rapuh atau ketakutan akan kehilangan momen seperti ini suatu hari nanti. “Bagus sekali,” ujarnya seraya mengelus kepala anaknya. “Ayah pasti senang kalau lihat ini.”
“Tapi Ayah belum pulang,” Akhtar mengerucutkan bibirnya, matanya menatap ke arah jam dinding.
Dheandra mengikuti arah tatapan putranya. Sudah pukul enam sore. Biasanya, Ervan pulang setengah tujuh.
“Sebentar lagi Ayah pulang,” kata Dheandra, meskipun ada rasa gelisah yang tak bisa dijelaskan.
Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan kembali ke meja kerja kecil di sudut ruang tamu. Laptopnya masih terbuka, menampilkan sketsa desain interior yang sedang ia kerjakan.
Meskipun menjadi ibu rumah tangga adalah prioritasnya, Dheandra tetap menjalankan profesi lamanya sebagai desainer interior secara sampingan. Ia menerima proyek kecil, seperti renovasi kamar tidur, tata ruang minimalis untuk apartemen, atau sekadar konsultasi dekorasi. Tak sebesar dulu, tapi cukup untuk membuatnya tetap produktif dan merasa berguna di luar peran sebagai istri dan ibu.
Hari ini, ia sedang menyusun konsep desain untuk seorang klien yang ingin mengubah ruang tamunya menjadi lebih modern dan fungsional. Ia membolak-balik referensi di ponselnya, mengedit beberapa sketsa di layar, lalu mengetik pesan singkat untuk mengirimkan revisi desain kepada klien.
Tak lama setelah ia mengirim pesan itu, suara mesin mobil terdengar dari garasi.
Dheandra buru-buru berdiri dan membuka pintu sebelum Ervan sempat menekan bel.
“Mas!” sapanya ceria.
Ervan tersenyum, meski tampak lelah. “Dhea ....”
Pria berusia 35 tahun itu baru saja melepas sepatunya ketika Dheandra mendekat, tanpa ragu merengkuhnya dalam pelukan erat. Aroma khas suaminya berpadu dengan wangi hujan, menghadirkan rasa nyaman yang selalu ia rindukan.
“Capek banget, ya?” bisiknya.
Pria itu tertawa kecil. “Capeknya langsung hilang kalau dipeluk istri.”
Dheandra tersenyum, lalu melepaskan pelukan untuk menatap wajah suaminya. “Aku masak sup iga kesukaanmu.”
Ervan mengusap pipinya. “Istriku memang yang terbaik.”
Akhtar, yang sejak tadi menunggu di sofa, berlari menghampiri mereka. “Ayah! Aku buat gambar untuk Ayah!”
Ervan mengangkat putranya dan mengecup pipinya. “Mana? Coba Ayah lihat!"
Dengan penuh kebanggaan, Akhtar menunjukkan gambarnya. Ervan tersenyum dan mengusap kepala anaknya. “Bagus sekali, Jagoan. Ayah suka.”
Mereka bertiga pun masuk ke ruang makan dengan tawa yang memenuhi ruangan.
Makan malam berlangsung dengan hangat.
"Aku tadi dapat klien baru," ujar Ervan sambil menyendok supnya. Namun, ekspresi lelah di wajahnya tak kunjung hilang.
“Benarkah? Klien apa?”
“Seorang pengusaha properti. Dia mau aku tangani proyek apartemen barunya.”
Dheandra mengangguk. “Hebat, Mas. Aku yakin kamu pasti bisa.”
Ervan tersenyum. “Tanpa dukungan istri, aku nggak akan sejauh ini.”
Sejak enam tahun lalu, Ervan membangun kariernya sebagai konsultan properti. Bisnisnya berkembang pesat, meskipun terkadang mengharuskannya pulang lebih larut.
"Aku juga dapat klien baru tadi," kata Dheandra ringan.
Ervan, yang semula menyendok sup, terhenti sesaat. Matanya sekilas menatap istrinya, sebelum tersenyum tipis. “Oh ya? Proyek apa?”
Dheandra tidak terlalu memperhatikan perubahan ekspresinya. “Cuma proyek kecil, ada ibu-ibu mau mendekor ulang ruang tamunya."
Ervan tertawa kecil. “Desainer interior favorit para ibu-ibu, ya?”
Tawa Dheandra ikut mengisi ruangan, tetapi jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang aneh. Senyum suaminya terasa berbeda malam ini. Tapi ia tidak bertanya, tidak saat semuanya terasa begitu tenang dan hangat.
Mereka melanjutkan makan dengan obrolan ringan. Sesekali Akhtar menyela dengan cerita polosnya, membuat mereka tertawa bersama.
Setelah makan, Dheandra menemani Akhtar ke kamar, sementara Ervan bersantai di ruang keluarga.
“Ayah bacakan cerita?” pinta Akhtar setelah berganti piyama.
“Tentu,” jawab Ervan sambil duduk di sisi tempat tidur anaknya.
Dheandra hanya tersenyum dari ambang pintu, menikmati pemandangan dua lelaki kesayangannya.
Setelah Akhtar tertidur, Ervan kembali ke kamar mereka. Ia melemparkan diri ke ranjang, lalu menepuk tempat di sampingnya. “Sini.”
Dheandra tersenyum, tetapi ada sesuatu di wajah Ervan yang membuatnya ragu sejenak. Ia tampak lelah, tapi bukan sekadar lelah fisik. Ada sesuatu yang menggelayut di matanya, sesuatu yang belum sempat ia ceritakan. Namun, alih-alih bertanya, Dheandra memilih naik ke ranjang dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Dalam dekapan hangat itu, ia memutuskan untuk percaya bahwa besok akan baik-baik saja.
“Apa kita mau kasih adik buat Akhtar?” goda Ervan.
“Mas!” Dheandra tersipu.
“Ayolah. Apalagi habis hujan begini, cuaca dingin, aku butuh kehangatan.”
Dheandra tertawa.
“Aku milikmu, Mas,” bisiknya.
Malam itu terasa sempurna.
***
Keesokan harinya, pagi di rumah sederhana mereka dimulai dengan kehangatan.
Dheandra sibuk menyiapkan sarapan sementara Akhtar duduk di kursi tinggi, mengayun-ayunkan kakinya. Ia bersenandung kecil sambil mencoret-coret buku gambarnya.
Ervan turun dari lantai atas, mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku, wajahnya segar setelah mandi. Ia melangkah mendekati Dheandra dan mengecup keningnya.
"Pagi, Cantik."
Dheandra tersenyum. "Pagi, Mas."
Setelah semuanya duduk, mereka menikmati sarapan bersama. Obrolan ringan mengalir di antara mereka, sesekali diiringi suara tawa Akhtar yang menceritakan mimpi anehnya tadi malam.
Saat jam di dinding menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh, Dheandra menyadari sesuatu.
"Akhtar, ayo cepat habiskan makanannya. Kita harus bersiap ke sekolah," ujarnya sambil mengusap kepala anaknya.
Akhtar meneguk susu di gelasnya dengan semangat. "Bunda ikut antar?"
"Tentu, kan kita selalu pergi bareng."
Setelah sarapan selesai, Dheandra membawa Akhtar ke kamar untuk berganti seragam. Bocah itu mengenakan kemeja putih dengan celana pendek warna biru tua, khas seragam TK tempatnya belajar. Ia terlihat bersemangat, tapi juga sedikit gelisah.
"Kenapa, Nak?" tanya Dheandra sambil membenarkan kerah bajunya.
"Aku lupa bikin PR menggambar rumah."
Dheandra tersenyum. "Tidak apa-apa, nanti kasih tahu Bu Guru, ya?"
Akhtar mengangguk pelan, meski raut mukanya masih khawatir.
Di luar kamar, Ervan sudah siap dengan tas kerjanya. Ia melirik jam tangannya. "Aku berangkat dulu, ya."
Akhtar berlari ke arahnya. "Ayah nggak bisa antar aku sekolah?"
Ervan berjongkok, menatap putranya dengan lembut. "Hari ini nggak bisa, Jagoan. Ayah ada kerjaan penting. Tapi nanti Ayah jemput, gimana?"
Akhtar tampak berpikir, lalu mengangguk cepat. "Oke, janji ya!"
Ervan tertawa kecil. "Janji."
Dheandra ikut tersenyum melihat interaksi mereka. Setelah Ervan pamit dan mencium keningnya, ia mengantar Akhtar ke mobil dan berangkat ke sekolah TK anaknya.
Di sepanjang perjalanan, Akhtar terus bercerita, seolah tak kehabisan topik. Tentang teman-temannya, gurunya, bahkan tentang pohon besar di halaman sekolah yang katanya bisa bicara.
Dheandra hanya tertawa, menikmati kebersamaan mereka.
Pagi itu terasa begitu biasa. Terlalu biasa.
Tapi, di antara tawa Akhtar dan kecupan hangat Ervan, Dheandra tak menyadari sesuatu. Sesuatu yang hanya terlihat jika ia lebih memperhatikan. Mata Ervan yang menatap ke kejauhan saat pamit, genggaman tangannya yang sedikit lebih erat dari biasanya, dan helaan napas pelan yang nyaris tak terdengar.
Seandainya ia tahu.

Fitri Laxmita
50 Pengikut · 2 Novel